My Lovely MUA

My Lovely MUA
68.



“Akhir-akhir ini kamu sering pulang larut malam, kemana saja?” ucap Aisha yang berdiri di samping pintu kamar puterinya.


“Lagi ada perlu sama Caca,” jawab Briana, seadanya.


Aisha berjalan menuju ranjang puterinya. Kemudian duduk di tepi ranjang, namun tubuh Briana membelakangi wanita paruh baya tersebut. “Katanya nggak enak badan, tapi sering keluyuran.”


Briana tak menjawab, dia lebih memilih untuk memejamkan matanya sejenak karena seharian ini dirinya begitu sangat lelah hati dan fisik.


“Um, besok sepertinya Reno dan keluarganya mau datang kerumah,” ucap Aisha.


Briana terus mencoba memejamkan mata, dan berusaha menulikan telinganya. Dia sudah tahu arah pembicaraan ibunya akan kemana. Padahal, sudah larut malam, tapi Aisha sepertinya sedang gemar membuat mood-nya berantakan.


“Na, kamu sudah tidur?” tanya Aisha, kembali. Namun, tak ada jawaban keluar dari mulut Briana. Aisha menghela napas dalam-dalam, kemudian keluar dari kamar Briana.


Briana tidak tidur, meskipun dia ingin sekali menutup telinganya tapi, dia tidak bisa. Air mata mengalir dari sudut matanya, dia menangis tanpa suara. Pedih sekali, hatinya sakit seperti terhantam batu berton-ton.


Keesokan paginya, setelah melewati malam yang menyakitkan, Briana sudah berdandan rapi dan cantik. Pagi itu, dia sudah mulai bekerja. Jadwalnya hari ini adalah diundang sebagai bintang tamu di sebuah podcast kecantikan milik youtuber terkenal.


“Mau kemana?” tanya Aisha yang seperti biasa sibuk di dapur.


Briana berhenti lalu menoleh ke arah Aisha. “Kerja,” ucapnya lalu berjalan keluar rumah.


Aisha merasa tidak di pedulikan sejak tadi malam, dia tidak terima. Lalu, mengambil langkah seribu untuk menghampiri puterinya itu. “Tunggu!” ucapnya, seraya menarik lengan Briana.


“Kamu nggak dengar semalam mamah bicara apa?” sambung Aisha seperti biasa, emosinya meletup-letup kembali.


Briana menggeleng pelan. “Nggak, Briana udah tid—”


Plak! Satu tamparan di pipi Briana hingga kepalanya menoleh ke samping. Panas dan perih itulah yang dirasakannya kini.


“Kamu ini lama-lama jadi keterlaluan, mamah nggak ngerti kenapa kamu jadi kayak gini!”


Briana menahan perih yang teramat dalam sejak kemarin. Paginya, dia juga sudah dihadiahi sebuah tamparan dari ibunya sendiri.


Stevenpun turut mendengar suara ribut-ribut di lantai satu, dan segera turun mencari tahu. Sudah pasti istri dan anaknya yang sedang bertengkar.


“Kenapa ribut-ribut? Kalian nggak bosan setiap hari selalu ribut?” tanya Steven seraya berdiri di tengah-tengah mereka.


Briana masih tertunduk menahan panas dan perih di pipinya, sementara Aisha melipat tangan di dada sambil melototi puterinya. “Dia ini semakin hari semakin bikin kesal, cepat Pah ajukan pernikahannya biar dia dibimbing ke jalan yang benar sama Reno!” ucap Aisha meletup-letup.


“Malam ini kita akan menentukan tanggalnya, dan kamu jangan berani menolak!” ucap Steven seraya melangkah pergi.


Brianapun, segera berlalu pergi tanpa mempedulikan Aisha yang masih berdiri disana. Tanpa basa-basi, Briana segera masuk ke dalam mobil dan segera menyalakan mesinnya. Tak menunggu lama, dia segera menginjak pedal gasnya. Padahal, sejak dia berjalan keluar dari rumah, Aisha terus saja menghujaninya dengan segala macam umpatan dari a sampai z. Hal itu tak membuat Briana menghentikan langkahnya untuk segera pergi dari rumah.


Beberapa jam berlalu, gadis berkacamata itu terlihat sangat letih. Dia menyandarkan tubuhnya di jok mobil. Acara yang dia isi tadi benar-benar menguras tenaganya, biasanya dia tidak gampang kecapekan seperti ini. Apakah mungkin efek kehamilan bisa membuatnya seperti ini?


Saat dirinya mulai memejamkan mata, tampak dari luar kaca mobilnya ada seseorang yang mengetuk. Dia segera menoleh cepat. “Nevan?”


Sedetik kemudian, dia menurunkan kaca mobilnya lalu memicingkan matanya. “Kamu tahu aku disini?” ucapnya sedikit kesal.


Nevan lalu berputar mengitari mobil Briana, masuk ke dalam dan duduk di kursi penumpang. “Insting”


Briana memutar bola mata jengah. “Mau apa?”


“Kepikiran itu,” ucapnya sambil melirik ke perut Briana.


Sontak Briana menunduk dan mengelus perutnya. Dia tidak mau terpancing rayuan manis lelaki itu lagi. “Aku masih marah,” ujaenya seraya membuang muka ke samping.


Nevan menggeleng. “Aku nggak peduli.”


“Kamu harus bersyukur hari ini kamu masih bisa bekerja dengan lancar.”


Briana menoleh cepat. “M-maksudnya?”


Nevan tersenyum tipis. “Jalangg itu mau coba-coba hancurin karir kamu dengan nyebarin video kita dulu.”


“V-video ... Video yang kamu rekam dulu?” ucap Briana terbata-bata. Kini, tangannya bergetar hebat dan panas dingin. Shock, jantungnya seakan ingin berhenti detik itu juga. “Hapus!” titah Briana, dingin.


Usapan tangan Nevan dari perut Briana berhenti, lalu beralih menggenggam tangan Briana erat. “Sudah, dan malam ini aku mau lamar kamu.”


Briana masih membeku, dia masih takut membayangkan jika karirnya itu hancur. Apalagi saat ini dia tengah hamil. Aibnya makin bertumpuk-tumpuk, bahkan dia sendiri tak bisa membayangkan bagaimana bisa memikulnya sendirian. Bulir-bulir air mata lalu jatuh dari sudut matanya. “A-aku nggak sanggup kalau karirku hancur!”


“Van, aku mau kita gugurin anak ini, aku nggak mau! Aku nggak mau!” isaknya, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tangis Briana lalu pecah di dada Nevan. Dia tanpa sadar mengatakan hal keji seperti itu, jelas saja Nevan tak setuju menggeram murka.


“Oh, don't be silly!” ucapnya sambil mengelus puncak kepala Briana. Tubuhnya Briana bergetar di dalam rengkuhan Nevan. Entahlah, dada Nevan sangat sesak ketika Briana tidak menginginkan janin itu.


“Kita hadapi bersama, kalau orangtua kamu menentang, aku bawa kamu langsung ke Amerika detik itu juga, aku nggak peduli.”


Briana menggigit bibir bawahnya. “Ke Amerika?”


Nevan tersenyum tipis sambil menyelipkan rambut Briana yang berantakan. “Kamu bisa lanjut sekolah disana, aku bakal menemani kamu.”


Briana semakin tidak mengerti. “Kamu yakin?” jawabnya tak percaya.


Nevan menggeleng. “Aku nggak pernah ingkar janji,” ucapnya sambil mengecup pipi Briana. “Pernah lihat aku ingkar janji?” tanyanya, sekali lagi mencoba mencari jawaban dari sorot mata Briana.


Ya, bagi Briana Nevan memang sosok seperti itu. Selalu menepati janji dari setiap kata yang keluar dari mulutnya.


“Ayo kita kerumah sekarang, Reno...”


“Malam ini dia mau menentukan tanggal pernikahanya kan?” potong Nevan cepat.


“Kok kamu tahu?”


Nevan lalu menarik tubuh Briana untuk dipeluknya kembali. “Rahasia.”


Briana tersenyum tipis. Hari ini, dia akan mengakhiri segalanya, bersama Nevan dia akan menghadapi kedua orangtuanya.


Tak butuh waktu lama untuk pulang kerumah Briana, Nevan segera memarkirkan mobil Ferrarii-nya di depan rumah Briana. Netra keduanya bertemu seolah mencari sebuah kekuatan disana. “Kamu gugup?” tanya Nevan.


Briana menggeleng pelan. “I'm not sure,” jawabnya seraya menarik pintu pagar rumahnya supaya terbuka.


Nevan tersenyum miring. “We're going to start.”


Dengan tangan yang bergandengan erat, langkah kaki Briana sempat terhenti. “Van, gimana kalau kamu dipukul lagi, aku nggak mau...”


“Aku akan menghadapinya, kamu tenang.”


Briana menulan ludahnya kasar. Sudah resiko mereka berdua untuk menghadapi ini. Saat sudah sampai di depan pintu rumah, Briana menarik napas dalam-dalam sambil menatap sejenak ke arah Nevan.


“Open the doors,” ucapnya Nevan sambil mengedikkan dagunya.


Tangannya bergetar saat menarik handle pintu rumahnya, disaat bersamaan. Suara lelaki mengejutkan mereka berdua.


“Kalian?!”