My Lovely MUA

My Lovely MUA
53.



Sore hari setelah Briana selesai kelas makeup. Nevan dengan ikhlas menunggunya sampai selesai. Laki-laki itu cukup terkesima dengan kemampuan public speaking Briana. Benar-benar multitalent, batin Nevan.


Briana berlari kecil menghampiri Nevan, dan mengucapkan banyak-banyak terimakasih karena Nevan bersedia menemaninya. Satu lagi, Nevan juga dengan sigap membelikan beberapa potong pakaian untuk mengganti pakaiannya yang kotor terkena kuah mie.


“Terimakasih, Van,” ucapnya, seraya tersenyum hangat.


Nevan sontak berdiri dan memberi kecupan manis di pipi Briana. Semua yang hadir disana tampak berbisik-bisik dan memperhatikan MUA tercintanya dicium oleh laki-laki yang sangat tampan. Briana terperanjat kaget, lalu mundur satu langkah. Nampaknya, Nevan sudah tak marah seperti seminggu yang lalu.


“Apaan sih, malu dilihat or—”


“Briana?!”


Suara bariton memutus pembicaraannya dengan Nevan. Nevan dan Briana sontak menoleh cepat kepada sumber suara.


Dasar keparat!


Nevan tak pernah bisa mengendalikan amarahnya sekarang jika melihat Reno di depan matanya. Tangannya terkepal kuat saat netra keduanya bertemu dengan tatapan tajam bak elang yang siap-siap menerkam musuh didepannya.


“K-kak Reno?” ucap Briana, kaget.


Reno menghampiri Briana, tanpa mempedulikan Nevan, tangannya menggenggam erat jari-jari Briana. “Aku tadi whatsapp kamu tapi, nggak kamu bales?” ucapnya sambil tersenyum menunjukkan lesung pipi yang aduhai.


Briana melirik ke arah Nevan, laki-laki itu menegang menahan letupan emosi yang sudah memuncak di kepalanya. Nevan berjalan mendekat lalu menangkis tangan Reno yang menggenggam Briana.


“Cih, lo nggak usah sok manis, brengsek!” Nevan mendesis tepat di wajah Reno yang masih tenang, setenang air.


Reno hanya tersenyum simpul, kedua tangannya dilipat di depan dada. “Lo yang brengsek! Sering kasar sama Briana, ya nggak sih?” sindir Reno tak mau kalah.


“Briana milik gue, kita berkali-kali nglewatin mal—”


Bhug!


Satu pukulan mendarat mesra di perut Nevan, Briana melotot tajam agar Nevan segera menutup mulutnya. Bisa gila jika Reno tahu!


“Heh, Briana! Biarin dia tahu, gue udah nggak peduli sama si brengsek tengik ini!”


Briana memutar bola matanya jengah. “Kalian kan sahabatan, bisa nggak kalian itu...”


“Nggak bisa!” jawab mereka berdua kompak.


Briana meringis getir diantara dua lelaki ini. Andai mereka tahu, Briana ingin melarikan diri dari negara ini setelahnya.


“Aku mau pulang, kalian lanjut aja,” kata Briana, melepas tangan Nevan darinya.


“No! Kamu pulang sama aku,” balas Nevan setengah memaksa.


Reno berdecih, tak ingin selangkah lebih maju dari Nevan. “Tante Aisha udah nitip pesan kalo gue yang bawa Briana pulang!”


Nevan dan Reno saling menahan amarahnya masing-masing. “Kalian diliatin banyak orang, aku yang malu,” ucap Briana lalu berlalu pergi begitu saja.


Nevan memukul udara, seraya menatap tajam kepada Reno. “Lo bener-bener dah, jangan jadi perusak hubungan orang!” geram Nevan, sampai dahinya berkerut-kerut.


Reno tak ingin ambil pusing. Lalu maju satu langkah ke arah Nevan, yang masih tetap menahan amarahnya. “Rileks, Bro, gue sih udah direstuin sama mamah papahnya Briana, trus lo gimana?” sahut Reno, menyepelekan Nevan.


“Badjingan, lo!” Nevan hampir saja reflek memukul wajah Reno, lalu ditahan oleh Briana.


“Udah!” geram Briana.


Pandangan Briana mengedar ke berbagai sudut tempat di mall, orang-orang saling melempar pandang ke arah mereka bertiga. “Nanti viral, please udah.”


Nevan menghembuskan nafas dalam-dalam, Reno lalu melempar pandangannya ke berbagai arah seolah memberi tahu kepada orang-orang bahwa mereka tidak sedang bertengkar.


Setelah keadaannya mereda, Briana menarik tangan Nevan untuk menjauh dari Reno. “Tunggu sini, aku mau bicara sama Kak Reno.”


Nevan mendengus kesal. “Ck, dia bukan kakak lo!”


“Sabar,” sebelum pergi, Briana berbisik sesuatu ke telinga Nevan. “Nanti aku pulang sama kamu.”


Hati Nevan langsung terbakar api cinta yang membara. Raut wajahnya terlihat bersinar. Kemudian, dia mengedikkan dagunya untuk segera pergi ke arah Reno. Briana mengerlingkan matanya, lalu melangkah pergi.


Mata Briana terbeliak. “Kak, aku kesini cuma mau ngomong kalo aku mau pulang sama Nevan.”


Reno memundurkan tangannya lagi, tersenyum masam. “Bri...”


Briana menggeleng. “Aku, bisa jaga diri baik-baik, maaf Kak, permisi,” Briana tersenyum hangat, kemudian pergi meninggalkan Reno mematung sendiri.


Hati Reno bagai tertusuk belati, dia ditolak mentah-mentah oleh Briana. Satu lagi, dia tidak bisa berbuat apapun untuk meruntuhkan hati Briana. Hati Briana dari dulu sampai sekarang hanya untuk Nevan, Reno hanyalah.. Ah, tangan Reno memukul udara. Memaksa bukanlah hal yang dia suka. Biarlah waktu yang akan menjawab.


...----------------...


“Hari pertama kemarin sukses?” tanya Aisha seraya masih sibuk di dapur.


Briana mengangguk. “Sukses, Mah.”


Aisha berjalan menghampiri Briana di ruang makan, dilihat-lihat putrinya sedang terlihat bahagia. “Kenapa senyum-senyum?” Aisha sedikit melirik benda pipih Briana, namun Briana buru-buru menekan tombol kunci.


Aisha berdehem. “Reno, ya? Nggak usah malu-malu gitu,”


Briana berdesis pelan. “Kepo banget, lagian apa-apa disangkut-pautin sama Kak Reno.”


Aisha tertawa pelan. “Kan sebentar kalian nikah, ya nggak papa dong.”


Briana menghembuskan napas dalam-dalam. “Yakin banget aku nikah sama dia,” jawabnya dingin, seraya bangkit berdiri, sebelum Aisha berbicara pedas tentang rencana pernikahan. Sampai telinganya panas.


“Trus kamu berharap nikah sama siapa?!” sanggah Aisha, lagi. Meneriaki Briana adalah hal yang sangat mustahil untuk didengarkan. Nyatanya gadis itu tak menghiraukan pertanyaan Aisha sedikitpun. Setiap Aisha menyinggung soal pernikahan, Briana lebih baik menghindar daripada menimbulkan sebuah tragedi perang mulut.


Di kamarnya, Briana sedang asyik bercengkrama di telpon dengan Nevan. Nampaknya Briana sedang lupa jika terakhir kali dirinya sangat cemburu pada Nevan.


“Nanti sore habis workshop?”


Nevan berdehem kecil. “Iya, sayang.. Aku mau dinner berdua sama kamu.”


Briana tersentak, kemudian berjalan menuju balkon. “Kita nggak pernah dinner...”


“Iya, nanti malam kita kan dinner,” sahut Nevan di seberang sana.


Tak mungkin Briana menolak, entahlah gadis itu masih sedikit menujukkan kelabilannya.


...----------------...


“Wow view-nya bagus ya disini,” kagum Briana.


Nevan tersenyum kecil. ”Itulah kenapa aku ngajak kesini.”


Briana lalu menoleh cepat kearah Nevan. Matanya lalu tertuju pada daftar menu yang ingin sekali dia cicipi malam itu. “Mau semua, boleh?”


Nevan mengangguk sambil melipat tangannya di dada. “It's all for you, babe!”


Briana berdecak senang. “Aku jadi lupa kalau lagi marah.”


Nevan mengernyit. “Marah?”


Briana mengangguk pelan. “Kamu nggak nanya aku tiba-tiba ngilang pas lagi di mall?”


“Ya, terus?” Nevan beralih mengambil daftar menu sambil mendengar ocehan kekasihnya itu.


“Kamu lagi pelukan mesra sama Isyana,” ujar Briana, sinis.


Nevan tertawa. “it doesn't matter anymore!” sambil ia memanggil pelayan untuk mencatat menu favorit di restoran ini. Nevan ingin dinner romantis dengan Briana malam ini.


Briana nampak cemberut, saat Nevan tak mempedulikannya sama sekali. Setelah pelayan itu pergi, Briana lalu menautkan kedua tangannya ke dagu. “Tell me, what did you do with her?” mata Briana seolah berusaha meminta penjelasan.


“Nggak penting, Bri, oke?” Nevan tak mau banyak berdebat malam ini. Dia pun segera meraih sesuatu dibawah sana, sebuah paper bag berukuran lumayan besar ia letakkan diatas meja.


“They're for you,”