
Reno sudah sampai duluan di depan toko buku, dia setia menunggu Briana di lobby. Beberapa menit kemudian, senyum cerah dan merekah terbit di sudut bibir Reno. Hingga menampilkan lubang ketampanan di salah satu pipinya.
Briana kemudian tersenyum menyapa Reno. “Hai Kak, udah lama disini?”
Reno tersenyum. “Sepuluh menitan lah, yuk masuk.”
Reno dan Briana kemudian masuk berjalan beriringan. Sampai pada akhirnya, mata Briana tertuju pada sebuah lorong dimana buku-buku novel dijual disana.
“Kamu suka baca novel?” tanya Reno sambil ikut memilih-milih beberapa buku di rak.
Briana mengangguk. “Iya, Kak, aku suka makanya kesini.”
Reno tertawa kecil. “Suka novel romansa, fantasi, atau nonfiksi?”
Briana menoleh ke arah Reno, tampaknya Reno sedikit bisa diajak diskusi soal pernovelan. “Tergantung mood sih, kalau lagi bete, sedih gitu maunya komik, tapi pas moodnya lagi bagus baca novel romansa.”
Reno kembali tertawa. “Kamu kayak adikku aja sukanya baca komik.”
“Um, terus mood kamu sekarang lagi gimana?” tanya Reno, seolah mengerti keadaan Briana sore itu.
Briana yang dari tadi tersenyum, lalu mendadak murung. Briana lalu menunda membeli novel, lalu berpindah ke rak buku berisi komik kesukaannya. Komik yang bisa membuatnya tertawa, melupakan kesedihannya selama ini.
“Oh, jadi mood kamu lagi nggak bagus ya?” tanyanya lagi.
Briana mengangguk. “Um, bisa dibilang begitu.”
Briana lalu dengan cepat memasukkan komik-komik itu ke dalam keranjang belanjanya. “Udah yuk, Kak, aku udah kelar.”
Reno mengangguk, lalu mengekori Briana berjalan ke tempat kasir. Saat tiba giliran Briana, Reno segera mengeluarkan sesuatu dari dompet kulitnya itu. Yah, Black Card milik Tuan Muda Reno Adelio. Reno yang tidak kalah tajir dari Nevan Xaquil.
“Pake ini aja, Bri, mbak pake ini ya bayarnya,” ucapnya, sembari memberikan kartu itu kepada kasir.
Briana melototi Reno yang masih tetap menyengir. “Jangan, Kak, dikiranya aku cewek matre.”
Reno berbisik di telinga Briana. “Kalau ceweknya kamu, aku malah seneng banget!”
Bulu kuduk Briana auto meremang, langsung saja dirinya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tersenyum canggung.
Setelah selesai membayar, Briana dan Reno keluar dari toko buku. Sejenak kemudian, Reno berhenti melangkah. “Briana, kamu udah makan?”
Brianapun juga berhenti. “Eh, belum.”
Reno manggut-manggut. Kemudian, maju mendekat pada Briana. “Ada yang pengen banget kamu makan nggak?”
Briana tertawa. “Makan orang.”
Reno mendadak gemas mendengar jawaban dari Briana. “Aku serius, Bri.”
“Um, pengen nasi goreng, hehe,” jawab Briana, canggung.
“Oh, gampang, ayo buruan ikut aku,” ajak Reno seraya menarik tangan Briana menuju ke mobilnya.
“Eh, loh Kak, aku mau pulang aja kok,” kilah Briana.
Namun, Reno tetap menarik tangan Briana, hingga menyuruh Briana masuk ke dalam mobil. Teramat sangat kebingungan di raut wajah Briana.
“Seat bealt-nya, Bri.”
“Oh, iya, lupa,” jawab Briana, canggung.
Reno tersenyum simpul saat mendengar ucapan Briana yang sedikit gugup, padahal sudah tiga kali ini Briana diantar oleh Reno. Tapi, sore itu entah mengapa Briana sedikit gugup. Mungkin karena pertama kali Reno membelikan sesuatu untuknya? Itu sedikit membuat Briana melupakan kesedihan dan amarahnya akibat Nevan sore tadi.
Perjalanan diisi dengan keheningan, Briana mencoba mengecek benda pipihnya sejenak. Sudah ada puluhan panggilan tak terjawab dari si brengsek Nevan.
“Shitt! Dasar brengsek!” umpatnya lirih, sangat lirih. Untungnya, Reno memutar musik di dalam mobil, ya sedikit membuat umpatan Briana berhasil lolos dari pendengaran Reno.
“Kenapa?” tanya Reno, penasaran.
Briana menggeleng, lalu segera memasukkan benda pipihnya itu ke dalam tas jinjingnya. “Enggak papa kok, Kak.”
Sesampainya di sebuah restoran, yang bisa dibilang mewah, Reno bergegas turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Briana.
Briana benar-benar merasa canggung, baru pertama kali ini dirinya diajak dinner oleh Reno. “Thanks, Kak Reno.”
Reno tersenyum, lalu segera mengajak Briana masuk ke dalam. Di restoran yang terbilang mewah itu, Reno naik ke lantai dua. Dimana, dia memilih untuk duduk di dekat kaca supaya pemandangannya terlihat lebih indah.
“Duduk, Bri.”
Briana lagi-lagi diperlakukan bak ratu oleh Reno, kursinya Reno tarik ke belakang supaya Briana bisa langsung duduk.
“I-iya, makasih, Kak.”
Saat mereka sudah duduk, pelayanpun datang membawa buku menu. “Gimana, disini banyak macam nasi goreng yang pasti bikin kamu ketagihan, deh.”
Briana manggut-manggut, lalu memilih untuk memakan nasi goreng italia. “I want to try this one!”
Reno tersenyum. “As you wish, Briana.”
Briana nampak tertegun, akan sikap baik Reno selama ini. Semoga, saja Reno tak membuatnya kecewa seperti kelakuan dan sikap sahabatnya, Nevan. Karena dulu, Reno dan beberapa sahabatnya yang lain tidak pernah berani melakukan apapun terhadap barang atau kepunyaan milik Nevan. Ya, memang karena Nevan juga tidak akan sudi jika sahabatnya, atau bahkan orang tuanya menyentuh miliknya. Lain lagi ceritanya dengan sekarang.
“Briana, kamu habis nangis?” tanya Reno mencermati wajah sembab Briana. Sebab, dari tadi Reno sudah curiga saat menelfonnya sore tadi.
Briana menggeleng. “Enggak kok kak, capek tadi seharian banyak makeup-in model.”
Reno manggut-manggut. Beberapa saat kemudian, makanan merekapun datang. Briana benar-benar sangat antusias terhadap nasi goreng, salah satu menu yang tak bisa dia lepaskan begitu saja.
Reno tertawa melihat tingkah Briana yang sedikit lucu, entah bagaimana Briana menyembunyikan rasa kesedihannya. Tapi, Briana tak ingin menjadikan Reno sebagai tempat pelariannya saja. Dia sendiri juga tidak mau merusak persahabatan antara Reno dan Nevan.
“Gimana?”
Briana mengangkat dua jempolnya. “Mantab, Kak.”
“Bri, boleh nggak aku nanya sesuatu?” Reno melirik sekilas kearah Briana.
Briana mengangguk sambil mengunyah nasi goreng italianya. “Boleh, soal apa?”
“Soal kamu sama Nevan?”
Briana terbatuk-batuk, sambil memukul dadanya. Segera mungkin Nevan menyodorkan minuman untuk Briana. “Sorry, minum dulu, Bri.”
“Ng-nggak papa, kok. Emang apa yang mau ditanyain soal cowok badjingan itu?” jawab Briana, tenang.
Mata Reno terbeliak. “Hah?!”
Reno tak menduga, dan tak mengira seorang Briana akan mengumpat begitu kejam kepada Nevan.
Briana semangat mengangguk. Sambil tetap makan dan mengunyah, dia tanpa sadar bercerita tentang apa yang dilihatnya sore tadi. “Emang nyatanya gitu, kok. Katanya batal married, tapi tadi dicium cewek diem aja. Dulu juga gitu, sengaja manas-manasin cium-ciumin cewek sampai aku hampir mati gara-gara dia!”
Kening Reno mengernyit tak mengerti. “Siapa dicium siapa?”
“Isssh... Ya Isyana itu cium-cium Nevan!” Briana mencoba tetap waras, dan dengan cepat menghabiskan nasi gorengnya. Dia berniat makan cepat, supaya menahan air matanya tak terjatuh lagi.
Reno mencoba mencerna perkataan Briana, dan dia sangat mengerti sekarang gadis itu masih cemburu. Itulah yang membuat mood Briana berantakan sore ini. “Oh, jadi ini yang buat mood kamu berantakan?”
Briana segera meneguk minumannya hingga tersisa setengah. Rasa cemburu, dan marah, itu membuat perutnya sangat lapar. “Um, nggak juga sih.”
Reno menggeleng-geleng melihat tingkah Briana. “Lupain dia, Briana.”
Briana terbeliak. “Udah, kok.”
Reno mencebik. “Apa buktinya? Orang kamu masih marah-marah lihat Isyana cium Nevan.”
Briana menggeleng. “Eh siapa yang marah, enggak kok. Eh, Kak, kapan-kapan kita clubbing, yuk!”
Reno memijat pelipisnya, semakin tak mengerti menghadapi Briana. “Nggak boleh, kalau kamu lagi sedih, atau marah kamu boleh cerita ke aku. Dan...”
“Dan apa?” tubuh Briana sedikit condong ke arah Reno.
Reno mengerjap, sedikit canggung. “Masih ada aku yang akan nerima semua kekurangan dan ketidaksempurnaan mu, Briana.”
Briana mundur, kemudian sedikit meneguk ludahnya dengan kasar. Tiba-tiba jantungnya sedikit berdebar. Ia tidak ingin terlalu percaya diri. Selama ini, Briana berusaha mencoba tidak termakan oleh rayuan para buaya yang mendekatinya. Sebenarnya, cukup banyak yang mendekat. Namun, dia lebih nyaman menjomlo bertahun-tahun.
“Kenapa? Aku salah ngomong ya?” tanya Reno canggung.
“Nggak sih, cuman emang Kak Reno tahu aku nggak sempurna dari siapa?”
Reno menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Bu-bukannya semua orang punya ketidaksempurnaan, Bri?”
Bukan tanpa alasan Reno berkata demikian, Reno tahu alasan Briana rela menjomlo selama bertahun-tahun dan selalu menolak laki-laki yang datang mendekat kepadanya. Itu karena, Nevan. Nevan yang membuat Briana menutup pintu hati Briana sedemikian rapatnya sampai, Renopun kesulitan mendobraknya. Apa yang mereka 'lakukan' dulu saat berhubungan Reno paham betul. Pastinya, Briana mati-matian menyembunyikan hal itu kepada Reno ataupun keluarga besarnya.
Briana memanggut-manggut. “Iya sih.”
Briana kemudian melirik arlojinya, diapun mulai membau aroma tubuhnya sedikit masam. “Kak, pulang yuk, aku belum mandi. Nggak enak sama Kak Reno, hehe.”
Reno tertawa. “Kamu wangi kok, Briana.”
...----------------...
“Makasih, Van kamu mau nemenin aku seharian ini,” ucap gadis itu, lalu bergelanyut manja di lengan Nevan.
Nevan menarik lengannya dari Isyana. “Lo bisa nggak biasa aja, gue risih!”
Isyana menggeleng. “Nggak bisa! Aku udah tergila-gila sama kamu, aku maunya kita nikah!”
Nevan mengusap wajahnya yang babak belur itu dengan frustasi. “Lo turun sekarang!”
“Nggak mau, aku pengen peluk kamu.”
Nevan berdecih. “Cih, lo turun atau gue yang turunin lo paksa, hah?!”
Isyana menelan ludahnya, sedikit takut. Tapi, sebelum Nevan marah, dia lalu dengan cepat mengecup bibir Nevan dengan rakus. Nevan berjengit kaget, lalu mendorong tubuh Isyana sampai terbentur di pintu mobil.
“Cewek sinting! Keluar dari mobil gue!” sentak Nevan emosi.
Mata Isyana mulai berkaca-kaca, dengan berat hati, gadis itupun turun dari mobil Nevan.
Nevan memukul setir mobil untuk menyalurkan kemarahannya.
“Sialan, mana gue besok ada sidang lagi. Tapi, muka gue ancur kayak begini,” gumam Nevan, sendirian.
Nevanpun segera meninggalkan rumah Isyana dengan cepat. Di tengah jalan, dia lalu teringat akan Briana, dia lalu tersenyum miring. Nevan meminggirkan mobilnya sebentar, lalu meraih benda pipihnya di sakunya.
Tut.. Tut..
Sambungan telfon itu tersambung kepada Briana.
Dilain tempat, Briana baru saja masuk ke dalam kamarnya, baru saja dia meletakkan tas jinjingnya. Benda pipih di dalam tasnya bergetar.
Nevan calling...