
Entah bagaimana Doni bisa ditangkap dengan cepat oleh Nevan. Nevan juga sampai tidak pulang ke rumah atau pun ke apartementnya sampai berhari-hari hanya untuk mencari biadabb keparatt itu. Disamping karena perbuatannya yang menyebarkan video syur Briana, Doni juga membawa kabur uang kantor lawyer Nevan totalnya sepuluh milyar rupiah. Itu terjadi, Akibat Vivian terlalu mempercayai suaminya.
“Berpikirlah sebelum bertindak, keparatt!” Nevan menyeringai di wajah Doni yang sudah tidak berbentuk.
Doni terkulai lemas, tak bisa menjawab satu patah katapun. Beruntungnya, Doni belum pergi terlalu jauh. Dia juga sudah tidak bisa lagi lari keluar negeri. Setelah tertangkap oleh pihak kepolisian, Doni mengaku jika video itu di dapat dari Isyana. Sebelum dihapus, Isyana mengirimkan file video itu ke gawainya yang lain. Setelah itu, dia menyuruh Mira untuk membuka file gawainya menggunakan email Isyana yang otomatis tersambung di gawai Mira. Kesempatan itu Mira gunakan untuk menjebak Briana. Tak mengapa tidak ada wajah Nevan di video tersebut. Tapi, video itu bisa membuat reputasi dan nama Aisha sekeluarga hancur. Inilah akhir yang diinginkan Mira dan Isyana, membalas dendam dengan caranya, menyakiti Vivian untuk Mira, menghancurkan karir Briana untuk Isyana.
Andreas tak percaya dengan semua hal yang terjadi belakangan ini. Jauh di lubuk hatinya, dia tidak rela jika Briana yang sangat baik hati itu menderita karena ulah masa lalu kakaknya. “Dimana Briana sekarang?” tanya Andreas sambil menunggu Vivian yang masih terbaring di rumah sakit.
Vivian mengedikkan bahunya, dengan tatapan kosong. “Lo salah nanya ke gue,” sahutnya seraya membalikkan badannya membelakangi Andreas menghadap ke arah kaca jendela rumah sakit. “Nevan, harus menjaga calon anaknya dengan baik.”
Andreas terbeliak, matanya membola. “A-nak?! Anak siapa maksud kakak?”
Vivian tersenyum miris. “Anak Nevan dan Briana.”
Andreas menelan salivanya kasar. Kedua tangannya meraup kasar wajahnya yang terlihat kusut itu. “Kenapa mereka nggak nikah?”
Vivian menggeleng lemah. “Nggak tahu,” jawab Vivian seadanya.
Pintu kamar inap VVIP itu terbuka pelan, Mecca datang bersama Xaquil dan juga Nevan. Lengkap sudah keluarga itu berkumpul di kamar inap Vivian. Vivian sudah lima hari dirawat di rumah sakit, saat itu juga dia shock karena kehilangan calon anaknya, serta menerima kenyataan harus bercerai dengan Doni. Pria brengsek yang telah mengkhianatinya.
“Jadi semua sudah berkumpul, kita akan membahas tentang masalah Nevan,” ucap Xaquil seraya mendaratkan bokongnya di sofa.
Menyusul Mecca, dan Nevan. Wajah Nevan seperti biasa dingin, memendam berjuta-juta amarah di dadanya.
“Kalian mau membahas apa? Aku nggak pengen diganggu,” sela Vivian sambil memejamkan matanya.
Mecca tersenyum sambil menghampiri puterinya. “Malam ini kamu sudah boleh pulang.”
Vivian hanya bisa mengangguk. “Silahkan bicara, aku mau tidur.”
Andreas menggigit bibir bawahnya, kemudian beralih menatap ke arah Nevan yang wajahnya seperti biasa memicing, penuh amarah, dan juga dingin.
“Menurut kalian, apa kita harus segera menikahkan Nevan dengan wanita lain?” ucap Xaquil tenang.
Nevan otomatis menoleh cepat. “I do have someone!”
Xaquil menatap dingin Nevan. “Gadis jalangg itu, yang videonya tersebar dimana-mana?” ucapnya, datar.
Nevan mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Matanya berkilat tajam menatap Xaquil. “Jangan panggil dia seperti itu!” timpal Nevan, dingin.
Mecca menelan ludahnya beberapa saat sebelum berdiri menghampiri Nevan yang sudah sangat emosi. “Pa, biarkan Nevan jelaskan dulu,” sela Mecca berusaha menenangkan emosi kedua belah pihak.
“Nggak perlu! Aku mau pergi,” ucap Nevan, lalu berdiri membuka pintu dan membantingnya dengan kasar.
Xaquil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Anak itu sangat kurang ajar!”
Vivian menghela napas dalam-dalam dalam tidurnya. “Biarkan Nevan hidup sesuai keinginannya,” kata Vivian, dengan suara datar.
Sementara itu, Nevan sudah berada di dalam mobilnya. Sebelum beranjak dari parkiran mobil, dia membuka sejenak beberapa pesan baru di dalam gawainya. Sudut bibirnya terangkat sedikit. “Okay, I'm almost finished.”
...----------------...
Di pagi yang cerah, di pusat kota Los Angeles seorang wanita hamil nampak sedang menenteng beberapa paperbag berisi beberapa potong donat rasa kacang, cokelat, dan stroberi beserta tiga buah minuman rasa jeruk. Briana sangat bersenang hati karena sudah hampir 38 minggu ini dia menginginkan memakan sepotong donat. Dia sampai rela memutari pusat perbelanjaan untuk membeli sepotong donat.
“Sayang, Mommy sudah membeli beberapa potong donat!” ucapnya, antusias berbinar-binar.
Perut Briana seperti benar-benar akan tumpah! Berat badannya bertambah 16 kilogram saat hamil. Sayangnya, bayi yang dikandungnya saat ini berada dalam posisi sungsang. Mau tidak mau, Briana harus melahirkan melalui operasi. Selain itu, dia juga sudah mengajukan cuti di akademinya. Setelah cuti selama empat bulan lamanya, Briana boleh masuk meneruskan sisa studinya setelah itu dia akan di wisuda.
“Astaga! Kamu ngeyel banget, nanti mamah kan bisa beliin kamu donat, Na?” ucap Aisha sambil mengelus dadanya.
Briana meringis. “Briana pengen banget makan donat, nggak sabar, ya kan sayang?” ucapnya sambil mengelus perutnya yang sangat membuncit.
Aisha tersenyum tipis. Tangannya juga ikut mengelus calon cucunya itu lembut. “Mommy mu sangat keras kepala, jika sudah besar jangan seperti dia!” ejek Aisha sambil tertawa.
“Dia pasti mirip aku, tidak mungkin akan menjadi sosok yang dingin dan bertempramen buruk seperti ayahnya,” ucap Briana, lirih dan menatap sendu Aisha.
Aisha menggigit bibir bawahnya kemudian memeluk lengan Briana. “Sabar, sebentar lagi dia pasti akan menemuimu.”
Briana menggeleng. “Aku nggak berharap lagi, Mah.”
“Aku sudah bahagia hidup seperti ini dengan papah dan mamah.”
Aisha tersenyum getir. “Sayang, cepat habiskan donatmu, sebelum kakekmu merebutnya!” Aisha mengalihkan pembicaraannya.
Briana tertawa pelan. “Aku ke toilet dulu,” ucap Briana lalu berjalan tergopoh-gopoh menuju toilet.
Saat sudah selesai kencing, tiba-tiba jantung Briana mendadak berdegup kencang. Ada cairann bening bercampur darah keluar. “M-masa aku akan melahirkan?” ucap Briana dengan suara parau.
Mata Briana sembab saat keluar dari toilet, dia lalu menghampiri Aisha yang masih duduk di depan televisi menonton serial kesukaannya.
“Mah?”
Aisha menoleh. “Ada apa?”
Briana gugup sambil mencengkeram ujung kaosnya. “Aku sudah keluar flek.”
Aisha segera meletakkan cemilannya dengan kasar. Buru-buru dia menyambar satu buah koper, dan satu buah tas berisi persiapan kelahiran Briana. Tak lupa Aisha juga mengambil map tebal berisi dokumen-dokumen untuk pendaftaran persalinan di rumah sakit nanti. Setelah semua siap, Aisha segera menghubungi Steven supaya menyusulnya ke rumah sakit.
“Mah?”
“Apa? Tanyanya nanti saja, bayimu bisa-bisa keluar tanpa permisi.”
Briana terkekeh pelan. “Aku cuma ingin handphoneku dikembalikan sebelum aku operasi.”