My Lovely MUA

My Lovely MUA
65.



Briana tertawa terpingkal-pingkal saat mengobrol dengan kedua sahabatnya, Caca dan Syeila. Mereka bertiga seolah larut dalam perbincangan tentang masa-masa sekolah mereka.


“Gue nggak nyangka beberapa bulan lagi married,” ucap Caca, merasa sedih.


Briana tersenyum tipis. “Kenapa sedih, kan lebih baik gitu daripada kalian kelamaan pacaran?”


Syeila menepuk pundak Briana kencang. “Lo juga,” ucapnya menyengir. “Pilih Kak Reno, atau Kak Nevan? Eh, Andreas juga! Lo borong semua boleh,” candanya, sambil tertawa renyah.


Caca menggelengkan kepalanya. Briana nampak tertohok, lalu mengaduk-aduk minumannya sampai berbuih.


“Gue becanda, An,” rengek, Syeila.


Briana tertawa kecil. “Nggak papa, kalian tahu sendiri gue pilih siapa?”


Caca dan Syeila kompak mengangguk bersama. “Kak Nevan!”


“Iya itu maksudnya,” sahutnya dengan pipi merona.


Caca menggeleng. “No, maksud gue, Kak Nevan lagi jalan kesini, tuh!” ucap Caca sambil mengedikkan dagunya ke arah pintu masuk cafe.


Briana menoleh cepat, Nevan datang bersama Eric kekasih Caca. Caca langsung berdiri, berjingkat bak cacing kepanasan melihat Eric. “Sayang, aku pikir kamu nggak akan datang,” ucapnya sambil bergelanyut manja di lengan Eric.


Briana dan Syeila melayangkan tatapan risih terhadap Caca yang terlalu bucin. “Gue kayak obat nyamuk disini jadinya,” sahut Syeila. Memang benar diantara kedua pasangan itu, Syeila sendiri yang belum mempunyai kekasih.


Caca mencibir. “Makanya lo jangan sok-sok an jual mahal, jadi perawan tua kapok!” ejek, Caca lalu menarik Eric duduk.


Syeila mencubit paha Caca sampai memerah. Briana yang mendengarnya justru membuat hatinya berdesir. Perawan tua? Apakah memilih tidak menikah itu adalah sebuah aib?


Tanpa sadar Nevan menepuk pundak Briana. “Kenapa, perutmu sakit lagi?” tanya Nevan, curiga karena sedari tadi Briana hanya bengong pandangannya kosong.


Briana menggeleng. “Sedikit, eneg bau bawang putih di makanannya Caca.”


Mata Caca terbeliak. “Bau bawang putihnya nggak se-strong itu ah, coba lo bau,” katanya sambil menyodorkan piringnya ke arah Briana.


Briana otomatis menutup hidungnya, langsung saja membuat kepalanya pusing layaknya orang mabuk perjalanan. “Sialan! Strong banget ini, nggak suka, nggak suka!” ucapnya sambil menjauhkan piring Caca.


Mereka semua yang ada disitu melongo menatap tingkah aneh Briana.


“Lo nggak lagi...”


Nevan segera menarik tangan Briana. “Kita pergi yuk sayang, ada yang pengen aku obrolin sama kamu,” Nevan memotong kalimat Syeila, sebelum hal-hal aneh terlontar dari mulutnya.


Caca, Eric, dan Syeila duduk terpaku melihat tingkah aneh kedua sejoli itu, yang pergi keluar dari cafe.


“Briana nggak lagi ngidam, kan?” timpal Eric seraya meminum jus jeruk milik kekasihnya.


Langsung saja Caca mencubit lengan Eric kencang. “Jangan bicara ngawur, sayang. Briana nggak seperti itu,” bela Caca, dengan senyuman miris.


Eric meringis. “Ya aku aja nggak bau bawang di makananmu, hidungnya tajam banget berarti.”


“Tapi, dulu ya kakak gue pas ngidam ya kayak Briana gitu tingkahnya. Pas mamah numis bumbu otomatis aromanya strong kan, kakak gue muntah-muntah dong!” timpal Syeila.


Caca tersenyum tipis. “Ya kalau emang benar Briana hamil, semoga Kak Nevan bisa bertanggung jawab,” sahutnya, bijaksana.


Eric mengernyit. “Kamu yakin itu anaknya Nevan?”


“Tapi, gue yakin Briana cuma mau married sama Kak Nevan aja,” ucap Syeila, yakin.


Caca dan Eric kompak mengangguk bersama.


Sementara, Briana dan Nevan sedang ada di dalam mobil untuk mengantar Briana pulang. Tapi, tiba-tiba Briana teringat akan sesuatu. “Van, tapi aku ada janji sama Caca buat nemenin dia ke hotel!”


Nevan berdecak. “Kamu lagi nggak enak badan, kan bisa ditunda besok?”


Briana menarik napas dalam, perutnya sangat mual sedari tadi. Dia lalu melirik arlojinya, pukul lima sore. Jam-jam dimana dia selalu merasakan mual yang hebat, sampai lemas.


“Bisa berhentiin mobilnya dulu nggak?” ucapnya, terbata-bata.


Nevan menoleh panik, lalu menghentikan mobilnya. Secepatnya, Briana keluar, dan berjongkok memuntahkan isi perutnya. Nevan berjalan keluar, dilihatnya Briana memuntahkan isi dalam perutnya. Tanpa jijik, Nevan memijit tengkuk Briana sampai muntahnya reda. Briana kemudian menangis, karena terlalu lelah di jam-jam begini dia pasti merasakan mual hebat.


“Sampai kapan begini?” isaknya sembari masih berjongkok di tempatnya.


Nevan lalu menarik tubuh Briana, dan membawanya ke dalam dekapannya. “Kita ke dokter, yuk?”


Briana menggeleng. “Kayaknya asam lambungku naik, dulu juga begini kan?”


Nevan jadi khawatir, terakhir kali dia melakukannya dengan Briana tak memakai pengaman. Jantungnya langsung berdegup kencang. “Sayang, kamu udah datang bulan belum?” tanyanya, meragu.


Briana lalu mengerjap-ngerjap. “Harusnya di tanggal-tanggal ini,” ucapnya, matanya mendelik memegangi bahu Nevan. “Aku h-hamil?” ucapnya, gagu.


Nevan lalu berdiri, menyugar rambutnya. Meraup wajahnya kasar, tak masalah jika Briana hamil. Toh, dia akan dengan senang hati menikahinya. Tetapi, apakah kedua orangtuanya Briana dengan mudah menerimanya?


“Kita ke apotek dulu, sayang?”


Briana masih berjongkok di bawah sana. Bahunya naik turun, Nevan yakin Briana sedang menangis. “Sayang, udahlah kalau kamu hamil aku sudah janji buat nikahin kamu, kan?” katanya, seraya berjongkok kembali memeluk Briana.


Briana terisak di dada Nevan. “Kamu pikir semudah itu? Papah mamah pasti marah banget!”


Nevan menarik napas dalam-dalam. “Aku yang bakalan meyakinkan mereka berdua,” ucapnya, tulus.


Briana memeluk erat tubuh Nevan, entah bagaimana respon kedua orangtuanya jika mengetahui Briana sedang berbadan dua.


“Kita ke apotek dulu, oke?” ucap Nevan, seraya mengelus dagu Briana.


Keduanyapun lalu melaju ke sebuah apotek terdekat, Nevan tidak memperbolehkan Briana turun dari mobil. Cukup Nevan saja yang turun. Selang beberapa menit, Nevan membawa lima buah alat tes kehamilan untuk Briana. “Kenapa banyak banget?” ucap, Briana sambil terkekeh.


Nevan tertawa pelan. “Aku beli dari harga yang termahal sampai termurah.”


Briana tertawa. “Oke, aku percaya.”


Nevan kemudian mengantar Briana sampai ke gerbang pintu rumah Briana. Langsung saja Nevan berpamitan pulang, sebelum terkena damprat kedua orang tua Briana. Beruntungnya, Aisha dan Steven sedang keluar.


Briana segera membersihkan diri ke kamar mandi, walaupun perutnya masih sangat mual, tetapi jika tidak mandi rasanya seperti ada yang kurang. Diapun lalu membawa lima buah alat tes kehamilan itu sekaligus ke dalam kamar mandi. Jantungnya berdegup kencang, saat itu juga.


Briana kemudian membuka pintu kamar mandi dengan raut wajah letih. Kelima benda itu ia genggam erat-erat di tangannya. Bercampur dengan air dingin, dan keringat dinginnya, Briana duduk di bawah ranjangnya. Dalam sekejap, bulir-bulir air matanya menetes dari sudur matanya. Dia mengulurkan tangan, dan mengusap perutnya.


“Kamu mau tahu hasilnya?” ucap Briana, sambil memegangi benda pipihnya di telinga.