My Lovely Davina

My Lovely Davina
Chapter 31



Zio tak ingin percaya pada apa yang ia lihat, ia berulang kali membaca obrolan Davina dan Lea namun tetap saja semua nyata dan tak ada kekeliruan menafsirkan dari nya.


Zio menatap pada Davina, obrolan nya beberapa hari ini saat membahas seputar pria yang Davina sukai kembali memenuhi otaknya, belum lagi sikap Davina beberapa hari ini kini Zio menyadari bahwa semua memang mengarah padanya. Pantas saja Zio tak menemukan setitik pun kemarahan di mata Davina saat ia dengan lancang mencium bibir gadis itu.


"Kenapa Davina" Lirih Zio miris.


Hati kecilnya merasa sangat bahagia karena cintanya berbalas. Namun pria itu dilanda kebimbangan, ia merasa risau. Semua akan semakin sulit bagi Zio. Ia tak tau harus bersikap bagaimana setelah ini.


"Kenapa semua jadi seperti ini? maaf aku mengacaukan semuanya" Keluh Zio pada foto Sandi dan Danisya.


Zio meletakkan ponsel Davina dan segera meninggalkan kamar gadis itu. Hatinya benar-benar kacau dengan permasalahan yang sedang ia hadapi.


"Kenapa harus om Davina, ada banyak sekali pria yang jauh lebih baik dari om Zio di dunia ini" Meski Zio tak yakin bisa merelakan Davina bersama pria lain, namun mengetahui Davina memiliki rasa yang sama dengan nya juga sama sekali tak terbayangkan oleh pria itu sebelumnya.


Sepanjang malam Zio tak bisa tidur, ia terus berfikir langkah apa yang harus ia tempuh untuk masalah ini. Haruskah ia pura-pura tidak tahu dan melupakan bahwa ia pernah membaca obrolan antara Davina dan Lea?


🍁🍁🍁


"Davina, om ingin membuat sebuah pengakuan" ucap Zio pada Davina. Pria itu melihat kerutan di kening Davina yang menandakan bahwa gadis cantik itu merasa heran akan keseriusan wajahnya.


"Pengakuan apa?" tanya Davina setelah menunggu namun Zio masih enggan melanjutkan ucapannya.


Mereka sedang berada di sebuah kawasan wisata. Karena weekend Zio mengajak Davina jalan-jalan. Pria itu memutuskan untuk meluruskan semua permasalahan nya dengan Davina. Ia merasa mendiamkan dan berpura-pura tidak tau bukan lah keputusan yang bijak.


"Semalam, karena penasaran akan sosok pria yang kamu sukai akhirnya om Zio membuka ponsel kamu. Om takut terjadi apa-apa jika om tak segera mencari tau siapa pria itu" Zio menghembuskan nafasnya dengan berat. Ia menatap pada Davina yang membelalakkan mata dengan wajahnya yang memerah.


"O-om buka ponsel Davina?" Tanya gadis itu terbata. Zio menganggukkan kepalanya.


"Maaf nggak seharusnya om Zio melanggar privasi kamu. Tapi om terpaksa demi kebaikan kamu" Ucap pria itu lagi, kali ini ia memalingkan wajahnya dari Davina.


"Hasilnya?" Tanya Davina pasrah, mungkin ini memang sudah saat nya Zio mengetahui kebenarannya.


"Benarkah bahwa pria itu om Zio?" Dengan berat hati akhirnya Zio menanyakan kebenaran yang sudah mendekati pasti tersebut.


"I-iya" Jawab Davina, ia tak berani menatap pada Zio, Ia merasa malu namun juga penasaran akan respon pria itu terhadap perasaan nya.


"Kenapa sayang? kenapa harus om Zio?" Davina terkejut dengan pertanyaan pria itu, ia menatap kecewa pada Zio yang juga sedang menatap ke arahnya.


"Apa kita bisa menentukan pada siapa akan jatuh cinta om? kalau ditanya kenapa harus om Zio Davina juga nggak tau" Hati Zio terasa sakit melihat kilatan luka di mata Davina. Ia tau pertanyaan yang dia lontarkan sudah menyakiti hati gadis itu.


"Kenapa? kita nggak ada ikatan darah kan om? kenapa nggak mungkin?"


"Kamu terlalu berharga untuk pria sepeti om Zio Davina. Kamu nggak seharusnya mencintai om. Ada banyak sekali pria lain yang jauh lebih baik, lebih mapan, lebih tampan dan lebih segala-gala nya Davina" Zio menatap dalam pada Davina yang semakin terlihat kecewa.


"Davina cintanya sama om Zio, bukan pria-pria yang seperti om sebutkan itu. Tapi om Zio nggak usah khawatir. Davina nggak akan maksa om Zio membalas perasaan Davina kok." ucap Davina kemudian.


"Anggap om Zio nggak tau, Davina tau diri mungkin Davina jauh dari kriteria om Zio. Davina nggak secantik dan seanggun tante Silla dan tante Safira" Davina memaksakan senyumnya.


"Bukan sayang, bukan itu. Kamu berhak mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari om Zio"


"Memangnya om Zio kenapa? om Zio baik dan bertanggung jawab. Om Zio pekerja keras dan selalu membahagiakan Davina" Ia tak suka Zio terlalu merendahkan dirinya.


"Om Zio nggak sebaik yang kamu kira sayang. Om harap kamu bisa menghapus perasaan itu" Zio merasa hatinya sakit harus mengatakan ini, tapi Zio merasa benar-benar tidak pantas mendapatkan cinta dari Davina.


"Davina uda bilang kalo Davina nggak akan maksa om buat cinta sama Davina juga. Tapi jangan memaksa untuk menghapus perasaan ini om. Dia hadir dengan sendirinya tanpa diminta. Om Zio nggak usah beralasan ini itu, atau merendahkan diri om Zio sebagai bentuk penolakan. Davina ngerti kok cinta nggak bisa dipaksakan" Davina menghapus dengan kasar air mata yang entah sejak kapan sudah membasahi pipinya.


"Bukan itu maksud om Davina. Ada hal yang tidak kamu mengerti di sini"


"Intinya om nggak cinta sama Davina jadi nggak usah capek-capek cari alasan lagi om. Davina ngerti kok" sangkal gadis itu. Ia tak mau mendengar apapun lagi karena intinya tetaplah penolakan, dan hati Davina begitu sakit.


"Om Zio cinta sama kamu Davina, sangat mencintai kamu" Zio tak bisa lagi menahan perasaan nya. Kesedihan Davina begitu menyakitinya.


"A-apa om?" Davina kembali menatap pada Zio dengan tatapan berbinar. Ia bahagia namun sekaligus bingung melihat raut wajah Zio yang tak bahagia.


"Om Zio mencintai kamu, tapi om Zio sadar om nggak pantas buat kamu. Kamu berhak mendapatkan pria yang jauh lebih baik"


Davina memberanikan diri meraih wajah Zio dan mengusapnya lembut.


"Om Zio adalah pria terbaik yang pernah Davina temui. Jangan merendahkan diri om Seperti itu. Tidak ada pria yang lebih pantas untuk Davina cintai selain om Zio" Davina tak mengerti kenapa pria itu sangat tidak percaya diri.


"Om Zio adalah pembunuh yang menjadi penyebab kedua orang tua kamu meninggal Davina. Lantas masihkan kamu merasa bahwa om pantas untuk mendapatkan cinta dari kamu?" Davina tercekat mendengar pengakuan dari bibir pria itu. Ia menggeleng tak percaya namun mata Zio tak menampakkan kebohongan sedikitpun.


"Om Zio bohong kan? om Zio nggak perlu mengarang cerita ini untuk menolak Davina" Lirih gadis itu.


🍁🍁🍁