My Lovely MUA

My Lovely MUA
57.



Sore itu, setelah selesai bekerja, dia membelah kemacetan jalanan ibukota. Situasi itu membuat kepalanya kembali terasa pusing. Entahlah akhir-akhir ini pekerjaannya sangat padat. Terkadang, Briana juga sering telat makan, tapi dia cukup bernafas lega saat dirinya tidak hamil. Gejala Pms membuatnya menjadi rakus dalam makan.


Setelah Briana memarkirkan mobilnya di basement, dirinya segera melangkah cepat menuju ke restoran hotel. Briana sedikit membenahi riasannya, lalu berganti pakaian agar lebih fresh. Di restoran, Briana mendapati Nevan yang sudah menunggunya dengan senyuman hangat. Senyuman yang jarang sekali ia dapat sewaktu Nevan sekolah dulu.


“Maaf, tadi jalanan macet,” ucap Briana, seraya duduk.


Nevan menggeleng. “Nggak papa.”


Briana lalu sedikit memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan. Kemudian, meraih air putih yang sudah disediakan di meja tersebut. “Haus banget!” Briana meneguknya dengan rakus.


Nevan terkekeh pelan. “Aku udah pesenin menu buat kita dinner, kamu nggak penasaran soal rahasianya?”


Mata Briana menyipit di balik kacamata tebalnya. “Penasaran, emangnya apa?”


Nevan mengulas senyum di sudut bibirnya, lalu jari-jarinya menggeser sesuatu di ipad-nya. “Kamu pasti suka,” lirik Nevan sambil mengulum senyum.


Briana berusaha mengintip apa yang sedang Nevan cari di layar ipad-nya. Tepat, setelah Briana sedikit mencondongkan tubuhnya ke ipad itu, Nevan mengijinkannya untuk membacanya dengan seksama.


Briana segera membacanya dengan mode serius, sampai dahi-dahinya berkerut-kerut. Ia menghela napas dalam-dalam, lalu memberikannya kembali ipad itu kepada Nevan. Nevan penasaran akan ekspresi Briana yang nampak biasa-biasa saja. Kedua alisnya bertaut samar. “Kamu suka nggak?” tanya Nevan, memastikan kembali.


Briana tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan. “Suka, kok.”


“Aku pikir kamu bakal teriak kegirangan atau apalah, tapi...”


“Kamu tahu nggak biaya hidup disana itu mahal, kamu mau ambil program diploma kan?” cecar Nevan.


Briana mengangguk lagi. “Ya tapi, kamu nggak harus sampai kayak gini kan?” Briana lalu meneguk air putih didepannya, menghilangkan dahaga yang ia alami selama perjalanan ke restoran. “Aku bisa usaha sendiri.”


Nevan berdecih. “Kayak lo bisa aja!” ucapnya, meremehkan.


Briana mengernyitkan dahinya. “Kamu ngremehin aku?” raut wajahnya berubah kecut. “Aku nggak mau ngrepotin siapa-siapa, apalagi kamu.”


“Bri, disana itu biaya hidup mahal. Ya kalau lo keterima seleksi beasiswa, kalau nggak? Biayanya ratusan juta, you know, it's not cheap!”


“I have been saving for five years!” bantah Briana percaya diri di depan Nevan.


Apa yang dikatakan Briana bukanlah omong kosong, usahanya menabung selama lima tahun ini membuahkan hasil. Buah kerja kerasnya sebagai asisten pribadi mamahnya. Briana percaya, tabungannya cukup saat dirinya lulus kuliah nanti. Apalagi akhir-akhir ini jobnya membludak, tarifnya sendiri tak main-main. Dia sendiri berencana akan mendaftar sekitar periode bulan September sampai bulan Februari.


Nevan menghela napas panjang. Gadisnya itu selalu keras kepala seperti dulu. Sebenarnya, Nevan punya relasi di Los Angeles, lewat relasinya itu dia membantu Briana untuk diloloskan pendaftaran beasiswanya. Tapi, sepertinya Briana tidak suka.


“Keras kepala sekali!” sindir Nevan.


“Udah aku bilang kan, aku nggak mau ngrepotin kamu atau siapapun. Aku harap kamu tahu itu, Van.”


Nevan menghela napas dalam-dalam lagi. “Nyesel banget gue,” Nevan memutar bola matanya malas.


Tak mau kalah Briana mencoba membela diri. “Gue kan nggak minta buat lo bantu?” katanya, seraya mengangguk tersenyum setelah seorang pelayan mengantar makanannya.


Nevan benar-benar geram. “Lo selalu pintar mancing amarah gue, Bri.”


“Lo tahu hidup Amerika itu nggak mudah, apalagi lo lama disana. Makanya gue bantuin, ntar lo mau tinggal dimana dan lain-lain,” imbuh Nevan.


Nevan sejenak memejamkan matanya, mengusir kesintingannya yang akan mulai muncul. Dia tak mau membalas kata-kata Briana dulu.


“Ah, gue jadi ingat jaman dulu lo bantuin gue juga kan, dan akhirnya apa? Lo hancurin semuanya,” Briana menggelengkan kepalanya. “Nggak, nggak bisa gue nggak mau kayak dulu.”


Nevan berusaha sabar, berusaha menahan emosinya yang sudah mendidih. Harusnya Briana tahu, Nevan itu sangat pemarah, harusnya Briana sadar Nevan mau membantunya ketika nanti di Amerika. Bukan terimakasih atau kata manis yang ia dengar, malah caci-maki yang keluar dari mulut Briana.


“Jadi lo nuduh gue lagi?” tanyanya, sepelan mungkin.


Briana mengangguk pelan. “Gue nggak mau impian gue hancur untuk yang kedua kalinya.”


Nevan tertawa pelan, dia menyandarkan punggungnya di kursi. “Tahu gitu gue nggak perlu repot-repot ngasih surprise buat lo!” Nevan tersenyum miris.


“Lo harus percaya kalau gue bisa mandiri, oke?” katanya tenang, lalu memulai santapan makanan malamnya tanpa mengajak Nevan.


Nevan menggelengkan kepalanya, menahan napasnya. Gejolak amarahnya perlahan membuncah, mau tak mau dia harus menahannya sampai pulang dari dinner-nya. Wajahnya ia buang ke arah pemandangan indahnya lampu-lampu gemerlap cahaya ibukota di bawah sana.


Sementara Briana dengan segala segala sikap keras kepalanya tidak peduli akan perasaan Nevan yang sakit karenanya. Dia malah asyik menyantap hidangan didepan mejanya. Sambil melahap steak, dia tanpa beban berkata. “Makan dulu, yuk, kamu nggak laper?” ucapnya tanpa dosa.


Nevan mengumpat dalam hatinya. “Gimana?” tanyanya datar, bahkan nyaris tak terdengar di telinga Briana.


Briana lalu mendongak menatap Nevan. “Makan dulu,” ucap Briana, lagi.


“Lo makan semua, gue nggak nafsu.”


Briana mengangguk pelan. “Ah, sebelum gue pergi, gue mau balikin ini,” katanya seraya menenggak minumannya. Lalu, dengan sedikit meringis, Briana melepas cincin berlian yang lusa lalu Nevan hadiahkan untuknya. Cincin yang menyilaukan itu Briana letakkan di depan meja Nevan.


Nevan dengan jelas melihat dari ekor matanya. Sumpah demi apapun, Briana memang sedang ingin mengajaknya berperang.


“Gue balikin,” ucap Briana, dingin.


Nevan mendengus, rahangnya mengeras. Sekuat apapun dia berusaha untuk tenang, akhirnya dia gagal. Ini lebih sulit dari yang ia kira. “Lalu apa maksud kita bercinta kemarin? Lo nggak pernah nganggep gue apa-apa?” geramnya, sambil kedua tangannya mengepal.


Briana tahu Nevan sedang marah, tapi, dia tak akan merubah keputusannya demi apapun. Dia menggeleng cepat. “Anggap aja lo beruntung,” ucapnya, seadanya.


Briana mencoba siap-siap untuk pergi, namun Nevan lebih dulu berdiri untuk menghalanginya. Kini dia berdiri tepat di samping Briana dengan tatapan kosong, saking kecewanya. “Lo gatel sama semua cowok yang deket sama lo, jawab gue?!” sentak Nevan membuat jantung Briana hampir melompat keluar.


Mata Nevan memerah memendam amarah yang memuncak sedari tadi. Gadis ini sangat lihai mempermainkan perasaannya. “Jawab gue tolol!” Nevan emosi sampai menggebrak meja dengan tangan kirinya.


Briana terjingkat dari posisi duduknya, menunduk sambil meremass ujung rok pendeknya. Semua pelayan yang ada disana mulai berbisik, dan melempar pandang terhadap kedua tamunya tersebut.


Nevan lalu menyugar rambutnya sambil menahan napasnya agar tidak kelewat emosi. “Keparat!”


“Ya ini yang ngebuat gue mikir buat lanjut sama lo, lo nggak pernah bisa meredam emosi.”


Nevan berdecih sinis. “Suka-suka lo lah,” Nevan lalu kembali ke tempat duduknya, lalu memasukkan ipadnya ke dalam tas kerjanya. Dia akhirnya berdiri, dan menatap tajam ke arah Briana.


“I love you so much, but you have really disappointed me...”