My Lovely MUA

My Lovely MUA
71.



Hari itu akhirnya datang, Briana duduk di tepi ranjang dengan wajah letih. Dua hari ini, hidupnya terasa hampa, dia tidak diijinkan untuk menyentuh gawainya sama sekali sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan. Anehnya, selama dua hari ini Nevan juga tidak menampakkan batang hidungnya. Padahal, Briana tahu jika Nevan akan melakukan hal-hal nekat tanpa dipikir dua kali. Seperti menyelinap masuk ke dalam kamarnya beberapa waktu lalu. Tapi, sampai detik ini juga, tidak ada tanda-tanda Nevan akan melakukan itu. Padahal, keinginannya hanya satu, dia menikah dengan Nevan. Hidup bahagia dengan lelaki itu. Mana mungkin janin di dalam kandungannya itu dibesarkan tanpa ayah.


Pandangan Briana mengedar ke seluruh penjuru sudut kamarnya, beberapa jam lagi dia akan meninggalkan kamar ini. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu mengelus perutnya yang masih nampak rata. “Sayang, bahkan Daddymu tidak peduli sama kita, padahal dia sendiri yang ingin cepat-cepat menikahi Mommy,” ucap Briana dengan suara serak. Bulir-bulir airmata kini jatuh membasahi pipinya, Briana mencoba bertahan sendirian merasakan sakit hati yang begitu dalam. Bahkan, pagi itu hujan juga turut menemani kesedihannya. “Lihat itu sayang, pagi ini hujan turun, mungkin hujan tahu kalau Mommy lagi bersedih.”


Briana terus mengajak bicara janin yang ada di perutnya, ya walaupun janinnya masih belum bisa mendengar keluh kesah ibunya.


Beberapa jam kemudian, Briana tiba di bandara. Sesuai dengan perkataan Aisha, mereka akan berangkat menggunakan jet pribadi. Briana tertegun saat melihat ke dalam isi jet pribadi tersebut, sangat mewah.


“Mah, apa nggak berlebihan sampai menyewa jet pribadi?” ucap Briana sambil duduk di pinggir jendela. “Biaya disana pasti mahal...”


Aisha menggeleng pelan. “Ini semua papahmu yang menyewa, dia ingin kita selamat sampai tujuan, kamu istirahat di dalam kamar saja.”


Briana sanggup dibuat melongo selama beberapa saat. Sampai akhirnya dia meneguk ludahnya sendiri. “Kamar? Memang ada kamar disini?”


Aisha tertawa pelan. “Let's enjoy what we have right now!”


Sambil melangkah ke dalam kamar, Briana menemukan sesosok Steven yang duduk memejamkan mata dan menyumpal telinganya menggunakan airpods-nya. Senyum getir ia layangkan kearah Steven, yang tentu saja ayahnya itu tidak tahu. Benarkah semua yang sedang ia lakukan ini adalah untuk kebaikan Briana semata? Mengapa semua ini begitu cepat? Lalu, dimana Nevan setelah kejadian siang itu? Lalu, bagaimana nasib Reno saat tahu Briana pergi ke Amerika secara tiba-tiba? Yang lebih menyedihkan lagi adalah, bagaimana nasib janin yang ada di dalam kandungan Briana kelak? Semua pertanyaan itu membuat kepala Briana mendadak pusing.


Waktu tempuh menggunakan jet pribadi sedikit cepat dari waktu normal ketika memakai pesawat reguler. Jika perjalanan ke Los Angeles bisa memakan waktu sekitar 18 jam, maka, Briana dan rombongan akan sampai tidak lebih dari 18 jam.


...----------------...


“Pah, tolong letakkan koper ini di kamar belakang.”


Sekali lagi, Briana nampak sedikit kelelahan akibat perjalanan panjang tadi. Tak pernah Briana tahu bahwa dia akan tinggal rumah yang cukup besar di kota Los Angeles. Semua begitu cepat, hingga dia merasa ada yang tidak beres dengan kedua orang tuanya yang tampak selalu tenang.


“Mah, ini rumah siapa?”


Aisha lagi-lagi tersenyum tipis. “Bri, kamu jangan berpikir aneh-aneh, rumah ini milik teman papahmu dari pada tidak dipakai beliau menyewakan rumah ini.”


Briana yang mulanya berdiri, lalu mengubah posisinya menjadi terduduk. Rumah ini sepertinya baru berdiri, tidak mungkin sekali.


“Ayo kita istirahat dulu, pasti kalian capek. Briana, cepat ganti baju lalu tidur!” titah Steven memotong lamunan Briana.


Briana tersenyum menyadari perhatian Steven kepadanya. “I-iya, Pah.”


Dengan sedikit berlari kecil, Briana membuka pintu kamar yang sebelumnya Aisha sudah tunjukkan padanya. Tak kalah kaget, kamar itu dicat dengan warna favorit Briana, sage green. Kening Briana berkerut-kerut. Di dalam kamar itu juga terdapat ranjang berukuran besar, lemari berukuran jumbo, meja rias, satu lagi, sebuah balkon yang menghubungkan pintu kamarnya. Briana tersenyum tipis, entah ini sebuah kebetulan, atau keajaiban, dia merasa sedang diberi keberuntungan lewat janin yang ia kandung.


“Sayang, lihat kamar ini persis dengan punya Mommy, siapa yang sudah berbaik hati menyiapkan ini semua?” sekali lagi, Briana mengelus perut rampingnya itu sambil berjalan ke arah balkon. Pagi itu, Briana menghirup udara kota Los Angeles dengan damai. Tapi, semua itu ada yang kurang. Air matanya keluar dari sudut matanya, dadanya sungguh terasa sesak.


...****************...


Di tempat yang berbeda, dan waktu yang berbeda. Nevan meringkuk menatap layar benda pipihnya sedari tadi. Senyum di bibirnya kemudian merekah saat seseorang mengiriminya sebuah pesan.


Miss Ny, send a picture..


Sebuah gambar yang membuat Nevan menangis bahagia. “I hope you can be happy, my girl.”


Keesokan paginya, Nevan, Vivian, dan Andreas berkumpul di ruang keluarga bersama kedua orang tuanya. Semua yang disana berwajah tegang. Aura dingin keluar dari mata Xaquil.


“Vivian!” panggil Xaquil dengan suara kencang.


Vivian menunduk sambil mengangguk pelan. “I-iya, Pa?”


“Nevan, tunjukkan ke kakakmu sekarang,” titah Xaquil seraya mengedikkan dagunya.


Nevan mengambil sebuah amplop cokelat berukuran besar, dia kemudian mengulurkan amplop itu ke arah Vivian. Kelopak mata Vivian mengerjap-ngerjap. “Apa ini, dek?” tanya Vivian, lalu sejenak melempar pandang ke arah Mecca, dan Andreas.


“Lo buka sendiri.”


Tangan Vivian gemetaran meraih sebuah amplop itu, lalu tangan Andreas merebut paksa amplop itu dari tangan Nevan. “Andreas aja kak yang buka,” ujar Andreas yang tak ingin melihat Vivian semakin hancur.


Nevan mengangkat kedua bahunya. “Whatever you want,” jawab Nevan, dingin.


Secepatnya Andreas menarik ujung amplop itu, dia meraih sesuatu di dalamnya. Vivian terjingkat, dan menutup mulutnya saat Andreas mengeluarkan benda itu ke atas meja. “Nggak mungkin!” pekiknya.


Mecca memejamkan matanya. Tubuhnya meluruh di kursi. “Ceraikan keparat itu, sekarang!” ucap Mecca, datar tapi menusuk.


Vivian menggeleng kuat. “Doni nggak mungkin selingkuh, Ma? Doni cinta sama Vivian...”


Nevan tersenyum sinis. “Lo pilih dia mati di tangan gue, atau lo tanda-tanganin surat ini secepatnya, Kak?”


Mulut Vivian tak bisa berkata-kata lagi, hatinya sangat perih bagai tertusuk seribu belati. Dia hanya bisa menangis meratapi kesedihannya, pernikahan yang ia bangun mati-matian kini akan segera berakhir. Tubuhnya bergetar hebat, saat melihat wanita yang Doni kencani adalah Mira, tantenya Isyana. Wanita licik itu sudah berani merebut Doni darinya. Andreas segera memeluk kakaknya itu yang sudah tak bisa lagi berkata-kata.


“Nevan, setelah Vivian, papa juga akan segera menghabisimu...”