My Lovely MUA

My Lovely MUA
73.



“Kak, Doni udah tanda tangan surat cerai belum?” tanya Nevan di sela-sela kesibukannya di depan mackbook-nya.


“Lo nggak seharusnya nanya masalah gue, urusin urusan lo sendiri!” jawab Vivian, ketus. Kemudian, Vivian berjalan gontai menuju dapur, tiba-tiba tubuhnya ambruk ke bawah lantai.


Mata Nevan terbelalak lalu segera menghampiri Vivian yang sudah tak sadarkan diri. Saat itu juga, darah merembes keluar dari sela pahanya. “Kak, Vi? Kenapa lo, Kak?”


Langsung saja Nevan mengangkat tubuh Vivian dan membawanya ke rumah sakit. Perjalanan ke rumah sakit memerlukan waktu 30 menit. Setelah sampai, tanpa basa basi Nevan segera memanggil perawat untuk menangani Vivian.


Setelah ditangani di UGD, seorang perawat keluar dari ruang rawat Vivian. “Keluarga Vivian Xaquil?”


“Saya, Sus, bagaimana keadaan kakak saya?” tanya Nevan, gugup. Mecca menangis dipelukan Nevan.


“Pasien mengalami keguguran,” ucap perawat tersebut. “Sebentar lagi akan dilakukan peng-kuretan, Pak, Bu,” sambungnya.


Nevan memejamkan mata sambil memeluk Mecca yang tak henti-hentinya menangis. Dada Nevan terasa sesak sekali, sedih tak terbendung. Dia lalu teringat akan Briana, bagaimana keadaan janin yang dikandung Briana, apakah sehat? Nevan pasti akan gila jika calon anaknya tidak selamat.


Beberapa jam setelah Vivian dipindah ke kamar inap, Mecca mengelus punggung tangan puterinya itu dengan lembut. Jantungnya serasa ingin berhenti detik itu juga saat melihat Vivian terbaring lemah. Dia kehilangan calon anaknya yang ia perjuangkan dengan mati-matian melalui program bayi tabung. Namun, suaminya ternyata seorang keparat.


“Van...”


Kala itu Nevan sedang merebahkan diri di sofa. “Ya?” jawabnya, singkat.


“A-pa Doni sudah ditangkap?” tanya Mecca sambil berlinang air mata. Kedua mata Mecca berkabut, sambil terus mengawasi wajah puterinya yang pucat pasi.


Nevan menghela napas dalam. “Andreas yang mengurusnya, dengan bantuan polisi.”


“Bantu Andreas, cari badjingan itu, dan biarkan mama yang menghabisinya dengan tangan mama sendiri.”


Nevan sedikit terkekeh pelan. “Mama bisa apa?”


Mecca menghapus air matanya lalu berjalan menghampiri sofa, tempat Nevan duduk. “Maafkan mama, selama ini mama egois. Dan... Mama sangat terkejut saat melihat berita, jika—”


“Itu salah Nevan,” ucapnya, datar.


Mecca mengernyitkan dahinya. “Bagaimana itu jadi salahmu?”


“Aku yang merekamnya waktu kita berdua masih sekolah.”


Mulut Mecca menganga lebar, jantungnya kembali berdegup kencang. Oh Tuhan, jantung Mecca lagi-lagi serasa berhenti berdetak. Hukuman apa yang telah Tuhan berikan kepada keluarganya.


Mecca menghela napas panjang. “Tuhan sedang menghukum keluarga kita.”


Nevan mendengus keras. “Dia juga sedang hamil anakku.”


Tenggorokan Mecca tercekat, jantungnya ingin melompat dari sarangnya. Mecca mengepalkan kedua tangannya. “N-Nevan? Kamu b-becanda?!”


Lelaki bernetra cokelat itu menggeleng cepat. “I'm very serious,” ucapnya.


Mata Mecca mengerjap-ngerjap menahan letupan-letupan emosi di dalam dada. Sayangnya, wanita paruh baya itu sudah hampir tidak bisa menangis, karena terlalu shock dengan apa yang terjadi hari ini.


“Dimana Briana? Apa kamu juga akan menelantarkannya, setelah menghancurkannya, Van?” tanya Mecca dengan suara


Bukannya menjawab, Nevan malah bertanya balik. “Apa mama akan setuju?”


Mecca menggeleng-gelengkan kepalanya, ingin rasanya dia mengumpati puteranya itu. “Kalau dia hamil, kenapa kamu nggak cepat nikahin dia?”


Nevan menatap Mecca dengan tatapan nanar. “Belum waktunya.”


Mecca mendengus kesal. Lalu menampar pipi Nevan. “Bodoh!”


Sekali lagi Nevan menggeleng. “Belum waktunya.”


“Bukannya kamu sangat mencintai puteri Aisha? Dan mama jadi kepikiran bagaimana keadaan keluarganya setelah skandal yang kalian buat?” Mecca merasakan nyeri di dadanya. “Harusnya keluarga kita yang bertanggung jawab.”


Nevan tersenyum tipis. “I already did, Mam.”


...----------------...


“Pagi ini aku akan mengajakmu ke suatu tempat, cepat mandi,” ujar Steven kepada Briana.


Briana mendadak bengong melihat Steven yang tidak seperti biasanya itu. Steven nampak sedikit bersemangat tidak seperti biasanya. “Ayo, malah melamun!”


Briana mengangguk pelan. “O-oke, Pah.”


Setelah menunggu kurang lebih 30 menit, Steven menarik tangan Briana. Cuaca di langit kota Los Angeles cukup cerah, udaranya sedikit dingin. Steven hanya berjalan menyusuri kota Los Angeles.


“Kenapa kita nggak naik angkutan umum?” tanya Briana penasaran.


Steven tersenyum tipis. “Tempatnya ada di dekat sini.”


Wanita berkacamata tebal itu mendadak menghentikan langkahnya. “Pah, boleh kita bicara sebentar?” tanya Briana.


Steven seraya menoleh cepat. “Baiklah.”


Mereka kemudian berjalan menuju ke sebuah taman yang ada dipinggir kota Los Angeles. Taman kota itu nampak ramai oleh orang-orang yang sedang berolahraga pagi. Briana dan Steven duduk di sebuah bangku.


“Aku penasaran kenapa papah tiba-tiba mengajak pindah ke Los Angeles?”


“Demi kamu dan calon anakmu.”


Briana tersenyum puas. Papahnya tidak sekejam yang dia pikirkan selama ini, terbukti dengan Steven menerima janin yang ada di perut Briana. “Maafkan Briana, Briana seharusnya tidak melakukan hal-hal yang tidak terpuji seperti ini.” katanya sambil memilin-milin jari jemarinya. “Soal itu apa aku nggak boleh menikah...”


“Belum saatnya,” potong Steven, dengan suara datar. Hatinya hancur seribu kali daripada Briana. Steven tak mau membuat puterinya itu makin bertambah bersalah, Steven juga tak mau Briana stress karena dihantam masalah lain. Pria paruh baya itu juga menyayangi calon cucunya itu.


Alis Briana tertaut samar. “Tapi, anak ini butuh ayahnya, dan ayahnya itu—”


Steven berdehem, lalu beranjak berdiri, tanpa menjawab pertanyaan maut Briana. “Kita ke tempat yang tadi, kita sudah ditunggu.”


Briana bergumam sendirian. Merasa ada sesuatu yang mengganjal. “Mau kemana?”


Steven berjalan dulu, diikuti Briana mengekor di belakangnya. Briana sesekali melihat gedung-gedung tinggi bertingkat di kanan kirinya. Mulutnya tak berhenti menganga, impiannya sejak dulu adalah sekolah berbagai macam makeup di Los Angeles.


Saat berjalan kaki kurang lebih 12 menit, Briana dan Steven sampai di sebuah jalan besar. Lagi-lagi mulut Briana menganga karena banyak yang menyediakan aneka makanan, dan berbagai macam toko asia di kanan kiri jalan. Masih dalam mulut menganga, tiba-tiba Steven berhenti mendadak. Hingga tubuh mungilnya bertabrakan dengan papahnya.


“Papah, kok berhenti mendadak, sih?”


Steven membalikkan tubuhnya cepat ke arah Briana. “Kita sudah sampai.”


“Serius?” mata Briana mengedar ke seluruh sudut kota. Menatap kanan kirinya tapi, dia masih belum menyadari jika tempat yang dimaksud Steven itu letaknya ada di sebelah kanannya berdiri.


Maka, Steven dengan cepat memegang bahu Briana kemudian menghadapkan tubuh mungil puterinya itu ke samping. “You saw that, right?” Steven menepuk kedua bahu Briana pelan.


Dari balik kacamata tebalnya itu, bisa dilihat matanya tampak berbinar bercahaya. Sedetik kemudian, matanya berkaca-kaca. Briana tak percaya dirinya sedang berdiri di depan sekolah impiannya. Sekolah yang dia impikan sejak dulu.


“I had a beautiful dream.”