My Lovely MUA

My Lovely MUA
87.



“Aku... Aku cuma mau ketemu Nevan,” ucap Xaquil terbata-bata. Nafasnya juga tersengal-sengal karena sesak.


Mecca mendongak menatap nanar sang suami yang seperti kesulitan bernapas. “Nevan, dia ada di sebelahmu,” sahut Mecca sambil berurai air mata.


Vivian dan Andreas berdiri di sisi kanan papanya, tangan Vivian tak luput menggenggam erat sang papa. Sedangkan Andreas tampak sedikit berpikir keras. Dia merasa bersalah, entahlah mengapa.


“Aku minta maaf jika selama ini punya salah dengan kalian,” ucap Xaquil sambil menatap Andreas dan Vivian. “Papa terlalu keras pada kalian, apalagi dengan Nevan. Papa harap, sebelum aku mati bisa bertemu dengan anak nakal itu.”


Vivian dan Andreas menggeleng kompak. Salah satu diantara mereka berjalan keluar untuk menemui Nevan yang ternyata kamarnya terletak bersebelahan dengan Xaquil. Saat dia sudah berada di depan pintu kamar Nevan, dia segera menarik handle pintu perlahan. Saat melihat ke dalam, Aisha sedang duduk di sofa dan sedang memainkan ponselnya.


“Tante?”


Aisha tersenyum seraya mempersilahkan Andreas duduk bersamanya di sofa. Sedangkan Nevan masih tertidur di ranjangnya. “Kakak belum siuman?” tanya Andreas seraya duduk di samping Aisha.


Aisha menggeleng. “Tadi sudah bangun sih, tapi dia tidur lagi. Dia cari Sean sama Briana, terus papamu gimana, Yas?” timpal Aisha.


Andreas menunduk seraya mencengkeram ujung kaosnya. Tak terasa air matanya menetes di atas kaosnya yang berwarna abu-abu. Aisha penasaran kemudian menepuk pundak lelaki disampingnya perlahan. “Yas? Ada apa?”


Andreas menggeleng sembari mengusap air matanya. “Nggak kok, Tante. Cuma papa pesan kalau ingin ketemu kak Nevan, ternyata dia masih tidur.”


Aisha merasa iba, dia juga sedikit meragu jika harus bertanya tentang bagaimana kondisi besannya tersebut. Tak lama setelah mereka berbincang, Nevan melenguh memanggil nama Sean dan Briana lagi. Aisha segera bangkit menghampiri Nevan, lalu menepuk-nepuk bahu Nevan. Mata Nevan sedikit menyipit, memperhatikan orang yang berdiri di sampingnya. Dan ternyata itu adalah mertuanya sendiri.


“Nevan, Sean sama Briana di rumah mereka nggak ikut. Kamu disini sama mamah, sebentar lagi papah Steven kesini, dan juga ada Andreas,” ucap Aisha lalu berbalik mengkode Andreas untuk mendekat.


Setelah Andreas mendekat, dia menangis di hadapan Nevan. “Kak, papa pengen ketemu sama kakak. Papa udah menyesal kak, please maafin papa,” mohon Andreas seraya menggenggam erat tangan Nevan.


Bibir Nevan tersenyum sedikit. “L-lo balik aja ke kamar papa, gue nggak butuh lo nangis disini.”


Andreas menggeleng pelan. “Nggak, Kak. Papa pengen banget ketemu sama Kak Nevan, papa berpesan sebelum meninggal dia pengen ketemu kakak,” ujar Andreas kembali.


Nevan tersenyum miris. Setelah memukuli anaknya sendiri dia malah terkena serangan jantung dan menyesali perbuatannya. Apakah setelah meminta maaf pada Nevan dia akan benar-benar tulus pada cucu dan juga menantunya? Nevan tidak ingin berandai-andai, jika memang papanya masih tetap tidak ingin menerima keluarga kecilnya, detik itu juga dia akan pindah selamanya ke Los Angeles.


“Gimana, Kak?” Andreas bertanya kembali, setelah beberapa menit Nevan membuang muka ke samping dan tampak memikirkan sesuatu.


“Biarkan kakakmu istirahat dulu, Yas... Setelah kondisinya membaik, nanti tante antar ke kamar papamu,” potong Aisha.


“Nggak usah, Ma,” jawab Nevan, dingin. “Habis ini Nevan kesana,” sambungnya.


Mata Andreas tak dapat menyembunyikan kegembiraan setelah mendengar ucapan yang terlontar dari bibir Nevan. Setidaknya, Nevan sudah berusaha menerima walaupun berberat hati.


“Tapi, kamu kuat jalan ke sebelah?” tanya Aisha.


Nevan mengangguk kemudian pelan-pelan turun dari ranjangnya, di sampingnya sudah ada Andreas yang memapah Nevan. Sebelahnya lagi ada Aisha yang membawa tiang infus Nevan. Mereka bertiga berjalan pelan menyesuaikan langkah kaki Nevan yang tidak bisa diajak berjalan terburu-buru.


“Pa?” panggil Nevan mendekat di samping ranjang papanya.


Xaquil tersenyum tipis. “Maaf...”


“Nggak perlu, ini semua salah Nevan.”


Tangan Xaquil diangkat sedikit menyuruh Nevan supaya mendekat sedikit ke wajahnya. “Sampaikan maafku kepada cucu dan menantuku,” ucapnya lirih dengan suara bergetar.


Semua yang berdiri disana menangis sesenggukan saat melihat ayah dan anak yang saling bermaaf-maafan. Tak jauh dari posisi Nevan berdiri, Aisha juga mengucapkan banyak permintaan maaf untuk besannya tersebut. Sebaliknya, Xaquil dengan bibir bergetar juga mengungkapkan segala penyesalannya untuk Aisha dan keluarganya besarnya.


“M-maf...” ucap Xaquil terputus-putus, tiba-tiba sebelah tangannya yang terangkat itu mendadak lemas. Terjatuh di atas ranjang. Monitor jantung di sebelah atas kepala Xaquil juga berbunyi datar tidak berkedip-kedip lagi.


Dengan langkah seribu, Andreas segera memanggil perawat dan dokter untuk segera memeriksa kondisi papanya detik itu juga. Setelah dokter dan salah satu perawat tiba, mereka segera memeriksa Xaquil dengan menggunakan alat pacu jantung yang ditempelkan di atas dada Xaquil. Setelah beberapa kali dokter berusaha, namun monitor jantung tersebut tidak mengalami perubahan sama sekali.


“Maaf...” ucap dokter itu datar.


Nevan yang berada di samping papanya langsung ambruk di lantai tak sadarkan diri. Disusul juga dengan Mecca tubuhnya juga meluruh ke lantai karena sangat shock menerima kenyataan jika suaminya telah pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Setelah itu, Nevan dan Mecca langsung dibawa keluar untuk perawatan selanjutnya.


Dua minggu kemudian setelah kepergian papanya, Nevan sering melamun. Bahkan saat bermain dengan Sean, dia sedikit tidak fokus. Biarpun kondisinya sudah pulih, tapi hatinya belum pulih sepertu semula.


“Sayang...” panggil Briana lembut.


Nevan menoleh ke sumber suara, Briana sudah berdiri dengan cantik di ambang pintu kamar mandi. Dia hanya memakai kimono berbahan satin berwarna abu-abu, panjangnya diatas lutut. Sangat seksi, sampai Nevan meneguk salivanya berkali-kali. Tak mau menunggu lama, malam itu Briana cepat duduk di pangkuan Nevan yang sedari tadi berdiam diri di atas ranjang.


“Jangan sedih terus, papa pasti sudah bahagia disana, kalian juga sudah saling memaafkan,” ucap Briana seraya mengalungkan tangannya di leher Nevan.


Nevan tersenyum kaku. “Tapi, papa belum sempat ketemu sama Sean, Bri. Dan kalian belum saling memaafkan.”


“Aku sudah memaafkan papa, tidak pernah sekalipun aku sakit hati dengan kata-katanya. Kamu jangan sedih lagi, kasihan Sean rewel kalau lihat papanya cemberut terus,” sahut Briana.


Nevan sedikit tersenyum kemudian memandangi wajah ayu isterinya itu. Beberapa detik kemudian tanpa mereka sadari, mereka sudah saling bertukar saliva, lidah mereka juga saling membelitt. Entah sejak kapan mereka berdua sudah tidak berbusana. Yang jelas malam ini, Briana akan membuat Nevan bertekuk lutut sampai Nevan melupakan kesedihannya.


Keesokan pagi harinya, Nevan nampak serius berbincang dengan seseorang di gawainya. “Cabang di California akan dipindah di Los Angeles bulan depan. Kalian tolong segera bersiap-siap.”


“...”


“It's ok, aku tutup telponnya,” ucap Nevan mengakhiri percakapannya.


“Kenapa harus di pindah ke Los Angeles? Apa kita akan kesana?” ucap Briana di samping Nevan yang ternyata sudah menguping sedari tadi.