
Sudah satu minggu sejak Briana melahirkan, dia sudah diperbolehkan dokter untuk pulang. Proses operasi sungguh membuat Briana kapok jika harus hamil kembali. Walaupun dia sangat lelah namun, semua itu terbayar dengan kehadiran bayi laki-laki yang tampan untuknya.
Sejak kepulangannya di rumah, Briana selalu bersedih saat melihat wajah anaknya itu. Sangat mirip Nevan. “Sean, kamu sangat mirip daddymu, mommy jadi pengen nangis,” ucap Briana, sambil menyeka air matanya.
Bayi kecil itu tersenyum dalam tidurnya. Beberapa saat kemudian, Aisha mengetuk pintu kamar Briana. “Na, mamah sama papah mau keluar sebentar, tenang aja sore waktu Sean mandi mamah sudah dirumah.”
Briana mengangguk pasrah. Bukan apa-apa, Briana sedikit ragu jika ditinggal di rumah sendirian. Pertama kali mengasuh newborn sendirian sangat melelahkan apalagi tidak ada teman. Hal itu sangat dirasakan Briana, beberapa hari ini Aisha yang memandikan Sean. Ia takut jika Sean jatuh saat mandi dengannya.
“Jangan lama-lama,” ucapnya setelah melepas kepergian kedua orang tuanya.
Tatapannya sendu saat bayangan kedua orang tuanya menghilang dari pelupuk matanya. Kini, dia hanya berdua dengan Sean. Entahlah, mengapa perasaan Briana jadi tidak enak seperti ini. Dan benar, baru dua langkah dia ingin membuka pintu kamarnya, ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya. Briana sangat terkejut, dia berusaha berpikiran positif. Mungkin Aisha ketinggalan barangnya hingga dia kembali lagi.
Sebelum Briana menarik handle pintu rumahnya, wanita itu menghembuskan napas dalam-dalam. Kemudian, perlahan-lahan memberanikan diri untuk membuka pintu tersebut. Akhirnya, Briana bisa bernapas lega saat mengetahui jika yang datang itu adalah Katie.
“Katie!” Briana bersorak gembira seraya memeluk sahabatnya itu.
Katie tertawa. “Kau sangat merindukanku sampai seperti ini?”
Briana terkekeh pelan. “Aku sendirian di rumah, kedua orang tuaku pergi keluar, aku hanya bersama Sean saja.”
Katie mengangguk pelan. “Kau tak menyuruhku untuk masuk, di luar sangat dingin.”
Briana tertawa sembari menarik tangan Katie untuk masuk ke dalam rumah. Sebelum menemui Sean, Katie melangkah menuju ke wastafel dapur. Hal itu penting, karena Katie khawatir membawa virus-virus jahat yang akan membahayakan Sean. Dia juga membawa empat totebag berukuran jumbo untuk Sean.
“Aku membawa selimut, dan beberapa pakaian hangat untuk Sean. Apakah dia tidur?” tanya Katie sambil mengelap kedua tangannya menggunakan tisu kering.
Briana mengangguk. “Dia sedang tidur, lalu kau berharap dia akan salto?”
Katie tertawa pelan sambil berjalan menghampiri Briana yang sudah duluan duduk di sofa ruang tamu. “Terimalah ini, ini semua untuk Sean,” Katie mengulurkan empat totebag jumbo itu di depan Briana.
Briana mencebik. “Kau terlalu berlebihan, ini sangat banyak! Kau gila?!”
Katie tersenyum tipis, seraya menggeleng. “Ini semua untuk mu dan Sean, kau jangan khawatir.”
Katie menatap sendu raut wajah Briana yang sepertinya sangat kelelahan itu. Kantong matanya sangat kentara, sudah menghitam seperti panda. Sudah pasti disepanjang malam dia selalu begadang. Seluruh bayi newborn di dunia ini jika malam tiba, pasti akan mengajak orang tuanya begadang. Maka dari itu, Katie tidak ingin punya anak karena menurutnya mengurus bayi itu sangat merepotkan.
Briana menyadari jika Katie terus menatapnya sedari tadi. “Kapan kau akan berhenti menatapku terus? Apa wajahku sudah berubah jadi zombie?”
Katie mengalihkan pandangannya ke arah lain lalu menutup mulutnya. “Persis, tapi itu sangat menarik. Bagaimana jika kita ber-selfie?”
Briana memutar kedua bola matanya jengah. “Dengan tampang seperti ini?! Tunggu, aku akan berdandan sedikit.”
Katie melongo, tunggu! Apakah Briana mencurigainya selama ini? “Begitu saja nampak alami, sudah jangan berdandan!”
Sebelum Katie maju mengejar Briana, gawai di dalam tasnya berdering. Matanya terbeliak saat melihat satu pesan baru yang membuat dirinya sedikit gugup. Pandangannya kemudian mengawasi kamar Briana yang terbuka sedikit. Ia bangkit, lalu berjalan ke kamar Briana, diarahkan kamera belakangnya melalui celah kecil yang terbuka sedikit. Katie lalu mengirimkan hasil gambarnya itu untuk seseorang.
Katie
...----------------...
Nevan Xaquil tidak menyangka jika pagi itu adalah hari dimana dia akan mengakhiri kerinduannya terhadap Briana dan juga bayi kecilnya. Sungguh, dia tak sabar ingin segera berlari memeluk wanitanya itu kembali ke dalam dekapannya. Lelaki itu berdiri menatap sebuah bangunan rumah bergaya minimalis khas Amerika. Tempat dimana Briana dan keluarganya tinggal untuk sementara.
Ada senyum tipis mengukir di bibirnya saat mengayunkan langkah menuju ke halaman rumah itu. Sebelum dia masuk, dia lebih dulu menghubungi seseorang melalui gawainya. Selang beberapa saat, wanita itu muncul dari balik pintu rumah Briana.
“Welcome, Mr. Xaquil,” wanita itu seraya membungkuk memberi hormat kepada Nevan dengan wajah tegas dan serius.
Nevan tersenyum tipis. “Apa dia ada di dalam?”
Wanita itu kemudian menegakkan tubuhnya kembali lalu berdehem. “Nyonya.. Sedang menyusuii Sean, dan sepertinya dia tertidur.”
Nevan menyeringai. “Kau boleh kembali, Katie.”
“Yes, Sir,” Katie membungkuk kembali lalu berpamitan kepada Nevan.
Sebelum Katie melangkah pergi, dia membalikkan tubuhnya. “T-tuan, bolehkah saya berbicara sesuatu?”
Nevan tak jadi menarik handle pintu rumah tersebut, lalu berbalik badan menatap Katie tajam. “Ok, talk to me, Kat.”
Katie tak tahu apakah ini salah atau benar tapi, sebelum bosnya itu melakukan hal yang tidak-tidak kepada Briana yang sudah dia anggap sebagai sahabatnya sendiri. “Ny-nyonya, sangat lelah, Sir, Sean nampaknya sangat menyiksanya.”
Nevan bergeming di tempatnya. Dia tersenyum miring. “Sean sepertiku, suka menyiksa Mommy nya.”
“Pergilah, Kat.”
Katie tertunduk malu, kemudian mengangkat kepalanya lalu merubah ekspresinya menjadi tegas dan serius kembali. “Yes, Sir.”
Katie lalu berjalan pergi, meninggalkan bos mesummnya itu sendirian di rumah bersama Briana. Katie sudah bekerja keras selama delapan bulan ini, berpura-pura menjadi murid di akademi bersama Briana. Katie sering mengajak Briana ber-selfie hanya untuk dikirimkan untuk bosnya.
Nevan tersenyum tipis saat melihat Katie sudah menghilang dengan mobilnya. Tak mau berlama-lama, Nevan segera memasuki rumah itu dengan mengendap-ngendap. Jika ada yang melihat, mungkin Nevan sudah mirip seperti seorang penyusup. Nevan masih melihat isi dalam rumah minimalis itu. Semua tertata rapi, dia hanya ingin memastikan Briana dan keluarganya sudah hidup aman di kota Los Angeles.
“I'm glad you're happy, Briana,” ucapnya, lirih.
Sebelum melangkah ke arah dapur, Nevan sedikit dikagetkan oleh suara pintu terbuka. Tak bisa lagi sembunyi, suara Briana sudah menggelegar meneriaki Nevan yang berdiri membelakanginya. Sialan! Apa yang dilakukan Briana, apa wanita itu gila? Bagaimana jika Sean terbangun mendengar teriakan ibunya seperti orang gila. Nevan terpaku di tempatnya kini sambil mulutnya berkomat-kamit mengumpati Briana.
“Diam disana! Atau aku akan memanggil polisi!” teriak Briana dengan suara bergetar.
Nevan masih bergeming di tempatnya tanpa membalikkan badannya sedikitpun. Dia masih penasaran, apa yang akan dilakukan Briana terhadapnya. Mungkin Briana kira Nevan adalah benar-benar seorang penyusup, dia memakai hoodie hitam dan topi melingkar di kepalanya. Meskipun begitu, bagaimana mungkin seorang penyusup bisa berpakaian mahal seperti dirinya sekarang? Nevan lalu tersenyum menyeringai saat mendengar langkah kaki Briana mengendap-endap berjalan kepadanya.
Tapi, sebelum Nevan membayangkan sesuatu yang indah-indah, tubuh belakangnya terasa sakit yang teramat dalam. Tubuh Nevan sudah meluruh saat ada benda keras menghantam punggungnya dengan cepat.
“Mati, kau!” Briana tersenyum penuh kemenangan.