My Lovely Davina

My Lovely Davina
Chapter 76



"Mas, Davina mau bicara" Ucap Davina pada Zio yang baru menyelesaikan sarapannya. Setelah berfikir cukup lama Davina memutuskan untuk menceritakan perihal perasaannya pada Zio.


"Bicara apa sayang?" Zio terlihat heran karena Davina tampak gugup.


"Mungkin mas akan kecewa setelah mendengarnya, karena itu Davina mau minta maaf sama mas Zio" Ucap Davina yang semakin membuat Zio bingung sekaligus resah.


"Kenapa?" Zio menggenggam tangan istrinya yang kini menunduk.


"Maafin Davina ya mas, tapi Davina terpaksa haru jujur karena rasanya menyiksa banget. Sebenar nya Davina ngerasa nggak nyaman dekat sama mas Zio" Ucap Davina, ia menatap takut pada Zio untuk melihat respon suaminya.


"Maksud kamu?" Zio meraih wajah Davina agar menatap padanya.


"Kak Yara bilang ini efek kehamilan, bukan karena Davina uda nggak cinta sama mas Zio" Ucap Davina cepat agar sang suami tak salah paham.


"Nggak tau kenapa Davina nggak suka dekat-dekat sama mas Zio. Bawaan nya sebel aja kalo ada mas Zio. Jadi boleh nggak untuk sementara kita jangan ketemu dulu?" Ucap Davina. Suaminya terlihat shock, untuk sesaat pria itu hanya diam dan menatap tak percaya pada Davina. Ia terlihat kesulitan haru bagaimana menyikapi keinginan istrinya yang membingungkan.


"Gimana caranya? ya ampun sayang, bisa nggak minta yang lain aja?" Selain karena merasa khawatir, Zio juga tak sanggup harus jauh dari Davina.


"Davina juga nggak mau kayak gini mas, tapi perasaan itu hadir gitu aja. Setiap di dekat mas Zio Davina tu tersiksa" Mata Davina berkaca-kaca membuat Zio mau tak mau mengesampingkan perasaan nya. Untuk saat ini kenyamanan Davina adalah yang utama.


"Iya maaf, jadi mas Zio harus gimana?"


Tanya Zio lemah.


"Mulai sekarang mas Zio jangan nampakin wajah di depan Davina, jangan ajak Davina ngobrol, pokoknya jangan dekat-dekat" Zio menatap sedih pada sang istri, keinginan Davina sangat mengiris hatinya.


"Jadi mas Zio nggak boleh pulang? mas Zio tinggal di apartemen?"


"Jangan, mas tetap harus pulang. Karena Davina nggak bisa tidur kalo nggak ada mas Zio. Jadi mas cuma boleh deketin Davina kalo pas mau tidur aja. Tapi mas tetap nggak boleh ajak Davina ngobrol" ucapan Davina bagaikan angin segar bagi Zio, semua keresahan sirna sudah. Tak apa menahan diri beberapa saat yang penting ia masih bisa tidur bersama Davina.


"Pas tidur masih boleh peluk?" Tanya Zio tersenyum lebar.


"Iya" Ucap Davina singkat.


"Oke sayang" Zio kembali bersemangat.


"Aturannya uda berlaku mulai sekarang" Ucap Davina.


"Jadi nggak ada cium seperti biasanya sebelum mas Zio berangkat?"


"Iya nggak ada, mas Zio buruan berangkat" Ucap Davina ketus.


"Iya-iya, jangan lama-lama kayak gini ya" ucap Zio . Davina mengangguk sambil memalingkan wajahnya.


🍁🍁🍁


Jarum jam sudah menunjuk angka 9 malam, namun Zio belum juga pulang. Davina sudah mencoba menelfon suaminya namun ponsel pria itu tak aktif.


Sudah satu minggu ini ia nyaris tak pernah bicara pada Zio, mereka bertemu hanya saat akan tidur sesuai dengan aturan yang Davina buat satu minggu lalu.


Mata Davina terasa panas, kekhawatirannya membuat dadanya terasa sesak. Davina tak mampu lagi menahan air matanya yang mulai menyeruak.


"Kamu di mana mas?" Davina terisak berbicara pada foto Zio. Ia menatap Zio yang tersenyum bahagia di dalam foto itu, fikiran nya berkecamuk. Bayangan menakutkan tentang kondisi Zio semakin membuat Davina terisak.


Davina tiba-tiba kembali menyesali perasaan nya. Andai ia tak meminta macam-macam pada Zio pasti pria itu akan selalu pulang tepat waktu.


Davina akhirnya memutuskan untuk menelfon Yara dan menanyakan apakah suaminya ada di sana atau tidak, mungkin saja suaminya sedang mampir ke rumah mama Ayumi.


"Nggak ada Vin, mungkin lembur. Ponselnya lupa dicharger kali" Jawab Yara saat Davina bertanya mengenai suaminya. Juga tentang nomor Zio yang tak bisa dihubungi.


"Oh gitu ya, ya udah Davina tunggu aja kalau gitu" Davina berusaha menahan tangisnya agar tak membuat Yara khawatir.


Setelah sambungan telefon nya mati, Davina kembali terisak.


"Mas maafin Davina" Davina berharap tak terjadi sesuatu yang buruk pada Zio, ia berjanji akan berusaha mengabaikan perasaan tidak sukanya pada Zio jika pria itu telah kembali.


Ia tiba-tiba sangat merindukan suaminya, selama seminggu ini Zio sama sekali tak melanggar aturan yang sudah Davina buat. Zio sangat patuh pada apa yang istrinya perintahkan. Hal itu menunjukkan betapa Zio selalu ingin memberikan yang terbaik untuk istrinya.


Karena terlalu lelah menangis, Davina merasa matanya mulai berat. Ia tak bisa menahan kantuk yang menggelayuti dirinya hingga perlahan mata sayu Davina mulai terpejam dan ia mulai jatuh dalam lelap.


Entah berapa lama terlelap, Davina membuka matanya saat merasakan kecupan di wajahnya.


"Mas Zio?" Kantuk seketika hilang saat mendapati Zio tengah tersenyum padanya. Davina melirik jam dinding, waktu menunjukkan hampir jam 11 malam. Artinya ia sudah tertidur hampir 2 jam.


Dari penampilannya seperti nya Zio baru selesai membersihkan dirinya.


"Mas Zio kemana aja" Davina bangkit dan menghambur ke dalam pelukan suaminya, tubuhnya bergetar karena tangisnya yang pecah.


"Mas Zio jahat, dari tadi Davina tungguin nggak pulang-pulang. Nomor mas Zio juga nggak aktif" Zio mengusap punggung Davina yang terus mengomel.


"Maaf, tadi saat di perjalanan pulang rekan bisnis mas Zio meminta datang ke kantornya untuk membahas proyek kerja sama yang sempat mas Zio ajukan. Saat akan mengabari kamu, mas Zio ingat kalo kamu nggak ngebolehin mas Zio ngajak ngomong kamu. Pas mau kirim pesan ponsel mas Zio kehabisan daya. Mas kira nggak bakalan lama, ternyata baru kelar hampir jam 9. Mas kira nggak apa-apa, mas fikir kamu juga pasti senang kalo mas Zio terlambat pulang" Ucap Zio panjang lebar.


"Nggak, Davina nggak suka mas Zio pulang terlambat. Mulai sekarang harus pulang tepat waktu" Ucap Davina manja.


"Tapi percuma mas Zio cepat pulang, ketemu kamu nya juga mesti nunggu mau tidur" Zio merasakan Davina semakin erat memeluknya seolah tak ingin melepaskannya lagi.


"Nggak, mulai sekarang aturannya udah nggak berlaku"


"Beneran sayang?" Zio melepaskan pelukan Davina dan meraih wajah istrinya. Ia ingin memastikan tak salah dengar tentang apa yang Davina ucapkan.


"Iya beneran, mulai sekarang kita kembali ke pengaturan awal" ucap Davina sambil tersipu.


"Mas Zio juga uda boleh ketemu adek bayi?" Tanya Zio bersemangat. Zio bersorak saat Davina menganggukkan kepalanya. Malam ini Zio merasa sangat lega karena ia tak hanya berbuka dari puasa bicaranya namun juga ia bisa kembali berbuka dari puasa hasratnya.


🍁🍁🍁