My Lovely MUA

My Lovely MUA
49.



“Jadi, Reno sudah berani selangkah lebih maju?” ucap Eric, kepada Mario.


Mario tersenyum datar. “Dia nggak bisa ditebak dari dulu, sama kayak Nevan.”


Eric lalu meminum minumannya sampai tandas. Matanya menyapu seluruh ruangan yang minim cahaya tersebut. Suara dentuman musik membuat Eric bergairah untuk menghubungi sahabatnya, Nevan. “Gue panggil si Nevan kesini.”


Mario berdecak sambil menghisap batang rokoknya hingga mengepul memenuhi ruangan. “Lo yakin?”


”Yakin, dia lagi bucin sama Briana,” ujar Eric, mantab.


Setelah itu, Eric mulai menghubungi Nevan.


“Bro! Sibuk nggak?” tanya Eric, sambil mengkode ke arah Mario.


“Nggak sibuk sih, gue baru pulang dari kantor,”


“Mainlah ke tempat biasa,” ucap Eric.


Hening, Nevan sedang menimbang ajakan Eric di seberang sana. “Boleh, gue juga lagi stress banyak kerjaan.”


“Oke, gue tunggu sama Mario.”


Mario tersenyum lega, pasalnya, sudah beberapa bulan dirinya tidak pernah berkumpul dengan Nevan. Kalau Reno, sudah pasti dia tidak mau karena ada Nevan. Entahlah, hanya karena satu wanita bisa pecah persahabatan mereka.


“Gue jadi bertanya-tanya, Reno kok bisa tergila-gila gitu sama cewek sahabatnya?” tanya Eric, heran.


Mario terkekeh sambil mematikan rokoknya, lalu minum kembali. “Diguna-guna paling,” ucapnya, tanpa dosa.


Eric melempar satu biji kacang ke arah Mario. “Setan, lo!”


Beberapa menit kemudian, Nevan sudah datang. Tubuhnya masih berbalut kemeja warna hitam, digulung keatas, seperti orang yang baru saja pulang lembur. Wajahnya kusut tak bertenaga.


“Duduk-duduk, sini,” kata Mario, cepat tanggap.


Nevan mendaratkan bokongnya ke tempat duduk kosong di sebelah Eric. Eric dan Mario saling melempar pandang, melihat wajah tampan Nevan yang kusut tidak cerah.


“Kusut banget, kurang ya?” goda, Mario.


Nevan tersenyum datar. Lalu menuang minuman di gelasnya. “Sialan lo! Gue lagi banyak kerjaan, mana Briana lagi ngambek sama gue.”


Eric mengedikkan bahunya, lalu melempar kode kearah Mario. “Cewek emang susah dimengerti.”


Nevan menyandarkan diri ke tempat duduknya, beberapa hari yang lalu setelah pertemuannya dengan Isyana di mall membuat Briana jadi mengamuk.


Flashback tiga hari yang lalu saat di Mall.


“Van?” panggil Briana, lirih namun nafasnya terasa ingin putus saat melihat Isyana tengah memeluk mesra Nevan di depan matanya. Briana juga melihat Isyana menenteng paper bag yang ia yakini sebagai lipstik yang Nevan beli untuk mamanya.


Briana mengurungkan niatnya untuk menemui Nevan, dia lalu berputar arah, keluar lewat pintu samping. Lebih baik daripada hati Briana tersayat-sayat kembali.


“You can't hear, me?!” sentak Nevan dengan mata melototi Isyana.


Isyana bergetar saat disentak Nevan, dia sangat malu diperlakukan kasar oleh Nevan di depan teman-temannya. Kedua temannya kemudian menghampiri Isyana yang sepertinya akan menangis. Tangan Nevan dengan cepat meraih paper-bag berisi lipstik itu kembali ke tangannya. “I don't want to see you anymore!” desis Nevan di telinga Isyana.


Nevan melangkah pergi menuju outlet kembali, untuk menjemput Briana. Namun, sayang Nevan sudah terlambat Briana sudah tidak ada di sana.


“Oh, shitt!” Nevan menendang udara. Tangannya terkepal kuat. “Crazy *****!” Nevan mengumpat sepanjang perjalanan mencari Briana. Dia sangat membenci Isyana melebihi apapun didunia ini.


Sejak kejadian itu, Briana tak pernah mengangkat telfon atau membalas pesan-pesan masuk dari Nevan. Tak kekurangan banyak cara, Nevan mulai menguntit Briana selepas bekerja setelah me-makeup kliennya. Tapi, tidak pernah dia sekalipun Nevan menemukan Briana berbohong dengan menemui pria lain di belakangnya. Bagaimana Nevan bisa tahu? Ya karena, Nevan tahu dari Elsa, pegawai Briana.


...****************...


“Bro, malah tidur?!” Eric menepuk lengan Nevan. Nevan mengerjap-ngerjap.


“Beban hidup lo kayaknya berat banget?” goda Mario, lagi.


Nevan menyugar rambutnya kebelakang, sontak pemandangan itu membuat para wanita yang berada di sana nampak saling berbisik dan memandang ke arah Nevan tanpa berkedip.


“Lo diliatin cewek-cewek disini, tuh,” timpal Eric, sambil terkekeh.


Nevan menggeleng. “I only love Briana,” ucap Nevan, dengan tatapan kosong.


Eric dan Mario menggeleng-gelengkan kepalanya. Ya, daridulu Nevan sangat menjaga Briana dari pandangan teman-temannya. Dulu saja Eric pernah terkena damprat Nevan saat sengaja mengobrol, padahal hanya mengobrol bertanya dimana Nevan. Tapi, Nevan seharian penuh emosi karena Briana.


“Kasih tahu nggak, Mar?” bisik Eric ke telinga Mario.


Mario mengedikkan bahunya, lalu melirik Nevan memainkan benda pipihnya.


“Van, lo kapan mau nikahin itu Briana?” celetuk Eric, tiba-tiba.


Nevan mengernyit. “Why?” Nevan lalu memgembalikan benda pipihnya ke saku celananya kembali.


“Saran gue, cepet nikahin daripada keduluan sama temen lo!” ucap Eric.


Posisi duduk Nevan seraya tegap memandang tajam ke arah Eric dan Mario. “Maksud lo?” mata Nevan memicing, ada sesuatu diantara Eric dan Mario.


“Lo nggak tahu kalau Briana dilamar sama Reno seminggu yang lalu?” sahut Mario, tanpa basa-basi.


Mata Nevan membola bagaikan ingin loncat dari tempatnya. Eric dan Mario bisa melihat saat rahang Nevan mulai mengeras karena menahan emosi. Meskipun samar-samar, tapi mereka berdua cukup tahu jika Nevan sedang marah.


“Fuckk! Lo kata siapa?!”


Kaki jenjang Nevan menendang meja didepannya, hingga bergeser agak jauh dari tempatnya. “Bang*at, gue mesti kasih pelajaran ke badjingan itu!” geramnya, sampai rahangnya mengeras.


“Calm down, Bro,” ucap Mario, mencoba menenangkan.


Nevan tertawa sinis. “Apa lo bilang tenang? Gimana bisa gue tenang coba lo bayangin, bang*at!”


Mario menuangkan minuman alkohol kedalam gelaa Nevan supaya Nevan tenang. “Minum dulu, lo butuh ngademin otak lo!”


Eric memijit pelipisnya perlahan-lahan. Dia dan Mario terasa menyesal telah berbicara sebuah fakta yang membuat Nevan mengamuk.


Nevan menatap gelas yang ada didepannya dengan tatapan nanar, yang lebih menyakitkan adalah Briana diam seribu bahasa berani membohongi Nevan. Nevan tersenyum smirk, lalu mengangkat gelasnya lalu minum sampai tandas. “Cewek sialan!” gumamnya, lalu Nevan tak henti-hentinya menenggak minuman alkohol didepannya sampai tetes terakhir.


...----------------...


“Halo, Bri? Lo dimana?” ucap Eric diseberang sana.


“Di rumah, Kak, kenapa tuh?” jawab Briana, santai.


Eric menjeda telfonnya beberapa detik, lalu dia kembali bersuara. “Gue bisa minta tolong nggak?”


Briana mengernyit penasaran. “Kenapa?”


“N-Nevan nggak sadar, tolongin, Bri!” kata Eric.


Briana mengerjap. Pandangannya terasa berat, Nevan tidak sadar? “Maksud Kak Eric, nggak sadar gimana?”


“Udahlah, lo buruan kesini, Nevan butuh lo!”


Tut! Sambungan telfon Eric terputus.


Briana lalu berjalan mondar-mandir di balkon kamarnya, pikirannya melanglang buana. Antara khawatir, dan juga takut. Briana sedikit meragu, sedetik kemudian benda pipihnya bergetar. Eric mengiriminya sebuah alamat, yang tidak asing di ingatannya.


Langsung saja, Briana berlari kecil mengambil cardigannya, dia kuncir kuda rambut coklatnya. Beruntungnya, saat Steven dan Aisha tidak berada dirumahnya karena ada job di kota Makassar. Sementara Briana menangani job di sekitar ibukota.


Kakinya dengan lincah menginjak pedal gas mobilnya, membelah jalanan malam ibukota yang masih ramai padahal sudah tengah malam. Sesampainya ditujuan, Briana segera merogoh benda pipihnya yang ia letakkan di saku cardigannya.


“Halo, Kak, gue udah didepan club,” kata Briana, cemas.


“Oke, gue bawa Nevan keluar.”


Jari-jari jemari Briana mengetuk-ngetuk steering wheel mobilnya sambil mengawasi pintu keluar club malam. Beberapa saat kemudian, Eric, dan Mario keluar memapah tubuh lemas Nevan yang sudah teler. Briana lalu menghambur keluar dan membuka pintu penumpang depan supaya memudahkan Mario dan Eric memasukkan tubuh teler Nevan.


“Sialan! Gue nitip Nevan, Bri,” keluh, Mario sambil mengusap peluh di sekitar keningnya.


Briana mengangguk pasrah. “Dibawa kemana ini, Kak?” tanyanya, polos.


Eric terkekeh pelan. “Bebas, lo mau buang juga gue ikhlas!” balasnya, sarkas.


Mario menambahi. “Atau lo bawa ke hotel, katanya dia kangen sama lo, hahaha,” Mario tertawa sambil melirik kearah Briana.


Briana sedikit tak nyaman, lalu berpamitan kepada Eric dan Mario. Setelah di mobil, Briana menatap kearah Nevan dengan keadaan yang mengenaskan.


“Masa gue bawa pulang kerumah sih? Atau ke apartementnya ajalah,” gumamnya.


Briana melarikan mobilnya dengan cepat menuju apartement Nevan. Nevan disampingnya mungkin kini sedang bermimpi indah. Sementara Briana merutuki dirinya sendiri.


Merekapun tiba di apartement Nevan, namun sekarang Briana tengah gusar karena bingung bagaimana mengangkat tubuh Nevan yang besar itu ke atas sana. Pasti sangat berat, mau tidak mau Briana membangunkan Nevan yang masih terlelap dialam mimpinya. Terpaksa sekali. Briana menepuk-nepuk pipi Nevan dengan pelan.


“Van, bangun,” ucap, Briana.


Nevan mengerang, ia sedikit membuka kedua matanya dengan berat. Dia pikir dia bermimpi, karena melihat wajah ayu Briana.


“Gue pasti mimpiin lo Briana,” katanya meracau tidak jelas.


Briana menggeleng-gelengkam kepalanya. “Lo nggak mimpi, bangun atau gue tinggal disini sendirian!” ancam, Briana.


Nevan bangkit setengah tersadar, matanya mengerjap-ngerjap menyesuaikan cahaya yang masuk samar-samar ke dalam matanya. “Erghhh, gue ngantuk,” katanya, lagi.


Tanpa babibu, Briana memapah tubuh besar Nevan dan mengunci mobilnya. “Lo bukan Briana pasti, lo pasti jalangg sialan yang buat gue sama Briana berantem,” racau, Nevan lagi.


“Bawel, gue Briana. Cantikan gue daripada Isyana!” kata Briana, kesal.


Nevan terkekeh sambil merapatkan tubuhnya kepada Briana. Briana menekan pintu lift, tubuh Nevan semakin mendekat erat kepada Briana. Sampai Briana akan oleng.


“Berat banget sih, hm!” keluh Briana, sambil memapah Nevan ke arah unitnya. “Sebutin password lo!” titah Briana setengah kesal.


Nevan masih menutup matanya, tiba-tiba tubuhnya terkulai lemas hingga ambruk ke lantai. Briana yang tak kuat menopang berat badan Nevan, otomatis juga ikut-ikutan ambruk di dada Nevan. “Passwordnyaah, tanggal pertama kali kita ketemu pas sekolah,” ucap Nevan sambil terbata-bata.


Briana berdecih, seraya berdiri mengingat-ingat kembali tanggal berapa mereka berdua bertemu. “Dua belas, sebelas, lima belas,” kata Briana, lalu memencet password apartement Nevan.


“Wah ajaib! Lo masih inget tanggal pertama kita kali ketemu?” kata Briana seraya membuka pintu. Tak lupa dia memapah lagi tubuh kekar Nevan sampai dia bawa masuk ke dalam kamarnya.


Nafas Briana tersengal-sengal saat menidurkan tubuh Nevan ke atas ranjangnya. “Sialan, kayak ngangkat karung beras aja!”


Briana lalu melirik arloji di tangannya, sudah sangat larut malam sekali. Apalagi dia ingat, dia tidak berani dirumah sendirian. “Gue mesti kemana?”


Briana lalu bangkit berdiri, tapi, tak disangka-sangka Nevan malah memeluk tubuh Briana dari belakang. “Please, don't go...”