My Lovely MUA

My Lovely MUA
64.



“Andreas kapan kembali?” tanya Aisha kepada Briana.


Briana menjawab sambil melahap sarapannya. “Lusa lalu.”


Aisha mengangguk pelan. “Kalian pesta apa sampai lupa pulang?” tanya Aisha, sambil mendelikkan matanya kepada puterinya tersebut. “Kamu nggak aneh-aneh kan?” cecarnya.


Briana menggigit bibir dalamnya, lalu meringis. “Ya nggaklah, Briana sama teman-teman sekolah juga,” ujarnya. “Ada Caca, Syeila, ada...”


“Nevan?”


Tenggorokannya terasa tercekat. “No, dia nggak satu angkatan sama kita.”


Aisha tersenyum sinis. “Mamah sudah telpon Caca sama Syeila, tapi kalian nggak bersama malam itu,” Aisha mengetuk-ngetuk meja makannya. Sambil berdecak pinggang. “Jujur nggak!” bentak Aisha.


Briana terhentak, lalu menunduk menekuk-nekuk jari-jemarinya dibawah sana. “I-itu beneran kok, Mah.”


Aisha menggeleng tak percaya. “Bohong!”


“Tapi memang benar Andreas itu kembali, dan kita pesta...”


Aisha menggeram. “Jangan sampai kamu mengecewakan Mamah sama Papah!” Aisha berlalu, berjalanmenuju ke lantai dua.


Briana menarik napas dalam lalu bersandar di kursi. Menatap punggung Steven dari jendela dapur, Steven yang selalu setia pada bunga-bunganya. Briana tersenyum sendu.


...----------------...


Satu bulan berlalu, Briana dan Nevan masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Tak jarang mereka menghabiskan waktu bersama selepas pekerjaannya selesai. Seperti sore ini, mereka sudah berjanji untuk makan malam bersama. Tentunya, tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.


“Van, kamu pesan sebanyak ini?” Briana bergidik ngeri saat banyak makanan terpampang nyata di depan matanya.


Tiba-tiba perutnya mendadak mual. “Bikin eneg baunya, aku nggak mau!” ujarnya.


Nevan mengernyit. “Tapi ini biasanya kamu juga suka? Kamu sakit?” tanyanya, panik lalu berdiri memastikan.


Briana memegangi perutnya. “Beberapa hari ini aku kecapekan kayaknya, kalau menjelang malam pasti kayak gini mual, sama lemas gitu,” keluh Briana.


Nevan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Mau ke dokter?”


Briana menggeleng. “Aku mau ke toilet dulu, bentar.”


Nevan menurut, lalu memberi jalan Briana. Terlihat Briana sedikit terhuyung saat berjalan menuju ke toilet, sesampainya di toilet. Perutnya seperti diaduk-aduk, sangat mual. Rasanya ingin muntah, tapi, tidak ada yang keluar. Tubuhnya melemas, tangan Briana meremas perutnya tiap kali rasa mual itu datang menyerangnya.


Nevan terus mengawasi jalan ke arah toilet. Tak menunggu lama, dia berlari kecil menghampiri Briana ke toilet.


“Bri? Gimana udah belum?”


Handle pintu toilet terbuka. Menampilkan wajah Briana yang pucat pasi, lalu segera mendekap Nevan karena terlalu lemas.


“Aku mau pulang, rasanya aku ngantuk banget,” ucapnya, tak ada tenaga.


“Tapi kita belum makan, gimana kalau kamu tambah sakit?” jawab Nevan, lalu meraup wajah Briana yang sudah tidak bertenaga.


“Pengen tidur...”


Tanpa berpikir panjang, Nevan segera membopong tubuh mungil Briana menuju ke parkiran mobilnya. Jika, memulangkan Briana dalam kondisi seperti ini, pasti kedua orang tuanya akan mengamuk. Nevan akhirnya membawa pulang Briana ke apartementnya.


Sesampainya di apartement, Nevan merebahkan tubuh Briana yang melemas di ranjangnya. Nevan melepaskan kacamata Briana, lalu merapikan rambutnya.


“Kamu kenapa?”


Hampir dua jam Briana tertidur, pelan-pelan dia membuka matanya. Melihat Nevan tertidur di sofa sebelah pintu kamarnya. Entah mengapa beberapa bulan ini, melihat Nevan membuat perutnta mual. Itu berlangsung saat menjelang malam. Selebihnya, diatas jam sembilan malam, mual itu hilang bak angin. Selanjutnya, pagi sampai sore, Briana tidak merasakan apapun.


“Van?” panggil Briana.


Tapi, mungkin Nevan sangat lelah jadi tidak mendengar. Briana lalu beringsut menghampiri Nevan, dipandanginya wajah tampan itu lekat-lekat. “Aku mau pulang,” ucapnya di telinga Nevan lirih. Briana tersenyum tipis, lalu mengecup pipi Nevan lembut.


Briana menggeleng. “Bukain pintunya, ntar aku dicariin.”


Nevan mangangguk lalu menekan tombol password di pintu kamarnya. Sebelum Briana keluar, Nevan menyempatkan bertanya kepadanya dulu. “Kamu yakin?”


“Yakin,” angguk Briana, seraya membuka pintu.


Briana keluar dari apartement bersama Nevan, tapi, tiba-tiba mereka dikagetkan oleh seseorang.


“Briana?” panggil suara lelaki itu.


Langsung saja, lelaki itu menarik tangan Briana menjauh dari Nevan.


Nevanpun tak tinggal diam. Dia juga menahan agar Briana tidak ikut bersama lelaki itu. “Lo nggak berhak nyeret-nyeret dia kayak gini, keparat!”


Lelaki itu tersenyum sinis. “Briana sebentar lagi akan jadi istri gue, jadi, biarkan Briana pulang sama gue,” katanya.


“Oke, oke aku bakal pulang sama Kak Reno, tapi, tolong jangan aduin ke mamah sama papah,” ujar Briana, berkaca-kaca.


Reno menghela napas lega. Ia lalu berpamitan kepada Nevan yang wajahnya sudah merah padam. Melihat Reno menarik tangan Briana seperti itu ingin saat itu juga dia memukulnya sekali lagi.


“Aku pulang dulu, kamu percaya sama aku ya?” ucap Briana, parau.


Sesaat kemudian, bayangan Reno dan juga Briana telah menghilang dari pandangan Nevan. Entah mengapa, dirinya malah membatu. Rasanya ada magnet yang menariknya agar tidak berbuat kasar lagi. Nevan lalu meninju udara. Ah, dirinya benar-benar kacau.


Di sepanjang perjalanan, Briana mengunci rapat bibirnya. Tak ada percakapan yang terjadi di antara dirinya dan juga Reno. Reno sesekali melirik Briana dari ekor matanya. Sepertinya, gadis itu sedang dilanda kegundahan. Matanya terus saja menatap ke luar jendela mobil Reno.


“Lehermu bisa sakit jika terus-terusan seperti itu,” ucap Reno mencoba mencairkan suasana. Sekali lagi, Briana tak berkutik.


Reno pun berdehem. “Apa aku punya salah?” sambungnya, lagi.


Briana menggeleng. “Lebih baik Kak Reno bilang ke mamah sama papah, untuk membatalkan pernikahan kita,” ucapnya berterus terang. “Kak Reno lihat sendiri aku masih mencintai Nevan.”


Hati Reno bagaikan tersayat pisau, perih sudah jelas. Bodohnya dia selalu menunggu Briana agar membuka hati untuknya. Tapi, sekarang Briana terang-terangan mengusirnya.


“Tolong kasih aku kesem—”


“Maaf tapi, aku nggak bisa,” potong Briana.


“Tapi, Bri?”


Briana tak menjawab, tidak ingin berdebat atau apapun untuk saat ini. Beberapa saat kemudian, dia sudah tiba di rumahnya. Langsung saja Briana keluar dan masuk ke dalam rumah begitu saja tanpa berpamitan dengan Reno.


Reno berusaha turun dan mengejar, tetapi, sudah kehilangan jejak. Beruntungnya, Reno masih bertemu dengan Aisha yang berdiri di depan pintu rumahnya.


Mata Aisha berbinar saat mengetahui jika Renolah yang mengantar Briana sampai kerumahnya.


“Kamu nggak pengen masuk dulu?”


Reno tersenyum datar. “Lain kali saja Tante, saya buru-buru.”


Aisha menangkap gelagat aneh dari ekspresi Reno yang tidak seperti biasanya. “Apa Briana menyakitimu, Nak Reno?” tanya Aisha sambil mengernyitkan dahinya.


Reno menggeleng, sembari tersenyum tipis. “Ah, tidak kok, Tante. Briana sepertinya lagi kelelahan.”


Aisha mengangguk, lalu menarik tangan Reno agar duduk di sampingnya. “Duduk dulu, Om mau bicara penting sama kamu.”


“Om Steven?” tanya Reno dengan nada kaget.


Steven sudah berdiri di samping pintu rumahnya, wajahnya sedikit tegang. Aisha lalu menyuruh Steven untuk duduk di kursinya. Sedangkan, Aisha berdiri.


“Om mau kalian segera melangsungkan pernikahan secepatnya,”