
"Mohon jaga istri anda agar jangan pernah lagi mencoba untuk datang dan mengganggu saya. Silla sudah dua kali datang menerobos ke kantor dan kemaren adalah titik akhir kesabaran saya karena istri anda sudah sangat keterlaluan dengan menyusup ke dalam apartemen saya" ucap Zio pada suami Silla. Ia sengaja menemui pria yang sudah mempersunting mantan kekasih nya itu untuk mengutarakan ketidak nyamanan nya pada sikap Silla.
"Apa anda bisa dipercaya?" Suami Silla yang semula terkejut beralih menatap dengan ekspresi menyelidik pada Zio.
"Semua karyawan saya bisa menjadi saksi, atau aku bisa memberikan rekaman cctv yang menunjukkan kedatangan Silla, baik dari kantor ataupun apartemen saya. Tak ada keuntungan apapun bagi saya dengan berbohong pada anda. Saya sudah memiliki calon istri, saya tidak mau hubungan kami terganggu karena ulah istri anda" Sebenarnya Zio tidak ingin memperkeruh masalah diantara Silla dan suaminya dengan mengadukan apa yang sudah mantan pacarnya lakukan, namun amarahnya atas ulah nekat Silla membuat Zio mengambil keputusan berat tersebut. Zio juga takut jika didiamkan begitu saja Silla akan melakukan hal yang lebih nekat lagi.
"Apa istri saya merayu anda?" Mata pria itu menyalakan emosi yang berusaha ia redam.
"Ya, ketika datang ke apartemen Silla berusaha menggoda saya. Untung saja saya masih memiliki kesempatan untuk kabur meninggalkannya. Sementara saat datang ke kantor Silla tampak sedih dan menangis, dia bilang anda berselingkuh" Jelas Zio.
"Saya tidak bermaksud ikut campur urusan kalian karena saya sama sekali tidak berkepentingan dan tidak berminat untuk masuk dalam permasalahan rumah tangga orang lain. Namun karena Silla membawa permasalahan kalian ke hadapan saya, terus terang saya sangat terganggu hingga saya terpaksa harus mengatakan hal ini pada anda. Saya hanya ingin anda menjaga istri anda dan memperingatkannya untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat merendahkan martabatnya sebagai perempuan dan martabat anda sebagai seorang suami" lanjut Zio, pria itu terlihat begitu tenang meski ia menangkap reaksi marah dari suami Silla.
"Terima kasih anda sudah memberitahukan hal ini pada saya, saya akan pastikan istri saya tidak akan mengganggu anda lagi. Mohon maaf atas ketidak nyamanan ini pak Zio" Dari nada bicaranya Zio tau suami Silla berusaha mati-matian menekan emosinya yang tersulut akibat ulah memalukan Silla yang telah mencoreng nama baik nya.
"Terima kasih atas pengertian anda, saya permisi" Zio undur diri dari hadapan suami Silla yang kini mengepalkan tangannya. Rahang pria itu tampak mengeras dan menatap murka pada foto Silla yang terpajang di atas meja kerjanya
Rasa iba pada diri Zio seolah sirna karena tingkah menjijikkan Silla. Andai wanita itu tak mengusiknya, ia tak akan pernah tega menyulut perselisihan diantara Silla dan sang suami dengan kejujurannya.
🍁🍁🍁
Zio dan Davina berada di apartemen Zio, pria itu sengaja mengajak Davina karena khawatir masih ada Silla di sana. Beruntung setibanya mereka apartemen Zio sudah kosong. Dengan segera pria itu menggantikan password nya agar Silla tak lagi bisa menyelinap masuk. Meski Zio yakin Silla tak akan mengganggunya lagi setelah ia mengadukan ulah Silla pada suaminya.
"Ingat ya password nya tanggal jadian kita" Ucap Zio pada Davina yang langsung tersenyum salah tingkah.
"Om udah kayak remaja yang lagi puber aja pake ingat-ingat tanggal jadian" Ucap Davina sambil tertawa, padahal diam-diam ia merasa berbunga-bunga akan hal itu.
"Harus dong, kan pacarnya mas Zio masih remaja. Jadi mas harus mengikuti, kita kan uda janji akan terus berusaha untuk saling mengimbangi satu sama lain" Zio mencium puncak kepala Davina sambil terkekeh.
"Davina ke dapur ya om, mau ambil minum" Ucap Davina melepaskan diri dari rengkuhan tangan Zio. Saat berduaan begini otak Davina seringkali berpetualang pada hal yang tidak-tidak, bayangan saat Zio menyentuhnya nerseliweran di otaknya. karena Zio memang kerap kali menggunakan kesempatan saat berduaan begini itu untuk mencumbunya.
Tubuh Davina meremang saat merasakan hembusan nafas hangat Zio di area lehernya seiring dengan tangan pria itu melingkar di perutnya. Davina tidak menyadari bahwa pria itu ternyata menyusulnya
Kegiatan Davina menuang air putih ke dalam gelas terpaksa harus berhenti karena ulah kekasihnya yang mencoba menyentuhnya lebih jauh. Zio mulai mendaratkan kecupan di telinga dan turun ke lehernya.
"Om... katanya mau minum" Davina menggeliat dengan des ahan tertahan. Kakinya terasa lemas bagai tak bertulang karena Zio tak menggubris protesan bibirnya. Pria itu malah mengangkat tubuh Davina lalu mendudukkannya di minibar dapur.
Masih dengan tangan yang melingkari perut gadis itu, Zio mendekatkan wajahnya pada wajah Davina lalu menautkan bibir keduanya. Zio begitu bersemangat mencumbu bibir Davina yang selalu menggugah hasratnya. Davina yang tak mampu berfikir lebih jauh memilih pasrah dan menikmati permainan bibir Zio yang sebenarnya sangat ia sukai. Gadis itu mengalungkan tangan pada leher kekasihnya.
Keduanya terhanyut dalam pusaran hasrat yang tercipta, lum atan-lum atan yang semula lembut perlahan berubah semakin liar dan sedikit kasar. Keduanya mulai terbakar gairah.
Tangan Zio yang awalnya begitu kalem dan hanya diam mulai aktif bergerak menyusup ke dalam pakaian Davina dan mengusap punggung halus kekasihnya seiring ciuman mereka yang semakin memanas.
Lenguhan dan erangan tak lagi mampu Davina tahan apalagi saat tangan nakal Zio mulai bergerak ke arah bagian sensitifnya.
"Ingat kata oma om" Dengan susah payah akhirnya Davina berhasil menghentikan Zio yang mulai kehilangan kendalinya. Davina bukan karena tak menginginkan sentuhan yang lebih jauh lagi melainkan ia sedang berusaha menuruti permintaan mama Ayumi."Davina takut oma membatalkan restunya kalau sampai oma tau om Zio melanggar perintahnya"
Zio menghela nafas dalam, berusaha menetralisir gairahnya yang sudah mencuat. pria itu memang selalu merasa kewalahan, terlalu sulit baginya untuk meredam hasrat tiap kali berhadapan dengan gadis kecil itu.
"Makanya Davina minta cepat-cepat nikah, karena om kelewat nakal" Sungut gadis itu lagi.
"Ah Davina" Ucap Zio lesu, ia memeluk erat tubuh kekasihnya. Ekspresi cemberut Davina malah kembali menyulut gairahnya.
Zio merasa tak bisa terlalu lama menunda pernikahannya dengan Davina, ia sadar kontrol dirinya mulai menipis. Lama kelamaan logikanya akan dikalahkan oleh pesona Davina yang semakin cantik dan menggairahkan setiap harinya.
"Nanti om Zio akan membicarakan pada mama perihal rencana pernikahan kita. Om uda nggak sanggup untuk menunggu lebih lama lagi" Ucapnya dengan sedikit frustasi.
🍁🍁🍁