My Lovely MUA

My Lovely MUA
84.



Reno tidak bisa menahan kerinduannya selama ini terhadap Briana. Dia pun spontan memeluk tunangannya itu tanpa peduli dengan pandangan orang-orang di sekitar. Hidupnya terasa hampa saat Briana dan seluruh anggota keluarganya hilang bak ditelan bumi. Ya meskipun Reno tidak terima akan skandal Briana tapi, jauh di dalam lubuk hatinya Reno masih menerima apapun keadaan Briana.


“Aku kangen banget sama kamu, Briana. Kamu tiba-tiba hilang, syukurlah kita bisa ketemu disini,” ucapnya sambil masih mendekap erat tubuh Briana.


Dengan sekuat tenaga Briana mencoba mendorong tubuh Reno agar menjauh darinya. “Maaf, Kak nggak seharusnya kita begini,” ucapnya seraya mundur menundukkan kepalanya.


Reno tersenyum miris. “Kenapa? Kamu belum menjelaskan kenapa kamu hilang selama ini. Kamu masih punya hutang sama aku.”


Briana membuang muka ke samping, sebelum Briana ingin menjelaskan masalahnya kepada Reno. Gawainya nyaring berdering. Dan benar, Nevan sudah mencarinya.


“Iya, aku udah selesai...”


“...”


Buru-buru Briana memasukkan lagi gawainya ke dalam tas jinjingnya. “Kapan-kapan aku bakal jelasin semua, Kak. Ini aku lagi buru-buru, permisi,” ucapnya seraya pergi dengan langkah kaki seribu.


Reno mengernyitkan dahinya bertanya-tanya kisah apa yang dipendam Briana hingga dia menghilang tiba-tiba. Tanpa ragu-ragu, Reno membuntuti Briana dari belakang. Saat mengikutinya, Briana sudah masuk ke dalam sebuah mobil Audi warna hitam pekat. Sayangnya, Reno tidak melihat dengan siapa Briana di dalam mobil tersebut karena kaca mobil itu lumayan gelap. Saat itu juga Reno juga masuk ke dalam mobilnya dan mengikuti mobil Briana yang sudah duluan meninggalkan area parkir.


“Briana sama siapa ya?” ucap Reno lirih di dalam mobilnya.


Mobil Audi itu lalu masuk ke sebuah komplek perumahan mewah. Sayangnya, Reno tidak beruntung karena mobilnya diberhentikan oleh penjaga.


“Maaf, Bapak apa mau masuk ke dalam?” ucap penjaga itu dari balik jendela mobil Reno.


Reno mengangguk pelan. “Iya.”


“Mohon maaf, apa sudah membuat janji dengan Tuan?” sambungnya, lagi.


Reno mengernyitkan dahinya. “Tuan? Tuan siapa?”


“Rumah yang di seberang sana itu milik Tuan Nevan, jika sudah punya janji, saya akan memberi tahu ke petugas disana,” ujar penjaga itu dengan senyuman ramah.


Reno sangat terkejut ketika menyadari rumah megah yang sekarang ada di depan matanya kini adalah rumah Nevan. Tapi, yang jadi pertanyaan besar adalah Briana juga ikut masuk ke dalam rumah tersebut.


“Maaf, Bapak Nevan tinggal dengan siapa ya?” tanya Reno lagi.


“Dengan isteri, anak dan kedua orang tuanya, Pak, baru saja datang dari Amerika tadi.”


Hati Reno sesak bagaikan dihimpit bongkahan batu berton-ton saat mendengar fakta menyakitkan tersebut. “Oh... Kalau begitu, saya pamit dulu, Pak. Permisi,” Reno segera memutar balik mobilnya dengan perasaan tidak karuan. Sungguh, dia tidak menyangka jika mereka semua telah menyembunyikan Briana dari Reno.


Sebelum Reno meninggalkan kawasan perumahan mewah tersebut, ia menepikan mobilnya di pinggir jalan. Sesaaat kemudian, ia meraih gawainya lalu mengetikkan suatu pesan kepada seseorang.


Sementara itu, di rumah mewah Nevan, Briana nampak sedang menggendong Sean dan menyusuii sekaligus. Dia duduk di tepi ranjangnya, sambil menatap lurus ke depan. Ia khawatir, jika Reno akan menemuinya kembali dan mempertanyakan kepergiannya selama ini.


“Lagi mikir apa?” celetuk Nevan yang baru saja keluar dari kamar mandi sambil menggosok-gosokkan rambutnya dengan handuk.


Briana menoleh cepat. “Aku... Pengen kerja lagi.”


Nevan menghela napas berat, kemudian berjalan menghampiri Briana dan ikut duduk di samping wanita itu. “Kamu tahu skandal itu kan, nggak mudah buat kamu kembali ke sana. Kecuali kamu kembali ke Los Angeles.”


Briana terbeliak mendengar penuturan Nevan. “Apa aku boleh kembali kesana? Aku nggak pengen lama-lama di Indonesia.”


Dahi Nevan berkerut-kerut. “Why? Apa ada yang mengganggumu?”


Briana menggigit bibir bawahnya. Sebelum menjawab, dia melihat Sean sudah tertidur pulas setelah menyussu. Akhirnya Briana memutuskan untuk meletakkan Sean ke dalam box bayi. “Ya dari pada disini, pasti image-ku sudah pasti jelek,” jawabnya sembari memutar tubuhnya lalu duduk kembali di samping Nevan.


“Serius?!”


Nevan mengangguk pelan. “I'm very serious, My Love.”


Melirik Nevan sepintas, Briana kemudian menggenggam erat tangan besar Nevan. “Aku, tadi ketemu sama Kak Reno.”


Nevan yang duduk di samping Briana lantas melemparkan kerlingan tajam. “Dimana?! Kenapa baru cerita?”


Bibir Briana mengatup perlahan seraya menyiapkan hatinya supaya kuat saat Nevan memakinya. “Pas tadi pulang dari jenguk mama, aku ketemu dia di depan toilet, maaf.”


Nevan berusaha bersabar supaya tidak tersulut emosi. “It's ok, aku harap kamu jujur sama aku apapun yang terjadi.”


Briana tersenyum lebar. Entah ada angin apa Nevan tidak marah-marah lagi seperti dulu. Biasanya, Nevan selalu meluncurkan kata-kata makian untuk Briana saat menyebut nama Reno ketika sedang mengobrol berdua. Nevan sudah banyak berubah selama ini, dan Briana sangat bahagia akan hal itu.


“Dia tanya apa?” ucapnya lagi seraya bangkit berdiri mengambil satu pakaian dan boxer di dalam lemari.


“Perihal aku ngilang.”


“Terus?”


Briana mengangkat bahunya. “Gitu aja, nggak ada lagi.”


Nevan tersenyum sinis. “Kamu sadar nggak dia tadi ngikutin mobil kita.”


Di tempatnya duduk, Briana mengumpati dirinya sendiri sembari menghentak-hentakkan kakinya di bawah lantai. “Aku nggak tahu kalau dia sampai nekat kayak gitu.”


Nevan berbalik badan lalu mengecup kening isterinya. “Biarin aja, toh kita nggak merugikan dia sama sekali.”


Briana mencebik. “Tapi, aku belum jelasin alasan aku ngilang. Gimana kalau kit—”


Lagi, Nevan mengecupp bibir seksii Briana dengan lembut. “Please, saat kita lagi berdua jangan ngobrolin tentang dia. Aku nggak suka, Briana.”


Briana mengangguk pelan. “Aku mandi dulu kalau begitu,” ucapnya sembari berdiri mengambil sebuah handuk.


Nevan dengan gesit menangkap pinggang Briana dan menariknya ke atas ranjang. “Kita lembur malam ini, jangan mandi dulu.”


Briana terkekeh pelan. “Kamu udah lupa ya kalau aku ini belum mandi?”


Nevan menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Briana gemas. “Aku nggak peduli, sayang.”


Briana melirik dengan ekor matanya, saat gawai suaminya bergetar di atas nakas. Secepat kilat dia menarik diri dari kungkungan Nevan kemudian mengambil gawai itu.


“Kak Reno?!” ucapnya sengaja dikeraskan agar Nevan bangkit dari ranjangnya.


“Tutup aja nggak penting!” sahut Nevan, malas.


“Angkat aja, siapa tahu ada yang penting yang mau diomongin? Lebih baik kamu jelasin aja langsung ke dia, dari pada dia bertanya-tanya. Supaya masalah ini cepat selesai,” ucap Briana panjang lebar.


Nevan dengan berat hati mengangguk lalu menerima panggilan dari Reno.


“Ya, halo?”