My Lovely MUA

My Lovely MUA
89.



Satu bulan kemudian..


Setelah Caca melahirkan anaknya siang itu, Briana dan Nevan langsung terbang ke Los Angeles. Kerempongan kehebohan tidak bisa terhindar dari pasangan sejoli yang baru saja pindah ke rumah yang baru. Meskipun rumah mereka yang baru sudah lengkap, tapi Briana merasa masih ada yang kurang.


“Sayang, kamu dimana?” panggil Briana dari dalam kamar utama. Sebelum Sean terbangun, dia bergegas untuk turun ke lantai bawah mencari keberadaan suaminya.


“Sayang...”


Tak ada jawaban sama sekali, selagi dia mencari keberadaan Nevan dia pergunakan waktunya untuk home tour. Rumah yang ditempati sangat mewah. Desainnya ala-ala rumah Amerika yang sedikit dimodif seperti rumah Indonesia. Sayup-sayup terdengar suara Nevan berbicara dengan seseorang di telpon.


“Besok pagi aku akan ke sana, tidak usah khawatir, thanks,” kata Nevan mengakhiri pembicaraannya.


“Mau kemana?” tiba-tiba Briana sudah muncul di belakang Nevan. Sontak Nevan langsung membalikkan badan cepat karena Briana.


Nevan tersenyum kaku. “Ke kantor cabang, kan sudah pindah ke L. A, sayang.”


Briana mencebik. “Kamu bisa kesana sendiri kan?”


Nevan mengerti jika Briana sedang berpikir yang tidak-tidak. Sebelum Briana berpikiran yang tidak-tidak tanpa seijin isterinya, dia segera mencium bibir merona Briana secara brutal. Tanpa disadari, Briana sedikit mendorong tubuh Nevan agar menjauh darinya.


Dahi Nevan berkerut-kerut merasa aneh. “Kenapa?”


Briana membuang muka ke samping sambil menggerutu lirih. “Siapa tadi yang telpon, kamu mulai bohong lagi?!”


Lagi-lagi dahi Nevan mengernyit. “Lagi? Emang sebelum ini aku pernah bohongin kamu soal apa?”


Briana sangat kesal karena Nevan berpura-pura seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. Apakah dia tidak ingat segala kebohongannya pada dirinya selama ini selama dia di Indonesia? Apakah semua itu belum cukup untuk terus bersikap jujur kepadanya?


Merasa malas menanggapi, Briana segera berbalik badan lalu melangkahkan kakinya ke dalam rumah kembali. Tapi, sebelum dia melangkah pergi seperti biasa Nevan menahannya dengan menarik pinggang rampingnya ke dalam rengkuhannya. Nevan benar-benar terbius saat selalu dekat dengan Briana.


“Lepas!” Briana meronta. Terasa dejavu saat pertama kali bertemu seperti beberapa tahun lalu.


Nevan tersenyum miring. “Nggak bisa, kamu marah tanpa sebab sih!”


Briana menyikut perut Nevan sedikit kencang. Kemudian segera melarikan diri ke dalam rumah menuju kamar utama bersama Sean. Saat itu juga Nevan meringis kesakitan karena ulah Briana yang selalu usil kepadanya.


“Ada apa sih sama dia?” gumam Nevan lirih, seraya memandangi punggung Briana yang sudah menghilang secepat kilat.


Sementara itu Briana sedang menggigit bibir bawahnya sambil mondar-mandir di samping ranjangnya. Dia sedang merutuki dirinya sendiri karena terlalu bodoh memperlakukan suami seperti itu. Ia berharap Nevan tidak akan menghukumnya kali ini. Tak lama kemudian, pintu kamarnya dibuka perlahan oleh sang suami.


“Ngapain bengong? Kalau ada masalah cepat cerita, jangan dipendam terus marah-marah.”


Briana tetap berdiri membeku saat Nevan sudah masuk ke dalam kamar lalu mendekati Briana perlahan. Entah mengapa suasana hatinya begitu labil beberapa waktu ini. “Tadi siapa?”


Nevan menghembuskan napasnya kasar. “Udah aku bilang itu karyawan aku, kalau nggak percaya besok aku ajak kamu sama Sean, puas?” ucap Nevan jengah lalu menghempaskan tubuh lelahnya ke ranjang.


Nevan sangat lelah, perjalanan Jakarta-Los Angeles membuat badannya benar-benar remuk redam. Ditambah lagi dengan sikap Briana yang tiba-tiba berubah emosian. Dia lalu menutup telinganya menggunakan bantal, lalu membelakangi Briana yang masih tetap berdiri di belakangnya.


“Aku kan cuma nanya, gitu aja marah!” balas Briana tak kalah sewot.


Briana mengernyitkan dahinya, karena tidak ada jawaban terlontar dari mulut Nevan. Sudah bisa dipastikan bahwa suaminya itu sudah tertidur pulas sama dengan Sean. Briana menghela napas kemudian menyusul Nevan untuk beristirahat.


Keesokan paginya, matahari bersinar terang menyinari kota Los Angeles. Briana sudah bangun dulu, sementara Sean menemaninya dan diletakkan di sebuah bouncer di dekatnya. Bayi usia tujuh bulan itu terlihat tertawa riang oleh sesuatu.


“Ada apa sayang? Apa yang membuatmu senang?” tanya Briana sambil memasak sarapan paginya.


“Dhii..Thah,” celoteh Sean sambil tertawa lagi.


Briana penasaran kemudian menengok ke belakang, ternyata sudah ada Nevan yang ber-cosplay menirukan berbagai ekspresi lucu. Sehingga membuat Sean tertawa gemas melihat Nevan. Sebenarnya, Briana ingin tertawa juga. Namun dia merasa harus menahannya karena masih marah karena kejadian malam tadi.


“Sarapan sudah siap, buruan sebelum dingin,” ajak Briana seraya duduk di meja makan.


Nevan tak peduli masih menggoda Sean agar tertawa kembali, sedetik kemudian Sean sudah berpindah di pangkuan Nevan. Mata Nevan mengamati wajah lelah isterinya itu. Sebenarnya, dia ingin mengatakan sejujurnya tapi apakah dia bisa?


“Sayang sebenar—”


“Sarapan dulu,” potong Briana seraya memberikan beberapa potong sandwich ke piring suaminya. Sambil menghela napas panjangnya. “Selesaikan sarapannya, baru kamu bisa bicara.”


Nevan mengangguk pelan menuruti permintaan isterinya itu. Lalu mendudukkan Sean di atas high chair untuk bergabung bersama menikmati sarapan.


Lima belas menit berlalu tanpa ada percakapan dari mulut mereka berdua, kecuali celotehan Sean dan Nevan. Briana meletakkan sisa sandwich-nya itu ke atas piringnya. Lalu mendongak sedikit memposisikan sejajar dengan Nevan yang duduk tepat di depannya.


“Ada yang kamu sembunyikan lagi?”


Nevan sontak menoleh cepat saat suara Briana terdengar seperti menginterupsinya. Sebelummya, dia masih becanda ria dengan Sean, namun aura dingin tampak sedang menyelimuti ruang makan berukuran luas tersebut.


Nevan berdehem. “Sebenarnya kemarin aku menelpon Katy, kamu masih ingat dia, kan?”


Briana mengangguk cepat. “Tentu saja, ada urusan apa kamu menghubunginya?”


Nevan tersenyum tipis seolah mendapat kemenangannya. “Hari ini kamu akan tahu, setelah ini ajak Sean mandi denganmu.”


“Nggak!” jawab, Briana singkat.


“Kenapa?”


Briana mengambil piring Nevan, dan piringnya lalu bangkit berdiri menuju tempat pencucian piring. Tak ingin berdebat lagi dengan Nevan, lebih baik dia segera menyelesaikan aktivitasnya mencuci piring. Tapi, tiba-tiba sebuah tangan kekar melingkar di pinggang rampingnya perlahan.


“Kamu marah?”


Briana mendengus kesal. “Nggak.”


Nevan terkekeh pelan. “Sejak jadi seorang isteri dan ibu, kamu jadi sering marah-marah. Padahal aku sudah berikan semua untuk kamu seorang, sayang.”


Briana memutar bola matanya jengah. “Masa?”


Nevan segera menarik tubuh Briana agar berhadapan langsung dengannya. Dia menatap mata Briana lekat. “Kamu ingin kerja di Hollywood?”