
”Aku nggak akan pernah menikah dengan siapapun,” ucap Briana, dengan nada bergetar.
“You sure?” sepasang alis Nevan bertaut samar. “Aku nggak becanda, Bri?”
“Aku juga nggak becanda, Van,” ucap Briana, seraya meremat kedua tangannya karena gugup.
“Kamu kenapa sih, dikit-dikit berubah,” Nevan merasa Briana sedang mempermainkannya. “Dulu kamu bilang aku disuruh tanggung jawab karena udah ngrusak kamu? Sekarang diseriusin tambah nglunjak!” ucap Nevan panjang lebar sembari mengeluarkan benda pipihnya di saku celananya. Dua panggilan tak terjawab dari mamanya, Mecca.
Tak mau ambil pusing dengan urusan Mecca, Nevan memasukkan kembali benda pipihnya ke dalam saku celananya. Briana terperangah sesaat. “Aku...”
Nevan berdecak pinggang. “Aku apa?” tubuh Nevan sedikit condong kepada Briana. “Kamu lupa sesuatu?” Nevan tersenyum smirk, sambil berbisik di telinga Briana.
“What about it?” tanya Briana, matanya mengerjap-ngerjap.
Nevan tersenyum simpul. Lalu meraih rambut Briana dan diletakkan dibelakang telinganya. Mendapat perlakuan seperti itu membuat pipi Briana berubah merona. “Ayo, kita makan dulu,” ujar Nevan seraya menggandeng tangan Briana menuju ke mobilnya.
...----------------...
Sudah hampir waktu senja, Briana baru pulang kerumah. Seharian penuh dia bersama dengan Nevan, berjalan-jalan kemanapun, layaknya sepasang kekasih yang saling merindukan. Tentu saja Nevan tak lupa menurunkan Briana di ujung gang. Takut jika Steven atau Aisha memergoki mereka berdua.
“Thanks, my world,” ucap Briana sambil mengecup pipi kiri Nevan. Nevanpun tak kalah cepat, lalu membalas kecupan Briana di bibirnya lembut. “I love you,” balas Nevan.
Wajah Briana nampak merona, dia lalu melirik spion, takut jika ada seseorang keluar dari rumahnya. “Aman?” tanya Nevan, memastikan. Briana kemudian mencubit pinggang Nevan.
“Asshh, kenapa sih, babe?” Nevan meringis memegangi pinggangnya yang nyut-nyut-an terkena cubitan mesra dari Briana.
Bibir Briana kemudian mengerucut ke depan. “Nggak papa, cuman gemes aja,” ucapnya menyengir, lalu membuka handle pintu mobil Nevan.
“Awas ya kamu, Bri!” Nevan sedikit terkekeh.
Briana kemudian berlari kecil setelah mobil Nevan berlalu dari pandangan matanya. Saat dia membuka pintu gerbang, suasana dalam rumahnya sedikit berisik. Sangat terdengar jelas di telinga Briana. Aisha nampak tertawa-tawa gembira.
“Rame banget, loh ada kak Nabilla sama Elsa juga?” tanyanya, sembari melepas sepatu di teras rumah.
Nabilla tersenyum ramah, Elsapun. “Eh, calon pengantinnya sudah datang,” celetuk Elsa, tiba-tiba.
Kening Briana berkerut-kerut. “Apa lo bilang?”
Elsa menggeleng, nampak bertukar pandang dengan Nabilla. “Ya kan semua orang pada akhirnya akan menikah, gimana sih lo, Sa?” balas Nabilla, canggung.
Aisha mulai menimbrung. “Udah, kamu buruan mandi trus dandan yang cantik,” sahut Aisha yang sibuk menghias kue keringnya di toples. Dibantu dengan Nabilla dan Elsa yang menyiapkan hidangan pendukung.
Briana tak curiga sedikitpun, dia juga tidak bertanya siapa yang akan datang malam itu. Yang dia tahu dirinya sedang bahagia hari itu, ya meskipun tadi ada perdebatan sengit dengan Nevan.
“Um, Nyonya, Kak Briana memang tidak tahu ya kalau hari ini ada lamaran?” tanya Elsa, polos.
Nabilla mencubit lengan Elsa yang sembarangan berucap. “Elsa, bisa diem nggak, lo?” mata Nabilla melotot tajam bak sinar matahari yang menyinari bumi.
Elsa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Lalu cengar-cengir sambil menyiapkan hidangan di meja makan.
Setengah jam kemudian, Briana sudah menyelesaikan ritual mandinya. Bersamaan dengan itu pula, Nevan menelfon Briana.
“Halo?”
“Hi, babe, lagi ngapain?” tanya Nevan di seberang sana.
“Aku lagi siap-siap katanya mau ada tamu kerumah.”
Briana berdiri di balkon kamarnya, menghirup udara malam. Balkonnya itu letaknya lurus dengan pintu gerbang rumahnya. Jadi, otomatis Briana pasti tahu siapa saja orang yang datang kerumahnya. Dia memakai kacamatanya, tanpa disadari ada sebuah mobil mewah yang berhenti tepat di pintu gerbang rumahnya. Ada tiga orang yang turun, dua laki-laki dan satu perempuan cantik. Nampaknya Briana tak asing dengan wajah mereka.
“Van,”
“Um?”
“Udah ya, tamunya udah datang.”
“It's, Ok, nanti malam jangan lupa telfon aku lagi,” pinta Nevan.
Briana mengangguk. “Siap!”
Suara pintu diketuk dari arah luar. “Na, turun yuk tamunya sudah datang.”
“Ya, Mah bentar lagi,” sahut Briana dari dalam kamar.
Briana menghembuskan nafas panjang, hal gila apalagi yang akan terjadi malam ini. Duduk di depan meja rias, Briana menjalankan aksinya, berdandan kilat. Ia memoleskan lipstik pink cerah di bibirnya, memakai cushion, maskara, tak lupa alis tipis natural, rambutnya ia gerai begitu saja, jangan lupa mengoleskan blush on agar tetap tampil segar.
“Done!” Briana selesai dengan riasan minimalisnya, tanpa mengurangi sedikitpun wajah cantiknya meskipun dia memakai kacamata tebal.
Akhirnya, Briana keluar dari dalam kamarnya. Lihat siapa yang datang? Pria tampan berkemeja biru, lengannya digulung keatas, senyuman tampannya bisa membius wanita manapun untuk sekedar berkenalan dengan lelaki tampan tersebut. Ya, siapa lagi kalau bukan Reno Adelio. Ada gurat kecewa di pelupuk mata Briana.
Aisha pun menyorot ke lantai atas. “Na, ayo turun!” titah Nyonya Aisha.
Dengan rasa canggung, Brianapun melangkah ragu menuju ruang tamu. Senyum Briana merekah saat Sierra segera memeluk tubuh ramping Briana.
“Hai? Gimana kabarmu, Briana?” tanya wanita cantik itu.
Briana tersenyum. “Baik, tante. Tante sendiri?”
“Baik, oh iya ini ada Reno juga, lupa kok dianggurin,” katanya sedikit menggoda.
Reno kemudian berdiri gagah, lalu meraih sebuah bucket mawar segar berwarna merah, pink untuk Briana. Tangannya terulur memberikan bucket itu. “Hai, Briana, ini buat kamu,” mata Reno mengerling saat Briana dengan senyum canggung menerima bucket mawar tersebut.
Aisha, dan Steven nampak begitu bahagia melihat pemandangan indah tersebut. Bagaimana tidak, itulah yang mereka harapkan selama ini. Melihat Briana bahagia, tanpa bayang-bayang disakiti kembali oleh Nevan.
“Thanks, Kak Reno,” ucap Briana, gugup.
“Duduk dulu, yuk,” ucap Aisha.
Michael lalu melirik ke arah Reno yang nampak tersipu malu, tanpa babibu, Michael lalu mengutarakan tujuan utamanya berkunjung kerumah Steven dan Aisha.
“Saya mewakili kakak saya, atau papah Reno ingin meminang putri Bapak Steven dan Ibu Aisha untuk Reno,” kata Michael, tegang.
Mata Briana terbeliak tak percaya, sudah diduga pasti ada yang disembunyikan oleh kedua orangtuanya. Tangan Briana mengepal kuat, menahan rasa kecewa yang berkecamuk di dalam dada.
Steven langsung menyambar permintaan baik Michael. “Tanpa perlu ditanya, Briana pasti sudah pasti mau dengan Nak Reno,” ucap Steven, percaya diri.
Aisha lalu melirik ke arah Briana yang sedari tadi tertunduk, aura dingin langsung menguar dari dalam tubuh Briana. “K-kata siapa Briana, mau?” celetuknya, tiba-tiba.
Aisha seraya mencubit paha Briana sedikit. “Ma-maaf, Bapak Michael, Briana agak capek jadi suka ngelantur.”
Steven berdehem. “Apapun, keputusannya saya dan mamanya Briana menerima pinangan Bapak Michael sekeluarga.”
Reno menyadari raut muka tak bersahabat Briana. “Maaf menyela, apakah saya boleh bicara berdua saja dengan Briana?” potong Reno, seraya melirik ke arah Briana.
Steven mengangguk. “Boleh saja, asalkan jangan macam-macam, belum halal,” ledek Steven, seolah tanpa dosa. Michael, Sierra dan Aisha tertawa mendengar lelucon Steven.
Reno tersenyum lega, lalu dia menggandeng Briana untuk berbincang di halaman belakang rumah Briana.
“Briana, apa kamu keberatan?” tanya Reno, seolah mengerti jika Briana sedikit tidak ikhlas.
Briana masih tertunduk, membeku di alamnya.
“Bri?”
Suara bariton Reno membuat Briana menengadah cepat. “Y-ya, Kak, aku...”
Reno menghembuskan nafas panjang. “Aku tahu kamu masih mencintai Nevan, tapi apa kamu nggak bisa ngasih aku kesempatan?”
Briana sedikit tertegun, benarkah Reno setulus itu kepadanya? “I-itu, kenapa Kak Reno milih aku, padahal diluar sana banyak cewek-cewek cantik?”
Reno berdecak. “Ya, karena kamu cinta pertamaku, Briana.”
Jawaban Reno membuat Briana bingung, keningnya berkerut-kerut. Bagaimana bisa dirinya bisa menjadi cinta pertama lelaki itu?
“S-sejak kapan?” tanya Briana, penasaran.
Reno mengedikkab bahunya. Lalu membawa rambut Briana ke belakang telinga. “Saat kamu main di taman dekat rumahku,” senyuman Reno mengembang. Lesung pipi itu menggoda jantung Briana agar berdetak kembali. Perasaan apa ini? Mungkinkah Briana telah jatuh kedalam dua perangkap lelaki?