
Briana sangat terkejut saat membalik tubuh dan wajah lelaki asing itu menjadi telentang. Awalnya dia sudah akan menelpon seorang polisi tapi, ternyata yang dilihatnya adalah orang yang selama ini mencampakannya. Lutut Briana mendadak gemetar, jantungnya berdegup tak beraturan. Ini pertama kalinya ia melihat lagi wajah Nevan setelah kejadian malam itu. Mengapa dia tiba-tiba bisa tahu alamat rumah yang ia tinggali di Los Angeles?
Selang beberapa menit setelah kejadian konyol itu, Briana mendengar pintu rumahnya terbuka. Aisha dan Steven tergopoh-gopoh masuk dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diartikan. Briana beranjak berdiri lalu memeluk Aisha dengan gerakan cepat.
“A-ada apa, apa ada maling?” tanya Aisha, mencoba tenang.
Steven kemudian berjalan ke arah dapur, dimana menemukan Briana meringkuk berdiam diri mengamati tubuh seseorang. Mata Steven terbeliak saat mendapati Nevan sudah tak sadarkan diri di bawah lantai dapur.
“I-ini kan Nevan, kenapa dia bisa pingsan? Briana apa yang kamu lakukan?!” tanya Steven kesal, sembari mengangkat tubuh besar Nevan, kemudian membawanya masuk ke dalam kamar tamu.
Briana menatap Steven dengan senyuman miris dan ia masih bergeming didalam dekapan sang ibunda. Entahlah, mengapa Steven begitu murka saat melihat Nevan tak sadarkan diri. Yang dia ingat terakhir kali Steven tak pernah memperlakukan Nevan dengan baik. Memang kelakuan orang tuanya semenjak pindah ke Los Angeles sedikit aneh.
“Na, Nevan kapan sampai? Kenapa nggak menghubungi mamah?” ucap Aisha sembari menuntun tubuh puterinya itu duduk di sofa.
Briana menggeleng pelan. “Briana nggak tahu apa-apa, Mah. Tiba-tiba dia udah ada di dapur, t-terus .... Briana pukul pakai tongkat baseball,” ucapnya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Briana tak pernah tahu jika yang dia pukul adalah Nevan, jika dia tahu lebih awal dia mungkin tidak akan memukulnya sampai pingsan. Beribu-ribu pertanyaan ingin dia tanyakan, apa yang sedang terjadi kepada hidupnya beberapa bulan ini.
“Lagian dia masuk mirip kayak pencuri, siapa yang nggak takut? Aku pikir itu suara berisik dari Katie tapi, sepertinya dia udah pergi.”
Aisha berdehem. “Kita lihat keadaan Nevan apa dia terluka,” ucapnya sambil menarik tangan Briana supaya berdiri. Tapi, Briana bergeming.
“Aku nggak mau,” katanya sambil menggeleng cepat.
Aisha tersenyum. “Kamu masuk temani Sean aja kalau begitu.”
Briana mengangguk seraya berdiri mengayunkan langkah kakinya ke arah kamarnya tapi, sebelum itu dia sedikit melirik ke dalam kamar tamu. Dia melihat Nevan masih belum sadarkan diri, perasaan Briana kacau balau, dia khawatir luka itu pasti akan berubah memar sebentar lagi. Namun, kesedihan Briana lebih besar dari rasa khawatirnya, dia lebih memilih untuk menemani Sean di kamarnya.
Saat Briana sudah masuk ke dalam kamarnya, kini giliran Aisha yang masuk untuk memastikan keadaan Nevan. Raut wajah Steven dan Aisha sangat gugup. “Pah, Briana tadi memukul Nevan dengan tongkat baseball, dipikirnya Nevan itu pencuri.”
Steven meraup wajahnya dengan kasar. “Tutup pintunya, jangan sampai Briana dengar pembicaraan kita,” ucap Steven lirih takut jika Briana menguping pembicaraannya dengan Aisha.
Aisha mengangguk, lalu cepat mengunci pintu kamar itu. “Kita apa perlu bawa dia ke rumah sakit?”
Steven menggeleng. “Kita tunggu sampai dia bangun.”
Baru saja Steven menutup bibirnya, jari-jemari Nevan sedikit bergerak. Matanya perlahan-lahan sedikit terbuka. “Shhhh...”
Steven mengelus pundak lelaki itu. “Jangan bergerak dulu.”
Kepala Nevan terasa sedikit pusing, punggungnya benar-benar terasa nyeri. Entah berapa kali Briana memukulnya sampai dia merasakan sakit yang berlebih di dalam tubuhnya. Biasanya juga dia tidak selemah ini.
Nevan tersenyum lemah. “Dimana Briana?”
“I-itu Sean menangis, jadi dia lari ke dalam kamarnya,” jawab Aisha, kaku. Pertama kali bertemu setelah insiden malam itu, dia merasa sangat canggung di depan Nevan.
Steven berdehem. “Maksudmu kamu rindu sama kita berdua?”
Nevan menggeleng. “Briana, maksudnya.”
Aisha tersenyum kaku, sedangkan Steven memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Steven paham sekali perasaan Nevan, dia pasti sangat merasa bersalah selama ini. Di Indonesia dia sudah bersusah payah untuk menyelesaikan skandal yang ia buat sendiri tanpa perlu melibatkan keluarga Briana. Dan juga saat kehamilan puterinya, Nevan juga tidak bisa menemani dan memanjakannya. Itulah hukuman setimpal untuk Nevan si brengsekk ini.
“Kita harus pelan-pelan bicara dengan Briana,” Aisha menyela sebelum Briana datang.
Steven mengangguk setuju. “Biar aku lihat lukamu dulu.”
Nevan meringis kesakitan ketika membalikkan badannya, tampak Steven menyingkap hoodie Nevan keatas. “Parah, kekuatan Briana bisa sehebat ini.”
Steven dan Aisha saling bertukar pandang, punggung Nevan sudah membiru akibat hantaman tongkat baseball yang Briana gunakan tadi. Aisha dan Steven segera merawat luka Nevan dengan salep, dan mengompresnya perlahan-lahan.
Beberapa jam kemudian, Briana keluar sambil menggendong Sean di dalam dekapannya. Entahlah pikirannya saat ini sedang berkecamuk, penasaran apakah Nevan sudah sadar. Kebetulan sekali Aisha baru saja keluar dari kamar tamu.
“Mah, N-Nevan apa udah sadar?“ ucapnya sedikit meragu.
Aisha mengangguk, lalu mengulurkan tangannya. Pertanda Aisha ingin menggendong Sean. “Sean biar sama mamah, kamu .... Kamu bisa menemui Nevan, kalau kamu mau.”
Briana mundur satu langkah dengan posisi masih menggendong Sean. Bayi yang masih merah itu sedikit menggeliat di dekapan Briana. “B-biar Briana bawa Sean juga.”
Mata Aisha sedikit berkaca-kaca, tentu saja Aisha tidak keberatan sama sekali. Malah bagus, karena Sean adalah darah daging Nevan. Aisha mengangguk mempersilakan Briana dan Sean menemui Nevan di dalam kamar, jujur saja Aisha sangat merasa bersalah selama ini. Pada kenyataannya, Briana tidak pernah bisa sedikitpun melupakan atau berhenti mencintai Nevan begitu saja.
Di sisi lain, Nevan menoleh cepat saat pintu kamarnya terbuka perlahan. Sudut bibir Nevan terangkat sedikit, saat kaki telanjang itu melangkah maju kepadanya. Ketika Nevan sudah duduk bersandar di kepala ranjang, tiba-tiba pipinya ditampar kencang oleh Briana.
“Jahat! Ngapain kamu kesini, udah bagus kamu tetap di Indonesia!” ucap Briana bergetar, menahan amarah yang selama ini dia pendam sendirian di hatinya.
Nevan sedikit meringis, lalu ingin memegang tangan Briana namun, Briana sudah lebih dulu melangkah mundur. “Apa kamu tahu penderitaanku selama aku hamil Sean? Kamu kemana saja selama aku hamil anakmu?!” bibir Briana bergetar menahan gelombang tangis yang sebentar lagi akan meledak.
Nevan membeku di tempat. “A-aku bakal jelasin semuanya ke kamu, Bri, tolong jangan nangis.”
Briana menggeleng. “Lebih baik kita nggak usah ketemu lagi, biarin aku hidup kayak gini. Sean ... Sean nggak butuh ayah kayak kamu!”
Sean menggeliat, lalu tiba-tiba menangis kencang. Briana tanpa permisi, lalu keluar dari kamar Nevan. Saat itu juga Briana menyerahkan Sean yang menangis kepada Aisha. Suasana hati Briana sangat buruk, dia ingin menenangkan diri dulu.
“Mah, aku titip Sean, dan usir Nevan dari rumah ini. Briana nggak mau dia ada disini,” ucapnya, dingin seraya menyerahkan Sean di gendongan Aisha.
“Kamu nggak akan bisa mengusir Nevan, dia yang membelikan rumah ini untuk kamu.”