
“Apa Briana disini?”
Elsa meringis mendengar suara bariton mengagetkan dirinya ketika mengambil sesuatu di bawah sana. “Ehh, om bule, eh jangan keras-keras nanti saya dimarahi sama bos besar.”
Nevan tersenyum tipis. “Briana ada?” ulangnya.
Elsa menggeleng. “Sudah berangkat tadi subuh ke Bekasi,” ucapnya dengan senyum lebar.
Nevan mendengus. “Bekasi mana?”
Mata Elsa mengerjap-ngerjap. “I-itu saya juga kurang tahu om, tapi itu job pernikahan.”
“Biasanya pulang jam berapa?”
Elsa memutar bola matanya. “Nggak tentu om, kadang sore,” timpalnya seraya tersenyum-senyum. “Kalau mau, saya kasih alamatnya.”
...----------------...
Senyum indah terukir di bibir manis Nevan. Harus dia akui, dirinya tidak bisa berlama-lama jika harus berjauhan dengan Briana. Dia ingin mengatakan jika akan mendukung sepenuhnya cita-cita Briana tanpa campur tangan sedikitpun. Itu adalah hak Briana, Nevan hanya ingin gadis itu bahagia.
Setelah sampai di tempat tujuan, tepatnya di hotel di pusat kota bekasi. Nevan meraih benda pipihnya untuk menghubungi Briana. Beberapa kali sambungan telfonnya tidak diangkat. Lalu dia pun memutuskan untuk masuk ke dalam hotel, nekat sih tapi bagaimanapun juga Nevan sudah bertekad bulat.
Tunggu, Nevan saja tidak tahu di lantai berapa dan di kamar nomor berapa Briana memake-up kliennya.
“Permisi mbak, saya keluarga mempelai saya ingin bertemu dengan mempelai. Ada di kamar nomor berapa ya?” tanya Nevan kepada salah seorang resepsionis.
“Oh sebentar, bapak,” resepsionis itu sedang mengamati layar komputer lalu berkata. “Ada di lantai dua, kamar nomor 123, bapak tinggal naik ke lift untuk menuju kesana,” katanya ramah.
Nevan mengangguk, lalu segera menaiki lift. Tidak peduli jika dia bertemu dengan Aisha, niatnya hanya ingin menemui Briana. Setelah sampai di lantai dua, Nevan melangkahkan kaki jenjangnya menuju kamar nomor 123. Dia menghela napas dalam-dalam sebelum masuk, tetapi, sebelum dia menarik handle pintu kamar nomor 123. Dari jauh dia melihat sosok wanita yang ia kenali berjalan bersama dengan lelaki yang juga sangat ia kenali. Mata Nevan menajam lalu, kedua tangannya mengepal sempurna. Hatinya begitu panas saat melihat Briana dan Reno berjalan bak sepasang kekasih yang mesra sambil tertawa-tertawa tanpa ada beban.
Dengan cepat, Nevan menghampiri mereka berdua.
Bhug! Bhug! Bhug! Tiga kali pukulan mengenai pipi Reno sampai tubuhnya tersungkur ke bawah lantai. Tidak peduli ada cctv, tidak peduli Briana berusaha melerainya Nevan tak henti-hentinya memukuli sahabatnya itu sampai lemas. “You stole her from me!” suara Nevan sangat keras hingga penghuni kamar sebagian ada yang keluar.
Pukulan itu beralih ke perut Reno, sampai Reno memuntahkan darah dari mulutnya. Nevan benar-benar kalap, amarahnya sudah tidak bisa dia tahan lagi. Sudah lama dia ingin sekali menghajar Reno jika perlu sampai mati.
“Van, stop dia bisa mati!” isak Briana sambil memeluk tubuh kekar Nevan untuk menghentikan aktivitasnya.
“Please, stop!” Briana memohon sambil mendorong tubuh Nevan hingga terjatuh di lantai. “Sadar Van, jangan pukuli dia lagi,” Briana menangis sambil menangkup wajah Nevan yang terlihat seperti orang kesetanan. “Tolong teman saya,” ucap Briana tersengal-sengal kepada semua orang yang mengeruminya.
Tak berapa lama security hotel datang, ia menghubungi ambulance karena kondisi Reno sudah tak sadarkan diri dengan keadaan yang kacau. Darah berceceran di lantai hotel. Briana menatap nyalang keadaan Reno yang babak belur dan bersimbah darah. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu menangis bersandar di dinding hotel.
Sementara Nevan, tersenyum sinis lalu terduduk di lantai melihat Reno diangkat oleh beberapa orang. Dia lalu menoleh ke arah Briana yang menangis di sampingnya. “Please, don't cry, huh?” kata Nevan dengan nada parau, sambil mengelus puncak kepala Briana.
“Jahat!” Briana berdiri lalu berlari keluar untuk ikut bersama rombongan Reno menuju ke rumah sakit. Masih saja baru berdiri ingin mengejar Briana, namun, Nevan sudah dihadang oleh tiga orang lelaki berseragam cokelat. “Saudara ikut kami untuk dimintai keterangan di kantor, anda berhak diam. Mari,” kata salah seorang dari mereka. Kedua orang lainnya menangkap kedua lengan Nevan.
Nevan tersenyum sinis. Karena dia seorang pengacara, dia harus bersikap kooperatif. “Saya bisa berjalan sendiri.”
Saat dia ingin memejamkan mata di ruang tunggu UGD, benda pipihnya bergetar di saku blazernya.
Nyonya Calling...
“Hal—”
Aisha langsung menyambar sebelum Briana menyelesaikan kalimatnya. “Na? Reno keadaannya gimana, kenapa bisa sampai kayak gitu?” ucapnya panik di seberang sana.
Briana menghela napas dalam-dalam mencoba tenang. “Kak Reno udah diperiksa sama dokter, masih di UGD.”
“Siapa yang melakukan itu?” tanya Aisha. “Apa Nevan?” ucap Aisha, tegas.
Briana memijit ujung tulang hidungnya, lalu bersandar di kursi. “Nggak tahu.”
Aisha lalu mengucapkan kalimat pedas di seberang sana. “Kamu pikir Mamah bodoh! Disaat seperti ini kamu masih membela dia? Mamah nggak pernah menyangka.”
“Mah, sudah deh, sekarang bukan waktu yang tepat untuk berdebat. Selamat siang,” ucap Briana, kesal.
Tut! Sambungan telpon terputus. Lagi-lagi jobnya amburadul gara-gara masalah sepele yang mendadak jadi boomerang bagi Briana.
...----------------...
“Anda berprofesi sebagai pengacara tapi melakukan penyerangan, anda tidak lupa kan pasal berapa yang akan menjerat anda?” tanya seorang wanita paruh baya didepannya.
Nevan tersenyum dingin. “Tentu saya tahu,” jawabnya dengan, mantab. “Disaat seperti ini jangan melihat apa profesi saya.”
Wanita itu menaikkan sudut bibirnya. “Sebagai seorang pengacara anda harus...”
“Harus berbuat baik? Saya bukan dewa, saya bisa kilaf kapanpun.”
Wanita itu menggeleng. “Siapa yang memulai penyerangan korban atau saudara?” tanya wanita itu lagi sambil jari-jarinya mengetik di keyboard komputernya. Matanya terus terpaku menatap layar, sambil terkadang melirik menggunakan ekor matanya. Wanita itu berusaha mengingat pria yang kini duduk dihadapannya.
Nevan lagi-lagi tersenyum sinis. “Saya.”
Wanita mengangguk pelan. “Apakah sebelumnya saudara kenal dengan korban, jika kenal sejak kapan, dimana, serta dalam hubungan apa?”
“Dia adalah teman saya,” jawab Nevan, singkat.
Wanita itu mencebik sok tahu, lalu bergumam lirih. “Pasti masalah wanita.”
Seorang petugas berseragam cokelat, datang menghampiri wanita paruh baya tersebut. Petugas itu sedikit membungkuk condong ke depan, lalu berbisik ke telinga wanita itu, sambil tangan kirinya menutupinya sebagian. Ekspresi wanita itu lalu berubah. Matanya mengerjap-ngerjap. “Pantas saja!” ucapnya lirih.
“Tuan Nevan Xaquil, pelapor telah mencabut laporannya...”