
Briana mendadak membeku saat Reno menghujaninya dengan pertanyaan tentang perasaannya terhadap Nevan. Salahkah Reno saat ingin meminta Briana menjadi pendamping hidupnya? Katakanlah Reno egois tak memikirkan perasaan sahabatnya sendiri.
“Aku tahu kamu masih berhubungan sama dia, bagaimanapun kalian dulu saling mencintai,” ucap Reno seolah Briana sudah melupakan Nevan.
Briana menggigit bibir bawahnya. “Tapi, aku emang nggak mau married dulu,” ucapnya seraya memutar bola matanya. “Aku juga mau sekolah lagi,” tandasnya.
Reno tersenyum tipis. “Kalau itu aku sudah tahu.”
Briana tak terkejut saat tahu respon Reno, karena mungkin kedua orangtuanya pasti sudah memberitahunya. Dia hanya ingin lari dari masalah yang kini sedang menimpanya.
“Kalau begitu, aku pulang dulu, Kak,” ucap Briana seraya bangkit dari tempat duduknya.
Reno yang juga akan berdiri, dengan cepat ditahan oleh Briana. Kemudian dia menggeleng agar Reno istirahat saja. “Kak Reno nggak usah antar Briana keluar, disini saja,” ujar Briana seraya tersenyum.
Reno terpana saat Briana sedikit memberi perhatian tipis, itu sudah cukup membuat hatinya senang. Saat Briana akan membuka handle pintu rumah, langkah kakinya terhenti karena Reno memanggilnya.
“Briana?” panggil Reno.
Briana lalu menoleh cepat. “Ya?”
Reno mengulum senyum tipis. “Aku akan setia menunggu sampai kamu membuka hati untukku.”
Briana tersenyum kecut, dia tak menjawab. Hanya mengangguk pelan, lalu berjalan keluar. Briana hanya berpikir, menikah dengan orang yang sama sekali tidak dia cinta apakah bisa membuatnya bahagia? Bukankah itu justru akan melukai kedua belah pihak? Rasanya pasti akan sia-sia. Jika sekarang Briana dihadapkan dalam dua pilihan, akan lebih baik dia tidak memilih satu diantara dua pilihan itu.
...----------------...
Di sebuah rumah mewah, Mecca termenung di sebuah kamar sendirian. Wanita itu setiap malam tidak pernah bisa tidur karena memikirkan kedua anaknya, Vivian dan Nevan. Vivian; sudah lima tahun dia belim dikaruniai seorang bayi. Sedangkan Nevan, anak laki-lakinya itu kelewat kasar dan dingin. Mecca cukup pusing saat mendengar berita jika Nevan baru saja memukuli sahabatnya sendiri, Reno. Padahal mereka sudah sama-sama berteman sedari kecil. Hanya satu yang selalu membuatnya tersenyum, yakni Andreas Xaquil anak bungsu keluarga Xaquil. Satu minggu lagi, Andreas akan kembali ke negara asalnya, Indonesia. Mecca mengulum senyum tipis. Tanpa di sadari, benda pipihnya berbunyi.
Andreas Calling...
“Sayang?” seru Mecca nampak bahagia.
Suara bariton Andreas menggema di telinga Mecca, sudah 4 tahun Andreas berada di negeri orang. Mecca sangat rindu. “Hi, Ma, Andreas punya kejutan untuk Mama.”
Mecca mengerjap lalu menatap dirinya di cermin. Betapa bahagianya saat suara Andreas menyapanya. “Apa itu?”
Andreas terkekeh di seberang sana. “Aku sudah di depan rumah,” ucapnya, tak kalah bahagia.
Mecca tanpa babibu, langsung berlari kecil keluar dari kamarnya. Hampir saja dia tertabrak oleh suaminya sendiri. “Kenapa lari-lari seperti anak kecil?” ucap Xaquil, namun nampaknya telinga Mecca sudah tuli. Langkah kakinya tetap melangkah ke arah luar.
Xaquil menatap istrinya itu sedang bahagia, pasti ada hal yang mendasari mengapa istrinya itu jadi seperti itu. Pria itu juga mengekori Mecca di belakang, saat itulah mata mereka berdua menangkap sesosok lelaki bertubuh tegap, rambutnya coklat, sedang menggendong tas ranselnya menghadap membelakangi mereka berdua.
“Andreas!” Mecca memekik lalu terhuyung memeluk putera bungsunya tersebut dengan kegirangan.
“A-ndreas bukankah kamu harusnya pulang satu minggu lagi?” ucap Xaquil yang juga menghampiri Andreas.
“Surprise!” katanya dengan senyum menawan.
Andreas Xaquil—putera ketiga Keluarga Xaquil— yang tak kalah mempesona dari kakaknya, Nevan. Andreas adalah teman dekat dari Briana, sebelum mengenal lebih jauh dengan Nevan, Briana sudah mengenal Andreas lebih lama. Namun, sejak Nevan mengambil Briana dari Andreas, mereka berdua tidak pernah lagi terlihat berinteraksi. Jika ketahuan, maka tamatlah riwayat Andreas. Andreas yang sangat takut kepada kakaknya, hanya bisa menatap Briana dari kejauhan. Apapun yang membuat Briana bahagia, maka Andreaspun juga bahagia.
“Mama akan mengabari kedua kakakmu, kita adakan pesta besar malam ini!” seru Mecca yang masih memeluk Andreas dengan erat.
Malampun tiba, kini hadirlah Vivian beserta suaminya, Isyana dan juga Mira tantenya, lalu beberapa kerabat Xaquil, Mecca sengaja membuat pesta barbeque untuk penyambutan kepulangan Andreas. Isyana sedikit-sedikit melirik ke arah Andreas yang berbeda saat dulu masih sekolah. Laki-laki itu nampak sangat mempesona, dadanya sangat bidang, tubuhnya tak kalah kekar dari Nevan. Tanpa sadar, Isyana menggigit bibir bawahnya sendiri, lalu mengulum senyum dan berjalan ke arah Andreas. Kebetulan Andreas sedang duduk di depan tempat barbeque tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Hi?” sapa Isyana. Lalu mengulurkan tangannya kepada Andreas.
Andreas yang sibuk dengan benda pipihnya, lalu menoleh ke samping ke arah gadis cantik tersebut. “Oh Hai, siapa?” tanyanya.
Isyana tersenyum manis. “Aku Isyana, calon kakak ipar kamu.”
Andreas mengernyit. “Kak Nevan?” tanya Andreas memastikan. Pandangan matanya lalu mengedar keseluruh taman, namun, nampaknya kakaknya itu masih belum hadir.
Andreas berdehem. “Andreas,” jawabnya, singkat. Lalu beralih ke benda pipihnya lagi.
Isyana terasa sebal, sebab sepertinya Andreas tidak tertarik kepadanya. “Mau minum?” tawar Isyana, tak mau menyerah.
Andreas melirik dari ekor matanya, lalu menggeleng pelan. “No, thank you.”
Isyana tersenyum kecut, memutar bola matanya jengah. Andreas malah asyik dengan game di benda pipihnya, tanpa mengajak dirinya mengobrol sedikit tentang pengalamannya di luar negeri. Saat, ingin berdiri, bola matanya lalu menangkap Nevan yang tengah berdiri di pintu tengah. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya. Isyana lalu tersenyum miring, lalu berdiri menghampiri Nevan.
“Sayang...” ucap Isyana sedikit genit. Lalu mengalungkan kedua tangannya ke leher Nevan.
Nevan merasa risih, lalu berusaha melepaskan kedua tangan Isyana dari lehernya. “Stop it bitchh!” mata Nevan mendelik tajam menyorot ke depan wajah Isyana.
Namun bukan Isyana namanya, kalau tak ingin menyerah. Dia lalu menarik tangan Nevan untuk berjalan menuju ke arah Andreas. Gadis licik itu sedikit mendengar kabar jika, hubungan Nevan dan Andreas tidak baik. Saat tiba di mana Andreas sedang duduk, Andreas lalu mendongak ke atas menatap dalam kepada Nevan.
“Kak?!” Andreas buru-buru memasukkan benda pipihnya ke saku celananya, lalu beringsut berdiri.
Nevan memalingkan wajahnya ke samping.
“Long time no see, Kak?” sapa Andreas, lalu menjabat tangan Nevan.
Nevan dengan terpaksa menjabat tangan adiknya itu dengan wajah malas.“Yeah, and you shouldn't have come back!” timpal Nevan, dingin.
Andreas tidak kaget akan perlakuan kakaknya itu kepadanya. Dia sudah terbiasa, dimaki, dipelototi, direndahkan, juga sudah biasa. Namun, yang lebih tak biasa adalah saat gadis cantik itu bergelanyut manja di lengan kakaknya.
Andreas tersenyum miring. “I shall take her back,” ucapnya seraya pergi meninggalkan Isyana dan Nevan.