My Lovely MUA

My Lovely MUA
48.



Seminggu setelah kedatangan Reno dan keluarganya untuk melamar Briana, dengan sangat berat hati Briana menerima lamaran Reno. Entah sampai kapan dia harus bermain kucing-kucingan dengan Nevan.


“Na, hari ini tolong ya belanja kayak biasa di mall,” pinta Aisha sebelum bersiap-siap pergi ke rumah kliennya.


“Satu lagi, perginya sama Reno!”


Briana menghela nafas panjang, sudah tahu arah dan tujuannya pasti akan kesana. “Pergi sendiri juga bisa,” ungkapnya.


“Nggak bisa, dia udah on the way kerumah,” potong Aisha, lalu bersiap-siap pergi bersama Nabilla.


Briana melotot tak percaya. “Idih, maksa!”


“Mamah nggak mau jadi bahan omongan klien-klien mamah,” ucapnya, seraya pergi menuju mobilnya.


“Udah turutin aja,” bisik Nabilla, seolah mengejek Briana.


Briana memijit ujung pelipisnya, lama-lama minus matanya makin bertambah karena tingkah kedua orangtuanya yang seenaknya sendiri. Pusing, berkunang-kunang.


Satu-satunya cara untuk melarikan diri adalah segera pergi sekolah lagi ke Amerika. “Gue kudu cari cuan yang banyak, trus minggat!”


Telinga Elsa mendadak mendengar suara gumaman bos kecilnya itu. “Minggat? Kemana?”


Briana mendengus. “Bukan urusan, lo!”


Elsa lalu mendekati Briana yang nampak sangat kesal beberapa hari ini. “Kak, gimana kabarnya om bule?”


Mata Briana terbeliak kaget, mendengar Elsa menanyakan Nevan. “Baik.”


“Kak, beberapa hari yang lalu saya tahu Kak Briana diam-diam turun dari mobilnya om bule.”


Briana langsung membekap mulut Elsa cepat. Bisa mampus jika kedengaran Steven. “Jangan ngadi-ngadi!”


Elsa terkesiap, lalu menoleh ke arah depan kantornya ada mobil mewah sudah terparkir disana. Berani sekali batin Briana. Dengan langkah seribu Briana lalu keluar menghampiri mobil itu. Elsa yang tengah celingak celinguk mulai bingung, siapa yang datang.


Briana membuka pintu mobil Nevan, matanya mendelik tajam. “Kamu kok....”


Nevan terkekeh. “Ketahuan nggak papa, biar dihajar lagi.”


“Van!”


“Um, apa?”


Briana memasang wajah cemberut. “Jangan coba-coba parkir mobil disini, ntar ketahuan papah!”


Nevan tak menggubris lalu melajukan mobilnya. Briana masih memasang wajah cemberut. Tentang lamaran, dirinya belum bilang apapun kepada Nevan. Briana lebih baik bermain aman daripada diancam kembali oleh Nevan.


“Hari ini aku mau beli kebutuhan makeup. Anterin aja, ntar kamu lanjut kerja,” pinta Briana.


Nevan menggeleng. “Aku antarin sampai selesai.”


Briana membuang mukanya ke samping. Sedikit kesal dengan perlakuan Nevan yang sering semena-mena itu. Tak bisa dipungkiri, Nevan yang dulu saat SMA, dan Nevan masa kini tidak jauh berbeda. Semuanya harus tunduk dan dibawah dalam kendalinya. Briana tak bisa membayangkan bagaimana jika Nevan tahu jika sahabatnya telah melamar dirinya.


“Ngapain, diem?”


“Nggak, cuma rada sebel aja.”


Nevan terkekeh, sambil melirik wajah Briana yang kusut sedari tadi. Tak berapa lama, mereka sudah sampai di mall tempat Briana belanja produk-produk makeup ternama.


“Kamu beneran nggak papa ikut?”


Nevan menggeleng sambil melepas seat beltnya, lalu mengulas senyuman manis. “No, anything for you, babe.”


Briana merasakan ketulusan di dalam senyuman manis Nevan, tapi sesaat sebelum Briana pergi. Tangan Briana dicekal kuat oleh Nevan. “Anything for you, but don't ever lie to me!” ancam Nevan, dengan tatapan mematikan.


Glug! Briana meneguk ludahnya kasar. Sebelumnya ia mencoba menerka kata-kata terakhir yang Nevan berikan padanya. Bohong? Apakah Nevan sudah tahu kebohongan Briana, jika memang Nevan tahu, berakhirlah hidup Briana hari ini.


“Apasih, aku nggak bohong,” sanggah Briana, sedikit gagu.


Nevan tersenyum miring, lalu membiarkan Briana turun dari mobilnya. Setelah turun, Briana berjalan duluan dengan Nevan di belakangnya. Hari itu, Briana ingin sejenak mengusir Nevan dari sisinya, karena Nevan cukup kaku untuk masalah permakeup-an karena dia seorang laki-laki.


Sesampainya di outlet yang menyediakan berbagai macam jenis highlighter untuk kebutuhan meriasnya, Briana sibuk memilih-memilih. Sampai, tidak disadari Nevan sudah tidak berada lagi disampingnya. Lelaki itu juga sibuk mengitari rak-rak berisi makeup.


“Masnya lagi cari lipstik atau bedak buat pacarnya, ya?” tanya salah seorang SPG kepada Nevan.


Nevan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, diketahui sekarang bahwa Briana sedang ada di outlet makeup merk D*or. Tentu saja harganya satu lipstik bisa untuk membeli satu buah air fryer untuk memasak ayam goreng. “I-iya, tapi saya nggak paham,” kilahnya.


SPG itu mengangguk. “Sebelah sini lipstiknya, Mas. Saya bantu carikan, mungkin ada foto pacarnya?”


Nevan kemudian meraih benda pipihnya di saku celananya. Lalu memberikan foto Briana yang tercantik kepada SPG tersebut, sejenak SPG itu menganga. “Ini pacarnya, Mas?”


“Dia kan salah satu MUA terkenal, wah beruntung banget! Saya pilihkan ya, sebentar,” ucap SPG tersebut lalu memilih-milih beberapa lipstik yang cocok untuk bibir merah merekah Briana.


“Ini, untuk hasilnya matte, jadi nggak glossy,” imbuh SPG itu. “Lalu, yang ini merah berani bold dan flawless, dijamin nanti Kakak MUA tambah seksi, Mas.”


Nevan terkekeh, membayangkan hal-hal yang tidak-tidak. “Saya beli tiga tipe itu, masing-masing beda warna, bungkus semua,” pinta Nevan cepat, sebelum ketahuan Briana.


“Baik, tunggu sebentar,” ucap SPG tersebut.


Saat Nevan menunggu, Briana menepuk pundak Nevan. “Van?”


Suara lembut Briana kontan membuat Nevan menoleh cepat dan menemukan wajah Briana yang kebingungan. “Ngapain?”


“Um, i-itu beli lipstik,” ucap Nevan, meringis.


Briana mengernyit, dahinya berkerut-kerut alisnya samar terpaut. “Buat?”


“Buat mama,” ucapnya, canggung.


Raut wajah Briana terlihat sedikit kecewa, dia pikir Nevan akan memberinya sebuah lipstik atau apalah. Ternyata salah.


“Yaudah, aku lanjut nyari lagi ya,” ucap Briana, lalu melengos pergi.


Nevan, membiarkan Briana pergi dalam keadaan kecewa. Toh, nanti juga dia akan memberikan lipstik itu kepadanya. Nevan terkekeh pelan.


“Loh, Kakaknya mana, Mas? Saya ngefans banget loh!” ucap SPG itu celingukan mencari Briana yang sudah melengos pergi ke rak yang lain.


“Masih belum selesai milihnya,” ucap Nevan lalu segera pergi bergegas membayar lipstik itu.


Disatu tempat, mulut Briana bersungut, manyun maju. “Kesel banget, gue!” keluhnya.


“Kesel sama siapa, hm?” sahut Nevan, yang sudah berdiri di belakangnya.


Briana melengos. Lalu buru-buru memasukkan sebuah highlighter yang sudah lama ia cari-cari. Briana berjalan kembali untuk menemukan sebuah blush-on.


“Bri?”


“Um?” jawab Briana, datar.


“Will it be long?”


Briana menggeleng. ”Mending kamu nunggu diluar.”


Nevan terkekeh, jelas sekali Briana sangat kesal padanya. Nada bicaranya saja sangat ketus. “Oke-oke aku tunggu diluar ya,” jawab Nevan sengaja membuat Briana tambah kesal.


Kaki Briana tanpa sadar dihentak-hentakkan di lantai, sangat menyebalkan, batinnya. “Sialan!”


Nevan terkekh pelan sambil berjalan keluar hingga ke depan outlet D*or. Hingga sepasang mata menemukannya, wanita itu sangat antusias hingga tak sadar hampir terjatuh saat berlari kecil, hingga memeluk mesra Nevan tiba-tiba.


“Ngapain disini?” tanya wanita semampai itu kepada Nevan.


Mata Nevan terbeliak saat wanita itu dengan gampang memeluknya. “If you don't move, i will kill you!” bisik Nevan di telinga wanita cantik itu.


...----------------...


“Kak Briananya, sudah pergi dari tadi, Mas,” ucap Elsa kepada Reno, sedikit gugup karena Briana sudah berangkat bersama Nevan.


Wajah Reno nampak kusut, pagi itu dia rela meninggalkan pekerjaannya hanya demi Briana. Ya, meskipun dia adalah CEO dari perusahaannya sendiri. Namun, dia tidak enak meninggalkan jam kerjanya sembarangan seperti ini.


“Sama siapa?”


Elsa meneguk ludahnya, dia menghembuskan nafasnya pelan-pelan. Supaya tak salah bicara. “Naik ojol, Mas,” ucapnya sembari tersenyum, puas.


Reno terkekeh. “Mobilnya warna apa?”


Elsa sudah pasti pintar menjawab tanpa perlu berpikir akan salah. ”Mobilnya warna merah, mewah banget mobilnya, kayak punya Mas Reno gitulah!” ucap Elsa, dengan percaya diri.


Reno tersenyum miring, gampang sekali Elsa ini dibodohi. “Jadi, Briana naik ojol atau mobil mewah?”


Elsa menulan ludah karena gugup, dia lalu memukul bibirnya itu yang salah bicara. “I-itu Kak Briana...”


Reno tersenyum sedikit kecewa. “Udah, nggak papa. Aku tahu kok Briana pergi sama siapa,” jawab Reno, pasrah. Lalu, berpamitan pergi kepada Elsa.


Lutut Elsa langsung kaku, pasti Briana akan marah-marah lagi padanya. “Aduh, gimana ini, pasti Kak Briana pasti bakalan marah-marah lagi,” ucap Elsa, pasrah. Hanya pasrah jika suatu saat Briana akan marah besar padanya.


Di lain tempat, Reno memukul setir mobilnya dengan kesal. Reno tak akan pernah menyerah untuk mengejar cinta Briana. “Kalau itu mau lo, gue siap bertempur dengan cara lain, Van.”