
Hubungan Zio dan Davina kian terasa indah, masing-masing dari mereka semakin meyakini bahwa mereka tak akan mampu untuk berpisah.
Zio terus berusaha mengendalikan dirinya agar tak sampai melampaui batas pada Davina meski itu teramat sulit karena semakin hari perasaan cinta nya semakin menggelegak bersamaan dengan hasratnya yang semakin besar dan sulit untuk ia tahan.
Seperti saat ini, hanya karena bibir Davina terlihat merah dan sedikit membengkak sehabis gadis itu menyantap bakso pedas kesukaannya. Zio merasa kesulitan menahan dirinya, ia ingin segera mencicipi rasa bibir Davina yang selalu ia rindukan saat mereka sedang tak bersama.
"Om Zio kenapa?" tanya Davina pura-pura tak paham. Padahal dari sorot mata pria itu, Davina bisa menebak bahwa Zio sedang menahan diri untuk segera mencumbunya. Karena sekarang mereka sedang berada di meja makan dan asisten rumah tangga sedang berada di dekat mereka maka Zio tak bisa menjalankan aksinya.
"Bibir kamu sayang" Bisik nya dengan suara berat.
"Bibir Davina kenapa?" Davina meraba bibirnya, pura-pura heran. Dengan jahil Davina menggigit bibir bawahnya.
"Jangan menggoda om Zio sayang" ucap Zio frustasi.
"Kalau mau, lakuin aja om" Tantang Davina semakin membuat Zio kewalahan. Zio beranjak dari duduknya dan meraih tangan Davina lalu membawanya menuju kamar gadis itu.
"Om mau ngapain?" Tanya Davina setengah berlari untuk mengimbangi langkah besar Zio yang menarik tangannya.
Setibanya di kamar tanpa menjawab Zio dengan cepat meraih wajah Davina lalu menyatukan bibir mereka, ia menekan tengkuk gadis itu untuk memperdalam sesapan dan lum atan nya.
Davina pasrah, meski Zio melakukannya dengan sedikit kasar namun tak Davina pungkiri ia sangat menyukai sensasi ini.
Davina berusaha mengimbangi permainan bibir dan lidah Zio, meski masih kaku namun ia sudah cukup piawai membalas sesapan Zio.
Zio merapatkan tubuhnya pada Davina, ia mendorong gadis itu hingga keduanya berguling di kasur empuk milik Davina.
Zio melepaskan pertautan bibirnya, matanya menatap pada kekasih kecilnya dengan pandangan berkabut. Ia kehilangan kendali dirinya hingga sesaat kemudian untuk pertama kalinya bibir Zio menyasar area leher jenjang nan mulus milik Davina.
"Om Zio..." erang gadis itu saat merasakan gigitan kecil yang Zio lakukan. Tubuhnya meremang dan akal sehatnya melayang. Davina memeluk erat kepala Zio dan sesekali meremas rambutnya yang masih terus bermain di lehernya. Ini pertama kalinya Davina merasakan getaran yang membangkitkan rasa tak bernama di dalam dirinya.
Kegiatan mereka terhenti saat terdengar ketukan di pintu. Zio menggulir tubuhnya di samping Davina, nafas keduanya terengah. Ada rasa kesal di hati pria itu karena kegiatannya harus terjeda, namun sebagian hatinya merasa lega karena ketukan itu menghentikan dirinya yang hampir saja lepas kendali.
Setelah Davina dan Zio merapikan dirinya, pria itu berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Ada apa mbak?" Tanya Zio pada asisten rumah tangga yang kini berdiri di hadapannya.
"Bu Ayumi meminta bapak menemuinya di ruang keluarga. Katanya ingin bicara berdua" Zio mengernyitkan dahinya, tak biasanya sang mama mengutus asisten rumah tangga untuk menyampaikan pesan. Biasanya mama langsung datang menemuinya meski ia sedang berada di kamarnya atau berada di kamar Davina.
"Ada apa om?" Davina membuyarkan lamunan Zio.
"Ada mama, ayo temui mama dulu" Zio meraih tangan Davina dan membawa gadis itu menemui sang mama. Ada Yara juga di sana bersama baby Arsen.
Zio menyadari ekspresi sang mama yang terlihat berbeda, begitu pun Yara yang menatap mereka dengan salah tingkah.
"Davina main di kamar aja dulu sama baby Arsen dan kak Yara. Oma mau bicara berdua dengan om Zio" Ucap mama Ayumi, Davina yang sedang menciumi Arsen merasa heran dan menatap penuh tanya pada mama Ayumi lalu bergantian menatap pada Zio.
"Tentang apa memang nya oma? Davina nggak boleh dengar ya?" Tanya Davina. Ia merasa resah, takut mama Ayumi berniat menjodohkan Zio dengan wanita lain.
"Nanti kamu akan tau sendiri sayang, oma mau bicara sama om Zio dulu sebentar boleh?" Davina terpaksa mengangguk.
"Yuk Vin" Yara mengambil alih bayi Arsen dan mengajak Davina menuju kamar gadis itu. Dengan berat hati gadis itu meninggalkan mama Ayumi dan kekasihnya untuk bicara berdua.
"Mau bicara apa ma?" Zio membuka suara saat Davina dan Yara tak nampak lagi di sana.
Mama Ayumi menghela nafas berat sebelum membuka suara, wanita paruh baya itu menatap tajam pada Zio.
"Mama kecewa padamu Zio" ucapnya, terlihat sekali mama Ayumi menahan diri agar tidak sampai berteriak meski ia sangat ingin melakukannya
"Zio kenapa memangnya ma?" Zio berusaha mengingat apa kesalahan yang sudah ia perbuat sehingga sang mama tampak menahan amarah.
"Kamu tidak menyadari kesalahan yang sudah kamu perbuat?" Mama Ayumi menatap tak percaya pada putranya
"Ada apa ma? Zio beneran nggak ngerti" Mama Ayumi kembali menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia tersenyum getir.
"Sandi dan Danisya menitipkan Davina padamu untuk kami jaga nak, tapi apa yang mama lihat barusan...." Mama Ayumi menutup wajah dengan kedua tangan. Ia tak sanggup melanjutkan ucapannya.
Zio terperangah, ia mengerti apa yang dimaksud sang mama.
"Ma-ma melihat?"
"Iya, mama merasa malu dan merasa gagal menjadi seorang ibu. Mama nggak nyangka kamu bisa melakukan itu pada Davina. Sadar Zio, kamu sudah dewasa sementara Davina itu masih remaja. Tega kamu melakukan itu padanya" Beberapa saat yang lalu mama Ayumi merasa begitu shock dan seakan nyawanya tak lagi berada pada raga ketika melihat bagaimana Zio dan Davina saling bercumbu. Keduanya sama sekali tak menyadari kedatangan mama Ayumi dan Yara sehingga ia memilih meninggalkan kamar Davina lalu meminta asisten rumah tangga memanggilkan Zio.
"Kamu memanfaatkan keadaan untuk keuntungan kamu sendiri, mama sangat kecewa padamu Zio. Putra yang mama percayai sanggup melakukan hal memalukan, ancaman apa yang kamu berikan pada Davina sehingga dia diam saja kamu perlakukan seperti itu?" kata-kata mama Ayumi begitu tajam menghujam hati Zio, tak pernah ia melihat sang mama menatap penuh kekecewaan padanya seperti saat ini.
"Maaf ma, Zio sadar Zio salah. Tapi Zio nggak pernah mengancam Davina ma. Kami melakukannya karena kami saling mencintai ma" Zio terpaksa mengakui semuanya padahal ia dan Davina sudah sepakat akan memberitahukan mama Ayumi perihal hubungan mereka ketika waktunya tepat. Ucapan Zio bagi mama Ayumi bagaikan petir yang menghempas tubuhnya.
"A-apa? saling mencintai?"
"Iya ma, Zio mencintai Davina begitupun sebaliknya." Mama Ayumi menggelengkan kepalanya, ia tercekat tak bisa mengatakan apapun lagi. Terlalu sulit baginya mempercayai apa yang Zio ucapkan.
🍁🍁🍁