
”Kamu masih pacaran sama dia?” Marsha mencoba memberanikan diri untuk bertanya. Dia berharap, Briana bisa lepas dari jeratan makhluk satu itu.
Briana tersenyum kecut. “Aku udah putus lama, Kak.”
Marsha mengulum senyum mengangguk. “Baguslah! Lebih baik daripada kamu tersiksa...”
“Kamu beneran nggak kangen sama studio ini?” tanya Marsha, penasaran.
Briana menggeleng. “Um, nggak terlalu sih, yaudah aku mau balik ke ruanganku dulu ya, Kak.”
Saat tubuh Briana ingin beranjak, tangannya ditahan dan dicekal oleh Marsha. “No, ayo kita nostalgia bareng disini, kamu mau kan?” Mata Marsha mengerling mencoba membujuk Briana agar mau bergabung bersama. Marsha masih ingat betul beberapa tahun yang lalu, Briana adalah salah satu peserta pencarian uji bakat yang sangat berbakat. Kemampuan dance, dan teknik vokal dia kuasai dengan sangat baik. Namun, sayang Briana harus keluar dari WillEnt sesaat setelah kompetisi selesai dilaksanakan.
Briana menggeleng. “A-apa? Aku nggak mau, Kak.”
Marsha ikut berdiri lalu menyalakan sebuah musik, yang mana beberapa tahun lagu itu sukses dibawakan oleh Briana. “Ayo, Briana come on!”
Bukannya Briana tidak mau, tapi tolong dia merasa tidak siap dengan dunia ini lagi. Bagi Briana bekerja di balik layar dirasa pilihan yang tepat daripada harus mejeng tampil sebagai artis. Belum lagi harus menghadapi skandal-skandal tentang dirinya.
Briana menggeleng. “Ng-nggak, Kak, aku takut.”
Marsha lalu menarik tangan Briana untuk ikut bergabung menari bersamanya. Tapi, lagi-lagi Briana hanya terpaku seperti kanebo kering menatap Marsha yang antusias sekali meliuk-liukkan tubuhnya mengikuti irama musik. “Briana, I know you wanted to do more than that.”
Briana tertegun, saat mendengar lagu yang diputar Marsha, dia jadi teringat masa-masa indahnya saat mengikuti kompetisi di WillEnt. Briana menggigit bibir bawahnya, hatinya bergejolak ingin mengikuti Marsha yang tampak sangat lepas dan happy saat menari dan menyanyi.
Sontak tubuh Brianapun segera bergabung dengan Marsha, mencoba mengingat-ingat kembali gerakan demi gerakan yang ia lakukan dulu. Tanpa sadar, tubuh Briana meliuk-meliuk menyesuaikan beat musik. Meski sedikit kaku, karena sudah lama tidak menggerakkan tubuhnya. Tapi, Briana melakukannya dengan sangat baik. Ya, lagu yang dulu dia bawakan saat kompetisi adalah milik Ariana Grande - Problem. Lagu itu mirip dengan suasana hatinya dulu saat berpacaran dengan Nevan.
Head in the clouds
Got no weight on my shoulders
I should be wiser, and realize that I've got
One less problem without ya
I got one less problem without ya
I got one less problem without ya (I got one less, one less problem)
Problem, problem, problem (I got one less, one less problem)...
...----------------...
Sore hari di ruangan manager WillEnt, Briana menghela nafas dalam-dalam. Dia sedang menunggu sang manager, untuk menyampaikan keputusannya untuk resign hari ini juga. Nafasnya masih sedikit terengah, rambutnya sedikit lepek. Briana terkekeh teringat dirinya begitu menggila di studio tadi bersama Marsha.
Krek! Pintu terbuka menampilkan sang manager—Miss Nindy—yang membawa beberapa dokumen.
“Sudah lama, Briana?” tanya wanita cantik itu segera duduk di kursi kekuasaannya.
Briana mengangguk. Dibawah sana dia meremat kedua tangannya, raut wajahnya sudah bisa dipastikan begitu gugup.
Nindy memperhatikan mimik muka Briana lesu seperti tak seperti biasanya, rambutnya tidak segar seperti biasanya. Dia pikir, anak itu habis melakukan aktivitas yang berat. “Briana, kamu nggak papa?” Nindy sedikit khawatir, bercampur bingung.
Briana menggeleng sambil tersenyum canggung. “Nggak kok, Miss. A-nu itu saya mau memberikan ini.”
Tangan Briana terulur memberikan benda berwarna putih berbentuk persegi panjang itu ke meja kerja Nindy.
Nindy mengernyit. “Apa ini?” Sedetik kemudian Nindy mulai membuka benda putih itu lalu perlahan melihat dan membacanya. Matanya kemudian membulat sempurna, lalu melirik ke arah Briana.
“Kamu kenapa tiba-tiba?” ujar Nindy.
Nindy menghempaskan tubuhnya ke kursi. Lalu terhenyak. “Apa ini ada hubungannya sama Isyana? Diluar sana beredar kabar kalau kamu yang...”
Nindy, mencoba diam sejenak, takut ikut campur. Lebih baik dia tak memperkeruh suasana.
“Kalau itu maumu, nggak papa deh, saya juga nggak bisa menghalangi. Apalagi ini menggantikan orang tua kamu sendiri,” ucap Nindy bijaksana.
Briana merasakan kehangatan menyelimuti ruangan itu, ia sangat bersyukur sekali mempunyai atasan yang tidak otoriter.
Briana tersenyum. “Terimakasih, Miss Nindy.”
Briana bernafas lega, setelah mengundurkan diri dari WillEnt. Ya, setelah ini dirinya harus bisa lebih bekerja secara profesional dibandingkan dengan kemarin.
Sore itu, Briana melangkah keluar dari kantor WillEnt lalu seperti biasa memesan ojek online. Sembari menunggu, dia memesan es krim di depan kantor WillEnt. Belum sempat ia menyeberang, matanya mendadak menangkap pemandangan yang membuat hatinya teriris. Isyana bergelanyut manja dengan Nevan di sampingnya, masih dengan wajah babak belurnya itu dia nampak tersenyum sedikit kepada gadis centil itu.
Baru, tadi pagi Nevan menjemputnya pergi bekerja sampai rela dihajar oleh Steven. Sorenya, dia melihat Nevan bermesraan dengan mantan calon istrinya.
Tangan Briana mengepal sampai memutih. “Harusnya lo tadi mati aja supaya nggak bikin hati gue sakit lagi, dasar cowok brengsek!” ucapnya lirih sampai dirinya sendiri tak sadar mengeluarkan air mata.
“Lagian ngapain gue harus nangis?” Briana tak sadar menggumam sendirian di depan kantor WillEnt.
Briana memalingkan mukanya, dan mengurungkan niatnya untuk menyeberang. Dia bingung harus berbuat apa lagi, hatinya sungguh sakit melihat pemandangan menyakitkan itu.
Sebelum dia kembali, benda pipih ditangannya bergetar.
Reno Calling...
“Halo, Briana? Aku lagi didekat kantormu, kamu udah pulang?”
Sejenak bayang-bayang Reno berputar-putar di kepala Briana. Apakah Reno benar-benar tulus kepada dirinya? Atau sama saja dengan Nevan?
“Halo, Briana?”
“Oh, aku lagi di lobby kantorku kak, mau pulang nunggu ojol.”
Nampak Reno mendengus kecewa. “Kamu mau kemana habis ini?”
Pandangan mata mendadak berkabut tatkala Isyana mencium mesra pipi Nevan, dan dirinya masuk ke kursi penumpang mobil Nevan. Mereka menghilang saat itu juga dari pandangan Briana. Tangan Briana bergetar menahan amarah dan kesedihan. Dan lagi, Briana harus menelan pil pahit seperti enam tahun yang lalu. Kesekian kalinya, Briana kecewa.
“Briana?”
Briana berusaha menahan tangisnya supaya Reno tak mendengar. “Um, a-aku mau ke toko buku, Kak.”
“Toko buku mana.. Aku samperin ya, boleh?” ucap Reno di seberang sana.
Briana membekap mulutnya supaya tetap tenang. “G-gradasi Buku, Kka-kak.”
“Are you, Ok Briana?”
Briana nampak menggeleng, tapi jelas saja Reno tak tahu saat Briana menggeleng. “I'm, Ok.”
“Yaudah aku tunggu disana, ya.”
Tut!
Sumpah demi apapun, Briana ingin menghilang bersama angin sore ini. Harusnya, dia tidak luluh saat itu. Harusnya, dia membiarkan Steven membunuh Nevan saat itu juga. Airmata Briana jatuh tak bisa terbendung lagi.
“Brengsek!”