My Lovely MUA

My Lovely MUA
50.



“Please, don't go..”


Nevan memeluk pinggang Briana dari belakang, tangannya terulur mendekap erat. Matanya terpejam merasakan kenyamanan dari Briana. Darah Briana mendadak berdesir, mendapati dirinya dipeluk mesra oleh Nevan.


Nevan membalik tubuh Briana hingga lurus menghadap kepada dirinya. Briana mengerjap-ngerjap, tanpa ada yang menyuruh, tiba-tiba tangannya mengelus rahang Nevan yang sedikit ditumbuhi oleh bulu halus. Tangan Nevan ikut membelai punggung tangan Briana ia kecup lembut dengan mata terpejam. “I miss you,” ucap Nevan, dengan suara parau. Bibir Nevan lalu menciumi pipi halus Briana, ia usap perlahan rahang Briana lalu pindah ke leher Briana.


Briana membeku, ia sedikit kehilangan nafasnya. Dia memejamkan mata dan menelan ludahnya kasar, sebelum akhirnya Briana memaksakan diri untuk mengeluarkan suara sedikit serak. “Apa yang kamu lakuk—”


“Ssst, biarin aku yang memulainya, Bri.”


Bibir Nevan mulai menari-nari di atas bibir Briana, kedua tangannya mengusap punggung Briana lembut. Briana masih terkejut dengan perlakuan Nevan yang membabi buta itu. Matanya terpejam saat bibir Nevan memaksanya masuk kedalam bibirnya, tangan Briana mencengkeram kedua lengan kekar Nevan berusaha berontak tapi Nevan malah mengungkungnya dengan erat.


Kini bibir Nevan mulai berpindah ke leher Briana, hingga Briana mendongak kegelian, bercampur bingung. “Do not do that, Nevan,” ucap Briana, setengah memohon.


Nevan tersenyum miring, melanjutkan aktivitasnya yang sudah dia tahan-tahan beberapa bulan ini kepada Briana. Tangan Nevan yang semula memeluk pinggang Briana, kini merayap menekan gundukan kenyal Briana yang masih tertutup oleh cardigan. “V-van,” Briana meringis saat bukit kembarnya sedikit ditekan oleh Nevan.


“Kenapa? Bukannya dulu kamu sangat menikmatinya, hm?” tanya Nevan menggoda Briana dengan senyuman bejatnya. Tangan Nevan dengan cepat membuka cardigan Briana, ia buang ke sembarang arah. Kini hanya menyisakan tanktop berwarna putih, dan membuat Nevan semakin tak bisa menahan kerinduannya terhadap Briana. “You are always beautiful in my eyes,” suara serak Nevan berhasil membuat bulu kuduk Briana meremang.


Lengan Briana disapu lembut oleh bibir Nevan, hingga naik ke lehernya. Nevan menuntun Briana hingga jatuh di ranjang, hingga menindih Briana yang makin panas dingin karena Nevan.


“Kenapa gugup gitu?” Nevan menyesap leher putih Briana dengan lahap tanpa ampun. Hingga meninggalkan bekas kepemilikan disana. Briana mengigit bibir bawahnya menahan sesuatu yang terpendam di bawah sana selama bertahun-tahun. Konyol memang, tapi Briana berusaha keras untuk melupakan kenangan buruknya itu secepat mungkin.


Tiba-tiba tangan bergerak cepat mengelus milik Briana yang masih terbungkus rapi dengan celana jeansnya. Mata Briana mendelik tajam ketika tangan Nevan mulai menusuknya sedikit dengan miliknya yang sudah on fire.


“Please, don't...” Briana setengah memohon sambil menggelengkan kepalanya kekanan dan kekiri.


Tak tahan lagi, Nevan akhirnya melucuti celana jeans Briana, dan hanya menyisakan ****** ***** Briana saja. “V-van? Jangan,” katanya Briana memohon kembali.


“Telat, aku udah on, sayang...”


Dan terjadilah hal-hal yang diinginkan oleh Nevan, sampai pada akhirnya Nevan mengeluarkan miliknya di dalam milik Briana.


“F*ck, shitt!” Nevan ambruk di samping tubuh Briana. Mengecup kembali kening Briana dengan sayang. “Thanks, I love you so much, sayang.”


Briana tersenyum getir, lalu merentangkan tubuhnya disamping Nevan. Tangan Nevan meraih selimut supaya bisa menutupi tubuh polos mereka berdua.


“Sayang,” panggil Nevan, mesra.


Briana memejamkan matanya, merasakan letih mendera tubuhnya. “Um?” hanya suara itu yang keluar dari tenggorokan Briana. Nevan memeluk pinggang Briana erat, merapatkan tubuhnya. Berharap, setelah ini Nevan tidak akan pernah kehilangan miliknya untuk yang kedua kali.


“Please stay with me,” pinta Nevan, sambil membawa kepala Briana ke dalam dada bidangnya. Nevan mencium puncak kepala Briana bertubi-tubi.


...----------------...


Mata Briana mengerjap-ngerjap saat mendapati, kacamatanya lepas dari pandangannya. Ia meraba-raba seseorang di sampingnya, ya Nevan masih terlelap memeluknya sampai pagi menjelang. Ia berusaha mencari-cari kacamatanya yang kemarin sengaja dilepaskan Nevan, tapi, dirinya tidak tahu dimana Nevan meletakkannya.


“Bangun, mana kacamataku?” Briana menepuk-nepuk pipi Nevan, berharap Nevan akan membuka matanya.


Nevan mengerang, bukannya bangun, tetapi Nevan malah memeluk erat Briana kembali. “Van, mana kacamataku?”


“Um, aku buang,” jawabnya, santai. Tangannya dengan nakal bergerilya membelai lembut pinggang Briana hingga turun ke inti Briana. “Shh, Van!” lenguh, Briana.


“I want to try again,” pinta Nevan, dengan suara serak.


Briana berdecih. “Nggak, aku mau pulang!”


Nevan menggeram gemas. “Bentar aja, sayang.”


Tanpa menunggu persetujuan Briana, Nevan bangkit setengah duduk bertumpu lutut, mengungkung Briana.


Briana meringis kesakitan. “Pelan-pelan kan bisa?!” protes Briana sambil mendelik tajam ke arah Nevan. Tapi, Nevan tetaplah Nevan, dia tak peduli dengan ocehan Briana di bawahnya sana. Semakin dalam semakin membuat Nevan meracau tidak jelas dan memuntahkan lava pijarnya kembali.


Tubuh Nevan sekali lagi ambruk diatas Briana. “Gila! Kalo aku hamil gimana?”


Nevan tersenyum senang, kemudian bangkit mengambil handuk. “Ya baguslah, biar aku bisa cepet-cepet nikahin kamu!” jawab Nevan, enteng seraya berlalu ke kamar mandi. Sebelumnya, Nevan telah memberikan kacamata Briana yang ia letakkan di nakas.


Briana terhenyak menahan sesak di dadanya, harusnya dia bahagia saat Nevan mau bertanggung jawab bersedia menikahinya. Tapi, nyatanya, setelah ini pasti dirinya akan dibantai habis-habisan oleh kedua orangtuanya.


Briana lalu melirik jam di dinding Nevan yang sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi. “Tiga jam lagi kudu nyampe bandara.”


Bunyi suara pintu terbuka, Nevan keluar hanya menggunakan handuk putih melilit bagian bawahnya. Jangan ditanya lagi dengan perutnya, perutnya kotak-kotak hingga membuat Briana memalingkan wajahnya takut khilaf kembali.


“Mau kemana?” tanya Nevan kepada Briana yang berdiri dengan tubuh polosnya memunguti bajunya yang berserakan di bawah lantai.


Briana menengadah. “Pulang!”


Nevan berdecih. “Mandi sana!”


Briana memicingkan matanya, dan melewati Nevan begitu saja. Nevan tersenyum smirk. “Lo nggak akan pernah bisa hilang dari pengawasan gue!” gumam Nevan, sambil tersenyum miring.