
Davina dan Zio saling berpandangan, gurat kebahagiaan terpancar di wajah keduanya ketika dokter menyatakan bahwa di rahim Davina sudah tumbuh buah cinta dari mereka berdua.
Saat dilakukan usg Zio dan Davina tak bisa menahan rasa haru, mata keduanya terlihat berkaca-kaca. Kebahagiaan begitu membuncah meski yang terlihat baru berupa kantung kehamilan saja. Zio tak menyangka hatinya akan kembali terjamah oleh rasa bahagia setelah beberapa tahun ke belakang ia begitu terpuruk.
Dulu Davina adalah alasan Zio bertahan hidup meski Zio menjalaninya hanya seperti raga tanpa jiwa, namun saat jatuh cinta lalu menikahi Davina dan kini ada janin dalam kandungan istrinya membuat Zio kembali menemukan jiwanya yang sempat mati.
Zio seperti terlahir kembali, jika dulu ia merasa jalan di hadapannya terlihat kelam dan gelap sekarang sungguh jauh berbeda, jalan yang akan ia lewati seakan terbentang luas dengan cahaya yang benderang.
"Terimakasih atas kehadiran kalian di dalam hidup mas Zio sayang" Bisik Zio dengan suaranya yang bergetar sambil mengecup wajah istrinya berkali-kali
Setelah menanyakan segala hal yang berkaitan dengan kehamilan, juga mendengar saran-saran dari dokter keduanya pulang dan setibanya mereka di rumah Zio langsung mengabari mama Ayumi perihal kabar bahagia itu.
"Jaga baik-baik kandungan kamu Davina" Ucap mama Ayumi sambil mengusap perut menantunya. Setelah mendengar kabar dari Zio mama Ayumi dan Yara langsung datang ke rumah Zio dan Davina.
"Jangan sampai Davina kecapean Zio, kamu harus menjaga istri dan calon anak kalian" ucap mama Ayumi beralih menatap pada putranya.
"Iya kak, jangan diajak begadang apalagi digigitin terus" timpal Yara.
"Iya, sebaiknya kamu puasa dulu Zio. Kehamilan Davina masih rentan karena masih sangat muda" Ucapan Yara dan mama Ayumi membuat Davina menundukkan kepalanya, ia merasa malu jika pembahasan mereka sudah mengarah tentang kegiatan ranjang.
"Dokter bilang boleh ma, asal pelan-pelan. Satu ronde kayaknya nggak akan bikin Davina kelelahan ma, masih oke lah" Ucap Zio tanpa rasa bersalah. Davina mengangkat wajahnya dan memelototi suaminya yang malah melemparkan tatapan dan seringai menggoda. Davina mengerucutkan bibirnya tanda kesal.
"Kamu tu keras kepala kalau dibilangin" Ucap mama Ayumi.
"Yah mama ngertilah kalo Zio nggak mungkin puasa lama-lama. Kalu sehari mungkin Zio masih bisa tahan" mama Ayumi menggelengkan kepalanya sementara Yara tak bisa menahan tawanya.
"Mas uda dong, kenapa jadi bahas itu terus. Kan malu" Protes Davina karena Zio masih melanjutkan obrolan yang membuat Davina merasa risih dan malu.
"Iya-iya sayang udahan kok" Zio terkekeh.
"Kalau pengen sesuatu jangan ditahan, ini kesempatan kamu buat manja-manja dan minta ini itu sama kak Zio" ucap Yara pada Davina.
"Meskipun Davina belum hamil, selama ini kakak juga selalu manjain dan nurutin apa yang istri kakak mau kok" ucap Zio, ia tak terima dengan ucapan Yara yang seolah menuduh diri nya selama ini tak pernah memanjakan istrinya.
"Iya kak, mas Zio juga selalu manjain Davina selama ini. Jadi kayaknya nggak ada bedanya Davina hamil atau enggak kalau soal itu" Davina tersenyum menatap penuh cinta pada suaminya.
"Iya deh tau yang suaminya bucin" Ucap Yara sambil tersenyum masam.
"Davina juga bucin sama mas Zio kak" Jawab Davina tersenyum malu-malu.
"Iya-iya kalian emang pasangan terbucin abad ini" ucap Yara menyerah.
🍁🍁🍁
"Aku masih nggak nyangka kamu uda nikah dan sekarang lagi hamil" Ucap Lea dengan riang. Keduanya sedang menikmati santai sore di sebuah kafe langganan mereka. Mereka terakhir bertemu saat di pernikahan Davina karena Lea juga sibuk mengurusi pendaftaran kuliahnya setelah itu. Makanya ketika Lea mengajak bertemu, Davina merasa berat untuk menolak. Zio juga sangat mengerti dan mengizinkan istrinya bertemu dengan Lea karena ia tau Davina masih butuh ruang untuk bergaul.
Selagi masih dalam batasan normal, Zio tak ingin membatasi Davina untuk melakukan sesuatu.
"Kamu bahagia? nggak nyesel nikah muda? harusnya sekarang kamu kayak aku nikmatin masa muda dengan kuliah, jalan-jalan bareng teman, gonta ganti pacar." ucap Lea.
"Aku bahagia banget Le, sejauh ini aku nggak ngerasa nyesel, aku juga masih bisa menikmati masa muda aku kok. Malah lebih aman, lebih tenang karena aku nikmatin nya bareng suami aku. Ngapain gonta ganti pacar kalo aku nya uda nemu yang tepat. Nambah-nambahin penderitaan dalam hidup aja tau nggak Le" Lea tertawa mendengar jawaban Davina, sebenarnya gadis itu hanya ingin mengetahui perasaan sahabatnya, ia sama sekali tak bermaksud memojokkan Davina.
"Syukur deh kalo emang kamu bahagia, aku jadi tenang dengernya Vin" Ucap Lea tulus.
"Aku nggak sabar nunggu bayi kalian lahir, kayak siapa ya mukanya? pasti cantik atau ganteng sih. Emak bapaknya aja cakep banget" sambung Lea.
"Ah tau aja deh kalo orang tuanya cakep" Davina terkekeh atas pujian sahabatnya.
"Eh Le, itu si Tomi kayaknya ya?" Davina menunjuk pada sosok yang baru masuk ke kafe tersebut.
"Iya bener Tomi, aku ajak gabung ke sini nggak apa-apa?" Tanya Lea saat melihat Tomi hanya sendiri.
"Kayaknya nggak apa-apa" jawab Davina santai.
"Kalo ketauan suami kamu marah nggak dia?" Lea merasa ragu.
"Nggak tau sih, tapi ngapain marah. Mas Zio tau kok hati aku cuma buat dia." Karena Davina mengizinkan, Lea akhirnya memanggil Tomi. Pria itu mendekat ke meja Davina dan Lea.
"Ada apa Le?" Tanya Tomi, Davina mengernyit heran pada sikap Tomi yang seolah tak sudi menatap ke arahnya.
"Sendirian? gabung sini aja Tom" tawar Lea.
"Iya sendirian. Nggak deh, aku nggak mau ganggu" tolak Tomi masih tak menatap ke arah Davina.
"Yakin nih nggak mau gabung? dulu biasanya kalo ada Davina nggak ditawarin juga kamu langsung nemplok aja" Ucap Lea.
"Sekarang uda beda Le, aku tau diri kok Davina uda jadi istri orang" jawab Tomi.
"Tapi kan masih bisa temenan"
"Nanti setelah aku berhasil melupakan perasaan aku ke dia. Kalau sekarang aku nggak bisa karena di hati aku masih terasa sakit. Udah ya aku pamit ke sana" Tomi menunjuk meja yang cukup jauh dari Davina dan Lea lalu meninggalkan sepasang sahabat tersebut.
"Gila ya di Tomi segitu nya" Ucap Davina sambil tertawa, tadi Tomi sama sekali tidak melihat ke arahnya apalagi mengajaknya bicara.
"Iya kekanakan" Timpal Lea.
"Tapi bagus lah, mending kayak gitu dari pada kayak Samuel. Tomi lebih memilih cara kaya gitu buat move on dari aku, bukan malah maksa dengan cara mengerikan kayak Samuel" Apapun itu Davina harus menghargainya.
🍁🍁🍁
Kalo ada yang nungguin, untuk kisah Safira kayaknya aku lanjut setelah kisah Zio_Davina tamat ya. Nggak tau kenapa lagi susah buat fokus di dua novel sekaligus.
❤️