
“Lepas?!” mata Briana melotot saat tubuhnya di lempar kasar di ranjang Nevan.
Detik itu juga, Nevan merebahkan dirinya di samping Briana yang masih setengah duduk menyandarkan kepala di kepala ranjang. Nevan menatap langit-langit kamarnya dengan pikiran bercabang. Dia tak mau melakukannya terlebih dahulu, tanpa persetujuan dari Briana. Percuma saja Briana kabur, pintu kamar itu juga di password oleh Nevan.
Briana melirik Nevan, dari ekor matanya. Dia heran, setelah mengatakan keinginannya tadi, mengapa dia malah merebahkan dirinya. Biasanya juga dia sangat agresif. Briana memalingkan wajahnya ke samping, menatap pintu balkon yang belum ditutup. Dia menghela napas dalam-dalam, lalu berjalan meninggalkan ranjang menuju balkon. Dari atas balkon, dia bisa melihat keindahan lampu-lampu di pusat kota, suara klakson mobil berderu, dan juga angin malam yang dingin berhembus, menusuki kulitnya.
Tak terasa ada sentuhan tangan yang menyusup di pinggang ramping Briana, Nevan bersembunyi di ceruk lehernya. Hembusan nafasnya membuat bulu kuduk Briana merinding. Nevan memeluk erat tubuh Briana dari belakang.
“Kamu suka?” tanya Nevan, lembut.
Briana mengernyit. “S-suka apa?” jawabnya, gugup.
Nevan terkekeh. “Pemandangannya,” jawabnya. “Kamu suka nggak?”
Reflek, Briana menganggukkan kepalanya pelan. Nevan mencium gemas leher jenjang Briana. “Jangan ketemu lagi sama Andreas, aku nggak suka!” titahnya, memaksa.
Briana seraya menoleh, lalu melepaskan kedua tangan Nevan yang melingkar di pinggangnya kasar. Ia beringsut ke pojok balkon, berganti posisi.
Nevan mendengus, lalu menatap dalam netra gadis cantik itu. “Jangan, please?!”
“Kok kamu tahu?” tanya, Briana tapi tetap tak mau menatap Nevan. Dia takut terjebak dalam rayuan mautnya.
Nevan tersenyum tipis. “Segalanya tentang kamu aku tahu, jadi, jangan coba-coba berbohong.”
Briana memutar bola matanya. “Itu sudah termasuk tindak pidana, jadi kamu tidak berhak mencampuri urusan pribadiku sembaranga, Tuan Nevan.”
Nevan tertawa pelan. “Tindak pidana? Sejak kapan kamu peduli dengan hal-hal semacam itu,” seraya mendekat merapikan rambut Briana ke belakang telinga, yang tertiup angin malam. “Cantik,” ucap Nevan memuji Briana.
Briana menoleh cepat, pipinya sudah merona. “You lied!” ucapnya, seraya masih membuang mukanya ke samping.
Nevan merengkuh tubuh Briana, lalu mengecup pipi Briana lembut. “Andreas, sudah berani akan merebut milikku, aku tidak mau itu terjadi,” katanya mengalihkan pembicaraan.
“Dia kan cuma sahabatku, kamu nggak berhak marah,” protes Briana.
Nevan menggeleng, sambil meletakkan kepalanya di bahu Briana. “Dia suka sama kamu,” Nevan menghela napas dalam. “Aku nggak mau, cukup Reno saja yang aku pukul, dan Andreas...”
“Jangan lakukan apapun, kasihan dia,” bela, Briana.
Nevan mengangkat kepalanya, tangannya menarik dagu Briana lalu mengelusnya. “Aku nggak mau milikku ini direbut, aku nggak mau!” Nevan seraya memeluk tubuh Briana erat. Tatapannya nanar, membayangkan jika Briana harus pergi lagi darinya.
“Hentikan!” ucapnya, seraya berusaha melepaskan kedua tangan Nevan yang seenaknya memeluknya. “Kamu mau married sama Isyana, kita nggak sepatutnya kayak gini, dan akupun sama bakal married sama Reno!” ucap Briana, lirih sambil kedua tangannya mengepal.
“Bohong!” balas Nevan.
Briana hanya pasrah, tubuhnya itu dipeluk oleh Nevan.
“Aku nggak akan married sama wanita lain selain kamu,” ucap Nevan dengan suara parau.
“Bohong!”
Nevan menggeleng kuat. “Aku nggak pernah bohong! Maka dari itu, aku mau kita...”
“Nggak!” Briana menyentak tubuh Nevan. Lalu berjalan ke dalam kamar kembali.
Dia berusaha membuka handle pintu kamar, namun sayangnya Nevan telah merubah password kamarnya lagi. Briana menendang pintu kamar Nevan kasar.
“Brengsek! Keluarin gue dari sini!” mata Briana berkaca-kaca sambil menahan air matanya keluar.
Nevan lalu memeluk kembali Briana dari belakang. Tak bosan-bosan dia melakukan itu kepadanya. “Jangan pergi,” ucap Nevan, memohon.
Tangan Briana menahan pintu kamar Nevan. Kepalanya menunduk, matanya menatap ke bawah lantai. “Apa aku kurang jahat selama ini? Padahal, aku sudah berusaha menghilangkan perasaan itu, tapi, setiap aku melihat dan dekat-dekat kamu, perasaan itu semakin tumbuh,” ucap Briana, dengan suara bergetar.
“Please, don't cry, selama ini aku salah.”
Briana menatap lekat kepada Nevan, dia berusaha mati-matian menarik perasaannya agar tak terjatuh lagi, tapi, semakin menariknya semakin Briana jatuh ke dalam. Tak bisa, Briana memang tak bisa jauh dari Nevan. Apakah kembali pada Nevan adalah hal yang tepat setelah berkali-kali mereka bersitegang?
“T-tapi, mamah, papah...”
“Sshhht, biarkan kita berjuang dengan cara kita sendiri, Bri,” ucap Nevan tersenyum sendu.
“M-maksudnya?”
Dirasa tak perlu sebuah jawaban, Nevan segera melumatt bibir Briana dengan lembut. Agar, Briana tak cerewet lagi. Mata Briana melotot, kaget, namun dirinya sudah memberi akses agar Nevan lebih leluasa untuk menciumnya. Nevan tersenyum miring, lalu dengan cepat menggendong Briana dan ia rebahkan di ranjang.
“Let's do this right, honey!” ucap Nevan seraya melepass paksa pakaian Briana dari tubuhnya.
Briana, hanya terdiam pasrah saat Nevan mengungkungnya kembali seperti dulu. Mereka melakukannya dengan cinta, tanpa paksaan. Nevan menyukainya dibandingkan terakhir kali ia lakukan dengan Briana beberapa saat lalu.
Sampai menjelang pagi, Nevan tak henti-hentinya menyerang Briana. Hingga Briana memejamkan matanya karena kelelahan. Akhirnya, saat itu tiba, Nevan kembali melepaskan lava pijarnya di dalam sana.
Briana memejamkan matanya, karena tak kuat lagi. “I love you,” Nevan lalu ikut Briana ke alam mimpi.
...----------------...
“Morning kiss,” ucap Nevan sambil mengecup mata Briana.
Briana tersentak, lalu tiba-tiba duduk dan mengecek ponselnya yang tidak bisa dinyalakan. Nevan memang sengaja mematikan ponsel Briana agar Briana hanya berkonsentrasi padanya.
“Pinjam charger,” ucap Briana sambil menyugar rambutnya yang berantakan akibat ulah Nevan.
Nevan tak peduli, dia masih memeluk pinggang Briana dari balik selimutnya. “Nggak, aku nggak mau kamu pulang pagi ini.”
Briana lalu menyusul Nevan, disampingnya. “Aku harus kerja, mamah pasti mar—”
Nevan sekilas menciumm kembali bibir Briana. “Bawel, ponselmu aku sengaja matiin, biar nggak ada yang ganggu kita semalam.”
Briana mendengus. Lalu menyalakan tombol powernya, dan benar puluhan pesan menghujani aplikasi hijaunya. Sedangkan belum saja ia sempat mengecek isi pesan-pesannya, Aisha sudah lebih dulu menelponnya.
Nyonya Calling...
Briana menggigit bibir bawahnya, lalu menoleh kepada Nevan yang masih setia memeluk tubuhnya yang polos. “Van, lihat mamah telpon, aku mesti jawab apa?” ujar Briana, panik.
Nevan mendongak. “Bilang aja ada pesta sama teman-teman kamu, nginep rame-rame di hotel.”
Briana lalu menggigit ujung kukunya, ah benar juga mengapa dia tak kepikiran sejauh itu. Dengan tangan gemetar, Briana menggeser tombol hijau itu ke kanan.
“Iya, Mah?”
Aisha nampak menggeram di seberang sana. “Kamu kemana nggak pulang!”
Briana meringis, lalu menepuk keningnya. “Semalam ada pesta, teman Briana baru pulang dari London.”
Nevan mengernyit, lalu melirik ke arah Briana. Ia berdecak, lalu bangkit dari ranjang dan mengambil handuknya. Ia melangkah ke kamar mandi.
Briana jelas melihat ekspresi Nevan yang marah, karena pasti dia akan membicarakan soal Andreas kepada Aisha.
“Siapa? Sampai nggak dibelain pulang!” sentak Aisha tak tahan lagi.
Briana meremas ujung selimutnya, lalu menarik napas dalam. “A-andreas!”