My Lovely MUA

My Lovely MUA
44.



“Gue pikir lo udah mati,” ucap Briana mendengus kesal. Sedetik kemudian, dia menonaktifkan ponselnya dan menyimpan ponsel itu ke atas nakas.


Dilain tempat, Nevan memukul setirnya karena kesal Briana malah mematikan ponselnya. “Gitu aja terus, Bri, gue nggak akan pernah nyerah buat bikin keluarga lo, terutama lo buat bertekuk lutut sama gue.”


...----------------...


“Diantarin pulang sama siapa semalem?” tanya Aisha tiba-tiba muncul dari ruang makan. Disana ada Briana yang duduk dan masih mengunyah sandwich buatan Aisha.


Glek! Selalu, orang-orang ini gemar bertanya tentang suatu hal yang tidak penting, batin Briana. Dia mengelap sudut bibirnya menggunakan tisu, karena belepotan terkena saus sambal. “Teman,” jawabnya singkat.


Aisha mencebik tak percaya. Kemudian, Aisha memilih duduk berhadapan dengan Briana. Supaya dirinya jelas melihat ekspresi kebohongan dari wajah putrinya itu. “Kamu pikir Mamah bodoh apa, itukan Reno.”


Briana memutar bola matanya. “Lah, udah tahu nanya!”


Aisha tertawa. “Syukur deh kamu mulai membuka hati buat yang lain. Jangan mikirin Nevan terus, bosen!”


“Siapa juga yang mikirin Nevan, mamah aja tuh yang pikirannya travelling kemana-mana,” timpal Briana, kesal.


“Lagian ya Na, Nevan itu udah nyakitin hati kamu berkali-kali loh, kamu masih aja maafin. Keluarga kita itu nggak setara sama keluarga Nevan yang udah sultan.”


“Trus keluarganya Kak Reno apa? Bukannya juga sultan?” sahut Briana, ketus. Selama ini, apa yang ada dipikiran Aisha, hanya takut mendapatkan mantu seperti Nevan. Lalu, sekarang Aisha getol menjodohkan Briana dengan Reno. Padahal, Aisha tahu Reno dan Nevan jika dinilai, sama-sama dari golongan rakyat elite.


Aisha terdiam saat disentil Briana. “Ta-tapi kan setidaknya Reno nggak pernah nyakitin kamu,” dalih Aisha.


“Oh, gitu. Kalau tiba-tiba Kak Reno juga sama aja kayak Nevan, gimana?” sindir Briana, lagi.


“Sudah berdebatnya, kalian tahu jam sembilan ini harus ke Bandung,” suara bariton itu mendadak membuyarkan ibu dan anak itu yang saling ngotot melempar pendapat.


Briana menunduk, saat melihat Steven berjalan mendekat kepadanya. Briana masih sedikit takut, akibat kejadian kemarin pagi.


“Kenapa kamu?” tanya Steven, sembari meminum secangkir jahe hangat buatan Aisha.


Briana menggeleng. “Ng-nggak kok, Pah.”


Hening, Aisha melirik kearah Steven dan Briana yang sama-sama sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.


“Pah, Mah, Briana mandi dulu ya buat siap-siap ke Bandungnya, permisi.”


Briana segera melipir pergi, daripada harus berlama-lama melihat Steven terdiam membisu. Steven, mungkin masih marah pada Briana.


...----------------...


“Kayaknya kudu ganti mobil deh ini, soalnya personelnya nambah satu,” sindir Briana, yang terlihat lelah setelah perjalanan hampir 2 jam ke kota Bandung.


Aisha mencebik. “Emang rencananya gitu, ya kan, Pah?”


Steven masih bergeming, dia hanya berdehem membalas perkataan istrinya. Lelaki paruh baya itu mulai membuka bagasi, dan membantu istrinya menurunkan koper-koper berisi alat tempur Briana dan Aisha. Tentunya, dibantu oleh Nabila.


“Aku ke toilet dulu ya, Mah, Pah,” keluh Briana, yang sedari tadi tidak bisa menahannya.


Saat berjalan melewati lobby hotel, dirinya seperti melihat sesosok makhluk yang tidak asing dimatanya. “Perasaan gue aja kali ya,” gumamnya sambil terus berjalan menuju ke toilet.


Setelah selesai menuntaskan hajatnya, Briana keluar dengan sibuk memainkan benda pipihnya tanpa disadari tangannya dicekal dan menariknya sampai mentok ke dinding.


“Awh! Maksud kamu apa?!” mata Briana membelalak tajam saat dirinya mengetahui Nevan sudah berada di depannya. Nevan, sudah tersenyum bak iblis menatap tajam ke arah Briana.


“Nev-Nevan? Gimana kamu bisa?!” pekik Briana tak percaya. Hingga membungkam mulutnya.


Nevan menyugar rambutnya ke belakang, lelaki itu memakai setelan jas yang membungkus tubuh kekarnya. Aroma maskulin sontak menguar dari tubuh lelaki itu. Membuat Briana meneguk salivanya kasar.


“Bisalah, lo pikir bisa lari dari gue?” Nevan mengelus dagu Briana lembut, lalu menarik pinggang ramping Briana mepet ke tubuh Nevan.


“Jahat!” umpat Briana, lalu memalingkan mukanya ke samping.


Untung saja toilet hotel di lantai bawah sepi, jadi Nevan bisa leluasa menjamah hati Briana sepuasnya. “Maksud, lo?” jawab Nevan tak mengerti.


Sebelum mulut Briana terbuka, Nevan dengan cepat menarik tangan Briana. Hingga Briana sedikit terpental menubruk ke tubuh Nevan. Nevan mengajak Briana untuk pergi dari toilet itu. Tanpa babibu, Nevan mengajak Briana naik ke lift.


“Heh, kamu mau bawa aku kemana, habis ini aku mau makeup-in klienku, Van?” Briana mencoba melepas cekalan tangan Nevan, tapi seperti biasa Nevan bahkan tak menggubris Briana sama sekali.


Ting! Lift pun berhenti di lantai 8, Nevan tetap menarik tangan Briana dan membawa Briana masuk ke dalam sebuah kamar hotel.


Setelah sukses membawa gadisnya itu ke dalam, Nevan menyeringai penuh. “Kenapa lo nggak ngangkat telfon gue semalem?”


Briana menggeleng. Tubuh Briana segera dikungkung oleh Nevan di pojok pintu kamar hotel. Hingga Briana sedikit mengaduh saat tubuhnya terbentur pintu.


“Aku benci sama kamu, Van!” jawab Briana dengan nafas terputus-putus. Briana mendorong tubuh kekar Nevan, namun usahanya sia-sia saat Nevan masih menahan kungkungannya. Selalu, Briana tak bisa menolak saat ada Nevan disampingnya.


“Why?” tanya Nevan dengan suara seraknya.


“Ka-kamu sama Isyana aja sana, ja-jangan deketin aku lagi!” ucap Briana ragu-ragu.


Nevan kemudian tertawa, sambil berdecak pinggang, membalik tubuhnya membelakangi Briana sambil menatap langit-langit.


“Kenapa? Emang bener kan kamu bisanya buat aku kecewa terus!” decak Briana, lalu meluruh ke bawah lantai menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Nevan lalu ikut berjongkok dan meraup wajah ayu Briana dengan kedua tangannya. “No, I just i love you, Briana.”


“I will take care of your parents, okay?!” imbuh Nevan, kembali untuk menenangkan hati Briana yang masih sangat panas. Nevan menarik tubuh Briana hingga jatuh kedekapannya. Nevan mencium puncak kepala Briana dengan sayang.


“Kamu bisa janji?” ucap Briana. Entah dapat angin darimana, Briana bisa berbicara seperti itu. Hatinya yang dibakar api cemburu seolah menguap begitu saja.


“Tapi, kemarin Isyana cium-cium kamu,” Briana seraya berdiri dan melipat kedua tangannya di dada.


Nevan tersenyum simpul. “Itu karena dia ngancem mau bunuh diri.”


Briana memutar bola matanya jengah. “Bohong!”


“Kamu mau bukti apalagi, babe?”


Pipi Briana merona, saat Nevan memanggil dirinya seperti dulu. Tenggorokannya seakan tercekat, tak bisa mengeluarkan kata-kata. Briana menggigit bibir dalamnya, karena kepalanya terasa nge-bug.


“Minggir, aku mau balik ke bawah, mereka pasti udah nungguin,” ucap Briana, seraya menarik handle pintu tapi tetap Nevan yang lebih cepat.


“Tunggu dulu, dong!”


Briana memutar bola matanya malas. “Apalagi sih?”


Nevan menarik pinggang Briana, hingga menempel kembali ketubuhnya. Briana makin mendorong Nevan, yang dinilainya makin lama makin agresif. “Ja-jangan kayak gini, Van!”


“Lo nggak nanya gue disini ngapain?”


“Penting banget ya emang, dahlah aku mau turun, tuhkan udah di telfonin. Ntar orang-orang curiga, please, Van!”


Nevan menarik sudut bibirnya sedikit. “Biarin orang tahu, kalo gue beneran mau serius sama lo, Bri.”


Briana menggeleng kuat. Seraya melepas tangan Nevan dari pinggangnya. “Udah ya, serius aku kudu nge-job bareng Mamah.”


Nevan kemudian merogoh benda pipihnya, lalu memperlihatkan sesuatu kepada Briana. Briana menatap layar benda pipih itu dengan mulut menganga. Ia pun menelan ludahnya kasar. Lalu, matanya kembali melirik Nevan yang wajahnya mulai sedikit memerah. Briana menggeleng, tak mungkin Marsha mengunggah hal konyolnya itu di lapak sosial medianya.