My Lovely MUA

My Lovely MUA
82.



Nevan otomatis menegang lalu berbalik badan membelakangi Briana. Begitu bodohnya dia, mengapa bisa lupa jika Briana baru saja melahirkan. Itu artinya, masih membutuhkan waktu kurang lebih 40 hari untuk berhubungan kembali. Sial! Padahal Nevan sudah tidak bisa menahannya, akhirnya terpaksa dia masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan aktivitas solonya.


Briana tertawa kecil sembari menggoda Nevan. “Maaf, kamu harus sabar sayang.”


...----------------...


Suasana hiruk pikuk mewarnai tempat Briana menimba ilmu, pagi itu Briana dengan wajah cerah telah berhasil sampai ke titik puncak kemenangannya sebagai Make Up Artist Profesionnal dengan sertifikat internasional. Betapa terharunya dia selama enam bulan ini dia berhasil menjadi murid dengan lulusan terbaik di akademi.


“I am proud of you, Briana!” pekik Aisha sembari menggendong Sean.


Dua wanita itu saling berpelukan dengan Sean masih berada di tengah-tengah mereka. Di dalam keramaian ini, batang hidung Nevan masih belum juga muncul. Padahal dia hanya pamit untuk membeli beberapa bunga di depan akademi Briana.


“Papah juga ikut bangga, Briana!” Steven bergantian untuk memeluk Briana. Pria paruh baya itu sedikit menangis karena, Briana sudah menggapai cita-citanya meskipun badai menerjang langkahnya.


“Happy Graduation, Mommy Sean!” Nevan mengejutkan isterinya dengan mengecup pipi mesra. Tak lupa dua pasangan suami-isteri itu berpelukan, lalu berciuman mesra.


“I have something for you,”


Mata Briana membola. Satu tangan Nevan membawa sebuah kunci, entah kunci apa itu. Briana tak ingin berpikir terlalu jauh. “Kunci apa ini?”


Nevan lalu meraih gawainya untuk diperlihatkan pada Briana. Disana, jelas terpampang rumah megah yang dulu Nevan perlihatkan padanya. Bangunan itu sudah sempurna berdiri tegak dibanding dengan terakhir kali Briana mengunjunginya tahun lalu.


“Bukannya ini rumah mewahmu dulu?”


Nevan mengangguk bangga. “Sean sudah berusia tiga bulan, aku ingin kita lusa kembali ke Jakarta.”


“Tapi...”


Nevan mengusap lengan Briana pelan. “Kamu jangan khawatir sayang, tidak ada lagi yang bakalan mengusik kamu. Kamu cukup berdiam diri di rumah tanpa perlu keluar kemana-mana.”


Briana menggeleng lemah. “Aku juga pengen kerja, kalau aku cuma berdiam diri di rumah buat apa aku jauh-jauh sekolah disini? Lebih bagus kalau aku disini aja, coba-coba melamar di industri film hollywood. Apalagi kamu kan punya cabang kantor disini, kenapa repot?”


Nevan terdiam sesaat sebelum menyanggah kata-kata Briana. “Nggak segampang itu sayang, apa kamu nggak mau ketemu sama papa sama mama aku?”


Briana menggigit bibir bawahnya sesekali mendesah pasrah. Selama tiga bulan setelah pernikahan mereka di Los Angeles, Briana belum pernah sama sekali bertemu dengan kedua orang tua Nevan. Dia masih berpikir jika mereka masih membencinya, padahal belum tentu juga.


“Aku apa pasti diterima?”


“Kamu bicara apa! Kalau nggak mau menerima, detik itu juga aku nggak akan lagi menginjakkan kaki di rumah orang tuaku.”


Briana menggeleng cepat. “Jangan begitu.”


“Itu demi keluarga kecil kita.”


“Kalau begitu, lusa kita kembali ke Jakarta. Dan kamu jangan berpikiran macam-macam lagi.”


Briana mengangguk sambil tersenyum simpul. Setelah selesai dengan semua rangkaian acaranya mereka memutuskan untuk kembali ke rumah karena Sean sudah mulai tidak nyaman.


Sementara itu di kediaman keluarga Nevan, Vivian tersenyum-senyum sendiri saat Nevan mengiriminya sebuah foto yang menampilkan gendutnya Sean saat digendong Nevan. Vivian menangis terharu ketika melihat betapa miripnya wajah keponakannya itu dengan adiknya. Saat merasa sedih, Vivian menyempatkan diri untuk menghubungi Nevan dan Briana menanyakan kondisi keponakannya yang membuatnya bersemangat kembali. Kehilangan semua yang dimilikinya dengan sekejap saja, membuat Vivian harus menyetel ulang hidupnya supaya lebih menerima apa yang telah Tuhan berikan kepadanya.


“Foto siapa itu, terus kenapa bisa mirip sekali sama Nevan? Janga-jangan...”


Vivian cepat membalik gawainya, dengan posisi layar berada di bawah. “Keponakannya teman.”


Mecca mencebik lalu merebut gawai Vivian lalu melihat paksa. Benar sekali dugaannya, Nevan tengah menggendong bayi kecil yang lucu bersamanya. Satu lagi, bayi itu terlihat sangat mirip dengan Nevan. “Ini anak Briana?”


Vivian terdiam, kemudian berdiri menghadap jendela kamarnya. “Dia namanya Sean, syukurlah Briana melahirkannya dengan selamat, sehat. Dia masih berusia tiga bulan.”


Mecca tak bisa membendung air mata yang jatuh di sudut matanya. Bodohnya dia dulu tak segera menyetujui Briana sebagai calon menantunya. Padahal, Nevan benar-benar tidak bisa hidup tanpa ada Briana di sampingnya selama ini. Kini, dirinya diliputi rasa bersalah yang besar.


“Lusa mereka kembali ke Jakarta. Dan, tolong jangan pernah ada kata-kata yang menusuk dan menyakiti hati Briana. Apalagi, mama dulu juga saling kenal baik sama Tante Aisha.”


“Apa mereka sudah menikah?” timpal Mecca sambil masih menatap foto cucunya yang sangat menggemaskan itu di layar.


Vivian mengangguk. “Sudah tiga bulan ini, tanpa memberi tahu papa sama mama. Nevan khawatir papa akan mengamuk saat tahu keputusan yang diambil terlalu salah dimatanya.”


Mecca mengerti, sangat mengerti. Xaquil pasti mengamuk atas apa yang telah dilakukan puteranya itu tanpa sepengetahuan darinya. Bahkan, beberapa bulan ini Xaquil sering mengamuk karena Nevan terlalu lama berada di California. Alih-alih mengurus kantor cabang yang ada di California tapi, nyatanya Nevan malah menikahi pujaan hatinya disana.


“Jadi dia nggak pernah kembali karena sudah menikah dengan gadis murahan itu?!” teriak Xaquil di depan pintu kamar Vivian yang terbuka. Sudah lama dia menguping pembicaraan antara Vivian dan Mecca.


“Sampai kapan pun aku nggak akan pernah merestui pernikahan si brengsek dan wanita murahan itu!” sambungnya seraya mengepalkan kedua tangannya sampai telapak tangannya memutih.


Mecca terkejut, sementara Vivian menoleh cepat dan tersenyum sinis. “Apa papa sudah yakin sama keputusan papa? Gadis yang papa bilang murahan itu nyatanya sudah melahirkan anak yang sehat, pintar, lucu dan tampan. Dan itu adalah anak kandung Nevan, darah papa juga mengalir di tubuh Sean.”


Sekali lagi tubuh Xaquil membeku. “Anak? Maksudnya gadis murahan itu hamil anak Nevan?!”


Vivian mengangguk. Kemudian meminta Mecca memberikan gawainya kepadanya, supaya bisa ditunjukkan kepada Xaquil. “Lihat ini, anak ini mirip sekali sama Nevan waktu bayi.”


Mana mungkin pria paruh baya itu mampu memandang cucunya sendiri. Dia terlalu gengsi untuk mengakuinya, bahkan melirik pun tidak. “Tidak perlu repot-repot ditunjukkan ke papa, sekali lagi papa nggak sudi mengakuinya.”


Tubuh Mecca langsung lemas saat suaminya itu begitu kejam terhadap Nevan dan Briana. Bahkan Xaquil tak peduli sama sekali tentang kehadiran cucunya itu. Kepala Mecca berputar-putar hingga tubuhnya terjatuh ke ranjang Vivian.


“Mama!” Vivian berteriak, melihat Mecca sudah tak sadarkan diri.