My Lovely Davina

My Lovely Davina
Chapter 27



Dada Davina seperti akan pecah karena detakan jantungnya yang begitu kuat menyadari Zio semakin mendekatkan wajah. Nafas pria itu terasa hangat menyapu wajahnya.


Rasa panas mengaliri tubuhnya, Davina kelabakan menghadapi gelenyar yang seakan membakar. Otaknya bergerak liar, ia membayangkan apa yang akan Zio lakukan dan itu semakin membuat tubuh Davina bergetar.


Tak sanggup lagi menahan gejolak perasaanya akhirnya Davina memejamkan mata, ia pasrah sekaligus menginginkannya.


Tubuh Davina terasa semakin lemas dan seakan melayang kala merasakan benda kenyal itu benar-benar mendarat di bibirnya. Belaian bibir lembut Zio pada bibirnya terasa dalam dan penuh kasih menciptakan debaran dan kebahagiaan yang meluap-luap.


Reaksi itupun dirasakan Zio, sekujur tubuhnya bagaikan tersengat kala hatinya memenangkan peperangan hingga ia nekat menyatukan bibirnya pada bibir Davina yang begitu melumpuhkan nalarnya. Untuk sesaat ia menghancurkan batas yang menghalangi nya dan Davina. Hatinya memaksa untuk menuntaskan apa yang ada di dalam dadanya.


Zio semakin dalam menyesap bibir manis itu, ia begitu terlena hingga lupa diri. Ia lupa bahwa gadis yang sedang ia cumbu saat ini adalah gadis kecil yang sudah ia rawat sejak 12 tahun yang lalu. Gadis yang dititipkan untuk ia jaga dan ia jamin masa depannya.


"Eghhh..." Zio mendengar erangan lembut dari bibir Davina seiring tangan mungil gadis itu menarik baju di bagian dadanya. Sontak Zio melepaskan diri, keduanya terengah meraup udara sebanyak-banyaknya dengan mata yang saling bertaut.


Wajah Davina memanas karena tatapan Zio padanya. Keduanya masih diliputi sisah-sisah rasa luar biasa yang baru saja mereka kecap untuk pertama kalinya.


"Om Zio..." Panggil Davina lirih.


Memandangi bibir Davina yang merah, basah dan sedikit membengkak membuat Zio terkesiap. Kesadarannya seolah ditarik paksa dan dimasukkan kembali ke dalam tubuhnya, pria itu ternganga tak sanggup berucap atas apa yang telah ia lakukan pada Davina.


Kepala Zio mendadak sakit, ia panik dan cemas akan penilaian Davina terhadapnya kini. Ia tak mengerti pada dirinya yang biasanya sangat mengedepankan logika kini bisa lupa diri dan tak terkendali.


"S-sayang om Zio minta maaf" Zio menatap nanar pada Davina, berusaha menyelami ekspresi gadis itu. Zio mencari kemarahan pada pancaran mata Davina yang terus menatap padanya. Meski tak ia temukan amarah pada sinar mata Davina nyatanya perasaan Zio tak kunjung tenang, apa yang ia lakukan barusan sungguh teramat salah. Zio memaki-maki dirinya yang terhasut perasaan dan tak bisa mengontrol diri.


"Maaf Davina, om Zio tak sengaja melakukannya. Om Zio benar-benar minta maaf" ucap Zio gusar, rasanya ingin menenggelamkan diri atau menikam dadanya hingga mati. Rasa sesal, malu, marah, dan cemas mengerubungi pria itu. Apalagi Davina tak mengucapkan apapun, gadis itu hanya menatapnya dengan tatapan yang tak berani Zio artikan.


"Katakan sesuatu sayang, maafkan om Zio" ucap Zio putus asa karena Davina begitu setia pada kebisuan.


"Kenapa om Zio melakukannya?" lirih Davina. Ia bahagia dengan ciuman yang Zio berikan. Namun ia tak berani mengambil kesimpulan bahwa pria itu memiliki perasaan yang sama dengan nya. Apalagi saat melihat Zio begitu kalut dan gusar setelah ciuman panjang mereka. Ia berharap namun sekaligus merasa takut jika harapannya tak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.


"Om Zio melakukannya kareana... Ah Davina om benar-benar minta maaf. Om bersalah padamu sayang" Zio tak mampu mengungkapkan alasannya pada gadis itu, ia takut Davina akan semakin shock dan menjauhinya jika mengetahui rasa terlarang yang ia miliki.


Ia tak akan pernah siap jika Davina membenci apalagi sampai menjauhinya itulah kenapa ia ingin sekali menghilangkan rasa cintanya pada gadis itu, agar selamanya mereka bisa dekat layaknya om dan keponakan atau seorang ayah dengan putrinya. Namun sekarang? semua seakan mustahil karena dirinya yang tergiur bisikan menyesatkan.


Keheningan menyelimuti keduanya, mereka kini melemparkan pandangan ke arah yang berbeda. Masing-masing dilanda kebingungan, mereka tak tau bagaimana harus bersikap setelah ini.


"I-iya om" jawab Davina terbata.


"Ayo om antar ke kamar" Zio mengulurkan tangannya pada Davina, tanpa bersuara gadis itu menerima uluran tangan Zio tersebut.


Keduanya kembali merasakan getaran kala kulit mereka saling menyatu, namun mereka berusaha untuk bersikap santai. Tapi tetap saja keheningan kembali menyelimuti sepanjang langkah mereka menuju kamar Davina.


Zio menarik selimut dan menutupi tubuh Davina hingga ke leher setelah gadis itu merebahkan diri di ranjang. Zio ragu-ragu mendaratkan kecupan di kening Davina. Beruntung gadis itu sedang tidak melihat ke arahnya. Suasana benar-benar terasa canggung.


"Sayang, sekali lagi om minta maaf atas apa yang om lakukan. Om nggak tau kenapa hal itu bisa terjadi, tapi om janji nggak akan mengulanginya lagi, bisakah kita melupakannya dan menganggap nya tidak pernah terjadi?" Tanya Zio. Terbesit rasa kecewa di hati Davina, padahal ia begitu berharap Zio akan menjelaskan alasan pria itu menciumnya, dan Davina berharap Zio akan mengatakan bahwa ia melakukan nya atas dasar cinta.


Tapi Harapannya harus pupus saat Zio meminta melupakan nya begitu saja. Andai Zio tau ciuman pertama itu begitu istimewa dan Davina menyerahkannya pada pria yang benar-benar ia cintai. Bagaimana bisa ia melupakan hal itu?


"Davina maukah?" Tanya Zio dengan cemas.


Davina dengan berat hati menganggukkan kepalanya, ia tak mampu untuk sekedar berkata 'Iya' karena ia tau kerongkongannya seperti tercekik. Ia pasti akan menangis jika bersuara meski hanya satu huruf saja.


"Terima kasih sayang, om harap sikap kamu nggak akan berubah. Tetaplah menjadi Davina yang om Zio kenal, om Zio pastikan kesalahan yang om lakukan barusan adalah yang pertama dan terakhir kalinya" Zio mengusap rambut Davina dan tersenyum tipis. Davina tau Zio masih menyimpan kecanggungan itu namun berusaha untuk menepis nya.


"Selamat malam, mimpi indah" Sekali lagi Zio mencium kening Davina. Pria itu kemudian beranjak dari sana lalu meninggalkan kamar Davina.


Selepas kepergian Zio air mata yang tersimpan kini menyeruak keluar, kesalahan? Davina terisak, ciuman yang menurut Davina begitu istimewa hanyalah sebuah 'kesalahan' bagi Zio.


Davina merasa begitu kecewa menyadari Zio tak memiliki perasaan yang sama dengannya. Mungkin ciuman itu terjadi benar-benar karena khilaf, Davina tak tau wajah siapa yang Zio bayangkan hingga pria itu nekat menciumnya.


Davina merasa patah, belum apa-apa cinta pertamanya sudah menorehkan pedih di hatinya.


🍁🍁🍁


Tuh kan akibat hasutan emak-emak jadi khilaf kan si Zio? Tanggung jawab!


❤️❤️