My Lovely Davina

My Lovely Davina
Chapter 64



"Kamu nggak bisa lepas tanggung jawab begitu saja nyonya!" Ucap Zio sembari menangkap tubuh gadis itu.


"O-om Zio" ucap Davina gugup saat Zio berhasil menangkap tubuh nya dan melepaskan selimut yang sempat membungkus dirinya. Kilatan mata Zio begitu berbeda membuat Davina meremang.


"Serahkan dirimu malam ini dan jadilah milikku seutuhnya" Bisik Zio dengan suara berat. Davina panik namun tubuhnya seolah membeku. Ia tak mampu untuk bergerak, sebenarnya ia menginginkan Zio namun rasa takut dan juga malu tak bisa ia tepis begitu saja.


Davina memejamkan matanya, menikmati sentuhan bibir Zio yang mendarat dan menyusuri rahang nya dengan kecupan halus namun penuh hasrat. Davina berusaha menenangkan degup jantungnya yang menggila.


"Akh om...." Davina mendesis saat tiba-tiba Zio menggigit kecil dan menghisap lehernya, terasa sedikit sakit namun menggelorakan gairah dalam diri gadis itu.


Zio kembali mensejajarkan wajahnya pada wajah Davina dan menatap dalam mata istrinya.


"Davina, mas Zio sangat mencintaimu. Mas menginginkanmu, izinkan mas memilikimu sayang" Rayu pria itu sambil mengusap lembut pipi kemerahan kekasihnya.


"Lakukanlah" jawab Davina lirih, gadis itu seakan terhipnotis pada tatapan dalam penuh permohonan suaminya hingga ia tak sampai hati untuk mengatakan tidak. Bukankah Zio memang berhak memintanya? lagipula sebelumnya ia merasa sangat tersinggung ketika Zio berusaha menahan diri.


Zio tersenyum dan mendaratkan kecupan dalam di kening Davina, perlahan ia membawa tubuh gadis itu berbaring di ranjang pengantin mereka.


Ciuman Zio turun ke mata, hidung, kedua pipi dan terakhir pada bibir Davina yang basah. Pria itu menikmati kelembutan bibir Davina, menggigitnya dengan gemas dan membelit lidah Davina hingga membuat gadis itu kewalahan meladeni ciuman Zio yang liar.


Davina menutup matanya rapat sembari tangannya meremas erat sprei ketika Zio perlahan melepaskan apa yang melekat pada dirinya tanpa tersisah hingga kini ia benar-benar polos. Ia yang merasa gelisah berusaha meraih apapun untuk menutupi tubuhnya. Davina sungguh merasa malu.


"Om" Gadis itu meringis putus asa, terlebih saat menyadari tatapan Zio yang menyasar seluruh sisi tubuhnya.


"Kamu sangat indah Davina, tubuh mu begitu sempurna sayang" Davina semakin bersemu, pujian Zio membuatnya semakin tak berdaya. Ia bahagia namun rasa malu ikut serta menggelitik jiwanya.


Zio kembali memposisikan diri di atas istrinya lalu mendaratkan ciuman di bibir Davina, namun tangannya tak lagi diam. Jemarinya mulai berperan aktif menyentuh tubuh Davina, melahirkan desiran yang terasa asing namun begitu menyenangkan pada diri gadis itu.


"Akhhh om Zio" Davina melenguh sembari meremas rambut Zio ketika tiba-tiba bibir pria itu menyentuh puncak dadanya tanpa ia sadari. Davina menggelinjang, kepalanya terdongak merasakan hisapan dan gigitan serta sapuan lidah Zio pada bagian dadanya.


Belum lagi tangan nakal pria itu perlahan menyapa bagian bawah tubuhnya, menyibak dan mengusap lembut dengan jari-jarinya.


Davina berusaha merapatkan pahanya merasakan gelitikan yang menerbangkan akal sehatnya, ia terbuai dan kehilangan kendali diri nya. Bibirnya menceracau melenguh dan mendes ahkan nama pria yang masih terus bersemangat mengusik bagian-bagian sensitif dirinya.


"Lepaskan sayang" Bisik Zio menyadari nafas istrinya semakin tersengal dengan tubuh yang bergetar.


"Akh om, Davina...." Sesuatu seolah menghantam dirinya hingga gadis itu tak mampu menyelesaikan ucapannya. Ia pasrah, membiarkan tubuhnya terombang-ambing disentak kenikmatan yang baru pertama kali ia rasakan sepanjang hidupnya.


Zio mengusap pipi istrinya yang masih memejamkan mata, pria itu terpana menikmati ekspresi sensual Davina saat tengah menikmati pelepasannya. Pria itu tak lepas menatap wajah gadis itu seolah tak ingin kehilangan setiap perubahan wajah Davina.


Davina tercekat merasakan Zio yang merapatkan tubuhnya hingga benar-benar menempel pada tubuh gadis itu, Zio lalu menciumi leher dan pundak Davina. Entah sejak kapan namun Davina sadar Zio tak mengenakan apapun lagi, Ia merasakan sesuatu yang keras menekan bagian belakang tubuhnya.


"Merasakan sesuatu? lihatlah dia sangat menginginkanmu" Bisik Zio tepat di telinga Davina semakin menekan bagian tersebut. Zio membalik tubuh Davina agar kembali telentang, Davina mati-matian menahan rasa malu yang mendera namun ia pasrah mungkin sekarang lah saatnya.


Zio menyelimuti tubuh mungil Davina dengan tubuhnya lalu mengarahkan miliknya yang begitu mendamba menyapa bagian inti Davina. Gadis itu menahan nafas kala merasakan benda tersebut menyentuh bagian paling sensitif darinya.


Gadis itu mengatur nafasnya, berusaha santai dan pasrah saat milik Zio mulai menusuknya perlahan. Ia memejamkan mata merasakan nyeri saat benda itu berusaha menerobos masuk semakin dalam.


"Engh..." Davina melenguh merasakan nyeri yang luar biasa. Zio menahan pinggulnya, menyadari Davina tengah menahan sakit. Pria itu mencium bibir Davina untuk menenangkan juga mengalihkan rasa sakit yang tengah dirasakan Davina.


"Tahan sayang, sebentar lagi" Ucap Zio lembut namun ia masih menunggu dengan sabar. Davina mengangguk sebagai pertanda bahwa ia mengizinkan Zio melanjutkan usahanya.


Zio mulai kembali menekan milik nya, meski sulit namun pria itu tetap mencoba menembus inti Davina yang begitu sempit. Kening Davina kembali mengernyit, remasan tangannya pada sprei semakin menguat seiring rasa sakit yang kian terasa.


Tubuh Davina menggigil, ia benar-benar kesakitan namun ia berusaha tak menunjukkan pada Zio karena merasa tak tega menghentikan suaminya. Ia tau Zio sudah sangat menginginkan diri nya.


"Akhhh sakiit om" Davina kelepasan, tubuhnya tak bisa mentolerir rasa sakit di bagian sana tatkala Zio menekan dengan sedikit kuat.


"Maaf sayang, maafin mas Zio" Pria itu menciumi wajah Davina dengan raut menyesal namun tak memadamkan nyala gairah di mata nya.


"Nggak apa-apa, lanjutkan" Ucap Davina dengan suara tertahan. Raut wajahnya sama sekali tak bisa berbohong, ia benar-benar kesakitan.


"Tapi kamu kesakitan, kita lanjutkan besok" Ucap Zio. Wajahnya terlihat tak rela namun juga merasa iba pada istrinya.


"Nggak om lanjutin, Davina bisa tahan" Ucap gadis itu penuh kesungguhan. Ia ingin berkorban kali ini saja untuk Zio.


"Yakin?"


"Yakin sayang" Ucap Davina. Wajah Zio berbinar mendengar panggilan sayang dari Davina untuk pertama kalinya. Pria itu merasa begitu bersemangat hingga akhirnya...


"Omm......" Davina menjerit, air mata meleleh di sudut matanya saat merasakan tubuhnya bagaikan terbelah. Zio telah memasukinya secara penuh, menembus lapisan terdalam dirinya.


"Maaf, maaf sayang" Zio menghapus air mata Davina dan menghujami wajah istrinya dengan ciuman, ia merasa bersalah namun juga terlihat puas karena berhasil memiliki Davina secara utuh, mengisi tubuh Davina dengan miliknya.


🍁🍁🍁