
“Sierra, siapa dia ?” tanya Michael penasaran.
Sierra tersenyum. “Mas, ini anaknya Steven sama Aisha!”
Briana mengulurkan tangannya kepada Michael, tanpa babibu Michael lalu membalas uluran tangan Briana dan disambut dengan senyuman ramah. “Bukannya kemarin malam kita sudah buat janji, tapi kok tidak datang ?”
Briana menggigit bibir bawahnya, perasaannya sangat gugup. Bagaimana tak gugup, Briana harus menghindar dari Nevan yang ternyata malah ada di rumah Michael.
“I-itu saya sudah datang...”
“Lewat pintu belakang, Mas,” potong Sierra cepat. Sambil tersenyum simpul.
Briana kemudian tertunduk malu. Gadis yang diteriaki maling itu adalah dirinya.
“Oh, ya karena kamu sudah ada disini, saya mau kenalin kamu sama seseorang.”
Wajah Briana langsung berubah murung. Apa lagi ini batinnya. Secepat itu dia langsung menoleh ke arah Sierra. “Tan-te, maksud Om Michael tadi apa ya ?”
Sierra mencoba tenang. “Jadi, Om Michael pengen kamu kenal sama keponakannya gitu, kamu nggak papa kan, Briana ?”
Sierra mendadak khawatir karena raut wajah Briana seperti sedang kesal. “Mama papa kamu udah setuju soal ini.”
Sierra tersenyum canggung, sambil mengeratkan tangannya di lengan Briana.
“Mama, papa ?” sontak Briana membulatkan mata lebar-lebar. Seakan tak percaya akan apa yang barusan didengar. Hatinya bagai tertusuk beribu belati. Sakit dan perih. Seenaknya saja berbuat semaunya tanpa persetujuan dari Briana.
Kemudian Briana mendadak menelan ludah, tunggu, jangan-jangan keponakan yang dimaksud adalah.. Nevan ? Hati Briana semakin kecewa terhadap Sierra, Michael, apa lagi kedua orang tuanya.
Tak lama Michael muncul dari arah belakang menggandeng seseorang berwajah tampan, tinggi, memakai setelan jas berwarna navy.
Sierra mengetahui jika Briana pasti sangat amat kecewa sekali. “Briana, itu orang yang mau dikenalin sama kamu udah kesini.”
Briana lalu menoleh dengan kepala berat. Matanya yang tak memakai kacamata itu lalu mencoba mengerjap-ngerjap tak percaya siapa lelaki yang tengah berdiri di depannya kini.
“Hai, Briana, kamu pasti kaget ya ?” ucap suara bariton itu kepada Briana.
Mulut Briana membulat hingga membentuk O. Lega, bercampur pedih bercampur jadi satu. Lega yang didepannya bukan Nevan, pedih karena di adalah sahabat Nevan, ada satu lagi, kecewa dengan keputusan sepihak kedua orang tuanya.
“I-itu aku...”
“Jadi kalian udah saling kenal ?” sahut Sierra tak kalah kaget. Michaelpun nampak tak percaya. Dia hanya diberi mandat oleh kakaknya yang tak lain adalah papa Reno.
“Briana dulu adik kelasku saat masih SMA, tante.”
Wajah Reno nampak berbahagia karena senang melihat Briana yang malam ini begitu cantik jelita. Berbeda dengan raut wajah Briana yang seakan tak berhenti memendam rasa kecewa yang teramat dalam kepada seluruh orang yang sudah merencanakan hal ini sebelumnya.
Michael dan Sierra manggut-manggut. “Ya sudah, kalian bersenang-senang dulu, Om sama Tante mau menyapa tamu.”
“Oh ya, Briana tante udah transfer semua ya, ada bonus tiket pesawat buat pulang kamu besok,” timpal Sierra berseri-seri.
Briana menatap Sierra dengan bingung. “Ma-makasih tante nggak perlu repot-repot.”
“Nggak papa, itu kan emang hak mu buat dapetin itu, Briana.”
Sierra lalu, berbisik di telinga Briana sebentar sebelum pergi meninggalkan dua sejoli itu. “Maafin, Tante ya.”
Briana tersenyum getir saat mendengar ucapan maaf dari wanita cantik itu. Lanjut, Sierra pergi berpamitan kepada Reno dan Briana. Briana mendadak kikuk berada di situasi akward seperti ini.
“Udah makan ?” tanya Reno, lembut.
Briana menggeleng. “Belum, Kak.”
Mata Briana terbeliak, saat merasakan jemari tangannya ada yang menggenggam dan menariknya berjalan. Reno menggenggam tangan Briana untuk duduk di kursi daripada berdiri seperti itu. Setelah sampai, di tempat duduk bermeja bundar. Reno segera menuangkan minuman ke dalam gelas di depan Briana.
“Sorry, Kak, aku nggak minum itu.”
Bagi Briana, dirinya sudah pensiun dari minuman yang memabukkan seperti itu. Ya, walaupun kadar alkohol sangat rendah, namun dia tak ingin gegabah.
Reno manggut-manggut. Lalu, memberikan satu botol air mineral untuk Briana. “Kalo gitu minum ini gih.”
“Makasih.”
Sementara, di waktu yang sama di tempat yang sama. Michael sedang berbincang dengan Nevan dan keempat rekannya. Michael memang sengaja mengundang Nevan, selain untuk pesta. Juga untuk membahas pekerjaan. Saat itu juga pandangan matanya teralih pada dua orang manusia yang duduk saling berhadapan sehingga membuat hatinya panas.
Tanpa terasa, Nevan sedikit menekan gelasnya segera ingin menghampiri Reno dan Briana.
Michael kemudian berdehem. “Ada apa, Pak Nevan?” Michael pun turut mengamati raut wajah Nevan yang nampak menggeram menahan amarah.
Michael manggut-manggut. Lalu lanjut dengan berbincang dengan tamu-tamu yang lain.
Nevan berjalan sambil mengepalkan kedua tangannya, nampak jelas di depan matanya Briana tersenyum, dan tertawa saat ngobrol dengan Reno. Hal itu membuat hati Nevan terbakar api cemburu.
“Hai, Bro!”
Nevan menepuk pundak Reno dari belakang, Briana yang tahu, hanya memalingkan wajah dan menikmati cemilan yang kini dia makan.
Reno kemudian menoleh dan sedikit gelagapan saat Nevan berada di pesta ini. “Lo ada disini?”
Nevan tersenyum sinis. Lalu tanpa permisi duduk dekat Reno dan mengawasi wajah cantik Briana. Namun, Briana nampak tak peduli dengan adanya Nevan bersama dalam satu meja.
“I-iya ini kan pestanya Om Michael, jadi gue diundang juga,” jawab Reno, sambil meminum minumannya sampai tandas.
Nevan berdecak. Lalu mengalihkan pandangannya kepada Briana. Gadis itu nampak begitu sebal.
“Lo dateng sama dia?” tanya Nevan ingin tahu lebih dalam. Dia, yang dimaksud adalah Briana. Nevan mengedikkan dagu ke arah Briana.
Reno mulai tak nyaman. Ia tahu, Nevan masih memendam rasa kepada Briana. Pasti, Nevan akan sangat marah saat Reno dan Briana sengaja dipertemukan oleh Michael. “Ng-nggak kok, Bro, santai.”
Briana bersedekap dan masih membuang muka. Merasa sangat tidak nyaman di dalam pesta, Briana seraya berdiri.
“Kak Reno, aku balik duluan ya, aku capek banget soalnya, permisi,” Briana melengos tanpa berpamitan dengan Nevan.
Nevan mengepalkan kedua tangannya erat, dia pun ikut-ikutan berdiri akan mengejar Briana sebelum kehilangan dirinya kembali.
Tangan Reno menahan Nevan, “Biarin Bro, biarin dia sendiri.”
Nevan mendengus kasar. Dia tak percaya Reno akan menghalanginya, ia hempaskan cekalan tangan Reno di tangannya. Tanpa mempedulikan Reno, setengah berlari kecil Nevanpun mengejar Briana. Tak mau kalah, Reno pun mengikuti langkah Nevan yang sudah berlari duluan mengejar Briana.
Briana berjalan begitu cepat, menerobos tamu pesta. Setelah berhasil, dia lalu berjalan menuju ke arah lift. Namun, sayang langkahnya kurang cepat sehingga kedua pundaknya di raih cepat oleh Nevan.
“Mau pergi kemana lo!”
Briana menghembuskan nafas panjang. Mencoba melepas cengkraman tangan Nevan dari pundaknya. Kini, posisinya dia sudah berhadapan dengan Nevan. Briana menunduk, sementara Nevan mengalihkan tangannya beralih ke kedua lengan Briana.
“Biarin gue pergi, gue capek sumpah!” keluh Briana tanpa memandang Nevan walau sedetik.
“Kenapa lo menghindar, lo nggak terima gara-gara...”
Briana memandang wajah Nevan dengan penuh amarah. “Gara-gara lo tu brengsek!”
Nevan mengusap wajahnya kasar. Dia melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya itu, lalu menendang udara. “Sialan! Ini udah dua minggu dan lo belum ngasih jawaban apapun soal lamaran gue, hm ?”
Briana mengernyitkan dahinya tak mengerti. “Hah, asal lo tahu ya gue nggak akan pernah nikah sama siapapun, apalagi sama lo! Nggak akan!”
Reno yang datang, lalu mencoba melerai dua orang manusia itu. “Briana, kamu mending pergi deh Nevan biar gue yang urus.”
Tidak ada hujan tidak ada angin, Reno datang menyuruh Briana pergi. Dada Nevan makin bergemuruh mendengarnya. “Lo nggak usah ikut campur urusan gue sama Briana!”
Reno berkecak pinggang. “Bro, lo sama Briana itu udah putus, lo nggak perlu lah maksa-maksa dia kayak dulu lagi,” tutur Reno, tenang.
Nevan tersulut emosi, lalu menarik kerah kemeja Reno. “Apa lo bilang?! Gue mau nanya sama lo, sejak kapan lo perhatian sama Briana, hah! Jawab gue brengsek!”
Briana makin pusing, lelah melihat kedua orang ini malah bertengkar sendiri. Dia memijit pelipisnya.
Reno tersenyum smirk. “Sejak lo nyakitin dia berkali-kali.”
Saat tangan Nevan terangkat keatas hendak menghajar Reno, Briana segera menengahi kedua lelaki itu. “Stop! Jangan bikin ribut disini.”
Nevan menendang udara sekali lagi. “Jadi, lo belain dia, Briana?!”
Nevan benar-benar emosi, wajahnya sangat memerah. Kalau tidak ada Briana, pasti Reno sudah babak belur dihajarnya sampai mati kalau perlu, batinnya.
“Gue nggak belain Kak Reno, ataupun lo, Van! Gue mau istirahat, capek.”
Briana tanpa peduli lagi memilih untuk pergi meninggalkan kedua manusia yang masih ingin baku hantam tersebut.
“Briana!” panggil Nevan tanpa digubris oleh Briana. Sayang, lift nya sudah tertutup.
“Ini semua gara-gara, lo!”
Nevan berjalan cepat menabrak bahu Reno. Berani-beraninya dengan terang-terangan Reno mengkhianati persahabatan yang sudah dia jalani selama bertahun-tahun. Tanpa sepengetahuannya, Reno menaruh hati pada Briana. Ternyata apa yang di bilang Mario dan Eric memang benar adanya.