
Tak ada kata terucap setelah kejadian semalam dan tadi pagi yang membuat Briana mabuk kepayang. Briana duduk di ruang makan apartement Nevan dengan kedua tangannya terpaut di bawah dagu. Matanya menyorot tajam ke arah lelaki yang tengah sibuk mengambil makanan dari tangan kurir di balik pintu.
Briana mendadak mulai khawatir dengan keadaan dirinya di kemudian hari. Sayup-sayup langkah kaki Nevan terdengar mendekat kepadanya.
“Makan dulu, baru boleh pulang,” katanya sambil memberikan sebuah kotak makan kepada Briana.
Briana menghela nafas panjang. “Makasih,” jawab Briana, seadanya. Karena perutnya sudah keroncongan sejak dari tadi, dengan cepat Briana melahap sarapannya itu.
“Udah sampai sejauh mana hubunganmu sama Reno?” tanya Nevan tenang.
Gluk! Hampir saja Briana tersedak sarapannya karena kaget. “Maksudnya?” jawabnya. Ibaratnya kini Briana sedang kepergok selingkuh dengan Reno.
“Jangan pura-pura bego, lo!” geram Nevan dengan tetap masih menatap Briana lekat-lekat.
Briana yang ditatappun menjadi salah tingkah. Lalu berdehem kecil. “Um, itu aku kepaksa karena papah, tapi, serius aku nggak nggak ada perasaan apa-apa sama dia,” ucap Briana, sambil mengunyah sarapan paginya.
Nevan menghembuskan nafasnya dalam-dalam. “Gue nggak nanya lo kepaksa apa nggak! Sejauh mana hubungan kalian?!”
Briana menggeleng. “Aku nggak kayak gitu!” ucapnya, sambil menegakkan duduknya.
“Trus lo kapan nikahnya?” cecar Nevan.
Briana menatap Nevan dengan sendu. “Aku nggak mau nikah sama siapapun!”
Nevan tersenyum sinis. “Lo yakin? Jangan nyari gue kalo lo hamil!”
Briana meringsek berjalan melangkah kedekat Nevan, lalu memegang telapak tangan Nevan. “Kamu kok jadi berubah lagi?” ucap Briana sendu.
Mata Nevan berkilat tajam, sudut bibirnya terangkat sedikit. Dia sedang bersorak gembira karena Briananya yang dulu kini telah kembali. Kembali, memohon kepadanya kembali. “Lo yang bikin gue marah.”
“Tapi, aku nggak akan nikah sama dia...”
Nevan menangkup wajah Briana dengan kedua tangannya, seraya menoleh. “Lo mau married sama siapa kalo gitu, hm?”
Briana diam sejenak. Berpikir keras untuk menjawab pertanyaan simpel Nevan, dia hanya perlu menjawab jika dia ternyata hamil anaknya nanti. “K-kamu.”
Sebelah alis Nevan terangkat. “Lo nggak ikhlas?” Nevan melepas kedua tangannya di wajah Briana. Lalu membuang muka ke samping.
Briana menggeleng cepat. “Ng-nggak kok! Aku ikhlas.”
Nevan tersenyum bejat di sana. Lalu menoleh lagi tepat di wajah Briana. Secepat kilat, Nevan mencium bibir Briana yang masih menganga. “Mulai sekarang, lo nggak boleh ketemu sama Reno, lo bisa?”
Briana mengulum senyum tipis. “Kan aku nggak pernah ketemu sama dia?”
“Bohong!”
“Aku nggak suka sama dia!” tandas Briana.
Nevan berdecih lalu melipat kedua tangannya di dada. “Lo bisa putusin lamaran lo, ya kalau lo punya nyali sih.”
Lagi, Briana dibuat bertekuk lutut oleh Nevan. Sialan! Harusnya semalam dia tidak terbujuk rayuan setan Nevan hingga jadi boomerang kedepannya. Apalagi Nevan semalam dan tadi pagi tidak memakai pengaman. Matilah! Batin, Briana.
“Aku bakal putusin lamaran itu, kalau aku beneran hamil,” kilah Briana, yang tidak menyadari jawabannya itu akan membuat Nevan geram.
Dada Nevan bergemuruh saat mendengar jawaban konyol Briana. Nevan mendadak kesal lalu meninggalkan Briana mematung di meja makan sendirian.
“Van?”
Nevan mendadak tuli, dia masuk ke dalam kamarnya. Beberap saat kemudian, Briana melihat Nevan kembali dan menutup pintu kamarnya dengan kasar. Raut wajahnya sangat kesal setengah mati kepada Briana.
“Van, aku salah ya tadi?” hati Briana mendadak gelisah, dia merasa dejavu. Bisa-bisanya dirinya terjebak hubungan dengan Nevan kembali. Nevan yang sesuka hati membuatnya selalu terintimidasi akibat obsesi besarnya terhadap Briana. He's back!
“M-aafin aku.”
Nevan berhenti melakukan aktivitasnya, tubuhnya menegak memandang Briana yang sudah mulai berkaca-kaca. Nevan tersenyum sinis. “Kenapa minta maaf?”
“Y-ya aku salah ngomong tadi,” jawab Briana.
“Gue bakal maafin lo, kalo lo mutusin pertunangan lo sama si brengsek itu, sanggup nggak lo?”
Briana terhenyak. “Kan aku udah bilang, kalo aku beneran ha—”
“F*ck! Lo nantangin gue?” geram Nevan. “Lo nganggep gue apa, Briana?!” Nevan makin menggeram mendengar alasan Briana yang tak masuk akal itu.
Briana menegang di tempat duduknya, airmatanya meluruh kebawah saat itu juga. Briana sendiri dilema tidak bisa melawan orang tuanya itu, apalagi Steven yang jelas tidak suka dengan Nevan.
“Tapi, aku nggak bisa ngelawan papah, Van, aku...”
Nevan memandang lurus memijat-mijat pelipisnya. “Kita bakal bercinta setiap hari, supaya lo hamil anak gue!” ancam Nevan, sungguh-sungguh.
Briana mendongak mendengar ucapan Nevan yang tidak masuk akal itu. “N-nggak!”
“Jangan egois, atau...”
“Atau apa, mau ngancem lagi?” isak Briana sambil merutuki dirinya sendiri. Setelah mengatakan itu, Briana berdiri lalu berlalu mengambil tas selempangnya yang ia tinggal di meja makan.
“Mau kemana, lo?” tanya Nevan mendelik ke arah Briana yang berjalan menuju pintu apartement Nevan.
Bruana tak menggubris, jari-jarinya menekan tombol password pintu, namun gerakan tangannya terhenti saat Nevan memegang pergelangan tangan Briana.
“Jawab gue!”
Briana mendongak menyesuaikan wajahnya bertatapan dengan Nevan, airmatanya seakan tak pernah berhenti mengalir. “Kamu mau buat aturan untuk hubungan kita lagi?” protes Briana, sambil memukuli dada bidang Nevan.
“Nggak gitu, Briana. Tapi, tolonglah kita kerja sama biar orangtua lo maafin gue lagi?”
What kerjasama katanya, kerjasama yang merugikan pihak Briana. Briana menggigit bibir bawahnya, tak berani menjawab.
Nevan mendesis geram. “Lo beneran nggak mau bareng lagi sama gue, jawab!”
Briana mengerjap, bukan ini maunya. Bukan lagi bersama Nevan, tapi, dia ingin bebas, sebebas merpati tanpa harus mempunyai ikatan apapun dengan lelaki. Briana sudah sangat lelah. “B-bukan gitu.”
Nevan menyugar rambutnya ke belakang, nampak frustasi menghadapi keinginan Briana yang membingungkan. “Mau lo apa sih?”
“Aku pengen sendiri,” jawab Briana, singkat.
Nevan berdecih sinis. “Enteng banget lo ngomong gitu!” Setelah berbicara dengan Briana tanpa menemui titik penyelesaian, Nevan menyuruh Briana pergi daripada Nevan emosi lalu Briana terkena dampaknya.
“Pergi lo, daripada gue makin emosi!” titah Nevan sambil mengedikkan dagunya ke arah luar pintu apartement Nevan.
Briana menggigit bibir bawahnya, sambil berjalan keluar. Setelah keluar, dia berbalik bermaksud untuk menyapa Nevan sebelum dia pergi. Tapi, sialnya Nevan terlalu marah hingga buru-buru menutup pintunya.
Blam! Nevan membanting pintu sekencang-kencangnya tanpa peduli dengan ekspresi Briana. Tak cukup sampai disitu, Briana sedikit mendengar Nevan mengumpat di dalam sana. Briana tersenyum miris, lalu berlalu pergi.
Di dalam apartementnya, Nevan menggapai apa saja yang bisa diraihnya dan melempar apapun untuk meluapkan emosinya yang meluap akibat sikap Briana.
“Sinting! Tolol!” Nevan meninju cermin di kamarnya sampai retak. Hingga buku-buku di tangannya berdarah, merembes ke kemeja putihnya.
“Lo sama aja kayak dulu! Tetep tolol!” umpat Nevan, sambil mendengus marah.