
Davina membuka matanya dan melirik jam dinding. Ia merasa sudah begitu lama tertidur namun ternyata waktu baru menjelang tengah malam. Meski sebelumnya tertidur namun Davina merasa tidurnya tak begitu nyenyak, ia malah gelisah mencari posisi nyaman.
Malam-malam sebelumnya walaupun ia tak menyukai keberadaan Zio tapi Davina bisa tidur dengan begitu nyaman dan tenang dalam dekapan suaminya.
Tidur sendirian seperti ini malah membuatnya seperti ada yang hilang.
'Maunya apa sih' Gerutu Davina pada hatinya. Ia kembali mencoba memejamkan matanya namun tak berhasil mengembalikan lelap nya.
Davina berfikir mungkin ia butuh pelukan dan usapan lembut tangan suaminya, namun mengingat saat ia menolak Zio ketika pria itu membujuknya beberapa jam yang lalu membuat Davina merasa malu untuk kembali ke kamar mereka dan menemui Zio.
Davina mengubah posisi tidurnya menghadap ke dinding kamar dan memeluk erat guling miliknya, Davina berharap posisi ini dapat mempercepat kantuk dan segera menghantarkan dirinya pada lelap.
Lagi-lagi ia gagal, malah sekarang wajah Zio menari-nari di benaknya. Davina menghela nafas kesal atas dirinya yang tiba-tiba berubah labil. Jika ia saja merasa sebal pada sikapnya apa lagi Zio,
'Sungguh merepotkan!' Gerutu Davina lagi, ia beranjak dari tidurnya, kini bersandar pada kepala ranjang dang mengusap perutnya.
'Mama harus gimana sayang? apa kita harus ke papa ya? tapi mama malu' rengek Davina
Setelah hampir 1 jam tak ada perubahan apapun Davina memutuskan membunuh egonya. Mungkin sekarang ia memang tak menyukai keberadaan Zio di dekatnya namun tanpa ia sadari jiwanya membutuhkan pria itu tetap di sisinya.
Davina turun dari ranjang, berniat kembali ke kamarnya bersama Zio. Tak peduli akan seperti apa respon suaminya, namun Davina yakin Zio tak mungkin menolak nya. Ia hanya perlu sedikit menebalkan wajah nya untuk menemui suaminya tersebut.
Davina terpana saat membuka pintu ia mendapati Zio terlelap di sofa yang terletak di depan kamarnya. Hatinya merasa terenyuh melihat Zio yang rela tidur dengan posisi yang tidak nyaman hanya agar bisa dekat dengannya.
Davina mendekat, ia menatap sendu wajah Zio yang begitu lelap. Ia merasa begitu jahat, padahal Zio sudah lelah bekerja seharian dan sekarang tak bisa beristirahat dengan baik hanya karena sikapnya yang kekanakan.
"Mas Zio" Bisik Davina sambil mengusap pipi suaminya. Tak ada pergerakan, mungkin Zio benar-benar lelah hingga ia begitu lelap dan tak terganggu pada panggilan dan usapan dari istrinya.
"Mas Zio bangun" Bisik Davina lagi sambil menggoyangkan pundak suaminya. Kali ini usahanya berhasil karena Zio tampak menggeliat.
"Sayang?" ucap Zio dengan suara seraknya, meski kantuk masih terlihat bergelayut namun mata pria itu sudah terbuka.
"Mas kenapa tidur di sini?" Tanya Davina.
"Supaya kalo ada apa-apa atau kamu butuh sesuatu mas bisa cepat membantumu sayang" Zio beranjak dari tidurnya. Ia menarik Davina dan memeluk pinggang sang istri yang masih berdiri, pria itu menempelkan kepalanya di perut Davina.
"Mas Zio kangen, padahal baru sebentar tidurnya pisah" Keluh Zio, Davina mengusap kepala suaminya, rasa bersalah menyeruak namun Davina juga tak bisa berbuat apa-apa atas perasaannya kini.
"Kamu butuh apa? kenapa bangun jam segini?" Zio mengangkat kepalanya dan menatap pada Davina saat menyadari kalau ini masih malam.
"Davina nggak nyaman tidur sendirian, mungkin karena uda lama nggak tidur di kamar ini jadi ngerasa asing dan nggak betah" jawab Davina jujur. Davina memalingkan wajahnya yang merona saat mendapati senyum lebar suaminya dengan mata yang berbinar.
"Jadi mau tidur di kamar kita?" Tanya Zio bersemangat.
"Iya" Jawab Davina singkat.
"Diam sayang, nanti jatuh" Ucap Zio tanpa menghentikan langkah nya. Davina terdiam, ia memilih pasrah menuruti apa yang suaminya inginkan.
Setibanya di kamar Zio merebahkan tubuh Davina dengan hati-hati. Pria itu tak langsung ikut mengambil posisi merebahkan tubuhnya melainkan tetap pada posisinya yang menunduk menatap pada Davina. Tangannya mengusap rambut dan pipi istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Jangan marah lagi ya? maafin mas Zio, mas janji akan berhenti menyalahkan diri sendiri dan akan mengikhlaskan semua yang terjadi sayang. Jangan tinggalin mas Zio kayak tadi, menerima kemarahan kamu membuat mas Zio kesulitan bernafas" Ucap Zio sungguh-sungguh. Kesedihan ikut hadir dalam tatapan penuh cinta pria itu pada Davina, lagi-lagi Davina merasa terenyuh dan didera rasa bersalah.
"Iya mas, Davina juga minta maaf. Sekarang tidur ya?" Balas Davina setelah terdiam beberapa saat.
"Iya sayang, selamat istirahat" Bisik Zio lalu mencium kening istrinya. Pria itu kemudian mengambil posisi di sebelah Davina lalu mendekap erat tubuh istrinya. Hatinya merasa lega, tadinya ia sudah merasa sangat khawatir Davina akan merajuk dalam waktu yang lama.
🍁🍁🍁
"Itu hal yang biasa Davina, pengaruh dari kehamilan kamu. Perasaan bu hamil emang macam-macam dan unik" Ucap Yara sambil mengusap punggung Davina yang tengah menatap sedih pada usai menceritakan kegundahan hatinya.
"Benarkah?"
"Iya beneran Vin" Yara mengangguk, berusaha meyakinkan Davina yang tampak begitu resah.
"Kak Yara dulu juga gitu?" Kelegaan mulai menyusupi hati Davina.
"Kalo kak Yara kebalikannya, nggak bisa jauh dari suami. Maunya nempel mulu, ditinggal mandi aja mau nangis rasanya. Kata orang emang gitu, kalo hamil anak cowok kitanya nempel mulu sama suami, kalo males deket suami biasanya nanti anaknya cewek" ucap Yara.
"Jadi bukan karena Davina uda nggak cinta sama mas Zio ya kak?" Yara terkekeh mendengar ucapan polos Davina.
"Bukan, emang bawaan hamil aja kok"
"Davina takut banget ngecewain mas Zio kak. Davina nggak bisa bayangin gimana sedihnya mas Zio kalo perasaan cinta Davina ke dia hilang. Kalo emang karena efek kehamilan Davina jadi lega" Ucap Davina dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu segitu khawatirnya sama kak Zio udah cukup membuktikan kalo kamu cinta dan sayang banget sama kak Zio Vin, kalo emang kamu uda nggak cinta kamu nggak mungkin peduli sama perasaan kak Zio" Ucap Yara.
"Iya juga ya, berapa lama sih kak perasaan kayak gini? Davina nggak nyaman kak" keluh Davina.
"Nggak nentu sih, ada yang cuma sebentar. Ada juga yang lama. Kalo kak Yara dulu ya sampe lahiran" Davina membelalak shock, ia tak mau hal itu juga terjadi padanya.
"Mudah-mudahan kamu enggak lama Vin, nggak apa-apa ceritain aja sama kak Zio. Dia pasti ngerti kok" Lanjut Yara saat menyadari perubahan wajah Davina atas apa yang ia ucapkan sebelumnya.
🍁🍁🍁
Kalo author waktu hamil tipe yang kayak Yara, maunya nempel mulu sama pak suami. Beneran pas lahir anak nya cowok, nah dulu sempat teman author yang lagi hamil curhat dia ngalamin persis kayak Davina. Berhubung author uda pengalaman (cie...) jadi tak jelasin itu karena pengaruh kehamilan dan mungkin nanti anaknya cewek. Eh beneran loh pas lahir anaknya cewek 😀😀 Nggak tau sih emang beneran atau kebetulan aja, tapi banyak loh yang ngalamin kayak gitu.
Ada yang sama kah?
🤭🤭🤭