
Alis Briana tertaut samar, otaknya berusaha keras mencerna maksud perkataan dari sang suami. Setelah beberapa detik dia baru menyadari kata terakhirnya, Briana mengulas senyum lebar kemudian memeluk Nevan erat.
“That was my dream when i was young,” sahut Briana lega.
Begitu pun juga Nevan, dia mencium puncak kepala isterinya kemudian membisikkan sesuatu. “Sebentar lagi impianmu akan terwujud di sini, Briana aku nggak akan pernah menghalangi kamu meraih mimpi mu kayak dulu lagi. Trust me,” ucap Nevan tulus dari lubuk hatinya yang paling terdalam.
“Thaah...” suara Sean memecah kemesraan dua pasang suami-isteri itu. Lalu mereka berdua tertawa geli karena Sean yang seolah memanggil kedua orang tuanya karena merasa diabaikan.
Nevan melangkah mendekati Sean yang sudah belepotan dengan makanan di depannya, kemudian menggendong bayi gembul itu dan mencium puteranya dengan sayang.
“Mommy, lihat mulutku belepotan,” ucap Nevan dengan suara khas bayi. Sean tertawa sembari mencakar-cakar wajah tampan daddy-nya.
Beberapa jam kemudian, Briana, Nevan dan Sean sudah siap di dalam mobilnya. Tujuan pagi ini adalah ke sebuah management yang akan membawa Briana untuk masuk ke dunia industri hollywood. Berbekal sertifikat MUA internasional dari sekolah ternama di dunia, Briana cukup percaya diri saat ini. Awalnya ia sedikit meragu karena apakah dia bisa menyesuaikan semua dengan industri di hollywood. Tapi, Nevan selalu membakar semangatnya tanpa henti.
“Katie akan membantu kita pagi ini, dan... Dia nantinya yang akan menjadi asisten sekaligus baby sitter Sean,” ujar Nevan seraya melirik Briana dari ekor matanya.
Briana terhenyak. “Bukannya dia—”
“Dia sangat menyukai Sean, dia berharap setelah ini dia ingin menikah dan punya anak. Dia sudah berubah pikiran, Briana,” potong Nevan sebelum Briana berbicara panjang lebar.
Briana tersenyum kikuk. Lalu bagaimana ceritanya jika Katie menjadi pengasuh Sean. Dia belum pernah merawat anak kecil sebelumnya.
“Kamu pasti lagi mikir gimana Katie bisa merawat Sean setelahnya? Tenang aja, dia sudah kursus di sebuah lembaga pengasuhan anak-anak dan bayi di Los Angeles, dia sudah dapat sertifikatnya juga, sayang.”
Lagi-lagi Briana terdiam, tak menyangka Nevan akan mempersiapkan segalanya dengan penuh kematangan. Bahkan hal sekecil ini dia sudah menyiapkannya juga, sampai Katie pun menuruti kemauan bosnya ini. Memang Katie juga serba bisa. Beberapa menit kemudian, mobil mewah Nevan sudah sampai di sebuah kantor management yang ternyata bersebelahan dengan akademi Briana.
“Ternyata ada di dekat tempat sekolahku dulu? Kenapa kamu nggak bilang dari awal, sayang?” tanya Briana penasaran.
Nevan terkekeh. “Kalau dibilangin dari awal bukan kejutan namanya.”
Briana hanya ber-oh ria seraya turun dari mobilnya dan menggendong Sean yang masih terlelap tidur. Dari kejauhan Briana juga mendengar namanya dan Nevan dipanggil. Siapa lagi kalau bukan Katie.
“Selamat Pagi, Tuan, dan Nyonya, saya harap tidak terlambat,” ucap Katie sedikit terengah-engah.
Briana tersenyum pelan. “Kat, jangan panggil aku Nyonya, aku ini sahabatmu.”
Katie merasa canggung, benar juga selama beberapa bulan yang lalu dia sudah sukses ber-cosplay menjadi sahabat berbagi sedih, suka dengan Briana. Tapi, jika dalam situasi dan kondisi seperti ini apa pantas Katie memanggil isteri majikannya dengan namanya sendiri. Sungguh tidak sopan, batin Katie.
“No problem, Katie. Kamu bisa memanggil Briana dengan namanya, kalian juga sudah lama mengenal. Bersikaplah seperti biasanya,” sahut Nevan seraya mengacak puncak kepala isterinya gemas.
Katie tersipu malu. “B-baik, Tuan.”
Setelah selesai berdiskusi tentang panggilan nama, mereka bertiga akhirnya melangkah menuju ke sebuah bertingkat tinggi yang letaknya bersebelahan dengan akademi Briana. Setelah sampai disana, Nevan nampak sedang berbicara dengan seorang laki-laki berkisaran umur 40 tahun. Sepuluh menit berlalu, Nevan mengajak Briana dan Katie naik ke lantai tiga.
“Good morning, Ms. Anne,” sapa Nevan kepada seorang wanita paruh baya tersebut.
Setelah duduk di tempatnya masing-masing, kini giliran Nevan mengenalkan isteri nya itu kepada Ms. Anne. Ms. Anne adalah direktur management yang akan menaungi Briana.
“Ini Briana, isteriku, Aunty Anne,” ucap Nevan memperkenalkan Briana dengan bangga.
Anne tertawa lebar seraya menjabat tangan Briana yang sedikit bergemetar. Anne sudah membaca di raur wajah Briana, dia pasti sedang bertanya-tanya mengapa Nevan memanggilnya dengan sebutan Aunty.
“Halo, Briana. Perkenalkan aku direktur Star Management, dan... Tantenya Nevan. Bisa dibilang aku adalah adik dari Mecca, mertuamu,” ucap Anne ramah.
Mata Briana tak berhenti mengerjap. Cantik, mirip mertuanya, Nevan dulu pernah bercerita tentang tantenya ini. Tapi, Briana tidak pernah menyadari jika Nevan ternyata punya koneksi sehebat ini. Atau jangan-jangan...
“Aku juga yang merekomendasikan beasiswa untukmu di Los Angeles," sambungnya lagi.
Briana tertunduk malu, perasaannya benar-benar kikuk. Apa yang harus dia lakukan, dia merasa banyak berutang budi kepada tantenya ini.
“Aunty, saya merasa—”
Anne terkekeh. “Nevan yang merengek padaku, aku tidak tahu jika yang dia perjuangkan sangatlah cantik dan berbakat. Aku sering melihat keahlianmu dalam menyulap wajah seseorang menjadi mengerikan, sangat cantik, dan berbagai bentuk yang lainnya,” ucapnya sambil tertawa bangga.
Briana tertunduk malu, dia masih belum sehebat yang lain. Baginya, menyandang predikat dengan lulusan terbaik tak serta merta membuat dirinya puas akan sesuatu. Dia masih ingin selalu belajar dan belajar.
“Baiklah, minggu depan kamu bisa langsung bekerja, kebetulan tim make-up kita akan mendapat job besar untuk film superhero terkenal. Kamu pasti tahu itu,” ujar Anne.
Nevan menggenggam erat tangan isterinya, matanya juga menatap lekat netra Briana. “I love you,” kata Nevan tiba-tiba.
Hal yang tak pernah Briana bayangkan sebelumnya adalah bekerja sesuai dengan hobby-nya selama ini. Apalagi sampai menembus hollywood, meskipun bukan murni atas usahanya sendiri. Setidaknya Briana sudah bisa menunjukkan kebangkitan dirinya kembali di kancah internasional.
“Aunty Anne, berarti Nevan boleh honey-moon dulu?” tanya Nevan dengan semangat.
Anne mengerlingkan matanya. “Bisa, dan mamamu besok akan datang ke L. A.”
Mata Nevan terbeliak, sedangkan Briana tak kalah terkejutnya. “Baru kemarin ditinggal, sudah nyusul ke L. A.”
“Sepertinya kalian harus mengajak orang tua kalian turut serta dalam acara honey-moon kalian,” jawab Anne dengan kekehan.
Nevan menghela napas berat. Dengan sangat terpaksa, dia harus ikhlas jika mamanya memaksa ikut berlibur bersama. Beberapa saat kemudian, mereka pamit untuk pulang. Dalam langkahnya dia sedikit berdecak kesal karena tingkah laku mamanya yang seenaknya sendiri.
“Sayang...” panggil Briana yang berjalan di belakangnya.
“Hm?” jawabnya, dingin.
“Aku akan memberimu lebih malam ini, jangan marah lagi.”
Langkah kaki Nevan terhenti, lalu membalikkan badannya menghadap Briana. “Nggak usah nunggu malam,”