My Lovely MUA

My Lovely MUA
70.



“Kalian?!” suara bariton itu, lantas membuat dua sejoli yang berdiri di depan pintu terkejut.


Mata Steven menggelap murka saat mengetahui ada Nevan berdiri di samping puterinya itu. “Pergi dari sini!” titahnya, dengan suara lantang.


Briana menggeleng lalu mendekat ke arah Steven. Wajahnya memelas. “Pah, Nevan mau bicara sama papah sama mamah, tolong kasih dia kesempatan,” Briana seraya memohon dengan mata berkaca-kaca.


Steven menarik napas dalam-dalam. “Aisha!” teriaknya.


“T-tuan, Nyonya masih ada tamu,” bukannya Aisha yang keluar dari kantor, tetapi malah Elsa. Bukan itu yang diharapkan oleh Steven. Elsa menunduk ketakutan saat melihat bos kecilnya seperti tengah memohon dengan posisi setengah duduk di bawah kaki Steven.


“Panggil Aisha supaya datang kesini, cepat!” titah Steven kepada Elsa.


Elsa buru-buru mengangguk pelan, lalu segera berbalik membuka pintu kantor. Disana, Aisha masih terlihat serius berbicara dengan salah seorang kliennya.


“N-nyonya, tuan menyuruh saya memanggil Nyonya, katanya penting,” ucap Elsa takut-takut. Lutut Elsa melemas dan bergetar saat mendekati Aisha.


Mata Aisha mengawasi tingkah laku Elsa yang terlihat seperti orang ketakutan. “Kamu ngapain sih?” tanya Aisha sambil mengernyitkan dahinya.


Elsa tersenyum tipis. “I-itu, ada Om Nevan juga,” bisik Elsa di telinga Aisha.


“Nevan?” sahutnya, tak percaya. Aisha kemudian berpamitan sebentar kepada kliennya. “Jeng, saya mau ke belakang sebentar aja, nggak papa ya?” ucapnya, sedikit tidak enak.


Wanita itu menggeleng. “Kalau begitu, saya pamit aja, Jeng, besok saya kesini lagi.”


Setelah kepergian kliennya, Aisha segera bergegas masuk ke dalam rumahnya. Nampaknya, hawa dingin sedang menyelimuti rumah mereka. Nevan dan Briana duduk berhadapan dengan Steven, lalu Aisha menyusul Steven duduk bersampingan. Aisha melirik ekspresi Steven yang tidak suka kepada Nevan dari ekor matanya. Dadanya nampak sedang naik turun menahan amarahnya.


“Nak Nevan, ada urusan apa ya kesini?” tanya Aisha, lembut mencoba membuka diskusi.


Briana mencengkeram ujung kemejanya itu kuat-kuat. “Mah, Pah, sebenarnya kita...”


“Saya ingin menikah dengan Briana dan akan mempertanggung jawabkan perbuatan saya detik ini juga,” potong Nevan, dalam satu tarikan nafas saja.


Steven dan Aisha kompak mengernyitkan dahinya. “M-maksudnya dari mempertanggung jawabkan,” Aisha bertanya seraya menoleh ke arah Briana, ia tahu puterinya itu sedang menyimpan rahasia besar. “Bisa dijelaskan?” sambungnya.


Mata Steven tak berhenti menyorot ke arah kedua sejoli itu tanpa berkedip sedetik pun. Tangannya sudah mengepal, bersiap jika sewaktu-waktu harus memukul lelaki brengsek itu kembali.


“Briana—”


“Aku hamil anak Nevan, Mah, Pah,” potong Briana, dengan suara bergetar. “A-aku tahu ini salah, tapi, aku ... Aku mencintai Nevan, aku nggak bisa melupakan atau apapun itu,” ucap Briana, sedikit emosional.


“Sekuat Briana melupakan, semakin kuat Briana tenggelam mencintai Nevan. M-mungkin kalian pikir Briana bodoh, iya Briana bodoh. Bodoh selalu mencintai pria yang sama.”


Aisha memejamkan matanya, hal yang sangat dia takutkan akhirnya terjadi. Nevan dengan kelicikannya, Nevan yang pintar mempengaruhi lawan bicaranya. Nevan yang kejam.


Tenggorokan Aisha rasanya seperti tercekat, entahlah Steven sebentar lagi pasti akan menghajar Nevan lagi. Baru saja Aisha berpikir demikian, Steven sudah lebih dulu maju berjalan ke arah Nevan dan Briana. “Steven, stop it!” Aisha berteriak agar Steven menghentikan hal-hal buruk yang akan terjadi.


Bhug! Tanpa menghindar, Nevan memilih untuk dipukuli dari pada diomeli oleh Steven. “Satu pukulan untukmu yang selalu menyakiti puteriku,” Steven memukul pipi kiri Nevan sedikit kencang.


Bhug! Lagi, Steven memukul pipi kanan Nevan. “Satu pukulan terakhir, untukmu yang sudah berhasil merebut puteriku dari kehidupanku!” ucap Steven sambil menangis terisak, seraya badan kekarnya itu meluruh ke bawah lantai. “Kalian berdua berhasil membuat perasaanku hancur lebur.”


“Om tahu kita berdua sudah menjalin hubungan dari sekolah, Tante Aisha juga. Saya ingin menikah dengan Briana, malam ini juga,” ucap Nevan, serius. “Tanpa harus dihadiri oleh keluarga besar saya,” sambung Nevan.


Briana menarik lengan Nevan, mencoba ingin tahu maksud perkataan dari Nevan. Nevan menggenggam tangan Briana erat, dan memandanginya lekat. Nevan ingin Briana mempercayainya.


Steven berdiri, dia lalu menarik tangan Briana. “Aisha, bawa dia masuk ke kamar!” titah Steven.


Briana menggeleng. “Pah, tapi aku...”


Steven menggeram, lalu menyentak tubuh Briana kepada istrinya. Aisha dengan cepat menarik Briana naik ke lantai dua, masuk ke dalam kamarnya.


“Mah, tapi aku harus nikah sama Nevan, kan?” tanya Briana sambil menangis memeluk Aisha.


Aisha tak menjawab, sudah terlalu banyak kesalahan yang dibuat Briana. Apalagi sekarang Briana hamil, Aisha sangat malu. Bagaimana nanti dia bisa menjelaskan kepada klien-kliennya, khususnya klien Briana. Aisha menangis tak bisa menjawab pertanyaan yang terlontar dari bibir Briana.


“Mah, anak ini butuh ayahnya, please katakan sesuatu, Mah,” rengek Briana sambil terus berderai air mata. “Maafin Briana, Mah,” isaknya, sembari bersimpuh di bawah kaki Aisha. Briana tahu, tak seharusnya dia melakukan hal yang tak pantas sampai menyebabkan dirinya hamil.


Aisha menangis dalam diam. Seharusnya Aisha secepatnya menikahkan puterinya itu dengan Reno. Tapi, semuanya sudah terlambat.


Saat keduanya masih dalam posisinya masing-masing, pintu kamar Briana terbuka. Otomatis Aisha dan Briana menoleh cepat. “Pah, Nevan dimana?” tanya Briana, sambil masih terisak di bawah kaki Aisha.


Steven membatu di depan pintu kamar Briana, matanya kosong. “Kalian...”


“Kalian segera siap-siap, lusa kita berangkat ke Amerika,” ucap Steven, dengan suara bergetar seperti menahan tangis. Steven lalu menyuruh Aisha untuk mengambil benda pipih Briana, mulai malam itu juga Briana tidak diperbolehkan menggunakannya.


Entah apa alasan Steven melakukan ini, pria paruh baya itu tak mengatakan alasan yang sebenarnya. Pandangan matanya nampak kosong, wajahnya pucat pasi. Briana juga tidak tahu apa yang mereka bicarakan di bawah sana dengan Nevan.


“Stev, kenapa kita harus ke Amerika?” tanya Aisha, gugup. Kepalanya ingin meledak saat Steven mengajaknya pergi ke Amerika.


Steven duduk di tepi ranjang, lalu mengatur degup jantungnya supaya lebih tenang. “Kita pindah ke Amerika,” ucapnya seraya memandang sendu wajah istrinya.


Aisha menggeleng pelan. “K-kamu becanda? Harusnya kita cepat menikahkan Briana—”


Steven menggeleng. “Kamu turuti saja kata-kataku, Mah! Cepat kamu siap-siap packing mulai dari sekarang, juga cancel semua job-mu dan job Briana. Kamu masih punya waktu hari ini dan besok, jangan banyak bertanya!” ucapnya lalu pergi ke dalam kamar mandi.


Aisha membatu, melihat punggung suaminya yang pergi ke kamar mandi. Dia sangat yakin ada sesuatu yang disembunyikannya.


Keesokan harinya, Aisha seperti biasa menyiapkan sarapan paginya. “Na, kamu lagi ngapain disitu?” tanya Aisha.


Pagi itu, Briana merasakan sedikit pusing dan mual. “Mah, kenapa kita harus ke Amerika?” ucapnya, dengan suara parau. Wajah Briana nampak pucat pasi, antara shock dan tidak tahu maksud dan tujuan papahnya.


“Sebentar lagi kamu akan mamah bawa ke dokter, periksa kandungan,” ucap Aisha.


Kening Briana berkerut. “Kita nggak usah memaksakan, apalagi usia kandungan Briana masih muda.”


Aisha menggeleng. “Ini darurat, kita pergi naik jet pribadi.”


Mata Briana membelalak sempurna. Mulutnya menganga sampai berbentuk huruf o. “J-jet pribadi?