
"Ya nggak semua orang harus suka sama kamu, untuk apa Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda kalo selera nya harus sama semua. Kasihan pria-pria single lainnya jika semua wanita suka sama kamu" ucap Davina ketus. Samuel tak menimpali, pria itu hanya tersenyum sinis.
'Om Zio tolongin Davina om' Batin gadis itu, Davina benar-benar merasa tidak respek pada tipe pria pemaksa seperti Samuel. Ia berharap Zio bisa merasakan keresahan hatinya.
Sekitar 30 menit kemudian Samuel menghentikan mobilnya di sebuah restoran.
"Kita sudah sampai, ini restoran langganan aku. Makanan nya semua enak suasana nya juga nyaman, kamu pasti akan menyukainya Davina" ucap Samuel percaya diri.
"Tapi aku belum lapar" Rasanya tak rela jika harus makan siang bersama orang lain, selama ini Davina nyaris tak pernah melewatkan makan siang bersama Zio.
"Nanti kamu akan merasa lapar kalo uda lihat menunya. Semua sangat menggugah selera" Samuel benar-benar tak menerima penolakan.
Davina hanya diam, ia tak berminat mendebat pria itu lagi. Karena semua percuma Samuel sama sekali tak mendengarkan keinginan nya. Pria itu benar-benar egois dan mau menang sendiri.
Samuel membukakan pintu untuk Davina, dengan malas gadis itu keluar menuruti kemauan Samuel. Davina menatap ke sekeliling, restoran ini terasa asing baginya.
"Sayang, kamu nggak apa-apa?" Sebuah suara mengagetkan Davina, ia merasa teramat lega saat mendapati Zio menarik tubuhnya ke dalam pelukan pria itu, Davina dapat melihat kekhawatiran di mata Zio.
"Nggak apa-apa om" Davina membalas pelukan Zio dengan tak kalah erat.
"Loh om Zio, kan tadi aku uda pamit mau ajak Davina pulang bareng. Kok malah nyusul" Samuel tampak tak senang.
"Sam, kamu sudah dewasa dan berpendidikan. Harusnya kamu tau etika meminta izin yang benar. Lagipula kamu harus meminta pendapat Davina dulu, jangan memaksa kalau dia nggak mau." Zio berusaha menekan amarahnya. Bagaimana pun Samuel adalah putra dari pak Beni salah satu rekan bisnis yang memiliki hubungan yang baik dengan nya.
"Tapi Davina setuju kok om, lagian aku cuma ngajak dia buat makan siang bareng. Tapi kalian kesannya sangat berlebihan ya" Samuel tersenyum sinis.
"Enggak Davina nggak mau, Davina udah nolak tapi kakak tetap maksa" bantah Davina.
"Bukan seperti ini cara memperlakukan wanita Sam, apalagi Davina belum terlalu dewasa. Yang ada bukannya suka dia malah ketakutan" Zio menepuk pundak Samuel
"Maaf om harus bawa Davina pulang. Kalau memang kamu mau mendekatinya tolong lakukan dengan benar, jangan menakutinya apalagi sampai menyakitinya. Satu lagi, jangan memaksa Davina hargai apapun keputusannya nanti"
Zio membawa Davina naik ke mobilnya, meninggalkan Samuel yang mengepalkan tangan menahan gusar.
"Kamu nggak apa-apa sayang?" Zio meneliti bagian tubuh Davina, takut Samuel menyakiti gadis itu. Hati Davina berbunga-bunga melihat pria yang ia cintai begitu mengkhawatirkan nya.
"Nggak apa-apa om, Davina nggak diapa-apain kok sama Samuel" Davina berusaha menenangkan pria itu. " Makasih ya om uda nyusul Davina ke sini" Ucap gadis itu lagi.
"Maafin om ya? om nggak tau kalo Samuel nekad masuk ke dalam sekolah kamu" Karena tadi pagi Davina mengatakan tidak mau pulang bersama Samuel, Zio langsung meminta sopir untuk mengikuti mobil pria itu karena ia khawatir terjadi apa-apa pada Davina.
"Samuel sangat mengerikan om, suka maksain kehendak seenak jidatnya" adu Davina.
"Iya nanti om akan bicara sama pak Beni supaya bisa menegur Samuel" Zio kembali menarik tubuh Davina ke dalam dekapannya. Sepanjang mengikuti mobil Samuel sebelumnya, Zio dilanda kekhawatiran. Ia sangat takut Samuel melakukan sesuatu yang dapat menyakiti Davina.
"Kalau nanti Samuel tetap maksa gimana om?" Tanya Davina, ia masih diliputi kekhawatiran. Samuel tampak sangat terobsesi padanya.
"Om nggak akan membiarkannya sayang, jangan takut ya" Kecupan-kecupan di kepalanya membuat Davina merasakan debaran indah di hatinya. Ia mengulum senyum dengan wajah yang terasa memanas.
🍁🍁🍁
Tanpa Davina sadari Zio sejak tadi memperhatikannya yang terus tersenyum dengan mata tak lepas dari ponsel. Rasa panas merayapi dada pria itu, ia menduga Davina sedang berkirim pesan dengan pria yang ia sukai.
"Sayang, kenapa masih bermain ponsel. Ini sudah malam sudah waktunya kamu tidur" Davina yang terkejut akan keberadaan Zio segera menutup ponselnya dan tersenyum salah tingkah.
"Kamu sedang berkirim pesan dengan pria yang kamu sukai itu?" Tanya Zio dengan raut menyelidik.
"Enggak om, Davina cuma lagi ngeliatin fotonya aja" Davina menjawab dengan malu-malu. Hati Davina bersorak melihat wajah tegang Zio.
"Om Zio boleh lihat foto nya?"
Davina menggeleng.
"Nggak boleh"
"Kenapa? kamu nggak bisa terus menyembunyikan siapa pria itu sayang. Om Zio harus tau orang nya supaya om Zio bisa menilai apakah dia pria yang tepat untuk kamu atau tidak" Zio begitu gusar dan Davina semakin senang.
"Iya nanti Davina pasti akan kasih tau om Zio tapi bukan sekarang"
Zio menghela nafas berat.
"Baiklah, sekarang ayo tidur" Davina mematuhi perintah Zio. Ia segera merebahkan tubuhnya dan Zio seperti biasa memasangkan selimut dan mencium kening gadis itu.
Zio menyalakan lampu tidur dan mematikan lampu utama sebelum meninggalkan kamar Davina dengan pertanyaan yang memenuhi otaknya. Ia berusaha keras menebak sosok pria yang Davina sukai.
Zio menyandarkan tubuhnya di ranjang setibanya ia di kamar. Pria itu merasa gelisah dan tak tenang, hatinya tak nyaman menyadari gadisnya sedang jatuh cinta pada pria lain. Ia tak rela namun dipaksa keadaan untuk merelakan, sungguh rasanya begitu sulit.
Hampir 2 jam termenung Zio tak kunjung merasa tenang, rasa penasaran semakin menggebu. Ia tak bisa menahan lebih lama lagi, Zio merasa harus segera mengetahui siapa pria itu agar ia bisa menentukan langkah.
Zio beranjak dari posisinya, ia berjalan keluar menuju kamar Davina. Sesuai tebakannya Davina sudah tertidur dengan sangat lelap. Menatap wajah cantik Davina mengalirkan kedamaian sekaligus rasa sesak di dada Zio.
Mata Zio kini beralih pada ponsel milik Davina yang terletak di nakas. Fikiran Zio berkecamuk, antara membuka ponsel itu atau tidak. Namun rasa penasaran mendorong Zio untuk mengambil ponsel gadis itu dan membukanya.
"Maaf sayang" Bisik pria itu, Zio tau ia sedang melanggar privasi Davina. Namun Zio meyakinkan diri bahwa ini demi kebaikan gadis itu, dia berhak mengetahui apapun tentang Davina jika itu untuk kebaikan nya.
Tidak sulit bagi Zio menebak password dari ponsel Davina, ia terlalu mengenali gadis itu. Tapi sayang Zio terlalu bodoh untuk urusan perasaan.
Zio membuka galeri di ponsel Davina mengingat gadis itu mengatakan sedang melihat foto pria yang ia sukai, namun dari sekian banyak foto di ponsel itu tak ada satupun foto pria yang ia kenali selain fotonya sendiri. Ada beberapa foto Davina bersama beberapa teman sekelasnya.
Zio beralih ke aplikasi chat, ia meneliti riwayat chat Davina. Tak ada nama-nama yang mencurigakan di sana sampai beberapa saat kemudian akhirnya pria itu tampak tercekat dan menatap tak percaya pada benda pipih di tangan nya tersebut. Ia menemukan hal tak terduga saat membaca riwayat obrolan Davina bersama sahabatnya Lea.
🍁🍁🍁