
Suatu malam di sebuah kota terpencil, jauh dari hiruk pikuk suara kendaraan dan bising deru mesin mobil. Seorang wanita duduk menopang dagunya. Memandang jauh ke depan dengan tatapan lurus. Di sebelahnya ada seorang lelaki beralas paha ramping wanita tersebut.
“Apa kamu yakin kita aman disini?” tanya wanita itu, gugup. Seraya mengeluss dagu lelaki itu.
Pria itu tersenyum tipis. “Aman, Andreas atau Nevan tidak bisa menemukan kita.”
“Mira ... Apa kamu bisa buatkan aku makanan?” suara serak lelaki itu berhasil membuat dada Mira berdegup kencang.
Mira segera menyambarr bibir tebal lelaki itu sejenak. “Tunggu, disini sayang.”
Mira melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke dapur. Dia melihat beberapa mie instan tersedia di lemari dapur. Tangannya lalu mengambil dua bungkus mie instan itu kemudian dia bersiap memasaknya.
Setelah 15 menit berjibaku di dapur, Mira membawa nampan yang diatasnya berisi dua mangkok mie instan. Saat membuka pintu kamar, betapa terkejutnya dia, Doni sudah tidak ada di tempatnya.
“Sayang... Kamu dimana?”
Namun, tak ada jawaban apapun dari lelaki itu. Langkahnya menuju ke kamar mandi tapi, tetap tak ada. Mira keluar dari kamar, lalu mencari ke ruang tamu tetap tak ada siapapun disana. Pikirannya kemudian tertuju pada sebuah benda di kamar. Mira tergopoh-gopoh membuka seluruh isi lemari. Koper dan semua pakaian Doni tak bersisa. Satu lagi, berkas-berkas, surat penting, uang satu tas penuh hilang dibawa kabur oleh Doni.
Mira memukul dinding lemari itu sedikit kencang. “Badjingan! Dia sengaja kabur supaya lolos dari kedua adik iparnya!” Mira menggigit ujung kukunya merasakan gugup yang menghantam perasaannya.
Mira pun mencoba menghubungi nomor Doni tapi, sayangnya sudah tidak aktif. Gawainya langsung ia buang ke atas ranjang. Merasa frustasi, Mira meratapi nasibnya kini, sudah pasti sebentar lagi Andreas, atau Nevan akan menemukannya.
“Sial! Keparat!” umpatnya lagi, sambil terduduk di tepi ranjang.
Beberapa saat kemudian, Mira mendengar pintu rumah kontrakannya diketuk oleh seseorang. Jantungnya berdegup kencang. Dia memberanikan diri mengintip dari balik jendela kamarnya. Beberapa mobil nampak berhenti di depan rumahnya.
Tak menunggu lama, Mira kabur lewat pintu belakang. Tapi, sepertinya kebaikan tak memihak kepada dirinya sekarang ini. Seorang pria berdiri di balik pintu belakang rumah itu, pria itu menyeringai penuh kengerian.
“Lo mau pergi kemana, bitchh!” tanya pria itu sambil memelintir tangan Mira sedikit.
Mira meringis kesakitan, dia meronta-ronta supaya bisa dilepaskan. Tapi, pelintiran tangannya semakin kencang dan membuat Mira menangis kesakitan. “T-tolong... Ampun, Van!”
Nevan semakin semangat membuat perempuan di depannya itu mengeluh kesakitan. “Mana badjingan tengik itu?!” bentak Nevan, keras. Nevan mulai meninju pintu di samping Mira berdiri dengan kepalan tangannya. “Jawab, sialan!!” amuk Nevan penuh amarah. Tak ada jawaban apapun dari Mira, kedua tangan Nevan mulai mencekikk leher Mira dengan kedua tangannya.
Mata Mira melotot, dia mulai kehabisan nafas. “Ahh-akuh, nggak t-tahuh...”
Sebelum Nevan mulai menekan kedua tangannya di leher jenjang Mira, Andreas datang bersama rombongan polisi. “Kak Nevan, lepasin! Dia bisa mati!” ucap Andreas seraya mendorong tubuh Nevan kebelakang.
“Keparat! Jawab gue sialan!” kata Nevan dengan suara tertahan dari rahangnya yang mengeras.
Mira terbatuk-batuk tanpa menjawab pertanyaan Nevan satu patah kata pun. Beberapa polisi mendekat, lalu memborgol kedua tangan Mira yang masih terbebas. “Saudara kami tahan,” ucap seorang polisi kemudian menarik tubuh Mira berjalan bersama menuju ke luar.
Nevan tak bisa berkata-kata lagi, matanya menatap Mira nyalang seakan dia ingin membunuhhnya. “Bitchh!” umpat Nevan sambil berjalan menghampiri Mira.
Mira menangis tertunduk tak berani menatap mata Nevan yang mengerikan itu. “M-maaf.”
Rombongan polisi mulai memasukkan tubuh Mira dengan paksa ke dalam mobil, sebelum Nevan menyakiti Mira lebih parah. Sementara, kedua tangan Nevan mengepal menatap mobil yang membawa Mira pergi sampai menghilang dari tatapannya. “Cari tahu dimana badjingan keparat itu kabur!” kata Nevan, dingin.
Andreas menarik napas dalam-dalam. “Sudah jelas dia penyebar video itu?”
“Don't talk too much! Cepat cari info, lo bisanya cuma nyusahin aja dari dulu,” ucap Nevan, kesal. Dia kemudian segera masuk ke dalam mobilnya.
...----------------...
Sudah hampir tiga bulan lamanya Briana tinggal di Los Angeles. Selama tinggal disana, Briana tak diperbolehkan menyentuh gawai. Kabar gembiranya, Briana juga diterima di sekolah makeup artist tempat yang selama ini dia impikan. Dua bulan lamanya dia sangat menikmati study-nya di sekolah itu. Perutnya juga sudah mulai membuncit. Setelah kandungannya berusia 7 bulan, Briana juga disarankan untuk mengajukan cuti.
“Aku dengar kau berasal dari Indonesia?” tanya salah seorang teman Briana, namanya adalah Katie.
Briana tersenyum lembut. “Ya benar, aku baru tiga bulan pindah kesini.”
Katie membalas senyuman Briana tak kalah lembut. “Selepas kelas berakhir, maukah kau minum kopi sebentar di kedai depan sekolah kita?” ucap Katie, antusias.
Briana tentu mengangguk dengan cepat. “Tentu!”
Sore hari itu, Briana sudah berada di kedai kopi depan sekolahnya berada. Katie sangat antusias menceritakan kehidupannya di Los Angeles. Impiannya juga sama dengan Briana, menjadi Mua terkenal yang dicintai banyak orang.
“Kau mau mencicipinya, disini terkenal enak,” tanya Katie seraya memberikan minuman cocktails-nya kepada Briana.
Briana menggeleng pelan, sambil tersenyum tipis. “Maaf aku tidak minum alkohol Kat, aku sedang hamil, kau lihat perutku membuncit,” ucap Briana tertawa sambil melirik ke arah perutnya.
Katie menganga. “Aku tidak tahu, karena tubuhmu sangat kecil. Maaf.”
“Kau tinggal bersama suamimu disini?”
Briana menggigit bibir bawahnya. Lalu menggeleng pelan. “Um, aku tinggal bersama kedua orang tuaku.”
Katie mengernyitkan dahinya. “Suamimu pasti bekerja di luar kota Los Angeles?”
Briana tersenyum getir. Suami? Bahkan dirinya hamil tanpa ada suami yang menemaninya. Calon suaminya entah berada dimana. Kedua orang tua Briana pun juga membisu tak mau menjawab apapun soal Nevan. “Itu, dia bekerja di Indonesia.”
“Kau pasti sangat merindukan suamimu disaat hamil seperti ini, Briana?” Katie tersenyum lembut seraya menepuk-nepuk punggung tangan Briana.
Entahlah Briana hanya mengangguk pelan, sambil menyeruput minumannya. Tatapannya kosong. “Aku bahkan lupa rasanya merindu.”
Katie tertawa pelan. “Sebentar lagi kau pasti akan bertemu dengannya.”
Briana tersenyum lemah, sudahlah apa lagi yang bisa ia lakukan di kota ini? Setiap hari Briana selalu berdiri di atas balkon kamarnya. Berharap Nevan tiba-tiba muncul menemuinya. Bodohnya lagi, dia tak bisa menghubungi siapapun di Indonesia. Seolah-olah Aisha dan Steven membatasi ruang gerak Briana.
“Briana?” panggil Katie.
Briana tersentak dalam lamunannya. “Ya?”
Katie tersenyum pelan. “Maukah kau ber-selfie denganku?”
“Dengan senang hati.”
Katie berjalan ke kursi kosong di sebelah Briana, ia mengeluarkan gawainya, lalu mengarahkan wajah cantik Briana dan dirinya ke mode kamera depan Briana tersenyum cerah, walaupun hatinya terasa sakit.
Setelah selesai melakukan berbagai macam gaya, Katie beringsut ke kursinya kembali. Ia menekan aplikasi hijaunya, lalu mengirim beberapa foto yang ia ambil tadi ke nomor seseorang.