
Setelah kejadian di apartement Nevan satu minggu yang lalu, Briana tak mau ambil pusing terhadap Nevan. Briana tetap menjalankan pekerjaannya dengan profesional. Job-nya mengular setiap hari, sampai tidak ada waktu untuk bersantai-santai seperti saat bekerja dulu di WillEnt.
Pagi ini, Briana sedang menerima klien seorang aktris terkenal. Arabella Maya—seorang model dan presenter di acara tv-tv terkenal. “Kak Ara suka makeup yang simpel kan ya?”
Ara tersenyum ramah. “Iya sayang, by the way, aku jatuh cinta sama kehebatan mama kamu. Tapi, aku nggak nyangka putrinya juga nggak kalah hebat, lho!” tandas Ara memuji keterampilan Briana.
Tak bisa dipungkiri jika Briana menjadi perbincangan di kalangan selebriti, model, dan influencer lainnya. Banyak pula yang mengundang Briana tampil menjadi bintang tamu di vlog beauty influencer terkenal di channel youtube-nya. Nama Briana meroket tajam di kalangan para MUA.
Setelah selesai dengan klien pertama, jam berikutnya dia harus mengisi workshop kelas MUA profesional selama tiga hari di sebuah mall terkenal yang terletak di pusat kota. Memang, sebulan ini jadwalnya sangat padat. Apalagi, dia sekarang Briana sudah mulai meng-handle semua pekerjaan Aisha. Tentunya, Nabilla selalu setia mendampingi bosnya itu kemanapun Briana pergi. Tentunya, tarif Briana harus naik karena dia hanya mengajak Nabilla saja. Jika, untuk pernikahan dia akan mengajak Aisha, Nabilla dan Elsa.
Semua kegiatan yang padat itu membuat dirinya sedikit lupa dengan masalah yang menimpanya dengan Nevan beberapa waktu lalu. Nevanpun juga berusaha sedikit melupakan Briana sejenak dengan mengikuti sidang para kliennya di pengadilan setiap hari. Lalu, kemudian sibuk keluar kota untuk menangani kasus-kasus besar di perusahaan-perusahaan ternama.
Sampai pada suatu hari mereka berdua dipertemukan dengan tidak sengaja di sebuah perbelanjaan pusat kota. Kebetulan Briana sedang mampir sebentar di sebuah restoran untuk mengisi perutnya yang tengah kosong, sebelum memulai kelas pertamanya. Setelah memilih beberapa menu, Briana kemudian meraih benda pipihnya yang ia letakkan di dalam tas jinjingnya. 10 pesan masuk di kotak masuknya, dan semua pesan-pesan itu datang dari nomor Reno. Belum selesai mengetik balasan singkat untuk Reno, benda pipihnya bergetar di tangannya.
Reno Calling...
Briana menghela napas panjang sejenak. Perasaan jengkel, benci, dan tidak nyaman bersemayam di hatinya. “Halo?”
“Lagi dimana, Bri?” tanya Reno, diseberang sana.
Briana memutar bola matanya. “Lagi makan siang nih di resto mall.”
Reno terkekeh. “Aku boleh kesana nggak, mumpung lagi free sampai sore.”
Jari-jari Briana mengetuk-ngetuk meja beberapa kali, sedang berpikir, dia tidak ingin diganggu oleh siapapun hari ini. “Maaf, Kak, tapi setelah ini aku ada workshop sampai sore.”
“Aku jemput, boleh?” tanya Reno, tak ingin begitu saja menyerah.
Briana mendadak jengkel pada Reno, ingin segera menutup sambungan telponnya. “Aku bawa mobil sendiri, Kak. Ohya, Kak aku tutup dulu makananku udah tiba.”
“Bri...”
Lagi-lagi Briana menghela nafas panjang. “Ya, Kak?”
“Nggak jadi, nanti aku kirim pesan habis ini, have a nice day, My Queen,” katanya sebelum menutup sambungan telponnya.
Briana mendadak geli mendengar Reno memanggilnya dengan sebutan My Queen, seumur hidup dia mempunyai kekasih, dia tidak pernah dipanggil secara alay seperti itu. “Thanks,” jawab Briana, singkat.
Beberapa saat kemudian pelayan datang dari jauh, Briana memesan satu mie, dan dua potong dada ayam untuk ia santap sebagai makan siangnya. Matanya berbinar saat santapannya menuju ke mejanya, namun, tinggal beberapa langkah pelayan itu oleng karena seseorang menyenggolnya dengan cukup kencang. Hingga, tak sengaja kuah mie, dan dua potong dada ayamnya tercecar di lantai. Jangan lupakan kuah mie nya yang lain juga mengenai paha mulus Briana. Briana meringis kesakitan karena terkena kuah mie yang sangat panas.
“Oh my God!” Briana terpekik saat rasa terbakar mulai menjalar di paha mulusnya. Pelayan itupun langsung mengucapkan beribu-ribu kata minta maaf kepada Briana.
Pria itu tersenyum sinis, masih dengan posisi berjongkok. Briana lalu mendongak sambil merasakan kebas dan panas di kaki sebelah kanannya. Lalu, pelayan itu bangkit dan meminta maaf sekali lagi akan mengganti makanan miliknya yang terjatuh akibat kelalailannya. “Aku tunggu di sini, jangan ulangi perbuatan cerobohmu itu,” kata Briana, sedikit kesal.
“Harusnya gue yang minta maaf, nggak perlu lah marahin pelayan itu,” ucap pria itu seraya bangkit berdiri di samping Briana. Briana menoleh ke sumber suara, melotot tak percaya dengan siapa kini dirinya bertemu. “N-Nevan?” itulah pertemuan pertama mereka sejak kejadian panas di apartement Nevan seminggu yang lalu.
Nevan tersenyum sinis. “Bukan, tapi seorang keparat.”
“Buruan ke toilet, biar gue yang jagain meja lo,” Nevan mengedikkan dagunya ke arah dimana toilet berada.
Tanpa buang-buang waktu, Briana segera menuju ke toilet untuk membersihkan dirinya. Nevan tersenyum bejat seperti biasa, lalu mendaratkan bokongnya di kursi dimana Briana duduk. Mata Nevan lalu beralih kepada ponsel Briana yang menyala, Nevan menangkap nama yang ia benci sedang mengirim pesan ke ponsel Briana.
Reno:
Aku ada sesuatu buat kamu,my Queen :)
Kepala Nevan sangat panas, rahangnya mengetat saat Reno mengirimi pesan mesra untuk Briana. Buru-buru dia membuka benda pipih itu untuk ia buka. Namun, sayang, ponsel itu terkunci.
Kurang ajar!
Nevan benar-benar meradang. Ingin sekali dia membanting ponsel Briana sekarang juga, tapi dia harus cukup bersabar setidaknya sampai Briana kembali dari toilet dan meminta penjelasannya. Dengan segala kemarahannya yang memuncak itu, akhirnya Nevan bisa menangkap Briana yang sudah kembali dari toilet. Briana terlihat risih berjalan dengan bajunya yang ternoda, Nevan mengulum senyum tipis di sudut bibirnya. “I'm going to punish her, tonight.”
Briana kembali dengan wajah pucat pasi, bagaimana tidak? Sebentar lagi dia akan mengisi workshop, lalu bagaimana orang-orang akan berpikir saat mentornya saja terlihat kotor seperti ini.
“Lagi mikirin apa?” tanya Nevan, jadi penasaran.
Briana berpikir, lalu menggigit bibir bawahnya. “Kayaknya aku nggak jadi makan deh, buat kamu aja,” katanya seraya mengambil benda pipih di mejanya, dan juga tas jinjingnya. Briana terlalu cemas sehingga tidak mengecek ponselnya terlebih dahulu, benda pipihnya ia masukkan langsung ke tasnya. “Aku mau pergi dulu.”
Nevan mengernyit, hampir saja dia ingin marah namun melihat Briana yang kebingungan tidak jelas seperti ini malah membuat dirinya penasaran. Tangan Briana ia cekal kuat, lalu menuntunnya untuk duduk kembali.
“Aku buru-buru, Van! Kejadian tadi aja udah motong waktuku 15 menit,” tukas Briana.
“Mau kemana sih, sampai buru-buru? Mau ketemuan sama orang?” cecar Nevan.
“Please, bentar lagi acaranya bakal dimulai dan pakaianku...”
Mata Briana menuntun Nevan untuk sekedar melihat kondisi bajunya yang penuh dengan noda kuning dari kuah mie. “Aku ada kelas makeup habis ini, i can't take it now,” katanya setengah depresi.
Nevan sedikit bernafas lega, setidaknya itulah alasan Briana ingin beranjak dari restoran tersebut. Tanpa pikir panjang, Nevan meraih tangan Briana untuk ikut bersamanya. “M-mau kemana, Van?” tanya Briana, gelagapan.
“Let's go buy some clothes!”