
“I shall take her back,” Andreas seraya pergi meninggalkan Isyana dan Nevan.
Nevan mengernyit, kedua alisnya samar bertaut. Dia langsung menghempaskan Isyana begitu saja. Sampai tubuhnya sedikit terhuyung ke tanah. Nevan, melangkah cepat mengejar Andreas yang nampak ramah menyapa seluruh keluarganya.
“Berhenti, disitu!” geram Nevan lalu membalik tubuh Andreas menghadapnya.
Andreas mengernyit tak mengerti. “Why?”
Mecca, dan seluruh orang yang ada disana juga ikut menegang saat kedua kakak beradik itu berjumpa untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
“Who is her?” tanya Nevan dengan raut wajah menggelap sambil memegang pergelangan tangan Andreas.
Andreas tertawa pelan. Lalu berbisik di telinga Nevan. “Ana, i shall take her back,” ucapnya lirih.
Tangan Nevan mengepal sempurna di bawah sana, namun dia tahan agar tidak sampai khilaf. Karena, semua mata sedang tertuju kepada mereka berdua.
Andreas lalu tertawa kembali. “Becanda, Kak, i want to hug you!” Andreas lalu memeluk tubuh kekar kakaknya itu sambil menepuk-nepuk pundaknya.
Semua orang disana bertepuk tangan, sambil tersenyum lega saat Nevan dan Andreas berpelukan. Mecca lalu menghampiri Nevan dan Andreas. “Mama senang kalian bisa berbaikan seperti ini.”
Nevan hanya tersenyum datar. Dia menatap sekilas wajah Andreas yang ceria, berbeda dengan dirinya yang dingin dan kasar. Vivian tahu, lalu langsung menghambur mengalungkan tangannya di lengan Nevan.
“Are you, Ok?” tanya Vivian.
Nevan menggeleng pelan. “Andreas banyak berubah, ya kan?”
Nevan menghela napas dalam, dia tak peduli entah Andreas berubah jadi batman, atau hantu Nevan tak peduli. Nevan harus berhati-hati saat ini, karena sepertinya Andreas akan mengincar Briana. “He's not scary anymore,” katanya lirih.
...----------------...
Pagi ini, Briana sedang merias seorang selebgram untuk pemotretan sebuah produk. Tapi, kegiatannya sedikit terganggu, saat benda pipihnya bergetar. Namun, Briana hanya melirik, hanya sebuah nomor asing. Tak penting baginya. Tapi, nomor asing itu baru saja mengiriminya sebuah pesan. Briana membacanya, dan matanya langsung membelalak.
“Kak, aku ijin mau telpon sebentar, ya?” ucap Briana seraya tersenyum.
Selebgram itu mengangguk pelan. “Santai aja Kak Briana.”
Briana mengangguk pelan, lalu keluar ke tempat sepi. Secepatnya dia memencet tombol call di aplikasi hijaunya tersebut.
“Andreas?!” pekik Briana seraya menutup mulutnya tak percaya.
Andreas tertawa pelan. “Ana, hai?”
“Kamu pakai nomor Indonesia, itu berarti kamu udah datang? Serius?!” pekik Briana lagi.
“Iya, aku udah datang kemarin. Gimana kabarmu?” tanya Andreas di seberang sana.
“Baik, kapan kita ketemu?” tanya Briana, antusias.
Andreas sejenak berpikir. “Nggak papa, apa kamu nggak takut sama Kak Nevan?” tanyanya, sengaja memancing.
Briana menggeleng kuat. “Ngapain takut, kita nggak ada hubungan apa-apa, sore ini, bisa?”
Andreas tersenyum tipis. “Sure!”
Di seberang sana, Andreas menyugar rambutnya ke belakang. Andreas yang dulu, berbeda dengan Andreas yang sekarang. Apapun yang menyakiti Briana, dia akan maju terlebih dahulu. Nevan? Dia sudah tak takut lagi. Andreas menggeram di atas meja kerjanya, lalu menatap dalam potret Briana bersama dirinya dulu saat duduk di bangku sekolah.
Sore itu, Andreas bersemangat saat Briana mengijinkannya untuk bertemu di sebuah cafe yang dekat dengan tempat kerjanya.
“Ana?” Andreas menepuk pundak Briana, dan Briana menoleh cepat.
Betapa terkejutnya saat Andreas melihat tampilan baru Briana yang memakai kacamata tebal. “Sekarang kamu pake kacamata?” tanya Andreas, seraya menggeser kursi di depan Briana.
Briana mengangguk pelan. “Kenapa, Andreas kamu berubah banget!”
Andreas tersenyum. “Kamu juga,” ucapnya lirih. “Gimana kabarmu?” tanyanya, kembali.
Briana mengulum senyum. “Aku baik, kamu?”
Briana yang ditatap intens, akhirnya menjadi salah tingkah. “Yas, kamu mau minum apa?”
“Terserah, Na. Emm, kamu putus ya sama Kak Nevan?” tanyanya, berpura-pura tak tahu.
“Bukannya kamu tahu? Kenapa mendadak amnesia?” jawab Briana seadanya.
Briana sedang malas membalas tentang apapun menyangkut Nevan. Sore itu, Andreas berhasil mengacaukan mood-nya kembali. Ia menghela napas dalam tak ingin terlihat terganggu.
Andreas mengangguk. “Semalam dia sama tunangannya pas di pesta.”
Alis Briana bertaut. “Tunangan?” tanyanya, tak percaya. “M-maksud kamu Isyana?” sambungnya kembali.
Andreas tersenyum tipis. “Iya betul, namanya Isyana, mereka juga kayak mesra gitu,” ucapnya, berbohong.
Briana menelan ludahnya kasar. Dasar badjingan, lalu dulu itu apa? Berbohong membatalkan pernikahannya? Apa itu hanya akal-akalan Nevan saja. Keparat, tangan Briana mengepal di bawah sana.
“Na?”
Briana menoleh cepat. “Ya?” sejujurnya, Briana sudah tidak mood saat ini. Entahlah, Andreas membuat dirinya jadi berantakan. Harusnya dia senang bertemu kembali dengan sahabat tersayangnya itu. Namun, sepertinya Andreas nampak berbeda. Tapi, Briana juga tak mau ambil pusing.
“Yas, kita pulang yuk, tiba-tiba kepalaku pusing,” ujar Briana seraya memegangi kepalanya yang ingin meledak.
Andreas mendadak panik. “Aku antar ya? Kamu naik apa kesini?”
“Naik mobil, nggak papa aku bisa sendiri kok,” ucapnya seraya berdiri lalu berlari kecil meninggalkan cafe dan Andreas. Briana tak menatap Andreas lagi, sudah cukup baginya dibohongi oleh Nevan seperti ini.
Andreas cukup terpaku melihat kecepatan Briana saat menolaknya. Dia sampai menganga, saat Briana meninggalkanya sendirian di cafe itu. Andreas tahu Briana masih menyimpan luka dan cinta untuk kakaknya itu.
Di sepanjang perjalanan, Briana mengumpati Nevan dengan kata-kata pedas. Tanpa berpikir panjang dia pun segera menancapkan gasnya menuju apartement Nevan. Dia ingin memutuskan untuk tidak berhubungan dengannya lagi. Aneh memang, tapi di hati kecilnya dia ingin bertemu dengan si brengsek itu. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali Briana mendapati Isyana bergelanyut mesra kepada Nevan. Tapi, Nevan tak pernah sekalipun menolaknya.
“Hm, ada tuan puteri ternyata!” decak Nevan sambil melipat kedua tangannya.
Briana mengernyit, pandangan matanya lalu mengedar keseluruh penjuru apartement Nevan.
“Cari siapa? Reno nggak ada disini, kalau lo mau cari tunangan lo, di sebelah!” timpal Nevan, kesal.
“Siapa di sebelah?” tanya Briana, balik.
Nevan tersenyum sinis. “Tunangan lo!”
“Gue mau cari Nevan bukan tunangan gue, ijinin gue masuk!” ucap Briana seraya menunduk menerobos ke dalam apartement Nevan.
Nevan hanya tersenyum miring, lalu menutup pintu apartement-nya. Dia lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan menghampiri Briana yang sudah duduk sofa ruang tamunya.
“Ada apa?” tanya Nevan dengan mengangkat alisnya satu.
“Isyana nggak lagi disini, kan?”
Nevan tertawa sinis. “Ngapain gue bawa jalangg itu kesini, nggak jelas lo!”
Briana tertawa meledek. “Dia bukannya tunangan lo, sebentar lagi kalian akan married. Salah ya memang?”
Tubuh Nevan lalu menegak. “Kata siapa?”
Briana memutar bola matanya. “Adalah, kalau emang begitu, lo nggak usah deket-deket gue lagi. Gue nggak mau berhubungan sama tunangan orang!”
Nevan berdecak, lalu berjalan mendekat. Ia mencodongkan tubuhnya kepada Briana. “Bukannya lo sendiri yang dengan sadar kesini sendirian?”
Jantung Briana berdegup kencang saat kedua netra mereka bertemu. Hembusan nafas Nevan membuat Briana jadi salah tingkah. Ia lalu mendorong tubuh Nevan ke belakang, dan bersiap pergi.
“Mau kemana?” tanya Nevan seraya menarik tangan Briana dan membawa tubuh Briana menempel kepadanya.
“P-pulang!” jawabnya, gugup.
“Malam ini, kita akan buat kedua orang tua kita merestui hubungan kita,” ucap Nevan seraya menggendong tubuh mungil Briana ala bridal style.