
Saat mengatakan kalimat itu, Nevan tersenyum dalam tidurnya. Sementara Briana, berharap Nevan tak mendengar ucapan dari bibirnya itu. Namun, siapa sangka sebelum Briana memilih untuk beranjak dari pinggir ranjangnya, tangannya dicekal kuat.
“Please, don't go!”
Briana segera menoleh cepat. “A-aku mau menyusui—”
Tak bisa menghindar lagi, Nevan menarik tangan wanita itu kemudian mendekapnya tanpa permisi. Kini, tubuh Briana menempel tepat diatas Nevan. Briana menutup matanya, merasa sangat malu jika kedua orang tuanya tiba-tiba masuk lalu melihatnya dengan posisi seperti ini.
“You wanna play?” tanya Nevan berbisik di telinga Briana.
Dengan tenaga yang tersisa, dia segera bangkit tak ingin berlama-lama di dalam berduaan dengan Nevan. “Nggak boleh kayak gini.”
Nevan terkekeh. “Kamu sih mancing-mancing, oh ya besok kita nikah disini. Siapkan hatimu Briana.”
“Nikah?!”
Nevan tertawa pelan. Lalu, berdiri menghadap Briana, tangannya bergerilya mengelus pipi mulus Briana yang sudah merona seperti tomat. “Katanya tadi mau married sama aku? Nggak jadi?”
Briana salah tingkah, matanya mengerjap-ngerjap tak percaya. Secepat itukah dia akan menjadi istri seorang Nevan? “Setelah itu kamu bawa aku pulang?”
Nevan mengedikkan bahunya. “Sean masih belum boleh naik pesawat, nanti setelah dia berusia tiga bulan kita pikirkan lagi buat pulang ke Indonesia.”
“Bulan depan aku wisuda, aku harap kamu masih disini,” ucap Briana penuh harap. Briana menunduk dalam, khawatir dengan jawaban yang akan keluar dari mulut Nevan.
Nevan mengangguk cepat, sembari memeluk erat wanita terkasihnya itu. “Tentu saja aku masih disini, ada pekerjaan di kantor cabang di California.”
“California?”
Nevan mengangguk. “Iya, aku belum ngasih tahu kamu kalau ada kantor cabang disini. Dan... Kamu kenal Katie?”
Pelukannya sedikit mengendur, mata Briana menatap intens lelaki di hadapannya sekarang. “Katie Laurent? Dia temanku di akademi.”
Nevan terkekeh. Ia lupa menjelaskan jika Katie adalah karyawan kepercayannya di California. Seumuran dengan Briana, Katie di beri tugas untuk memata-matai Briana di akademi dan menyamar sebagai seorang murid disana. Beruntungnya, Katie juga berbakat dalam hal merias.
“Dia karyawanku di California,” sahut Nevan kemudian mengajak Briana duduk dari pada berdiri seperti itu. Mereka duduk di tepi ranjang.
Briana masih membeku di tempat. Tidak tahu harus bagaimana merespons. Terlalu banyak kejutan-kejutan yang dia dapatkan selama dia tinggal disini. Bahkan, Katie juga turut serta terlibat dalam permainan Nevan.
“Kalian...”
“Aku takut kamu kenapa-napa waktu di kampus, jadi aku suruh dia buat berpura-pura jadi mahasiswa,” jawab Nevan enteng sambil memainkan rambut Briana yang tergerai.
“Ya sudahlah, terimakasih sudah memberikan kesempatan buat aku disini, Van. Aku nggak tahu mesti balas gimana?”
Nevan menggeleng, sembari tangannya melingkari pinggang Briana mesra. Briana juga merasakan kecupan ringan di pelipisnya sebelum kedua mata mereka bertatap.
“Balas dengan mau jadi istri aku,” ucap Nevan mesra sambil mencuri ciumann di bibir Briana. “I miss you so much, sayang.”
Bibir Briana masih tertutup rapat, saat Nevan ingin meloloskan ciumannya ke dalam rongga mulutnya. Beberapa detik kemudian, entah mulai kapan Briana membalas ciumann Nevan hingga berubah liarr. Saat ciumann itu berubah ke level berikutnya, ketukan pintu kamar membuyarkan aktivitas mereka.
Nevan merutuki dirinya sendiri, lalu membiarkan wanitanya berdiri membuka pintu kamar. Tak disangka-sangka Aisha sudah berdiri di depan kamar menggendong Sean yang menangis.
Aisha mencebik. “Sean mencari Mommy dan Daddynya.”
Briana tertunduk malu, sedangkan Nevan terkekeh seraya berdiri mendekati Aisha. Sebelum itu, Nevan juga mengamati wajah Sean yang menangis sampai memerah. Mata Nevan berkaca-kaca, ia menyesali dirinya sendiri pada saat Briana berjuang melahirkan ia tak bisa menemaninya.
“Maafkan Daddy, seterusnya Daddy akan membuatmu bahagia bersama Mommymu.”
Briana tercengang mendengar penuturan Nevan di sampingnya, sebelum tangisan Sean semakin kencang Briana segera meraih tubuh mungil itu ke gendongannya. Buru-buru dia membawa Sean masuk untuk menyusuinya.
...----------------...
Briana terlihat sangat cantik, hanya memakai gaun berwarna putih. Riasan sederhana tapi terkesan elegant, rambut panjangnya digerai dan hanya memakai bando bunga. Briana tersenyum manis dan segera mengalungkan kedua tangannya di leher Nevan. Hingga kening mereka saling menempel.
“I love you,” ujar Briana bahagia.
Nevan tersenyum pelan. “I love you too.”
Dua pasangan sah itu tak lupa memeluk Steven dan Aisha. Aisha tak henti-hentinya menangis memeluk puteri semata wayangnya, sementara Sean tertidur di kereta dorongnya.
“Mamah, selama ini terlalu banyak salah sama kamu. Semoga pernikahan ini membuat kalian berdua hidup bahagia bersama sampai maut memisahkan kalian.”
Briana menangis sejadi-jadinya, semua yang dia lewati sampai hari ini dia tak akan pernah lupa. Bagaimanapun juga, dia juga harus bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan di masa lalu. Sementara Steven, juga ikut meneteskan air matanya saat Nevan merengkuh tubuh lelaki paruh baya tersebut.
“Aku serahkan puteriku kepadamu Van, jika kamu menyakitinya lagi kamu yang akan menerima akibatnya,” ujar Steven dengan suara bergetar.
“Aku justru sangat berterimakasih kepada papah, yang mau memaafkan semua kesalahan yang kita berdua perbuat. Semoga saja apa yang akhir-akhir ini aku lakukan dapat membuat kalian semua bahagia,” jawab Nevan parau.
Setelah mereka saling memaafkan, Steven memeluk erat puteri semata wayangnya. “Briana, maafkan papahmu ini yang selalu memaksa kehendakmu. Semoga kalian berdua bisa mengarungi bahtera rumah tangga dengan bahagia.”
Briana mengangguk, sambil mengelap air matanya yang tak henti-hentinya mengalir deras di pipinya. Beberapa detik kemudian, Briana terdiam lalu mengingat sesuatu.
“Kak Reno dia...”
“Ngapain di hari bahagia kita kamu masih mikirin dia?!” jawab Nevan, tegas. Dia benar-benar kesal saat Briana mengucapkan nama lelaki yang menjadi rivalnya itu.
Steven terkekeh. “Papah belum sempat berpamitan sama dia, mungkin kalian bisa katakan kepada Reno waktu kembali ke Indonesia nanti.
Briana melirik Nevan yang terlihat sangat kesal, bahkan Nevan dengan tidak sopannya meninggalkan mereka bertiga dan masuk ke dalam kamar.
“Anak itu cemburu sekali ternyata, Briana kamu harus tanggung jawab!” titah Aisha seraya mendorong kereta dorong Sean meninggalkan Briana di ruang tamu.
Briana mengangguk, lalu mengangkat gaunnya agar bisa berjalan cepat masuk ke dalam kamar. Saat sudah masuk ke dalam kamar, Nevan tidak ada di tempat. Terdengar bunyi gemericik suara air menandakan bahwa Nevan tengah berada di dalam kamar mandi. Briana memutuskan untuk menunggu Nevan dan duduk di sofa samping pintu kamar.
Setelah lima belas menit berlalu, Nevan keluar dan hanya melilitkan handuk di bagian bawah tubuhnya saja. Sontak membuat Briana sedikit salah tingkah dan menundukkan kepalanya. Wajahnya mulai memerah mirip kepiting rebus.
“Ngapain?” tanya Nevan dengan nada kesal.
Briana menggeleng pelan. “Aku minta maaf soal tadi, maaf...”
Nevan berdehem kemudian membuka pintu lemari mengambil sweater dan celana joger berwarna hitam. Tanpa canggung, Nevan dengan polosnya memakai pakaiannya di depan Briana. “Masih duduk disitu?”
Briana menengadah dengan mata membola. “Kamu masih marah?”
Nevan tersenyum sinis. “Sini!”
Mata Briana mengerjap-ngerjap, dengan langkah meragu ia berjalan maju menghampiri Nevan yang masih berdiri di depan lemari. Dengan malu-malu, Briana memeluk tubuh Nevan yang terasa hangat. Dia sangat merindukan lelaki itu dengan sangat gila.
“Are you ready?” tanya Nevan dengan mata mengerling nakal.
Briana menggeleng pelan. “But, i am not ready.”
Nevan menghela napas berat. “Kamu nggak kangen?” tanpa permisi, Nevan segera mengangkat tubuh Briana dan melemparkannya ke atas ranjang.
Briana menggeleng cepat. “No, you can do it yourself, Nevan!”
Nevan berlagak tuli, segera dia menyambar bibir Briana dengan miliknya tanpa basa-basi. Lelaki itu sudah tidak sabar. Berbulan-bulan lamanya dia menahannya, apa Briana tidak kasihan terhadap dirinya?
“Stop! Aku masih belum bisa melakukannya, kamu lupa aku habis melahirkan?!”