My Lovely MUA

My Lovely MUA
67.



“Wanita itu hamil anak kamu?” tanya Isyana, tak percaya.


Nevan sudah tak mendengar lagi. Kepalanya sangat berat, langsung saja dirinya bersandar di meja makan. “Hampir aja gue kelepasan...”


Isyana kemudian penasaran akan kelanjutan cerita Nevan. Tangan Isyana merambat mengelus rahang Nevan, jelas saja Nevan tak menyadari itu adalah tangan Isyana. “Kelepasan apa, sayang?” katanya, manja.


Nevan tersenyum dalam ketidaksadarannya. “Kamu ingat n-nggak, video kita pas sekolah dulu?” Nevan berucap dengan suara terputus-putus.


Isyana kemudian mengernyit. “V-video? Video apa?” Isyana lalu berdiri dan duduk di samping kursi Nevan.


“Video makingg lovee kita, sayang,” Nevan tertawa lebar sambil memandangi wajah Isyana yang merah padam karena emosi. Fakta bahwa Nevan dan Isyana mempunyai video tentang aktivitas rahasianya membuat dada Isyana sangat panas. Baru saja dia dengar Briana hamil anaknya, sekarang dia harus mendengar fakta tentang video itu.


Isyana kemudian tersenyum miring. “Kamu, masih simpan videonya, sayang?” tanya, Isyana sambil mengelus rahang Nevan lembut. Padahal, hatinya terasa sakit sekali. Isyana berusaha menahan diri, padahal malam ini dia akan mengerjai Nevan agar bisa hamil anaknya. Tapi, apa jadinya jika dia dan Briana juga hamil anak Nevan? Tangan Isyana mengepal memendam amarah dan benci terhadap Briana.


Nevan tak menjawab, lalu menyodorkan benda pipihnya itu kepada Isyana. “Kamu lihat sayang, aku masih simpan, aku lihat kalau aku rindu berat sama kamu,” ucap Nevan, panjang lebar seolah-olah yang diajak bicara itu adalah Briana. Nevan ambruk lagi, karena sangat teler.


“Ck, payah banget sih lo Van, baru minum dua gelas udah tepar!” Isyana mendengus kesal. Lalu mengutak-atik benda pipih Nevan. Berselancar di galerinya.


Mata Isyana sangat pedas saat berlama-lama di depan layar Nevan. Sampai detik ini, dia tak menemukan video syurnya dengan Briana. “Mana, sayang, kok nggak ada?”


Isyana melirik ke arah Nevan, tapi, Nevan tak menggubris. “Sialan! Lo ngerjain gue!” Isyana menggeram murka. Tak menyerah, ia pun mencari-cari video itu, dan...


Mata Isyana terbelalak, saat menemukan sebuah nama folder berjudul 'Secret'. “Ketemu,” ucapnya kemudian menekan tombol segitiga putih di layar ponsel Nevan.


Isyana membekap mulutnya, saat melihat Briana terlihat sangat menikmati permainan Nevan. Video itu berdurasi cukup panjang, sekitar sepuluh menit. Meskipun, wajah Nevan tak nampak. Namun, wajah Briana sudah cukup jelas di layar itu. Benar-benar bejat, batin Isyana. “Lo ngatain gue jalangg, tapi kelakuan cewek lo dulu nggak ada bedanya sama seorang jalangg! Munafik banget kalian berdua!” umpat, Isyana di depan Nevan. Sudah jelas Nevan tak mendengar.


Sebelum pulang, Isyana segera mengirim video syur itu ke ponselnya. Tak lupa, Isyana segera menghapus jejaknya, supaya Nevan tidak mengetahui kelakuannya.


Saat bersamaan keluar dari restoran, Isyana memapah Nevan sambil berjalan gontai. “Beban banget sih lo, Van!”


“I-isyana?!” pekik Briana, dengan mata membeliak. “L-lo sama Nevan, ngapain disini!” sentak Briana, terkejut bercampur bingung.


Caca juga mendelik tajam ke arah gadis cantik itu. “Itu Kak Nevan pingsan?”


Isyana tertawa kecil. “Kebetulan gue ketemu sama lo! Nih, gue males bawa beban kayak dia!” ucapnya seraya memberikan tubuh Nevan kepada Briana.


Briana sedikit terhuyung, saat tubuh kekar Nevan jatuh dipelukannya. Namun, saat itu juga, Nevan menggeliat layaknya cacing kepanasan. “B-bri, tolongin gue, Bri,” ucap Nevan, setengah sadar.


Briana terbeliak, melihat Nevan seperti cacing kepanasan. Nafasnya sangat memburu, kedua bola matanya menatap Briana dengan penuh damba. “Kenapa kok jadi begini?” tanya Briana, tak mengerti. “Lo apain dia, hah!” ucap Briana, bergetar.


Isyana lupa jika dirinya sudah mencampur obat per*ngsa*ng di minuman Nevan tadi. “L-lo atasi cowok lo, gue pergi, permisi,” ucapnya, seraya berlari pergi.


Caca dan Omnya menatap kearah Nevan yang menggeliat-geliat seperti orang kepanasan. Keringat, dan peluh membasahi kemejanya dalam sekejap. “S-sepertinya pacar teman kamu terpengaruh obat pe**ngs*ng deh, Ca,” ucap Om Caca. “Begini saja, saya sewakan kamar hotel, lalu cepat guyur dia di bawah air dingin, segera, ya!” lelaki paruh baya itu segera melesat meminta kunci sebuah kamar ke recepsionist.


Caca bergidik ngeri. “U-untung Om gue pemilik hotel ini An,” ucap Caca, sambil meringis. Melihat Nevan seperti itu, Caca ingin segera berlari keluar dari hotel ini.


Brianapun sudah tahu, sebab di bawah sana ada sesuatu yang sudah mengerass.


Akhirnya, Nevan dan Briana berjalan cepat menuju kamar hotel yang sudah dipesankan oleh Omnya Caca. Sesampainya dikamar, Nevan langsung ingin menerkam Briana. Tapi, karena sangat emosi, Briana menyeret Nevan ke dalam kamar mandi. Lalu sedikit menghentak tubuh kekar Nevan dengan sekuat tenaga di bawah shower. Tangan Briana segera menekan tombol on untuk menyalakan air dingin. Briana menyiram tubuh Nevan supaya dingin kembali.


Briana lalu keluar, dengan mengunci pintu kamar mandi dari luar. Tubuh Briana seraya meluruh di bawah pintu, dadanya terasa sesak. Jadi, begitu seharian ini Nevan tak mengangkat telponnya karena sedang asyik dengan Isyana.


Keparat!


Air mata mengalir di sudut mata Briana, dia tak mampu membayangkan apa yang akan terjadi jika tidak bertemu oleh Nevan malam ini.


“Jahat,” satu kata terlontar dari bibir Briana.


Sesaat kemudian, Caca masuk lalu meghampiri Briana yang terduduk di bawah pintu kamar mandi. Menekuk, kedua kakinya sampai menyentuh dada. “An, lo nggak papa?”


Briana menggeleng, sambil tetap memeluk kakinya dan menundukkan kepalanya.


“Siapa cewek tadi?”


Briana membeku, tak sanggup berkata-kata lagi. Beberapa detik kemudian, handle pintu kamar mandi dibuka paksa dari dalam.


“Kayaknya itu Kak Nevan udah sadar, mungkin, An. Coba gue buka,” Caca berdiri, lalu ditahan oleh Briana.


“Biar gue aja,” ucap Briana, dengansuara serak. “Tolong beliin baju di lobby bawah, buat Nevan.”


Caca mengangguk, mengerti jika mereka berdua pasti ingin berbicara berdua saja. Setelah, Caca pergi, Briana segera beringsut dari bawah lantai dan membuka pintu kamar mandi.


Disana terlihat pemandangan dimana Nevan basah kuyup, dan berdiri menatap nanar ke arah Briana. “Bri, a-aku bisa jelasin semua,” ucap Nevan, dengan suara bergetar menggigil kedinginan.


Briana membelakangi Nevan tanpa sanggup menatap ke wajah Nevan. “Kamu keringkan dulu tubuh kamu pakai handuk, baru kamu bicara.”


Nevan mendesah kasar. Lalu, mengambil handuk dan menutup pintu kamar mandinya kembali. Sambil menunggu Nevan, Briana duduk di kursi dekat jendela kamar hotel. Pandangannya lurus ke depan, berkali-kali Nevan membohonginya seperti ini. Baru saja dia tengah berbahagia, tapi, lihatlah Nevan memang hobi menghancurkan segalanya dengan mudahnya.


Suara pintu kamar mandi terbuka, Nevan berjalan ke arah Briana dan hanya melilitkan handuknya saja. Tanpa, sungkan, Nevan, duduk berhadapan dengan Briana.


Mata Briana tetap lurus menatap pemandangan yang disajikan dari jendela kamarnya. “K-kamu anggap aku ini apa?” tanya, Briana lirih.


“Bri, itu tadi kamu cuma salah paham, Isyana cuma...”


Briana mendelik menatap tajam Nevan. “Cuma mau melewatkan malam panjang sama kamu,” Briana tersenyum miris melihat wajah Nevan tanpa dosa.


Nevan menarik napasnya dalam. “Dia jebak aku, Bri, please lah kamu ngertiin aku,” timpal Nevan.


Briana menggeleng. “Kita, nggak usah ketemu dulu sampai aku bisa maafin kamu lagi,” ucapnya, seraya pergi keluar dari kamar hotel itu.