
“Ketemu?” jawab Nevan seraya melirik istrinya yang sedang berdiri di sampingnya.
“...”
“Sama anak-anak? Gue habis balik dari L.A, nggak janji bisa datang atau enggak.”
“...”
Beberapa detik kemudian, Nevan menutup sambungan telponnya sepihak. Ia lalu memeluk perut isterinya itu dengan erat. “Apa sudah waktunya kita ngomong ke Reno?” tanya Nevan datar.
Briana mengecup puncak kepala suaminya itu dengan lembut. “Of course, jangan sampai persahabatan kalian rusak hanya karena...”
Nevan menggeleng. “Bukan, itu bukan salahmu, sayang.”
Hati Briana menghangat saat Nevan berkata demikian. Sebelum Briana ingin melepas tangan Nevan yang sudah telanjur melingkar, terdengar deru napas suaminya itu secara teratur. Briana yakin suaminya itu sudah tertidur pulas di pelukannya. Setelah itu, pelan-pelan Briana menidurkan tubuh Nevan di ranjang.
...----------------...
“Siang ini mama, Andreas dan Kak Vivian mau kesini, aku sudah menyuruh pelayan buat masakin makanan spesial. Kamu di rumah aja ya, sama Sean,” ucap Nevan seraya mengelap bibirnya yang belepotan karena sarapan paginya.
“Papa?” tanya Briana.
Nevan menggeleng pelan. “Nggak usah tanya dia, yang penting kamu turuti kata-kata ku. Mana Sean?”
“Dia masih tidur, sayang.”
Nevan beranjak dari kursi, lalu melangkah ke dalam kamar. Di lihatnya box bayi itu sejenak, kemudian dia mencium pipi gembul puteranya itu. “Jangan rewel ya sayang, Grandma akan menjengukmu nanti.”
“Yes, Daddy!” jawab Briana spontan yang sudah berdiri di samping pintu kamar.
Nevan tersenyum seraya memeluk erat isterinya tanpa ia ingin lepaskan lagi. Harusnya pagi ini dia ingin menginginkan itu tapi, Sean mengajak mommy-nya begadang semalaman. Nevan jadi tidak tega kepada Briana.
“Setelah Sean berusia satu tahun, kita pindah ke L.A,” ucapnya sembari mengecup kening Briana.
Briana tersenyum lebar sambil mengelus punggung lebar suaminya. Dia sangat bersyukur mempunyai suami yang mencintainya dan sangat pengertian. Nevan telah banyak berubah, bukan Nevan yang selalu seenaknya sendiri. Semua cita-cita dan impian Briana sebentar lagi akan terwujud. Briana telah berharap lebih kepada Nevan.
Beberapa jam kemudian, Briana nampak sibuk membantu beberapa pelayan untuk menyiapkan jamuan makan siangnya. Nampak beberapa pelayan sedikit canggung karena tuan rumahnya malah ikut terjun membantu.
“Nyonya tidak perlu membantu, kita nanti dimarahin sama Tuan,” ujar salah satu pelayan wanita.
Briana tersenyum ramah. “Kalian nggak usah khawatir, Ok?”
Tiga pelayan itu tersenyum kaku, lalu melanjutkan pekerjaannya kembali. Setelah dirasa cukup untuk menyiapkan segalanya. Briana beranjak ke kamar untuk melihat Sean bersama dengan Aisha.
“Mah, Sean sudah siap?”
Aisha mengangguk sambil membelakangi Briana. “Sudah, dia sudah mirip pangeran.”
Briana dan Aisha tertawa bersama-sama. Tapi, kemudian Briana berkata. “Mah, apa sudah siap ketemu Tante Mecca?”
“Siap, memang kenapa?”
“Aku pikir mamah bakalan malas, tapi, bagaimanapun juga kalian sekarang adalah besan.”
Sementara itu, setelah mereka berdua menuruni tangga, salah satu pelayan nampak menghambur menghampiri Aisha dan Briana. “Nyonya, tamunya sudah datang, sekarang sedang duduk di ruang tamu.”
Jantung Briana berdegup kencang, ini pertama kalinya keluarga besar Nevan datang. Bukan sebagai tamu asing, tapi, sebagai besan dan saudara. Sebenarnya, Briana sangat malu menghadapi keluarga Nevan. Apalagi dengan adanya skandal yang membuat dirinya tersandung masalah berat. Tapi, semua perkataan Nevan membuat hati Briana sedikit lega.
“Briana?! Mana keponakanku yang lucu?” ucap Vivian dari kejauhan.
Briana tertawa sambil memeluk kakak iparnya itu dengan erat. “Lagi digendong mamah.”
Sementara, Mecca, dan Andreas masih bertahan di tempat duduknya. Memandangi makhluk kecil yang ada di gendongan Aisha. Wajahnya sangat mirip dengan Nevan sewaktu kecil.
“Ma, Sean mirip banget sama Kak Nevan, ya?” bisik Andreas di dekat telinga Mecca.
Mecca tersenyum haru. Kemudian bangkit berdiri lalu menghambur memeluk Briana bergantian dengan Vivian. Sementara Aisha, memberikan Sean kepada kak ipar Briana.
“Apa dia memang selucu ini, tante?”
Aisha mengangguk sambil melirik Mecca yang nampak tulus memeluk Briana. Dia sedikit tersenyum lega, Mecca bisa menerima Briana sebagai menantunya dengan ikhlas. Tapi, hatinya sedikit belum puas kalau Xaquil papa Nevan belum membuka hati untuk Briana. Dia tahu betul betapa kerasnya hati lelaki paruh baya itu selama ini. Sulit untuk melunakkan hati Xaquil.
“Aisha, kenapa malah melamun?” Mecca tersenyum ramah pada Aisha yang sedari tadi melihatnya dengan tatapan kosong.
Aisha menggeleng. “Nyonya, maaf aku hanya bahagia melihat pemandangan indah ini.”
Mecca mencebik. “Jangan panggil aku Nyonya, panggil jeng aja.”
Aisha tertawa sedikit pelan seraya memeluk Mecca. Dua orang yang dulunya bersitegang kini menjadi besan. Saat mereka tengah asyik saling bercengkrama, tiba-tiba terdengar suara ribut di luar. Sontak Andreas segera melangkah keluar dan mengecek ke sumber suara. Saat melihat apa yang terjadi, tangan Andreas terkepal kencang. Papa dan kakaknya sedang baku hantam.
“Papa?! Stop Pa!” Andreas dengan langkah kaki seribu segera meraih pinggang papanya sebelum memukuli Nevan kembali.
Nevan tersenyum sinis sambil sedikit terbatuk-batuk seraya darah keluar dari dalam mulutnya. Pemandangan yang miris, seharusnya Xaquil bisa meredam emosinya kepada Nevan.
“Papa nggak akan pernah mengakui keluarga sialan itu menjadi bagian dari kita!” ucapnya Xaquil arogan.
Andreas menghela napas panjang lalu menghempaskan tubuh sang papa ke bawah tanah. “Sudah cukup, Pa! Menghalangi kak Nevan cuma buat menderita papa, mereka udah bahagia. Kalau tidak percaya lihat ke dalam. Cucu—”
“Cucu apa? Sampai papa mati papa nggak akan pernah menganggap bayi itu cucuku! Kalian berdua dengar it—” tiba-tiba suara Xaquil terputus begitu saja, tubuhnya roboh ke bawah lantai.
Nevan masih memandang nyalang Xaquil, tiba-tiba terkejut lalu mendekat perlahan menopang tubuh Xaquil supaya tidak terjatuh. Andreas pun segera menepuk-nepuk pipi papanya berharap papanya segera sadar. Tetapi, semua itu percuma karena papanya masih tidak sadarkan diri.
“Yas! Kamu cepat bawa mobilnya kesini!” teriak Nevan panik.
Sementara itu, Mecca sedikit gusar kemudian menyuruh Vivian untuk keluar mengecek mengapa Andreas belum kembali. Vivian kemudian bergegas keluar tapi apa yang terjadi malah dia melihat pemandangan papanya yang tergeletak di pangkuan Nevan. Lebih terkejutnya lagi, Vivian juga melihat pakaian Nevan bersimbah darah. Mulutnya juga nampak mengeluarkan darah.
“Van! Lo kenapa? Papa ngapain ini kok jadi begini?!” Vivian memanggil nama papanya tapi tak merespon.
Di kejauhan, Andreas berjalan tergopoh-gopoh menghampiri ketiga orang itu. Tubuh Xaquil langsung di angkat dan dibawa ke dalam mobil.
“Kak, kamu juga harus ke rumah sakit. Lukamu parah!” Andreas meringis sesak melihat keluarganya seperti ini.
“Nevan nggak boleh kemana-mana!” teriak seseorang dari kejauhan.