My Lovely MUA

My Lovely MUA
56.



...Seperti mencinta, bila rindu harus terpenuhi.....


Itulah salah satu kalimat yang diingat Briana, saat dia duduk di bangku SMA. Dua tahun setelah Nevan pergi meninggalkannya, dua tahun itulah awal dirinya bangkit dari jeratan racun Nevan yang membuatnya tak sadarkan diri dari dunia nyata. Kalimat itu, muncul dari Aisha, sang ibunda.


Rindu yang dipikul Briana begitu dalam, sampai dia lupa membuka pintu hatinya kembali untuk para laki-laki. Briana lupa cara mencintai dengan benar, hingga terlalu nyaman menimba ilmu, melupakan hal-hal pahit yang ia tanggung beberapa tahun ini. Dia hanya memegang teguh keputusannya, yaitu tidak akan pernah menikah dengan pria manapun. Briana tertawa dalam kesakitannya, siapa yang akan mau memilihnya sebagai pasangan hidup? Dia tidak suci lagi. Haruskah dia kembali kepada Nevan? Tidak, dia akan menahan perasaan bodoh itu untuk tidak datang lagi kembali.


Namun, takdir berkata lain. Perasaannya, tak bisa dibohongi, mempertahankan egonya, mempertahankan gengsinya. Hingga, akhirnya Briana mengakui jika perasaannya tak pernah berubah sedikitpun untuk pria yang menyakitinya berkali-kali. Pria yang sudah menghancurkan hatinya berkali-kali.


Sampai detik ini mereka berdua saling menikmati perasaan yang tak akan pernah bisa berakhir, entah sampai kapan, mereka akan berhenti berjuang.


“Kamu tahu, selama enam tahun ini aku nggak pernah dekat dengan cowok manapun,” ucap Briana seraya duduk berdua, menyandarkan kepalanya di bahu Nevan.


Nevan hanya bisa tersenyum simpul. “Aku tahu.”


Sore itu, selepas Briana selesai bekerja, Briana sempatkan untuk bertemu dengan Nevan. Nevan mengajaknya ke sebuah bukit yang sering mereka datangi dulu. Bedanya, dulu Nevan mengancam dirinya akan terjun dari jurang di bukit itu. Tapi, untungnya dia selamat.


“Kamu nggak pengen terjun kesana lagi?” goda Briana, kembali.


Nevan terkekeh pelan. “Gimana kalo aku mati? Kamu pasti seneng, terus married sama badjingan itu.”


Briana tertawa lalu memeluk lengan Nevan erat-erat. Memejamkan matanya sejenak. “A-aku nggak mau married sama siapapun,” katanya sambil menggigit bibir bawahnya.


Nevan segera meluruskan tubuhnya, dan membawa tubuh Briana menghadap kepadanya. “What do you mean? Am i really the worst of all?” cecar Nevan.


“Are you afraid, i will hurt you again? Aku nggak pernah tahu kalau pikiranmu sedangkal itu,” ucap Nevan dengan nada kecewa.


Briana mengunci bibirnya rapat-rapat.


“Kamu trauma?” tanya Nevan lagi.


Briana menengadah, dengan matanya yang sudah berkaca-kaca. Matanya mengerjap perlahan, lalu berpaling ke arah lain. “Iya, aku takut sama kamu.”


Nevan berdecih. “Aku akan berusaha.”


Hati Briana terasa nyeri, jika dirinya terus memaksa bersama dengan Nevan, dia akan mengalami hal-hal buruk seperti dulu lagi, bukan? “Maksud kamu berusaha untuk apa?”


“Berusaha menahan kesintinganku.”


Briana menulan ludahnya kembali. “A-aku mau pergi ke LA tahun ini.”


Nevan mengernyit lalu membalik badan Briana. “Kemana?” tanyanya, sekali lagi.


Briana tak sanggup melihat netra Nevan, tak sanggup jika menyuruhnya untuk pergi lagi. “Aku mau ngejar cita-citaku disana, di Amerika!”


Tangan Nevan mendadak melemas, kekasihnya ini benar-benar penuh kejutan seperti dulu. Haruskah dia menahannya lagi? “Kamu mau mengulang kejadian kayak dulu lagi?”


“Kejadian apa?”


Nevan mendesah kesal. “Bri, aku tuh nggak bisa jauuh-jauh sama kamu!”


“Ya, kamu harusnya ngerti dong Van, aku disana sekolah, bukan pacaran!”


Nevan menggeleng. “Kamu bisa jamin?”


Mata Briana menyipit. “Lalu kamu sendiri di Inggris, ngapain aja?” katanya pelan.


Mata Nevan berkilat tajam. “Maksud kamu apa?” tanyanya, yang sudah emosi karena merasa Briana menuduh dirinya sembarangan. “Kamu nuduh aku?”


Briana menghela napas panjang, lalu memberanikan diri menatap netra Nevan yang sudah menggelap karena emosi. Benarkan, Nevan memang tak pernah bisa berubah.


Nevan berdecih emosi. “Aku disana kuliah, Bri, aku dituntut supaya bisa lulus nggak lebih dari 4 tahun! Kamu pikir enteng apa ngejalanin kehidupanku disana, sendirian...” Nevan sedikit menjeda kalimatnya. “Tanpa ada kamu disana?” katanya pelan.


Pipi Briana merona, entah bohong atau tidak. Tapi, yang jelas kini Briana sedang bertempur melawan logikanya.


Nevan berdehem. “Aku bakal nunggu kamu sampai kamu berubah pikiran,” Nevan menghela nafas sedikit, lalu meneruskan kalimatnya kembali. “Berubah pikiran supaya mau married.”


Pandangan Briana nanar, membuat keputusan itu tidaklah mudah. Salah satu hal yang ingin dia lakukan adalah meraih mimpinya belajar di negeri orang. Dia sudah mengidam-idamkan belajar lebih dalam tentang dunia makeup di Los Angeles. Briana berencana apply beasiswa supaya lebih meringankan biaya diplomanya disana.


“Kamu bisa hidup sendiri di Amerika?” tanya Nevan, cemas.


Briana mengangguk. “Bisa, aku udah nabung dari awal masuk kuliah, cukup buat sekolah selama kurang lebih 6 bulan.”


Nevan tersenyum masam. Enam bulan katanya? “Kamu udah yakin?”


“Iya, itu sudah jadi impianku sejak dulu.”


Nevan rasa langit malam ini mengamini doa, dan impian Briana yang ia katakan. Bintang-bintang pun berkelap-kelip seolah berbahagia melihat wajah sumringah Briana saat ini.


Nevan akan mencoba bersabar, dia tidak akan menghalangi Briana kembali.


...----------------...


Pagi ini, Briana mendapat job seorang klien yang lumayan rewel.


“Maaf ya, Kak aku sedikit rewel,” ucap gadis itu sembari tersenyum hangat.


Briana tertawa. “No problem, senyamannya kamu aja, ya?”


Saat berkonsentrasi penuh, pesan dari Nevan mengalihkan perhatiannya.


Nevan


Sibuk?


Briana membaca sekilas pesan pada notif di layar benda pipihnya. Sebelum melanjutkan pekerjaannya kembali yang belum selesai. Briana mencoba untuk mengabaikannya terlebih dulu.


“Dibales aja dulu chat-nya, Kak, no problem kok,” ujar klien Briana.


“Eh, seriusan nggak papa?” tanyanya, memastikan kembali.


Gadis itu menggeleng pelan. “Serius, Kak.”


Briana lalu segera meraih kembali benda pipihnya untuk segera menghubungi Nevan. Tanpa membuang waktu segera ia memencet nomor Nevan.


“Ada apa?” tanya Briana serius.


Di seberang sana, Nevan nampak tersenyum-senyum sendiri. “Habis nge-job, dinner lagi, bisa?”


Briana berpikir keras. “Tunggu-tunggu, hari ini aku selesai sekitar jam 5 sore, bolehlah.”


Nevan mengukir senyum sumringah diseberang sana. “I brought a little gift for you,” ucap Nevan seraya menatap layar mackbook pro-nya.


“Apa itu?” tanya Briana, penasaran.


“Rahasia,”