
Briana membeku mendengar ucapan Nevan, matanya mengerjap perlahan. “That depends on you, Nevan Xaquil,” ucap Briana lalu menghilang dari pandangan Nevan.
...----------------...
Seminggu setelah permohonan Nevan, pagi-pagi Aisha sudah sibuk di dapur. Ya memang biasanya begitukan? “Masak besar buat apa?” celetuk Briana turun dari kamarnya.
Aisha sibuk membuat berbagai macam kue kering, kue basah, semua dibuatnya. “Oh, ini ntar ada tamu kesini.”
Briana mengernyit bingung. “Siapa tamunya?” tanyanya, setengah bingung karena juga baru bangun tidur.
“Ada deh, pokoknya nanti malam kamu dandan tuh yang cantik,” sahut Aisha yang masih sibuk dengan kue-kuenya.
Briana menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu menatap ke arah Steven yang sibuk di teras. Merawat bunga-bunganya. Langkah kaki Briana lalu membawanya kepada sang papa. “Perlu bantuan nggak, Pah?”
Steven menggeleng. Dia masih terdiam sejak kejadian seminggu lalu, Steven mogok bicara dengan Briana. Tangan Briana dengan cepat melingkar di lengan Steven. “Maafin Briana ya, Pah, Briana janji nggak akan ngecewain papah.”
Steven masih membisu, tangan kanannya sibuk menyirami bunga-bunga kesayangannya. Briana tertunduk lesu saat Steven tidak meresponnya sama sekali. “Malam ini jangan ngecewain lagi, bisa?” celetuk Steven tiba-tiba.
Perkataan Steven membuat hati Briana mencelos, sebenarnya ada apa dengan malam ini? Briana lalu melonggarkan tangannya di lengan Steven. “Malam ini, ada apa?” tanya Briana, penasaran.
Steven tak menjawab, dia lebih memilih membersihkan bunga-bunga kesayangannya. Sadar akan dirinya tak digubris oleh Steven, langkah kaki Briana beranjak untuk kembali ke dalam rumah. Aisha tampak bahagia bersenandung di dapur sana.
“Malam ini ada apa, sih?”
Beberapa saat kemudian, Briana teringat akan perkataan Nabilla seminggu lalu saat di Bandung. Bahwa, beberapa hari lagi Aisha akan mengadakan sebuah acara. Namun, Nabilla tak menjelaskan secara rinci acara apa yang akan digelar oleh Aisha. Briana tak mau ambil pusing, dia lalu masuk ke dalam kamar. Mengambil sebuah handuk di gantungan, sebelum mandi, dia mengambil benda pipih yang dia letakkan di nakas. Tiga pesan baru dari Nevan.
My Nevan:
Babe,aku jemput at 09.00 :*
Sudut bibir Briana terangkat sedikit, dengan lincah Briana membalas pesan singkat dari Nevan.
Briana:
Ok, my world :*
Tak ada yang tahu mereka sudah kembali dekat sedekat nadi. Cemburu melihat Isyana dan Nevan berduaan beberapa waktu lalu? Tidak ada, perasaan cemburu itu sudah menguap begitu saja ketika Nevan mengeluarkan jurus rayuan gombalnya kepada Briana. Briana sadar, selama bertahun-tahun ini dia membangun sebuah benteng untuk laki-laki lain, bukan untuk Nevan. Diapun juga menyadari, rasa cintanya masih terlalu besar kepada Nevan. “Aku, masih sangat mencintai kamu, Nevan,” gumam Briana, sendirian sebelum beranjak ke dalam kamar mandi.
...----------------...
“Apa Nevan tidak pulang semalam, Mah?” tanya Xaquil kepada istrinya, Mecca.
Mecca menggeleng, sambil menyesap teh hangatnya di ruang makan. “Anak itu kan sudah punya apartement sendiri.” Mecca mengeluarkan benda pipihnya lalu menghubungi seseorang. “Baik, tante akan kesana sebentar lagi.”
“Mau kemana?”
Mecca tersenyum simpul. “Isyana,”
Xaquil berdecak. “Aku harap rencana pernikahan ini tidak akan gagal lagi,” sambung Xaquil bersungut-sungut. Mecca tersenyum sambil menggenggam tangan suaminya.
*
*
*
“Mau kemana kok dandan cantik?” tanya Aisha yang masih sibuk berjibaku di dapur. Lirikan mata Aisha mampu membuat degup jantung Briana mendadak ingin lepas dari sarangnya.
“Mau pergi, janjian sama temen.”
Aisha lalu mengampiri Briana yang masih membawa mangkuk berisi adonan kue kering untuk disajikan nanti malam. “Jangan lama-lama, bantu-bantu kek apalah malah kabur,” ujar Aisha.
Briana menatap jengah ke arah Aisha. “Mumpung libur, besok udah nge-job lagi, kan?”
Briana seraya meraih tangan Aisha yang menganggur, dan menciumnya. Lalu buru-buru pergi, karena Nevan sudah menunggu dirinya di samping gang. Briana sengaja berjalan agak jauh dari rumah. Briana takut, ketahuan Steven dan Aisha jika masih nekat berhubungan dengan Nevan. Tapi, mau bagaimana lagi Briana nyatanya masih mencintai Nevan. Begitupun sebaliknya Nevan, kebucinannya makin bertambah saat sehari saja tidak bertemu Briana.
“Hai, udah nunggu lama ya?” kepala Briana menyembul dari luar jendela mobil Nevan yang terbuka. Senyum indah yang selalu memabukkan Nevan sedari dulu kini sejenak membiusnya.
Nevan masih termangu melihat Briana tampil menawan pagi ini. Tanpa sadar, Briana sedang memanggilnya. “Van?!”
“Oh, ya my babe, masuk,” katanya canggung. Sudah bertahun-tahun mulut Nevan tak berucap seperti itu. Rasanya lidahnya itu terlalu kaku.
Briana lalu duduk di kursi penumpang, dengan jantung yang berpacu cepat. Dia melirik Nevan yang terlihat sedang menaikkan kaca mobil dan membunyikan mesin mobilnya. Briana nampak meremat kedua tangannya, sejenak hawa dingin menyelimuti mobil Nevan.
“Ac-nya dingin banget ya,” ucap Briana, basa-basi.
Nevan tersenyum simpul. Lalu meraih tangan Briana dan mencium punggung tangannya mesra. “I miss talking to you, Briana.”
Briana menggigit bibir bawahnya, merasakan bulu-bulu halus di dagu Nevan membuatnya geli. “Stop, buruan aku mau diajak kemana?” tanya Briana antusias.
“So, let's go and see!” sahut Nevan, bersemangat.
Pikiran Briana nampak berkecamuk, karena Nevan menyetir sedikit lebih jauh dari rumahnya. Kira-kira apakah penasarannya akan terbayar jika telah sampai ke tempat tujuan?
“Tapi, nanti jangan lama-lama ya, aku harus pulang cepet,” celetuk Briana.
“Ada acara?” sahut Nevan, penasaran.
Briana menghadap ke arah Nevan. “Katanya sih bakal ada tamu malam ini kerumah.”
Nevan melirik Briana dari ekor matanya, gadis itu seperti biasa selalu semangat. Padahal dirinya sudah tak remaja lagi. Tapi, semangat Briana tak pernah padam.
“Siapa?”
Briana menepuk lengan Nevan. “Ya nggak tahulah, kepo banget sih?”
Nevan terkekeh sedikit. Lalu mencium kembali punggung tangan Briana dengan gemas, sesekali dia gigit. “Kok digigit, sih?” protes Briana kemudian melepaskan genggaman tangannya lalu berganti bersedekap di dada.
“Bentar lagi sampai,” ujar Nevan sambil mengedikkan dagunya ke sebuah gerbang yang dijaga ketat oleh penjaga dengan pakaian serba hitam-hitam.
Mata Briana terbeliak saat melihat gerbang mewah bertuliskan Xaquil's Penthouse. “Ngapain kesini?”
Nevan tak menggubris, buru-buru dia menurunkan kaca mobilnya untuk menyapa para penjaga. Mereka nampak membungkuk memberi hormat kepada sang bosnya. Mata Briana tak berhenti membola saat didepannya ada bangunan megah yang belum seratus persen jadi, karena disana banyak para pekerja yang berlalu lalang.
Nevan memarkirkan mobil sportnya itu di sembarang tempat, lalu mengajak Briana untuk turun dari mobilnya. Mata Briana mengerjap-ngerjap, dia pikir bangunan mewah nan megah seperti ini hanya ada di drama-drama korea yang sering dia tonton. Tapi, Briana sekarang sudah membuktikannya, bahwa yang didepannya kini adalah nyata.
“Babe?” suara serak, dan bariton Nevan lalu membuyarkan lamunan Briana dalam sekejap.
“Ya?” Briana langsung menoleh cepat kearah Nevan.
Nevan lalu meraih jari-jari Briana lalu menggenggamnya erat, mengajaknya untuk mendekat ke penthouse tersebut.
“This is all for you,” kata Nevan, mantab.
Mata Briana mengerjap sekali lagi, Nevan memeluk tubuh Briana dari belakang sambil bersembunyi di curuk leher Briana. “Se-semua?” kata Briana tak percaya.
“Um,” jawab Nevan, sambil mengendus leher Briana menghirup aroma tubuh gadisnya itu yang selalu sama seperti dulu.
“Nggak!” kata Briana tiba-tiba lalu melepas pelukan Nevan cepat.
Nevan nampak kebingungan akan perubahan sikap Briana. “Nggak gimana, ini buat kamu, Bri?” ucap Nevan meyakinkan Briana kembali.
Briana menggeleng. Tak seharusnya Nevan bertingkah sejauh ini, dirinya tidak mau menerima apapun. Hubungannya saja tidak jelas, dan satu lagi..
“No, i don't want you to do that for me!” sahut, Briana dengan mata berkaca-kaca.
Nevan mengernyit, lalu mendekat ke arah Briana. Mencoba menyelami pikiran Briana. “Why? I'?m gonna marry, you!” ucap Nevan lagi. Lelaki itu tak pernah bosan mengucapkan kata-kata itu.
Briana sekali lagi menggeleng, dirinya masih tak siap dengan pernikahan. “Aku nggak akan pernah menikah dengan siapapun,” jawab Briana, dengan suara bergetar.