My Lovely MUA

My Lovely MUA
38.



Hari ini, hari terakhir Briana berada di Jogja. Inginnya dia sedikit berlama-lama namun, besok dia harus segera kembali bekerja. Apalagi, dari awal dia bukan pyur liburan, namun malah menerima job tak terduga dari klien. Memikirkan itu membuat otak Briana sangat pusing. Ditambah lagi di kota ini dia harus bertemu dengan Nevan. Apakah benar yang namanya pepatah, jika dunia itu sempit ? Menghela nafas panjang, Briana segera membereskan barang bawaannya. Satu jam lagi dia harus check out dari hotel, dan langsung berangkar ke airport.


Setelah selesai packing, dia lalu keluar menuju lobby. Sesekali Briana berdecak kesal, karena dia harus membawa dua koper. Diawal rencana dia tak akan terpikirkan akan me-makeup seorang klien. Yang dia bayangkan hanyalah liburan dan liburan. Kenyataan yang tak seindah bayangan Briana.


Beberapa jam kemudian, dia sudah berada di dalam pesawat. Matanya mulai mengedarkan pandangannya keseluruh kursi penumpang untuk mencari-cari tempat duduknya.


Setelah menemukannya, Briana segera duduk di pinggir jendela. Tempat favoritnya. Dia mulai memejamkan mata dan asyik mendengarkan musik. Menyumpal kedua telinganya dengan airpods.


Briana merasa, kursi sebelahnya sudah ditempati seseorang. Ia melirik sedikit dari ekor matanya. Seorang lelaki, berbadan tegap, jangan lupa wajahnya... Ah, jantung Briana kemudian berpacu lebih cepat tatkala sosok lelaki itu malah jelalatan melihat paha mulusnya terpampang nyata. Maklum saja, Briana sengaja memakai celana pendek kain, dengan atasan blazer warna cokelat, dan memakai sepatu sneakers.


“Udah puas matanya jelalatan kayak gitu?!” decak Briana kesal sambil bersedekap.


Lelaki itu hanya tersenyum smirk. Lalu, berbisik di telinga Briana. “Lo percaya nggak, kalo kita berdua itu jodoh?”


Tangan Briana mengepal kencang. Tangannya lalu mendorong cepat wajah lelaki tampan itu segera menjauh dari telinganya. “Gue benci sama, lo!”


Briana memalingkan wajahnya ke arah jendela, matanya sudah memerah. Dadanya terasa sesak, tak bisakah dirinya bernafas lega dari bayang-bayang Nevan sebentar saja.


Nevan melirik ke arah Briana yang seperti tampak sesenggukan menangis. Dirinya kini dilanda rasa bersalah yang menumpuk. Nevan sendiri juga tidak tahu jika tempat duduknya harus bersebelahan dengan Briana.


Nevan bergeming pada posisinya, tanpa menenangkan Briana atau berbuat apapun. Gadis itu pasti akan makin marah atau mengumpati dirinya.


“Pak Nevan, ternyata tempat duduk kita tertukar,” ucap Bara pengacara yang bekerja di firma hukumnya.


Nevan kemudian berdecak kesal. Tak rela jika harus berjauh-jauh dari Briana. Tapi, Briana sendiri sepertinya menginginkan jauh-jauh dari Nevan. Otak Nevan terasa ingin meledak.


“Pak?” Bara memanggil Nevan yang terlihat seperti melamun.


“O-oke, dimana dudukmu?”


Bara menunjuk tempat duduknya di sampingnya pas. Nevan sedikit bernafas lega lantaran dirinya masih bisa mengawasi Briana, dia khawatir Bara akan macam-macam pada gadis itu. Seketika itu, Bara langsung bertukar posisi dengan Nevan. Sesekali Nevan melirik Briana yang masih enggan menoleh ke arahnya.


“Hai, Mbak,” sapa Bara ramah.


Briana hanya tersenyum simpul tanpa peduli. Nevan yang mendengar dan melihat Bara sok ganjen langsung berdehem sedikit keras.


Bara langsung menoleh ke arah Nevan. “Ah, bapak kenal?”


“Dia pacarku,” jawabnya Nevan, dingin.


Bara langsung kicep. Berdiam diri di tempatnya tanpa menoleh ke arah Briana lagi. Padahal dalam hatinya, dia ingin sekali berkenalan dengan Briana si gadis berkacamata yang terlihat seksi dimatanya itu. Namun, tak pernah dia sangka-sangka gadis yang duduk disampingnya ini adalah pacar bosnya.


...----------------...


Briana nampak menyeret dua kopernya itu menuju ke luar bandara. Sebelumnya, dia terlebih dulu turun daripada diikuti terus oleh Nevan.


Setelah sampai di depan bandara, Briana nampak memainkan ponselnya sebentar. Tak lama dia meletakkan ponselnya di telinga.


“Gue baru balik dari Jogja, kenapa?”


“Nongkrong yuk, gue kangen kumpul nih,” sahut Caca di seberang sana.


“Capek gue, kapan-kapan aja lah,” jawab Briana malas, kemudian matanya menangkap sesosok bayangan di sampingnya. Briana lalu menghela nafas panjang.


“Gue tutup, mau balik dulu, Bye!”


Tut! Briana mematikan ponselnya asal. Caca yang gelagapan di seberang sana mengumpati Briana yang benar-benar menyebalkan.


Briana memasukkan benda pipihnya itu ke saku bajunya. Melirik laki-laki itu setajam silet, ”Lo bisa nggak sih nggak ngikutin gue mulu?”


Bara dan ketiga temannya pun saling melempar pandang kearah Briana dan Nevan seperti tengah bertengkar. “Dia, ceweknya pak bos.”


Mata sekretaris pribadi Nevan lalu terbeliak, “Serius kamu ?”


Nevan mendengar keempat karyawannya itu sedang membicarakannya. Tapi, peduli setan Nevan tak mau ambil pusing.


“Lo bisa pulang bareng gue, kalo lo mau.”


“Jelaslah gue nggak mau!”


Nevan meraup wajahnya frustasi. Briana benar-benar membuatnya kesal, entah dengan cara apa lagi Nevan harus mengambil hati gadis itu kembali. Tak lama kemudian, taksi Briana datang.


Briana langsung melengos tanpa peduli adanya Nevan disana. Kekesalannya pada Nevan sudah memuncak, tanpa disadari Briana hanya membawa satu kopernya saja di dalam bagasi mobil.


“Mbak, itu temannya kayak manggil-manggil deh,” ujar supir taksi tersebut melirik dari spion.


Briana tak terpengaruh. “Biarin aja deh, Pak, kita langsung aja jalan.”


Sementara di bandara, Nevan tengah sibuk menghubungi nomor Briana. Namun sialnya, nomornya itu masih di blokir oleh Briana. “Oh, ****!”


Bara dan ketiga rekannya memandang takut bosnya itu yang sedang marah. “Kanya!” panggilnya kepada sekretaris pribadinya itu.


Sang sekretaris pun langsung mendekat ke arahnya. “I-iya, Pak?”


“Udah jam berapa ini, mana mobil jemputan kita?!” jawab Nevan, ketus.


Kanya segera mengeluarkan benda pipih dari tasnya dan menghubungi supir. Nevan nampak sangat marah, terlihat jelas dari mata, dan gelagatnya.


...----------------...


”Makasih, Pak,” ucap Briana yang sudah sampai di depan rumah. Sang supir pun menurunkan satu koper berukuran sedang di depan rumah Briana.


“Eh, loh pak koper saya cuma ini aja?”


Supir taksi itu terlihat bingung dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Brianapun menyadari jika salah satu kopernya tidak ikut pulang bersamanya. Tangannya lalu dengan cepat membuka isi koper itu, isi koper itu hanya berisi oleh-oleh, serta beberapa pakaian saja. Briana kemudian menegang di tempat, matanya memerah menahan tangis.


“Bapak tadi lihat nggak saya bawa koper berapa?” ucap Briana bergetar menahan tangis.


Supir itu menggeleng tak tahu. “Mbaknya cuma ngasih satu koper ini aja lo.”


Sontak Briana lemas, menangis di depan gerbang rumahnya. Betapa tidak, isi koper itu full peralatan tempur makeup-nya. Jika ditaksir, harganya bisa untuk membeli sebuah motor baru.


Aisha yang mendengar, lalu keluar dari kantor. “Hei kenapa ini, ada apa?”


Briana segera memberikan koper itu kepada Aisha. “Koperku ketinggalan di airport, Briana mau balik lagi.”


Cepat-cepat dia menaiki taksi itu, dan langsung pergi meninggalkan Aisha yang tampak kebingungan. “Gimana bisa ketinggalan, trus ini kopernya siapa?”


*


*


*


*


*


*


*


Hayohhh kopernya Briana dimana ya yang satunya ? Yuk jangan lupa tinggalkan komen dan jangan lupa pencet tombol suka ya, dear! ❤