
Hari yang ditunggu-tunggu Briana dan Nevan telah tiba. Jet pribadi yang dinaiki oleh mereka sudah tiba di Jakarta pukul 16.00 sore. Nevan sedikit panik saat mendengar kabar dari Andreas jika kondisi kesehatan Mecca sedang tidak baik. Sebelum pulang ke rumahnya, mereka berdua menyempatkan mampir sebentar ke rumah sakit tempat dimana Mecca dirawat.
“Apa nggak terlalu cepat kita kesana sekarang?” tanya Briana ragu-ragu sambil menarik lengan Nevan.
Nevan menggeleng, kemudian mengapit lengannya. “Lebih cepat lebih baik, dari pada mereka berpikiran macam-macam.”
Beberapa jam lalu mereka menurunkan Aisha, Steven dan Sean terlebih dahulu di rumah baru milik Nevan. Disana mereka tak perlu repot-repot untuk menyiapkan segala sesuatunya karena sudah ada beberapa pelayan. Setelah itu, Nevan langsung mengajak Briana untuk ikut bersamanya menemui Mecca di rumah sakit. Namun, nyatanya ada sedikit keraguan di mata Briana, ia khawatir jika papa mertuanya itu akan mengamuk jika melihatnya datang.
Tak berapa lama, mereka sudah tiba di ruangan VVIP lantai lima rumah sakit internasional di kawasan Jakarta. Lagi-lagi langkah Briana terasa berat saat akan masuk ke dalam kamar tersebut. “Aku takut...”
Nevan mencebik. “Ck, nggak usah takut. Ada aku disini, mereka nggak akan berani nyakitin kamu,” katanya sambil mencium kening isterinya.
Perasaan Briana yang awalnya berkecamuk, kini sedikit lega karena dikuatkan oleh suaminya. Setelah menghela napas dalam-dalam, Nevan membuka pintu perlahan-lahan. Disana sudah ada Vivian, Andreas dan juga Xaquil yang membelakangi mereka menghadap ke luar jendela.
“Nevan!” Vivian tak sabar langsung menghampiri adiknya itu lalu memeluk secara bergantian Nevan dan Briana.
“I miss you all,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca. “Loh kemana keponakanku yang lucu?” Vivian membolak-balikkan tubuh Nevan dan Briana seolah-olah Sean sedang di sembunyikan oleh mereka.
Nevan tersenyum datar. “Ini rumah sakit, mana bisa bawa anak bayi.”
Vivian hanya ber-oh ria sambil menarik kedua tangan mereka mendekat ke ranjang Mecca yang masih tertidur pulas. Sedangkan Andreas nampak sedikit kaku saat melihat Briana untuk pertama kalinya sejak adanya skandal itu.
“Hai Kak, hai Ana...” sapa Andreas mendekat ke Nevan dan Briana. Andreas sedikit meragu saat mengulurkan tangannya ingin menyalami mereka. Namun, tak disangka Nevan malah yang pertama kali berantusias menjabat tangan Andreas dan memeluknya hangat.
“Yas, makasih udah menjaga mama selama ini.”
Andreas yang mendengar Nevan melembut langsung memeluk erat tubuh kakaknya. Sementara Xaquil tak bereaksi apa-apa saat Nevan dan Briana sudah berada di dalam kamar inap Mecca. Tangannya sedikit terkepal, lalu matanya tajam menatap kosong kaca jendela.
“Andreas, gimana kabarnya?” tanya Briana lirih.
Andreas tersenyum, lalu melepas pelukan Nevan sejenak menyalami Briana. “Baik, Ana. Kamu sendiri?”
Briana membalas dengan senyuman hangat seperti biasanya. “Baik juga Yas.”
Keempat orang itu saling bertanya kabar dan bercerita tanpa peduli ada Xaquil yang juga ada disana. Vivian lalu yang berinisiatif untuk mendekati Xaquil yang sedari tadi mematung di depan kaca jendela. “Pa, Nevan dan ister—”
“Sampai kapan pun papa nggak akan anggap pernikahan mereka ada,” potongnya cepat sambil berbalik badan berjalan keluar kamar tanpa sedikitpun menoleh kepada Nevan dan juga Briana.
Vivian sebenarnya ingin memaki pria paruh baya itu, tapi dia sadar memaki hanya akan membuat semuanya tambah rumit dan kacau. Beberapa saat kemudian, Vivian mendengar suara Mecca yang seperti sedang memanggil nama Nevan.
“N-Nevan anakku...” ucapnya terbata-bata.
“Iya ma, aku disini,” Nevan mendekat lalu mengusap lengan Mecca lembut. Nevan sangat merasa bersalah saat melihat Mecca lemah seperti ini. Dulu dia sangat dingin, dan tidak pernah mau tahu apapun tentang orang tuanya.
Mecca menangis dalam diam saat melihat Briana ada di samping Nevan. “Briana, maafkan tante,” ujar Mecca seraya berusaha duduk. “Sini, dekat sama mama,” ujarnya spontan.
Mecca meringis kecil. “Selamat atas pernikahan kalian, dan juga kelahiran putera kalian.”
Sebelum Briana sempat mengangguk, Nevan berkata. “Maaf kalau nggak ngabarin mama, ini semua adalah keputusan Nevan sendiri. Dan, papa juga sudah menunjukkan ketidaksetujuan sama pernikahan kita berdua, i don't care too much.”
Andreas dan Vivian manggut-manggut tanda setuju dengan sikap Nevan yang terkesan seenaknya namun demi kebahagiaan saudaranya itu, bukanlah jadi masalah bagi mereka.
“Nevan...” Mecca sedikit mecondongkan badannya, mendekatkan wajah mereka. “Mama juga minta maaf atas semua kesalahan yang dulu pernah dilakukan, maaf membuat kamu menderita selama di luar negeri. Maaf, untuk semuanya...” katanya sembari menangis pilu dihadapan semua yang ada disitu.
Nevan menggeleng lemah. “Nevan nggak pernah dirugikan selama ini, justru Nevanlah yang harusnya minta maaf tumbuh jadi anak brengsekk seperti ini, Ma.”
Tanpa terasa Andreas dan Vivian juga ikut larut dalam suasana haru antara ibu dan anak itu. Mereka berdua kemudian saling memeluk dan saling memaafkan. Katakanlah Nevan brengsekk, dingin, kasar, tapi dibalik semua sikap-sikapnya itu dia menyimpan kesedihan yang amat dalam.
“Gimana kalau Briana foto?” celetuk Briana tiba-tiba untuk mencairkan suasana di dalam kamar.
Andreas tertawa pelan. “Ide bagus, An. Tapi, biar kak Vivian yang mendandani mama dulu, mama lagi nggak on fire soalnya,” canda Andreas sambil tertawa.
Vivian mendengus. “Lo lupa kalau Briana itu MUA terkenal, ngapain juga harus gue?” timpalnya seraya mengapit lengan Briana setelah melepas pelukannya dari Mecca. “Iya kan Briana?” tanya Vivian memastikan.
“Nggak nggak usah, isteri gue capek. Kita juga harus pulang, kasihan Sean nggak bisa lama-lama ditinggal,” sahut Nevan seraya mengecup pipi Briana mesra.
“Kalian tinggal dimana? Terus Sean sama siapa?” tanya Mecca.
Nevan mengernyit saat diberondong pertanyaan dari mamanya. “Rumah yang dulu aku bangun buat Briana, sudah jadi.”
Bibir Vivian membulat. “Wow, terus kapan kita bisa silaturahim ke rumah mewah lo, Dek?”
“Kita juga mau lihat Sean, Kak,” timpal Andreas yang juga tak kalah penasaran.
Nevan dan Briana saling bertukar pandang, wajar saja mereka penasaran dengan Sean cucu laki-laki pertama di keluarga Xaquil. Tapi, bagaimana dengan kakek Sean, apakah dia setuju?
“Mama sembuh dulu, baru lihat Sean, Ok?” jawab Nevan mencoba memberi syarat supaya mereka bertiga tidak menodong Nevan lagi.
Mecca menggeleng sambil menarik lengan kemeja Nevan. “Mama sudah sehat, sekarang juga kita tengok cucu.”
Vivian mengernyit lalu menahan gerakan spontan Mecca yang ingin melepas selang infus di tangannya. “No, jangan gegabah. Turutin aja kata-kata Nevan, apa susahnya sih?”
Mecca menarik napas dalam-dalam. “Besok ya?” rengek wanita paruh baya itu.
Nevan menggeleng. “Kita tunggu keputusan dokter, Ma.”
Setelah melewati perdebatan yang cukup panjang, Nevan akhirnya berpamitan. Karena, sedari tadi Briana tidak tenang meninggalkan Sean di rumah meskipun sudah ada kakek dan neneknya yang menemaninya. Sesaat sebelum keluar dari lobby rumah sakit, Briana ingin ke toilet. Nevan pun setuju lalu meninggalkan Briana dulu untuk menunggu di parkiran mobil.
Saat sudah selesai dari toilet, tangan Briana dicekal kuat oleh sesosok tinggi menjulang. “Kak Reno?”