
“Kalau begitu besok pagi kita ke dokter, aku ... Aku mau tahu, sudah berapa usianya,” ucap Nevan, dengan suara lemah. Tangannya ia buat sebagai pengganti bantal. Kepalanya berkedut-kedut, dia sendiri tak menyangka dia akan menjadi seorang ayah. Tapi, kebahagiaan itu belum cukup rasanya jika dirinya dan Briana belum juga menikah.
“Secepatnya aku akan kerumah kamu, Bri,” ucapnya, lagi.
Nevan mengakhiri panggilannya, lagi-lagi pikirannya menerawang. Matanya melihat keatas menatap langit-langit. “Kalau nggak hamil, hampir aja gue pake opsi kedua,” katanya, sambil tersenyum miring.
Keesokan paginya, Briana seperti biasa berangkat menggunakan mobilnya sendiri. Setelah mengalami mual hebat beberapa minggu ini, dirinya memutuskan untuk cuti dan tidak mengambil job untuk sementara waktu. Semua itu juga sudah dibicarakan dengan Aisha, sebagai gantinya, Aisha yang menggantikan job Briana. Toh, skill Briana dan Aisha sama-sama sudah pro.
“Usia kandungannya sudah delapan minggu, Ibu Briana,” ucap dokter tersebut, sambil tersenyum manis.
“Janinnya juga sehat, pada saat trimester awal kebanyakan akan mengalami, mual, pusing, heartburn, selama kehamilan. Anda tidak perlu khawatir ya,” sambungnya, kembali.
Briana mengangguk sambil meremat pinggir ranjang di ruangan dokter. Sedangkan Nevan, gugup sampai-sampai keningnya mengeluarkan keringat dingin. Dokter obygyn tersebut hanya tersenyum melihat kedua pasangan itu. Mungkin, dokter itu menganggap mereka benar-benar sepasang suami-istri, padahal, tidak seperti itu.
Setelah selesai di-usg, Briana dan Nevan duduk di kursi praktek dokter lalu mendengarkan semua penjelasan dokter. Sesekali Briana bertanya, makanan-makanan apa yang boleh dikonsumsi dan tidak. Disana Briana juga diberikan beberapa vitamin, dan obat mual yang aman dikonsumsi oleh ibu hamil.
Beberapa saat kemudian, setelah selesai dari rumah sakit, mereka berdua segera kembali ke kantor Nevan. Sebab, mobil Briana berada disana. Sepanjang perjalanan, Briana fokus dengan benda pipihnya mencari informasi tentang obat dan vitamin yang diberikan oleh dokter tadi.
“Ngapain?” tanya Nevan, penasaran sedari tadi. Mata gadisnya itu tak lepas dari benda pipihnya.
Briana terkekeh. “Lagi nyari manfaatnya, fungsinya juga...”
Nevan berdecih. “Kamu nggak nanya tadi waktu ambil obat disana?”
Briana menggeleng. “Nggak sempat.”
Nevan kemudian melirik lagi. “Udah jangan lihat handphone terus, nanti mual.”
Briana tersenyum hangat, dia bersyukur Nevan akhir-akhir ini sangat lembut padanya. Apakah ini karena kehadiran calon buah hatinya. Tapi, kemudian, dia termenung kembali. “Van, kalau bisa besok kita ngomong ke mamah papah, aku...”
“Pengen cepat menikah sama aku, kan?” Nevan terkekeh gemas memandangi Briana.
Langsung saja pipi Briana merona. Briana yang berpegang teguh pada keputusannya kini, berubah ingin selalu bersama dengan Nevan.
“Katanya dulu nggak mau married, sampai mau jadi perawan tua kayak Syeila?” ledek, Nevan.
Briana kemudian memukul lengan Nevan kencang. “N-nggak gitu, aku nggak kayak gitu!”
Nevan tertawa sambil terus berkonsentrasi menyetir, jadi begini rasanya saat menemani istrimu hamil?
Sesampainya di kantor lawyer milik Nevan, Briana memutuskan untuk tidak mampir. Dia akan pulang, dan segera meminum obat sesampainya dirumah. Tentunya, Nevan khawatir membiarkan Briana menyetir sendirian pada saat hamil. Tapi, Briana tetap teguh pendirian untuk menyetir sendiri.
“Hati-hati, sayang, langsung hubungi aku kalau sudah sampai rumah!” ucapnya pada Briana, khawatir.
Briana mengangguk di dalam kursi kemudinya, tak lupa mendaratkan ciuman mesra di pipi Nevan. “Iya, bawel!”
Nevan menyengir, lalu memberi akses jalan kepada mobil Briana. Jujur saja, perasaan Nevan sangat khawatir. Briana bukan lagi membawa satu nyawa, tapi dua nyawa.
“Nevan!” suara centil itu membuyarkan lamunan Nevan sekejap.
Nevan tersenyum miring, sudah tahu siapa pemilik suara meresahkan itu. Langsung saja Nevan berjalan cepat tanpa mempedulikan sumber suara yang memangillnya tadi.
“Tunggu dong, aku mau ngomong penting sama kamu,” ucapnya merengek sambil bergelanyut manja di lengan Nevan.
Mata Nevan mendelik tajam ke arah Isyana. “Ck, lo bisa nggak sih enyah dari sini?”
Isyana tertunduk. “Aku ... Cuma mau bilang kalau kita batalin aja rencana pernikahan kita,” ucapnya, sambil tertunduk melihat ke bawah lantai.
Nevan tersenyum sinis. “Ya bagus! Gue juga nggak peduli lagi!” ucap Nevan, seraya pergi meninggalkan Isyana yang berdiri mematung di luar kantornya.
“Tapi, syaratnya kita makan malam dulu nanti malam, setelah itu aku mau pergi jauh dari hidup kamu, Van?” ucap Isyana, sambil menggigit bibir bawahnya.
Langkah Nevan terhenti sejenak. “Maksudnya, lo mau ngajak gue dinner gitu?” ucapnya, sambil menoleh kembali. “Gue sibuk nggak ada waktu buat jalangg kayak lo!” sentak Nevan.
Isyana menggeram disana. Lalu, menarik tangan Nevan kasar. “Sekali aja, habis itu aku nggak akan ganggu hubungan kalian lagi, aku janji!” ucapnya sambil memohon dengan mengatupkan kedua tangannya.
Isyana tersenyum lebar, sampai menampakkan deretan gigi putihnya. “Nanti aku kirimi pesan dimana tempatnya, thanks, Nevan,” ucapnya, bahagia.
Nevan mengangguk malas, lalu masuk kembali ke dalam kantornya. Setelah Nevan tak nampak dari pandangan matanya, Isyana tersenyum licik. “Nggak nyangka lo bakal semudah itu percaya sama gue, sayang,” ucapnya, sambil memainkan kedua alisnya dan berlalu pergi.
Sementara di tempat lain, Briana sedang meluruskan otot-ototnya di ranjang. Dia juga sudah mengabari Nevan jika sudah sampai di rumah dengan selamat. Nevan juga sangat posesif, mengingatkan untuk meminum vitamin, dan juga obat mual yang ia dapat dari rumah sakit tadi. Saat hendak memejamkan matanya, tiba-tiba benda pipihnya berdering.
Caca Calling...
Briana menghela napas panjang, pasti Caca akan menghancurkan tidur siangnya yang menjelang sore hari ini. “Apa?" jawab Briana, malas.
“Katanya mau nemenin ke Rumah Kebaya, sama ke hotel sekalian?” ucap Caca, di seberang sana.
Briana mendesah malas. “Lupa, gue baru sampai rumah.”
“Habis ini gue jemput, lo tinggal duduk anteng gue yang nyetir.” ucap Caca, lalu memutus sambungan telponnya sepihak.
“Ca? H-halo, Ca?” panggilnya, seraya melihat ke arah layar benda pipihnya. “Anjir, dimatiin!” umpat Briana, kesal.
Mau tak mau Briana segera menuruti kata-kata Caca, sebelum itu dia harus mengabari Nevan supaya dirinya tidak khawatir. Beruntungnya Nevan tidak marah, dan membuat Briana berdecak bahagia hari ini. Dia hanya berharap, kedua orangtuanya sanggup menerima keadaan dirinya di waktu sekarang ini.
“Lo kenapa senyam-senyum, gitu?” tanya Caca, sambil melirik Briana.
Briana tersipu-sipu, lalu menggeleng. “Nevan beberapa hari ini romantis banget, gue tambah sayang.”
Bibir Caca berkali-kali mencebik, rasanya ingin muntah. “Selesaiin masalah lo dulu sama Kak Reno,” timpal Caca. “Lagian kasihan, udah bonyok sama temennya sendiri, tega bener Kak Nevan.”
Briana langsung terdiam seribu bahasa. Padahal berulang kali dia katakan kepada Reno, untuk tidak berharap lebih kepadanya. Tapi, sepertinya Reno tidak kapok. Malah makin gencar terang-terangan untuk menikahinya di depan Nevan.
Caca dan Briana kini telah tiba di hotel, dimana nantinya hotel itu akan menjadi tempat resepsi pernikahan Caca dan Eric. Selepas dari Rumah Kebaya, Briana tak menunjukkan ekspresi senang atau suka. Wajahnya datar, dia terlalu malas untuk melakukan aktivitas apapun malam itu. Di hotel pun juga sama, dia hanya memandang layar benda pipihnya, berharap Nevan menghubunginya, namun, sampai waktu menunjukkan pukul 19.00, Nevan tak menghubunginya sama sekali. Nevanpun tak mengangkat telponnya.
“An, gimana? Lo dengar kata-kata om gue?” Caca menepuk bahu Briana yang sedari tadi melamun dengan tatapan kosong.
Briana terhenyak. “Ah, gimana-gimana, Ca?"
Caca tersenyum getir. “Lo dari tadi mikirin apa sih? Gue ajak ngobrol sama Om gue nggak nyambung.”
Briana menunduk meremat ujung roknya. Pikirannya sedang kalut malam ini, Nevan tidak biasanya begini.
Lelaki paruh baya itu berdehem. “Nggak papa Ca, teman kamu paling kecapekan. Kalian pasti belum makan kan?” tanya, lelaki itu.
Caca tersenyum lebar. “Ya belum lah, Om. Perut Caca sama Briana keroncongan dari tadi, kita makan yuk, An?” ajak Caca, lalu menarik tangan Briana agar berdiri.
Briana hanya menurut, tapi satu tangannya tak lepas dari layar benda pipihnya.
Sementara itu, Nevan dan Isyana sedang melakukan dinner di sebuah restoran hotel terkenal di pusat kota. “Gimana, Van, enak kan makanannya?”
Nevan hanya mengangguk tanpa bersuara sedikitpun. Sambil terus melahap makanananya, dan segera ingin kabur dari restoran sialan ini, batin Nevan.
Isyana tersenyum miring, melihat Nevan meminum red wine-nya seperti meminum air mineral sekali tenggak langsung tandas. “Kamu mau lagi?” bisik Isyana sedikit sensual sambil mencodongkan tubuhnya ke arah Nevan.
Nevan hanya tersenyum tipis. Lalu, memberikan gelas kosongnya itu kepada Isyana. “Once again,” katanya, dengan suara parau.
Isyana berdecak. Dengan senang hati, dia menuangkan red wine untuk Nevan. Apalagi Nevan sudah mulai mabuk, ah, tak menunggu lama lagi ternyata.
“Bagaimana hubunganmu dengan Briana?”
Nevan menganguk pelan. “Lancar,” jawabnya, asal-asalan.
Isyana tersenyum miring kembali. “Kamu mau meninggalkannya untukku?”
Nevan tersenyum kembali. “Gue mau nikahin Briana, lo? Nggak ada tempat di hati gue,” ucap Nevan, sudah setengah mabuk. “Dia hamil anakku,” ucapnya, sambil tertawa.
“H-hamil?!”