My Lovely MUA

My Lovely MUA
79.



Briana otomatis menghentikan langkahnya ke dalam kamarnya, dadanya bergemuruh hebat saat Steven berkata bahwa rumah yang mereka tempati adalah pemberian Nevan. Raut wajah Briana berubah sangat kesal ketika berbalik.


“B-bukannya rumah ini punya teman papah, kenapa jadi Nevan?” tanya Briana, dengan nada datar.


Steven menarik napas dalam. “Semua itu bohong.”


Sekali lagi Briana dada Briana terasa sesak saat mengetahui beberapa fakta mengejutkan selama dia berada di Los Angeles. “Kebohongan apa lagi yang ingin kalian katakan, Briana mau dengar.”


Aisha membeku sambil menimang-nimang Sean yang masih tidur di dekapannya. Matanya saling bertatapan dengan Steven, lelaki itu hanya tertunduk lesu menghadapi puterinya. Kebetulan sekali pintu kamar tamu yang ditempati Nevan terbuka, Nevan menatap ketiga orang keluarga itu dengan tatapan penasaran.


Nevan berdehem. “Aku yang beliin rumah ini buat kamu,” ucapnya sambil melirik Briana. Saat Nevan melihat reaksi Briana yang kesal dengan langkah tertatih-tatih ia rengkuh pinggang mungil Briana. “S-semua ini aku lakukan untuk keluarga kalian...”


Briana menoleh ke samping, seraya menepis rengkuhan Nevan di pinggangnya. “Apa lagi selain itu? Ada yang ingin dikatakan lagi?!” ucap Briana dengan nada bergetar. Entah apa yang dirasakan sekarang ini, sebuah kebahagiaan atau justru kesedihan. Briana tidak ingin mengejanya lebih dalam.


“Sekarang sudah malam, lebih baik kamu tidur. Kalau ada yang ingin dijelaskan, besok saja. Aku capek,” sambung Briana lalu melangkah mundur, seraya menatap Aisha. “Malam ini aku pengen mamah temenin aku tidur di kamar sama Sean,” ucapnya sambil menarik handle pintu kamar lalu masuk begitu saja.


Aisha mengangguk pelan. “Iya,” timpalnya lalu mengayunkan langkah melewati Nevan yang masih berdiri di samping pintu kamar Briana. “Nak Nevan, lebih baik istirahat dulu. Briana sepertinya masih shock, kita lanjut besok saja, ya?” ucapnya sambil mengulas senyum.


Nevan hanya pasrah, apapun keputusan Briana besok dia akan terima. Niatnya menyusul Briana ke Los Angeles adalah mengajaknya pulang kembali ke Indonesia dan segera menikahinya agar tidak ada spekulasi-spekulasi yang berkembang di luaran sana. Jika memang Briana masih marah kepadanya itu adalah hal wajar karena, selama ini Nevan menyembunyikan kebohongan dari Briana.


Keesokan paginya, Nevan sudah siap untuk diinterogasi oleh Briana. Namun, sebelum itu dia mendengar suara tangisan bayi dari luar kamarnya. Sean sedang menangis di dekapan Briana, entah karena apa Nevan juga tidak paham. “Kenapa dia Bri?” tanya Nevan kebingungan keluar dari kamarnya.


“Bukan urusanmu.”


Briana berpaling lalu buru-buru melangkah ingin masuk ke dalam kamarnya lagi. Namun, Nevan dengan cepat menghadang di depan pintu kamarnya. “Dia juga anakku, itu juga urusanku.”


Briana tertawa pelan. “Sejak kapan kamu peduli?” ucap Briana seraya mendorong tubuh Nevan ke samping.


“Aku, punya alasan buat melakukan ini.”


“Aku nggak butuh alasan apapun,” sahut Briana ketus.


“Bri—”


Ucapan Nevan terhenti saat daun pintu yang ditutup dengan keras menyambut wajahnya. Lelaki itu menempelkan telapak tangannya di pintu, dan mendekat seolah Nevan sudah kalah dan tak mau bersikap kurang ajar lagi kepada Briana. “Bri, jangan begini, kita harus bicara.”


Steven datang dan menepuk lengan Nevan pelan. “Biarkan saja dulu, sebenarnya aku juga khawatir hal ini akan berdampak pada psikis Briana. Dia kan sedang menyusui, aku takut mempengaruhi asi-nya.”


Nevan mengangguk pelan. “Aku tahu itu, Om.”


Steven berdehem sambil terkekeh. “Jangan panggil seperti itu, panggil papah aja kayak Briana.”


“Maaf selama ini telah membuat puterimu terluka dan menderita, aku—”


“Lupakan, yang terpenting adalah kamu sudah melakukan tanggung jawabmu. Tapi, ada satu yang kurang,” potong Steven lalu mengajak Nevan duduk di ruang keluarga.


“Briana harus menikah secepatnya dengan mu.”


Tentu saja Nevan mengangguk cepat. Lalu tersenyum puas. “Itu adalah tujuan pertamaku kesini.”


Steven tersenyum lega, dia juga mengamati tingkah laku Nevan yang sepertinya sudah melembut. Sepasang mata yang selalu menatap dingin pada lawan bicaranya kini sudah hilang. Sifat semena-mena kepada orang lain sepertinya juga mungkin hilang. Steven berharap Nevan akan menyayangi Briana dan cucunya dengan tulus. Tapi, yang jadi masalah adalah sekarang Briana yang seolah tidak menerima kedatangan Nevan kembali ke dalam hidupnya.


“Nak Nevan, nanti biar mamah yang bicara sama Briana ya,” sela Aisha yang tiba-tiba datang membawa dua gelas susu hangat untuk Steven dan Nevan. Maklum, cuaca pagi itu sangat dingin. Sebentar lagi mungkin akan turun salju.


“Nanti saja, mah nunggu amarah Briana mereda dulu,” jawab Nevan, tenang.


...----------------...


Sudah dua hari ini, Briana lebih suka mengurung diri di kamar dari pada keluar. Melihat Nevan hanya membuatnya ingin mengumpati lelaki itu, anehnya kedua orang tuanya malah semakin akrab dengan Nevan. Briana juga malas jika harus mengorek informasi dari kedua orang tuanya.


“Apa Sean terbangun lagi?” tanya Aisha sembari membuka pintu kamar Briana. Aisha terjaga karena mendengar tangisan Sean.


Briana benar-benar letih. Seharian Sean rewel, apalagi ini masih tengah malam. Briana awalnya tak membayangkan jika mengurus seorang bayi bisa seletih ini. Dia lalu melirik jam wekernya di atas nakas, sudah pulul satu dini hari.


“Mah, aku mau minum dulu, nitip Sean ya,” ucap Briana sembari bangkit dari ranjangnya.


Aisha mengangguk, kemudian segera mengangkat Sean dari box bayinya lalu menggendongnya. Sebelumnya Sean sempat menangis tapi, setelah di dalam dekapan Aisha Sean telah berhenti menangis. “Mommy mu sedang banyak pikiran, wajar jika hatinya tidak tenang, sayang.”


Briana merasa badannya terasa pegal, matanya sangat berat. Tiba-tiba dia dikagetkan dengan tangan kekar yang melingkar di pinggang Briana. Briana otomatis tersentak saat menoleh, Nevan sudah mengendus leher Briana tanpa permisi.


“Pergi!”


Nevan menggeleng di atas bahu Briana. “I don't want to leave.”


Briana menarik napas dalam-dalam. “Aku mau minum, lepasin.”


“Nggak!”


Briana dengan berat hati harus minum dengan posisi yang tidak mengenakkan. Setelah selesai mengisi botol air minumnya, dia lalu berbalik dan berusaha melepas kedua tangan Nevan dari pinggangnya. Namun, Nevan tidak ingin membiarkan itu semua terjadi. Setelah ada kesempatan, Nevan berhasil mengunci tubuh Briana di meja makan.


“Kamu sudah mirip zombie, apa kamu capek?” tanya Nevan sambil mengusap pipi Briana naik turun.


Briana mengalihkan matanya ke segala arah karena gugup. Gawat jika dia terjebak lagi dalam permainan Nevan. “K-kamu pikir mengurus bayi itu mudah?” timpal Briana sambil mencengkeram botol minumnya sendiri.


Nevan tersenyum miring, sambil menatap lurus dada Briana. Dia terkejut saat ada sesuatu merembes di sana. “Kenapa bisa begini?” Nevan mengedikkan dagu, menunjuk ke arah dada Briana.


Ah.. Briana sangat malu. Saat dia terbangun tengah malam, asinya selalu merembes seperti ini. Wajah Briana mulai memerah saat pandangan Nevan tak terputus dari kedua dadanya.


“Mau aku bantu?” tanya Nevan dengan senyum nakal.