
Zio meneliti penampilan Davina, gadis itu tetap terlihat menawan meski ia sama sekali tak merias wajahnya. Penampilan sederhana gadis itu tetap mampu menarik perhatian Zio dan menggetarkan hatinya.
Entah mengapa Zio merasa senang Davina terlalu antusias pada acara makan malam ini.
"Yakin kayak gini aja?" Tanya Zio pada Davina yang hanya mengenakan blouse warna putih yang ia padukan dengan rok yang panjangnya di bawah lutut bermotif bunga-bunga.
"Kenapa jelek ya om?" Davina menatap pada Zio yang terlihat begitu tampan malam ini.
"Cantik kok, tapi maksud om kamu nggak mau dandan?" tadi Zio sudah mengusulkan pada Davina meminta Yara datang untuk merias wajahnya, tapi Davina menolak.
"Nggak usah lah om, ngapain dandan" Davina merasa dirinya sedang tidak ingin membuat seseorang terkesima dengan penampilannya. Jika makan malam hanya berdua dengan Zio mungkin ia akan mempersiapkan diri sebaik mungkin.
"Tapi Samuel ganteng loh sayang, om nggak yakin kamu bakalan nolak pesonanya" ucap Zio, tapi hatinya sama sekali tak ikhlas berucap demikian.
"Kan uda Davina bilang tadi kalo Davina uda suka sama orang lain" ucap Davina.
"Kasih tau om dong siapa orang nya? teman sekolah kamu yang waktu itu ya? siapa itu namanya, Tomi ya?" tebak Zio.
"Bukan Tomi om, apaan Tomi masih kekanakan gitu. Davina suka sama yang dewasa om" Ucap Davina sambil tersenyum malu-malu pada Zio yang justru tampak mengernyit heran.
"Dewasa? siapa Davina? uda sejauh mana hubungan kalian?" Zio mendadak panik, ia takut jika Davina menjalin hubungan dengan pria dewasa dan pria itu hanya memanfaatkan Davina saja. Davina nya masih terlalu muda dan polos. Zio khawatir pria itu memberikan pengaruh buruk pada gadis itu.
"Sebenarnya dekat banget om, cuma dia nggak tau perasaan Davina gimana ke dia. Davina juga nggak tau dia suka apa enggak sama Davina" Zio menghela nafas lega. Ia kira Davina sudah menjalani hubungan dengan pria itu. Tapi tetap saja ada perasaan tidak nyaman di hatinya mengetahui Davina menyukai pria lain.
"Siapa Davina, beritahu om Zio siapa orang nya?" Zio benar-benar dibuat penasaran.
"Nanti suatu saat om akan tau kok" ucap Davina dengan senyum menggoda.
"Ya sudah, kita berangkat sekarang" Zio menyerah. Sepertinya Davina benar-benar tak ingin memberitahunya sekarang. Namun mulai sekarang ia akan lebih protektif lagi mengawasi gadis itu.
Zio menggenggam tangan Davina, keduanya sama-sama merasa darah mereka mengalir cepat dengan jantung yang berdetak kencang. Keduanya sama-sama fokus ke depan tak berani saling menatap satu sama lain. Khawatir perasaan mereka mampu terbaca oleh satu sama lain.
🍁🍁🍁
Davina merasa tidak nyaman pada tatapan pria yang tadi dikenalkan dengan nya. Seperti yang Zio katakan Samuel memang tampan, tapi tak ada getaran apapun di hatinya.
Sudah satu jam berlalu dan makan malam sudah usai, namun Zio dan pak Beni sibuk mengobrol seputar bisnis sementara Davina dan Samuel lebih banyak diam. Davina benar-benar dibuat bosan dan tak sabar ingin segera pulang.
"Samuel, kamu ajak Davina mengobrol santai sambil berkeliling di area restoran kita. Di luar pemandangan nya indah kamu pasti akan suka Davina" Ucap pak Beni yang tidak hanya membuat Davina resah namun Zio juga merasakan kekhawatiran itu.
Davina menatap penuh harap pada Zio yang kini juga sedang menatap padanya agar menolak permintaan pak Beni.
"Ayo Davina, kamu pasti bosan kan di sini. Sama seperti ku" ucap Samuel, pria itu terlihat lega seolah sejak tadi ia menantikan hal ini.
Davina kecewa saat Zio tersenyum dan mengangguk seolah meminta Davina menerima ajakan Samuel.
"Di dalam bersama orang-orang yang gila kerja itu sangat membosankan" ucap Samuel sambil terkekeh.
"Seharian sudah lelah bekerja lalu masih harus membahas hal itu lagi di waktu yang seharusnya bersantai, aku benar-benar tidak mengerti jalan fikiran mereka" sambung Samuel lagi sementara Davina tak menimpali apapun. Ia tak berminat untuk menjalin keakraban dengan pria itu meski Samuel sepertinya sosok yang ramah.
Samuel mengajaknya ke area rooftop yang merupakan bagian dari restoran itu. Ketika menemukan kursi santai yang kosong tanpa pengunjung Samuel berhenti dan mengajak Davina untuk duduk.
Sebenarnya pemandangan yang tersaji begitu indah dengan lautan cahaya dari lampu kendaraan juga lampu-lampu gedung pencakar langit yang ada di sekitar restoran tersebut, namun Davina tak merasakan keindahan itu. Mungkin jika pria di sampingnya saat ini adalah Zio dirinya akan merasa sangat bahagia dan betah berlama-lama di sana.
"Kamu nggak suka ya sama aku?" tanya Samuel tanpa basa basi. Davina menatap cepat ke arah Samuel atas pertanyaan tak terduga dari pria itu. Davina melihat Samuel tersenyum santai.
"M-maksudnya?" Davina mengernyit bingung.
"Kelihatan sekali, kamu nggak tertarik sama aku. Kamu tau? kamu gadis pertama yang tidak menunjukkan ketertarikan saat bertemu dengan ku, tidak seperti gadis kebanyakan yang aku temui yang langsung tebar pesona di hadapanku. Melihat sikap kamu rasanya begitu luar biasa, aku merasa tertantang" Ucap Samuel sambil menyeringai, Davina dibuat merinding melihat sikap Samuel.
"Tenanglah, aku nggak akan ngapa-ngapain kamu. Jangan takut seperti itu, aku jadi merasa bersalah" Samuel terkekeh melihat Davina yang tampak begitu tegang.
"A-aku nggak takut" Jawab Davina terbata.
"Benar kata papa, kamu cantik dan menarik Davina. Meskipun kamu nggak suka sama aku tapi itu nggak akan berlangsung lama. Aku akan membuat kamu menyukaiku" Ucap Samuel penuh percaya diri. Ia menaik turun kan alisnya dengan senyum yang terlihat mengerikan di mata Davina.
"Aku mau pulang, om Zio pasti nyariin" Ia merasa sangat tidak nyaman dengan sikap dan ucapan Samuel. Sampai-sampai ia ingin menangis karena merasa takut.
"Ah rasanya menyedihkan sekali, di saat gadis lain rela memohon-mohon untuk sekedar mengobrol dengan ku kamu malah menyia-nyiakan kesempatan yang diidamkan banyak wanita di luar sana, kita bahkan belum 30 menit di sini dan kamu sudah meminta pulang Davina. Kamu memang luar biasa" Samuel tertawa miris.
"Enggak aku biasa aja, aku cuma takut om Zio nyariin aku. Lagi pula di sini dingin" Ucap Davina berusaha menenangkan dirinya.
"Baiklah, tapi kita akan bertemu lagi kan?"
"A-aku nggak tau"
"Berikan nomor ponsel mu, baru kita turun" Samuel meraih ponselnya dan menyerahkan pada Davina agar gadis itu mengetikkan sendiri nomor kontaknya.
Mau tidak mau Davina melakukannya, ia mulai mengetikkan nomor di ponsel pria itu dan menyimpan kontaknya.
"Ini, ayo pulang kak" ucap gadis itu terlihat tak sabar.
Davina merasakan ponselnya bergetar, dia segera membukanya cepat berharap Zio yang menghubunginya. Namun ternyata bukan, nomor asing tertera di layarnya. Davina menatap ke arah Samuel yang tersenyum padanya.
"Aku kira kamu berbohong, itu nomor ku. Simpan ya"
🍁🍁🍁